“Cahaya itu adalah Sastra Jendra dalam hatimu sendiri. Maka, jangan camkan aku. Camkan hatimu sendiri. Tak ada manusia atau pribadi. Yang ada hanyalah manusia dan pribadi dalam hatimu. Kebijaksanaan manusia tersembunyi dalam hatimu sendiri seperti malam yang bersayapkan terang, seperti kehidupan bersayapkan kematian. Kebijaksanaan hati itulah Suksesi, yang seharusnya bicara dan kaupatuhi.”

***

Sastra Jendra adalah sebuah filosofi tentang kepahlawanan, cinta, dan kehidupan. Banyak hal yang dapat kita petik dari pelajaran ini, seperti tingkatan kehidupan, esensi cinta, serta nilai sebuah kepemimpinan. Perenungan yang dimunculkan sangat mendalam,  kiasan dan metafora dalam serat ini tak melulu tentang cinta tapi juga ketamakan manusia, kemauan untuk berkorban, cinta kasih, godaan hidup, dan seterusnya. Dalam kisah ini juga terkandung berbagai gambaran mengenai pergulatan manusia dalam menjalani kehidupan, penderitaan, kekuatan, kekuasaan, kesendirian, kesunyian, juga tentang cinta dan pengorbanan.

Betapa Jawa mampu mewadahinya dengan cantik sekaligus memancarkan pesonanya yang sarat akan pesan moral oleh guru sejati lewat rasa sejati…

Alkisah raja negeri Lokapala Prabu Danareja jatuh hati kepada Dewi Sukesi, putri raja Alengka Sumali. Begawan Wisrawa –ayah sang prabu– lantas datang ke Alengka bermaksud meminang Dewi Sukesi untuk anaknya tercinta.

Rasa cintanya yang begitu besar membuat Lokapala dirundung muram. Sayangnya untuk bisa mendapatkan Dewi Sukesi, Danareja harus bisa mengalahkan Arya Jambumangli, paman Dewi Sukesi. Berceritalah Prabu Danareja kepada Begawan Wisrawa, ayahnya. Rasa cinta yang begitu besar kepada putranya membuat Begawan Wisrawa menawarkan diri untuk turun tangan. Berangkatlah Begawan Wisrawa menuju Alengka, menemui Raja Sumali yang juga adalah sahabatnya, dan menyampaikan keinginannya melamar Dewi Sukesi untuk anaknya.

Namun meskipun keduanya bersahabat, Raja Sumali tetap tak bisa meluluskan permintaan Begawan Wisrawa. Hal ini disebabkan karena Dewi Sukesi hanya bersedia menyerahkan dirinya kepada orang yang bisa menguraikan makna Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu kepadanya. Demi kecintaannya kepada putranya, Begawan Wisrawa akhirnya menyetujui syarat tersebut. Sayangnya keduanya gagal dalam upaya menguraikan Sastra Jendra tersebut. Niat meminang justru jadi bersenang-senang, tak kuat begawan dan sang Dewi menahan cobaan dari Batara Guru. Tak kuat menahan hawa… ehmmm.

Begawan Wisrawa adalah sebentuk keluhuran akal budi yang terjerembab ketika mencarikan istri buat anaknya. Ia lalai dan punah justru oleh kesempurnaan oleh pemahamannya akan Serat Sastra Jendra. Bersama Dewi Sukesi, calon mempelai yang akan dipinang untuk anaknya, ia terjebak oleh sebentuk cinta yang malah mewujud angkara. Hingga akhirnya keduanya baru berhasil melahirkan keutuhan penyesalan itu pada Wibisana. Penebusan kesalahan itu bahkan pada akhirnya melepaskan Wibisana untuk ikut dalam kekuatan Ramawijaya demi menumpas angkara yang lahir dari rahim cinta mereka. Toh hal itu tidaklah mudah, angkara yang lahir dari percintaan guru-murid (Wisrawa-Sukesi) ini adalah sebuah angkara dahsyat yang tidak mudah punah dalam sekejap.

Wahai Begawan nan rupawan
Elok nian paras dan tutur mu..
Duh Dewi si keras hati
Tinggi sekali maumu..
Namun manusia hanya manusia..
Seringnya kalah oleh godaan
Oh nafsu..

