“Terimalah perhiasanku ini, Nak,” kata Dewi Sukesi. Dan perempuan tua ini pun mengalungkan untaian kembang kenanga di dada Kumbakarna! Mendadak alam pun membalik ke masa lalu. Tanpa malu-malu. Jeritan kedukaan menjadi madah syukur sukacita. Bermain-main anak-anak bajang di tepi pantai, padahal kematian sedang berjalan mengintai-intai. Gelombang lautan hendak menelan anak-anak bajang, tapi dengan kapal kematian anak-anak bajang malah berenang-renang menyelami kehidupan. Hujan kembang kenanga di mana-mana, dan Dewi Sukesi pun tahu, penderitaan itu ternyata demikian indahnya. Di dunia macam ini, kebahagiaan seakan hanya keindahan yang menipu. Sukesi terbang ke masa lalunya, ke pelataran kembang kenanga. Ia tahu kegagalannya untuk memperoleh Sastra Jendra ternyata disebabkan oleh ketaksanggupannya untuk menderita. Ia rindu akan kebahagiaan yang belum dimilikinya, dan karena kerinduannya itu ia malah membuang miliknya sendiri yang paling berharga, penderitaannya sendiri. Dan pada Kumbakarna lah kini penderitaan itu menjadi raja”. (by: Romo Sindhu)

***

Kembali ke masa silam, Dewi Sukesi adalah putri dari pasangan Sumali, raja Raksasa dari Kerajaan Alengka dan ibu Danuwati dari kerajaan Mantili. ia memiliki adik laki-laki bernama Sukesa, yang kelak menjadi paman dari Rahwana (Dasamuka), sekaligus seorang panglima perang dan pejabat senior berjuluk *Prahastha yang sering memberikan nasihat dalam menjalankan roda pemerintahan. Sukesi dan Sukesa terlahir dalam wujud manusia seperti ibu mereka, sedangkan sang ayah berwujud raksasa.

*ketika Resi Wisrawa datang ke Alengka untuk meminang Dewi Sukesi untuk anaknya, Sumali tertarik dan ingin mempelajarinya. Wisrawa pun mengajarkannya di dalam sanggar tertutup. Sumali pun memperoleh pencerahan dan wujudnya berubah menjadi manusia. Sementara itu Sukesa yang diam-diam mengintai mendapat balak sehingga wujudnya berubah menjadi raksasa. Sejak saat itu Sukesa berganti nama menjadi Prahastha.

images (39)

Sukesi tumbuh menjadi perempuan cerdas yang gemar belajar. Banyak para raja dan pangeran berdatangan untuk mempersuntingnya. Seorang perwira Alengka bernama Jambumangli tampil mengumumkan sayembara barangsiapa yang bisa mengalahkan dirinya berhak memperistri Sukesi. Namun Sukesi sendiri juga menggelar sayembara yaitu ia hanya mau menikah apabila ada orang yang bisa mengajarinya ilmu Sastrajendra Hayuningrat.

images (38)

Prabu Danareja ingin mempersunting Dewi Sukesi. Tetapi ilmu Sastrajendra yang begitu tinggi itu hanya dikuasai oleh ayahnya, Begawan Wisrawa. Maka sang anak pun memohon bantuan orang tuanya, dan Begawan Wisrawa bersedia mengikuti sayembara tanding demi dan atas nama anaknya, Prabu Danareja.

Melalui ilmu Sastrajendra maka simbol sifat sifat keburukan raksasa yang masih dimiliki manusia akan menjadi dirubah menjadi sifat sifat manusia yang berbudi luhur. Dan ilmu ini oleh para dewata hanya dipercayakan kepada Wisrawa seorang satria berwatak wiku yang tergolong kaum cerdik pandai dan sakti mandraguna untuk mendapat anugerah rahasia Serat Sastrajendrahayuningrat Diyu. Ketekunan, ketulusan dan kesabaran  Begawan Wisrawa menarik perhatian dewata sehingga memberikan amanah untuk menyebarkan manfaat ajaran tersebut. Sifat keihlasan Wisrawa dan kemampuan membaca makna di balik sesuatu yang lahir, kegemaran berbagi ilmu dan gemar bertapa mengurai kebijaksanaan serta memperbanyak lelaku menahan nafsu duniawi, Kebiasaan ini membuat sang wiku tidak saja dicintai sesama namun juga para dewata.

images (35)

Oleh karenanya Begawan Wisrawa turun dari pertapaan. ”Ada apakah anakku, dalam tapaku, aku melihat kegelapan. Mengapa negeri ini, yang kita cintai, dalam kesengsaraan? Air bening untuk hidup rakyat tidak lagi ramah. Seluruh air kembali lagi pada sumbernya di bawah samudera. Bunga-bunga layu sebelum berkembang, buah yang ada pun tak sempat masak. Diapakan negeri kita ini, wahai anakku?”
images (77)”Wahai ayahanda, seluruh kehidupanku dirampas oleh cinta Dewi Sukesih, dan aku tak mampu memikirkan bangsa ini, negeri ini. Yang kupikirkan adalah kecantikan Dewi Sukesih”, berkata Prabu Danareja.

”Wahai anakku, Sang Dewa marah padamu. Karena engkau telah mematikan kesuburan negara ini dengan asmara, wahai anakku, jangan jadikan asmara ke dalam pekerjaan yang besar. Karena asmara adalah dunia kecil yang mampu menghancurkan dunia yang besar”, kata Begawan Wisrawa.

