Bulan-bulan ini bangsa indonesia di haru-biru oleh berbagai isu, ketegangan konflik dan meningkatnya suhu politik, serta berbagai perilaku aneh para politisi dan kontestan terutama pemilu Pilkada yang tidak gentlemen, ada yang menggunakan cara-cara yang tidak mendidik hingga isu agama yang di politisir  menjadi fatwa halal-haram dalam memilih sosok pemimpin.

Sangat di sayangkan bahwa kita yang hidup dalam lingkungan yang majemuk namun tidak mencerminkan sikap plurarisme, terlebih sifat pemimpin kita yang kebanyakan masih memiliki mental feodal dan fanatisme. Seperti contoh nyata dari seorang Dai kondang yang menyatakan bahwa Tuhannya tidak akan meridloi pemimpin yang tidak seagama. Tentu saja penuturan ini sangatlah rendah, menggelikan, tidak manusiawi sekaligus rasis.

Fenomena saling sikut dalam praktek kehidupan sosial dan sistem politik bangsa Indonesia saat ini semakin memperlihatkan praktek dan perwujudan cara berfikir (filsafat/ pandangan dunia) yang jauh dari realisasi asasi nilai-nilai luhur budaya bangsa kita yang sejatinya.

Cepat atau lambat perlunya gerakan moral dari generasinya untuk menghilangkan sifat-sifat negative, egois dan iri dengki. Dengan mengikis fanatisme dan mengembangkan toleransi serta tidak memonopoli kebenaran sendiri, akan bisa membangun Nusantara yang kita cintai ke arah perubahan peradaban masa depan yang lebih berbudi daya.

Bhineka Tunggal Ika, Berbeda-beda tetap satu jua…