Di sinilah petaka itu bermula. Guru Begawan Wisrawa bertandang sebagai wali anaknya kepada sahabatnya Prabu Sumali. Wisrawa seorang resi mewakili Danareja untuk meminang Dewi Sukesi. Prasaratnya adalah mewedarkan ajaran Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu kepada Sukesi. Dimulailah pitutur itu dengan campuran was-was dari Prabu Sumali. Buah kata bijak meluncur dari Begawan Wisrawa :

Sungai itu seperti merindukan sesuatu dalam perjalanannya, namun justru dalam kerinduannya itu ia menjadi selalu baru…Sukesi, pahamkah kau sekarang akan arti masa lalu, dan masa depanmu. Kau harus tetap sama, Sukesi, tapi hendaklah kesamaanmu selalu membuahkan kerinduan, supaya hidupmu selalu baru.

Hingga ke puncaknya,sastra jendra itu adalah cinta. Baru dengan cinta itulah kau bisa membalik dunia.”

Namun, keindahan ajaran Begawan Wisrawa menjadi berantakan. Pertemuan yang harusnya sarat ilmu, sarat hikmah kembali lasak dengan nafsu. Semua musnah dan keduanya terkapar pada kerendahan mereka. Suara Ilahi terdengar menjelaskan kegagalan mereka. Kegagalan karena mereka semata mengandalkan budi yang dianggap mampu merengkuh cita-cita mulia. Suaranya sangat dalam dan filosifis. Suara Langit itu memayungi kedukaan Wisrawa dan Sukesi yang gagal ketika mereka merasa mencapai puncak dari Sastra Jendra,

Anakku, kau berdua mengira, hanya dengan budimu kau dapat mencapai kebahagiaan yang abadi itu. Kau berdua lupa, bahwa hanya dengan pertolongan yang ilahi, baru kau dapat mencapai cita-cita mulia itu. Manusia memang terlalu percaya pada kesombongannya, lupa bahwa kesombongannya yang perkasa hanyalah setitik air di lautan kelemahannya…Ketahuilah anakku, Sastra Jendra bukanlah wedaran budi manusia, melainkan seruan sebuah hati yang merasa tak berdaya, memanggil keilahian untuk meruwatnya…Sastra Jendra pada hakekatnya adalah kepasrahan hati kepada yang ilahi, supaya yang ilahi menyucikannya. Kepasrahan ilahi itu yang tak kau alami, ketika kau merasa memahami Sastra Jendra.”

Betapa tipis batas antara tahu dan tidak tahu. Betapa semua itu ada pendapat lain, bernama kepasrahan hati…

Betapa hancur hati Danureja dan istri sang begawan – Dewi Lokawati.

Kegagalan yang akhirnya melahirkan sosok yang dikenal dengan nama Rahwana. Petaka bermula dari sini, dosa Wisrawa dan Sukesi melahirkan anak-anak raksasa ; Rahwana si muka sepuluh (dasamuka), Kumbakarna (raksasa sebesar gunung Anakan), Sarpaneka (raksasa wanita yang tidak sedap baunya) dan terakhir Wibisana yang satu-satunya berwujud manusia sempurna yang baik dan bijaksana.

Rama, Sinta dan Laksamana harus berhadapan dengan keluarga turunan mantan Begawan Wisrawa dan Sukesi. Rahwana menculik Dewi Shinta dan membabi buta menghabisi siapa saja yang menghalangi niatnya. Mujur Rama dan Laksamana mendapat dukungan dari keluarga turunan Resi Gotawa. Yaitu Anoman, Sugriwa dan Anggada (anak Subali), serta pasukan kera yang siap menghancurkan Alengka.

Anoman,  Anoman adalah ksatria kekasih dewa berwujud kera. Di satu sisi ia adalah ksatria dengan segala statusnya dan kedekatannya dengan dunia langit, namun di sisi lain ia adalah kera yang yatim. Ia disapih oleh alam dibesarkan oleh alam, namun tak dapat menutupi kesenduan dan kerinduannya akan ibu dan langit tempat ia berasal. Sebuah kontras yang membuatnya terus mengada menuju kesempurnaan itu. Wujud badaniahnya yang kera tak menghalanginya untuk menempa keluhuran budinya.

Sampai ia menjelma menjadi Anoman Obong. bong o bong obong obong bong…

Akhirnya tiga keluarga besar Kedewataan, Ketiganya berkelindan dalam satu hubungan: Cinta.

