Benarkah Akan Ada Wahyu Keprabon Yang Turun Di Malam Ke-12 atau Ke-13 ?

Oleh : Lesung Pipi3t

Beberapa hari yang lalu seorang teman diskusi di Blog menghubungi saya untuk menceritakan Vision-nya yang diperolehnya lewat sebuah mimpi.

Berikut percakapan kami :

⭐ LP : Lesung Pipi3t

⭐ D : Dewi

LP: Hallo mbakyu, apa kabar?… Saweg nopo?…

D: Kabar baik mas Lespi3t, niki lagi santai baca-baca beranda

LP: Rame banget nggih mbakyu?

D: Iya beranda macem-macem beritanya…

LP: Pemiu nggih?

D: Iya terutama… he he he…

LP: Mbakyu, sudah dapat berita wahyu keprabon?…

D: Enggak, nopo niku? Pilpres? Pakde lagi kan?

LP: Iya .. he he he… Continue reading

Relief “Nyi Blorong” Ataukah “Putri Duyung”?

Patung Putri Duyung yang bagian dadanya ditutupi kain berwarna emas di kawasan  Putri Duyung Resort Ancol Jakarta ini kini ramai diperbicangkan dan sempat menjadi viral di media sosial.

Karena sebelumnya patung Putri Duyung ini tidak memakai kemben, sehingga berkembang berbagai opini, seperti: Mengapa harus ditutupi? Apakah karena dianggap terlalu vulgar? Apakah karena patung ini bukan berasal budaya kita alias budaya dari manca?…

Sebenarnya patung atau relief sosok Putri Duyung atau Ikan Duyung ini sudah ada di Nusantara sejak dahulu, merujuk pada penelitian Bapak M. Dwi Cahyono, ketua Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, beliau menemukan relief sesosok yang menyerupai Putri Duyung dalam pahatan relief batu bata kuno di Museum Tumpang Malang 🙂 … Continue reading

Akar Sejarah Kuliner Lalapan Ikan

RAJAMANGSA DAN ANEKA IKAN SEBAGAI MENU MAKANAN ISTIMEWA ISTANA MASA HINDU- BUDDHA (1)

Oleh : M. Dwi Cahyono

(Saya rangkumkan dari tulisan Bapak Dwi Cahyono dari blog beliau)

http://patembayancitralekha.com/

A. Rajamangsa, Makanan Khusus Keluarga Istana

Sebutan “Rajamangsa” adalah kata gabung, yang terdiri atas dua kata, yaitu kata : (a) raja, dan (b) mangsa. Kata “mangsa” atau “mansa” adalah iistilah serapan dari bahasa Sanskreta, yang secara harafiah berarti : (1) daging, (2) mangsa, makanan, (3) pemakan daging, menghabiskan, melahap (Zoetmulder, 1995:651). Isilah ini juga kedapatan sebagai kosa kata dalam bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan, bahkan sejak susastra tua seperti kitab Adiparwa (141, 149), Udyogaparwa (101) maupun kakawin Ramayana (6.75). Kata jadian “makamangsa” mengandung arti: mempunyai sebagai mangsa, melaham. Adapun kata jadian “amangsa,” dan “minanfsa” berarti : makan daging, melahap,, makan (pada umumnta).Istilahpati dalam bahasa Jawa Baru, yang ditulis dengan “mongso”, misalnya kata gabung untuk jajanan “Madumongso”. Dalam bahasa Indonesia kata “mangsa” jiga terdapat, dengan arti : (1) (daging) hewan yang menjadi makanan binatang buas, (2) organisme yang ditangkap dan dimakan oleh binatang predator, (3) sasaran perbuatan jahat (KBBI, 2002:711). Kata jadian “memangsa” mengandubg arti: (1) memakan, menjadikan sesuatu sebagai mangsa, (3) menjadikan sesuatu sebagai sasaran perbuatan jahat.

Continue reading

Semar Legenda Masyarakat Jawa

Pamuji rahayu ❤ …

Dalam hal mencari siapa sejatinya tokoh Jawa yang bernama Semar, tokoh yang kental dalam dunia perwayangan ini sangat berpengaruh sekali dalam budaya Jawa, siapa yang tidak kenal sosok yang bernama Semar? jangan mengaku orang Jawa kalau tidak mengenal beliau 😀 …

Anggapan Semar dijaman sekarang hanyalah mitos atau cerita dongeng masalalu, Mitologi suku Jawa yang sudah tertanam dari leluhur dan turun temurun hingga saat ini. Sebagian masyarakat di luar Jawa mengetahui tokoh semar hanya dongeng cerita perwayangan saja, bumbu pemanis atau pelengkap cerita perwayangan Jawa.