Kepergian Rama ke hutan adalah buah dengki dan nafsu kuasa seorang ibu tiri. Kepergiannya berujung getir cinta Sang Ayah yang berpulang didera kesedihan. Kepergian Ramawijaya yang sempat tertahan oleh tangis tulus Sang Adik Barata tidak bisa dicegah. Itu adalah bagian dari Kehendak. Tangisan Sang Adik itu pupus dengan seloka nasihat untuk penguasa yang dikidungkan Rama dengan sangat indahnya, “Memerintahlah dengan Cinta” .

Meski di hutan mereka berdua masih merasakan cinta yang mendalam. Mendapatkan pitutur Resi Yogiswara yang bikin merinding, “ …jangan bermegah atau sombong kalau kau merasa telah melakukan perbuatan baik, kau hanyalah jalan dan kesempatan bagi kebaikan untuk menjelma ”  menyombongkan kebaikan pun sebuah dosa besar. Ini awal dari pembentukan karakter Ramawijaya, bukan ayah yang telampau menyayang yang membuat Rama matang, namun keheningan hutan yang menguatkan dan mematangkan Ramawijaya.

Rama memberi wejangan kepada Barata adiknya, yang dengan terpaksa menggantikan kedudukannya sebagai raja Ayodya selama Rama dalam pengasingan.

“Barata, apakah satu-satunya milik rakyat yang paling berharga dan bernilai, kalau bukan kebebasannya. Kalau mereka mengangkatmu menjadi raja, berarti mereka rela menyerahkan sebagian dari milik mereka satu-satunya itu. Janganlah kau sia-siakan pemberian rakyatmu itu, hargailah dan hormatilah. Dengan demikian tugasmu sebagai raja bukan pertama-tama untuk memerintah, melainkan untuk menyuburkan hidup mereka sebagai manusia, yakni manusia yang berkembang kebebasannya.” 

Pada suatu ketika Laksmana pun menasehati kakaknya yang sedang bersedih karena kehilangan Sinta.

“Kakakku, adakah kelopak bunga mekar kalau belum musimnya? Dan masakan mega mengisi angkasa kalau tiada maksudnya? Siapakah yang mempertemukan cinta lelaki dan perempuan kalau bukan perpisahan? Hidup ini beredar Kakakku, bagaikan angin Dewa Bayu. Dalam kehidupan yang berjalan inilah pertemuan dan perpisahan beradu.” 

“Maka ingatlah, Kakakku, sebenarnya dalam perpisahan pun berada cinta. Malah cinta itu akan makin mekar di sana. Janganlah kau memisahkan kelemahan dan kekuatan, kejelitaan yang bahagia dan ketabahan yang menderita, kejujuran dan kepura-puraan. Tidakkah kau akan bangga, jika nanti kau melihat kekasihmu kuat karena kesendiriannya daripada lemah karena kalian selalu berdua? Bukankah ketabahan yang menderita akan membuat hatinya menjadi nirmala, melebihi kejelitaan lahirnya yang hanya sepintas kelihatan bahagia. Dan percayalah kejahatan dunia ini adakalanya terpaksa menantang orang untuk berpura-pura cinta terhadap orang lain demi kejujuran cintanya pada kekasihnya,“ kata Laksmana lagi. 

“Kakakku, camkanlah ini. Cinta itu bukan untuk memiliki kekasih hatinya seperti apa adanya. Cinta itu mengharuskan seorang rela membiarkan kekasihnya berkembang hidupnya. Dan itu semuanya akan makin terjadi justru dalam perpisahan. Dan, kakakku, justru dalam perpisahan itulah kau akan merasa apa sesungguhnya cinta,” jawab Laksmana. 

Rama, yang selalu di anggap sebagai perwujudan Dewa, ternyata sosok yang penuh keraguan dan agak sedikit gegabah. Jika saja tak ada Laksmana di sampingnya, juga Anoman serta Wibisana, mungkin Rama takkan pernah berhasil dalam menjalankan tugasnya merebut kembali atau menyelamatkan Dewi Sinta yang diculik Rahwana. Untuk itu maka Rama menempuh jalur perang tumpah darah antara pasukannya yaitu balatentara kera melawan pasukan raksasa pimpinan Rahwana sang raja Alengka.