Sebagian orang Jawa menyimpulkan bahwa ia sangat percaya dengan keberadaan Semar, dan beberapa golongan sepiritual yang mengaku penganut kejawen mengatakan bahwa dapat merasakan kehadiran Semar di saat mereka bermeditasi. Dengan rasa keingin tahuan saya dan ketertarikan tentang tokoh Semar yang termansyur ini maka saya mencari keberbagai sumber, dari sumber yang saya dapat, saya kira sudah sangat cukup untuk menghapus rasa penasaran saya terhadap tokoh legendaris kuno tersebut, untuk itu mari kita baca dan simak penjabarannya sebagai berikut:

http://kawuloputrocucu.blogspot.com/2012/03/semar-legenda-masyarakat-jawa.html

Terdapat beberapa versi tentang kelahiran atau asal-usul Semar. Namun semuanya menyebut tokoh ini sebagai penjelmaan Dewa. Continue reading

Surabaya Tuan Rumah Seratus Tahun Kongres Budaya Jawa

Pamuji rahayu ❤ ,

Kagem poro kadang, sedulur lan pinisepuh, nuwunsewu…

Siang ini saya mendapat berita dari seorang pinisepuh yang dulu sama-sama pernah mengikuti ‘Konggres Kebudayaan Jawa’ di Solo pada tahun 2014, serta ‘Kongres Bahasa Jawa’ di Jogjakarta pada tahun tahun 2016 silam.

Beliau memberitahukan acara Kongres Kebudayaan Jawa (KKJ) ternyata telah digelar di Surabaya Nopember lalu.

“Saya tidak tahu. kelewatan. Saya buka di internet selama ini tidak pernah ada pengumuman”… Terang Beliau.

Whe lha inggih niki piye kok tidak semua orang tahu, bahkan terkesan dadakan, apa panitia yang di Solo dulu beda dengan panitia yang ada di Surabaya?… Saya juga tidak menerima pemberitahuan baik melalui telepon ataupun email. Bahkan beberapa bulan sebelumnya saya rajin browsing KKJ selanjutnya untuk sekedar mendapatkan info formulirnya pendaftarannya, tapi nihil.

“Lha kok baru sekarang tiba-tiba ujug-ujug mak-bedunduk ada berita bahwa KKJ telah di laksanakan di Surabaya??…” (Guman saya bertanya-tanya dalam hati).

Hmmm, ada apa ini? … Kenapa ‘undangan’ untuk pesertanya hanya dibatasi 300 saja?… Masing-masing dari Propinsi Jateng 100, DIY 100 dan Jatim 100. Pesertanya hanya separuhnya dari acara Kongres Kebudayaan Jawa di Solo dulu yang mencapai 500 lebih.

Tentu saja hal ini sangat patut di sayangkan, mengapa acara Kongres Budaya Jawa yang Ke-100 tahun ini, yang seharusnya lebih meriah dengan partisipasi kehadiran para pecinta Budaya Jawa serta para pemerhati Budaya Jawa malah justru terkesan tertutup hanya untuk kalangan PNS saja?? …

Terutama saya, saya yang hanya dari kalangan biasa tentu sangat merasa kecewa melewatkan acara ini. Bagaimana tidak? Surabaya adalah kota kelahiran saya, tempat saya tumbuh dan berkembang disana. Bahkan jauh-jauh hari sudah saya persiapkan sangat ingin menghadiri acara special ini, acara yang belum tentu datang setiap 4 tahun sekali, dimana Surabaya bisa mendapatkan giliran untuk menyelenggarakannya. Sungguh suatu kebanggaan dan kehormatan bagi saya bisa menghadiri acara yang sarat akan nilai-nilai Budaya Jawa.

Bagaimana Budaya Jawa bisa berkembang dan populer di masyarakat luas jika tidak ada perhatian dan dukungan yang ‘Real’ dari Diknas Departemen Kebudayaan Daerah?… Apa karena terkendala dana dari panitia setempat? (Mungkin).

Perlu diketahui bahwa peminat Budaya Jawa itu sebenarnya sangat banyak hanya saja mereka tidak mendapatkan akses atau kurangnya info kesitu sekalipun ini era Digital.

Teringat dulu saya pertama mendapatkan info undangan Kongres Kebudayaan Jawa lewat email mailis ‘Sekar Jagad’ dari Mendiang Ki Sondong Mandali, yang ke-dua info formulir pendaftaran peserta Kongres Bahasa Jawa dari dari email Poro Pinisepuh.

Dan hasil menjadi peserta Kongres juga sudah saya sharingkan di blog:

https://sabdadewi.wordpress.com/2014/11/17/kongres-kebudayaan-jawa/#more-2295

https://sabdadewi.wordpress.com/2016/11/17/kongres-bahasa-jawa-vi-2016/#more-3196

“Saya mau menulis artikel di blog mengkritisi KKJ kali ini.”… Kata saya mengakhiri pembicaraan di telepon.

“Bagus. Monggo” … Jawab Beliau. Continue reading

Semarak Hari Wayang Dunia Ke-IV 2018

Pamuji rahayu ❤ ,

Budaya Wayang Mahakarya Dunia Khas Nusantara

UNIMA Indonesia Gelar Perayaan “Hari Wayang Dunia”

Esensi budaya bagi manusia adalah ruang batin dan sumber nilai. Perubahan zaman dewasa ini, mendatangkan tawaran nilai, asimilasi, modernisasi, silang budaya, kompilasi, hingga inovasi.

Ada hubungan paradoksal antara budaya dan peradaban modern yang seakan saling bertentangan. Oleh karena itu nilai-nilai kearifan lokal (local wsidom) merupakan keharusan yang terus dijaga.

“Local wisdom tersebut beberapa di antaranya terkandung di dalam cerita wayang, yang menjadi sumber narasi; sanggit, cerita suluk, sabetan,” ujar Presiden UNIMA (Union Internationale de la Marionnette) Indonesia, TA Samodra Sriwidjaja, kepada wartawan, di acara Peringatan ‘Hari Wayang Dunia’, yang digelar di Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Rabu (21/03/2018).

Samodra menegaskan, bahwa kekekalan sesuatu yang baik adalah hal yang kerap sulit dijaga. Tanpa proteksi, menurutnya, budaya lokal berangsur kehilangan esensinya ditengah peradaban masyarakat global. Continue reading

Pesona Tari Massal Gandrung Sewu Banyuwangi

Pamuji rahayu ❤ …

Pagelaran Festival Gandrung Sewu pada hari Minggu, pada tanggal 20 Oktober 2018 Jam 13.00 WIB di Pantai Marina Boom Banyuwangi berlangsung sukses. Tentunya festival ini memberikan pesan dan kesan tersendiri.

Betapa tidak, meski sempat mendapat penolakan dari organisasi masyarakat Islam, karena ditakutkan acara ini akan menjadi syirik, musrik dan tempat maksiat. Pemkab Banyuwangi tetap menggelar acara ini… Bravo! 😀

Tari gandrung merupakan warisan seni dan budaya asli Banyuwangi yang telah diakui oleh dunia. Lebih dari 1200 penari Gandrung memeriahkan acara ini, dan kali ini, tarian yang sarat akan kearifan lokal Gandrung Sewu 2018 mengambil tema “LAYAR KUMENDUNG”. Continue reading

1 Suro Tahun Baru Islam Kejawen

Dengan memadukan penanggalan Śaka Jawa yang mempergunakan peredaran matahari dan bulan sebagai basic perhitungan dengan penanggalan Hijriyah Islam yang mempergunakan peredaran bulan saja sebagai basic perhitungan, pada tahun 1555 Śaka Jawa, Kangjêng Sultan Agung Prabhu Anyakrakusuma, Raja Mataram ke-3 yang memerintah pada 1613-1645 Masehi, mengesahkan adanya kalender baru bagi Tanah Jawa, yaitu Kalender Jawa atau Kalender Kêjawen. Perhitungan tahun tidak dimulai dari tahun 1, melainkan meneruskan perhitungan tahun Śaka Jawa yang sudah menginjak tahun 1555. Ini terjadi tepat pada tahun 1633 Masehi. Sistem perhitungan rumit dan pelik Śaka Jawa hampir semua di adopsi namun kebanyakan sudah diubah namanya menjadi nama-nama Arab. Bahkan nama bulan pun juga mempergunakan nama-nama Arab. Paling kentara adalah penamaan nama hari yang semula mempergunakan nama Kawi diubah menjadi nama Arab. Continue reading

Sêrat Wedhatama 1 & 2

Sarwa Hayu ❤

Sapantuk wahyuning Allah,
Gya dumilah mangulah ngelmu bangkit,
Bangkit mikat reh mangukut,
Kukutaning jiwangga,
Yen mangkono kêna sinêbut wong sêpuh,
Liring sêpuh sêpi hawa,
Awas roroning ngatunggil.

Terjemahan :

Siapapun juga yang mendapatkan wahyu Allah,
seketika akan memancar pemahamannya dan pengetahuannya akan bangkit,
bangkit mengikat sekaligus menggenggam,
terhadap keseluruhan jiwa raga,
apabila demikian yang terjadi maka sudah bisa disebut sebagai manusia sepuh,
maksud dari sepuh adalah telah sunyi dari banyak keinginan,
dan telah awas kepada ‘dua yang menyatu’ (manunggaling Kawula Gusti).”

(Sêrat Wedhatama, Pupuh Pangkur, diterjemahkan oleh Damar Shashangka). Continue reading

Ketika Drupadi Moksha Bersama Kelima Suaminya

Beberapa tahun setelah darah mengering di medan Kurusetra, Hastinapura menjelma menjadi negara yang agung di bawah pimpinan Prabu Parikesit.

Saat itulah Yudhistira merasa tugasnya telah selesai. Maka ia mengutarakan keinginannya untuk mencari kesejatian, kembali kepada “Sangkan Paraning Dumadi”  dengan mendaki Gunung *Himawan*/Mahameru…

Keempat saudaranya, dan Drupadi, terkesiap. Mereka tak mau ditinggalkan di istana.

“Aku tak punya siapa-siapa lagi, Kakang…” isak Drupadi “Aku hanya punya dirimu dan Pandhawa…”.

Drupadi benar. Seluruh keluarganya terbunuh di Bharatayudha. Ayahnya, Drupada tewas di tangan Dorna. Continue reading