 “Laksmana, adakah adil bila menenggelamkan berjuta-juta balatentara dalam samudra darah hanya demi seorang wanita?” tanya Rama tak menentu hatinya. “Itulah, Kakakku, keanehan hidup ini. Justru dalam kengerian itulah keindahan nampak makin bernyala-nyala.”…

“Laksmana, apa maksudmu?”… bergetar hati Rama… “Cinta pun perlu mandi dalam darah supaya ia menjadi mutiara.”… ungkap Laksmana.

Nun jauh di sana, Dewi Sinta yang sangat setia dan selalu menjaga cintanya terhadap Rama mesti berurusan dengan raksasa bengis. Siapa yang sangggup membayangkan bermesraan dengan Rahwana, Shinta lebih baik mati daripada menjadi pelayan nafsu si Dasamuka.

Berbeda dengan suaminya- Rama menyimpan keraguan akan keutuhan cinta Shinta. Betapa sedih dan terpukulnya Shinta saat Anoman memintanya untuk mengenakan cincin titipan Rama, guna mengetes kesuciannya. Wahai Rama, pikirlah lagi.. kesucian yang mana? Kau kan yang membuatnya bukan gadis lagi.. Cincin itu menyala begitu terangnya..

Batu menyala namun hatinya miris, sang suami meragukannya hingga perlu bukti. Padahal kala Rama memakai kalung permata titipan Sinta melalui Anoman – nyalanya hanya redup saja…

Bagaimanapun juga pencarian terhadap Sinta tetap berjalan. Rama dan pasukan kera berhasil mengalahkan Alengka, hingga membinasakan Rahwana – si lambang kejahatan utama – namun ia tidak mati, tidak bisa mati. Kejahatan selalu ada supaya kebaikan punya faedah.

Setelah perjuangan yang memakan banyak nyawa tersebut, betapa mengagetkan reaksi Rama terhadap Sinta. Sudah nyala api cintanya redup tapi angkuh, sombong. Peribahasa sombong adalah rendah diri yang di tutupi.. sepertinya benar. Kadar cintanya sudah lebih rendah dibanding Sinta, tapi masih bisa minta pembuktian dari sang istri.

ketika perang telah usai, ketika Dewi Sinta akhirnya masuk tenggelam dalam jilatan kobaran api atas permintaan Rama demi membuktikan kesuciannya, di tengah kekejaman dan kesedihan itu nampak anak-anak kera dan anak-anak raksasa riang bermain bersama-sama. Kegembiraan mereka seolah mengejek: kisah dan riwayat yang dialami orang tua mereka ternyata hanyalah mimpi yang berakhir dengan kesia-siaan belaka.

Lalu apa gunanya mengerahkan ratusan pasukan kera menyeberang ke Alengka, menewaskan ribuan nyawa, hanya untuk membuktikan cinta yang dia tolak sendiri?

 Adakah Rama telah berhasil memahami sastra jendra?…

Hai satria agung….
Yang katanya berbudi luhur…
Apa lebih mu dari yang lain
Bila kesucian fisik itu yang terpenting..
Apa lebih mu dibanding Rahwana?
Tiadakah cinta dihati dan kesetiaan lebih berarti?

***

 Perang ini bukanlah kisah riwayat Rama yang hendak memperebutkan Dewi Sinta, kekasihnya. Perang ini adalah sejarah manusia yang ingin mewujudkan kesempurnaannya. Ramayana dan Dewi Sinta hanyalah lambang, Sedangkan kenyataan yang sebenarnya adalah kehidupan itu sendiri.

“Dalam penderitaan sering orang tergoda oleh kerinduan akan bayang-bayang kebahagiaan, padahal kebahagiaan sejati ada dalam penderitaan kita sendiri. Dan dalam kesunyian di mana kita sudah diasingkan dari keramaian ikhwal dunia dengan segala godaannya, bisa saja muncul keramaian yang kita ciptakan dari hati kita sendiri. Keramaian macam itu adalah angan-angan bohong, karena justru pada saat sunyi macam inilah kita seharusnya mengalami hakekat kita yang sejati.” 

Sastra Jendra Hayuning Pangruwating Diyu 

Sebuah ilmu rahasia keselamatan untuk meruwat sifat-sifat angkara di dunia, baik mikro dan makro. Untuk meluluhkan, merubah, memperbaiki sifat-sifat diyu, raksasa, angkara, durjana yang ada pada diri sendiri.

Rahayu… Rahayu… Rahayu…

*** 

About these ads