”Wahai anakku, jangan engkau melihat kebenaran-kebenaran yang ada di muka bumi ini, melalui perasaan asmaramu. Keluhuran nilai akan ternoda, tak bermakna, manakala diteropong oleh perasaan asmaramu. Namun demikian, aku ayahmu pernah merasakan perasaan asmara. Biar aku yang melamarkan, menyunting Dewi Sukesih. Ayahnya adalah sahabatku. Cintaku untukmu wahai anakku, biarlah aku, ayahmu mewakili datang ke kerajaan Alengka.”

***

Sesampainya Begawan Wisrawa di kerajaan Alengka, kebahagiaan batin dari raja Alengka, Prabu Sumali, menyatu dalam pelukan mesra dengan sahabatnya ”Wahai sahabatku Prabu Sumali, ada apakah? Kesenduan di matamu tak mampu engkau sembunyikan”, bertanya Begawan Wisrawa.

”Wahai sahabatku Begawan Wisrawa, gara-gara anakku, darah para raja harus mengalir di negeri yang kucintai ini, Alengka.”

mrsj

”Karena itu aku datang untuk menyunting puterimu, untuk anakku.” Maka dipanggillah Dewi Sukesih oleh ayahandanya, dan diceritakan akan disunting oleh seorang raja dari Lokapala.

”Wahai ayahku, aku mau dikiwini oleh seorang raja atau oleh orang miskin sekalipun. Asal mampu memedarkan, menerangkan Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.”

Berkata Begawan Wisrawa pada sahabatnya, Prabu Sumali ”Wahai sahabatku, akan aku bawa puterimu, siapkan tempat, sebuah taman sunyi yang hanya ada bunga Kenanga.”

images (21)

Maka Begawan Wisrawa membawa Dewi Sukesih. Manakala masuk ke taman yang indah, Begawan Wisrawa memandang Dewi Sukesih dengan kecintaan seorang ayah pada anaknya… ”Kesinilah putriku.” Saat itu pula Dewi Sukesih merasa berdiri di bumi ini, dan dunia ini hanya ada di telapak kaki Dewi Sukesih dan Begawan Wisrawa, serta mampu menggapai bulan yang ada, tidak hanya satu, tapi tiga.

”Wahai Dewi Sukesih, engkau mampu menggenggam bulan. Keanggunan dan kemolekan bulan sejak dulu selalu menghina dan memperkecil makna duniawi. Namun dihadapanmu wahai putriku, sang bulan meronta. Cahayanya engkau ambil alih ke dalam jiwamu.”

images (60)

Saat itu pula, Dewi Sukesih merasa retak hatinya. Sakit yang tiada sebab, seperti benci pada seseorang tapi tak ada orangnya. Resah oleh sesuatu tapi tak ada kesalahan, kesal akan sesuatu tapi tidak tahu sebabnya. Emosi bergemuruh dalam diri Dewi Sukesih!

”Wahai putriku, jangan engkau membiarkan gejolak emosimu menjadi tuan di dalam dirimu. Bulan yang angkuh tak berdaya, karena engkau ambil alih kemolekannya, dan energinya kembalikan pada bulan. Wahai puteriku, engkau tak mampu menerima kemolekan bulan, karena sang rembulan, cahayanya menjadikan bunga-bunga berkembang, menjadikan binatang-binatang memadu cinta, maka berkembanglah keturunan kelestarian alam ini oleh cahaya kekuatan rembulan. Jangan kau ambil alih kedalam jiwamu.

Engkau adalah yang berdarah dan berdaging. Manakala kau menyimpan cahaya rembulan di dalam jiwamu, berarti engkau merampas hak hidup bagi hewan dan tumbuh-tumbuhan. Itulah sebuah permulaan dari Sastra Jendra, wahai puteriku.”

Maka Dewi Sukesih dengan kekuatan bathinnya, mengusir luka didalam bathinnya, kesakitan dalam perasaannya. Bulan yang redup, terampas cahayanya oleh Dewi Sukesih, kembali bersinar terang.

”Wahai Puteriku”, berkata Begawan Wisrawa, ”Sastra Jendra adalah bukan kata-kata, Sastra Jendra bukan kalimat, Sastra Jendra adalah ’sesuatu’ yang mempunyai wadah, tapi ada di alam dunia ini. Ada di bumi ini, ada dalam cakrawala dan ada dimanapun. Tapi Sastra Jendra tak mampu tertampung karena wadahnya belum ada.”

Manakala Begawan Wisrawa mengakhiri kata-kata ini, mengangkasalah keduanya, ke suatu tempat yang sangat jauh. Sampailah ke suatu tempat yang sunyi, mencekam!

images (33)”Wahai Puteriku, jangan menjerit, karena disini tiada siapapun. Tiada orang yang bisa dipanggil, tiada apa-apa tempat berpijak. Tidak ada sesuatupun permasalahan.”

”Wahai puteriku, disini kita tidak memiliki dan disini kita tidak dimiliki. Dan engkaupun disini tidak lagi memiliki dirimu sendiri. Dirimu yang berdarah dan berdaging, dirimu yang berjiwa dan berperasaan, adalah ketiadaan.” Demikian sang Begawan bertutur.

”Kita dalam ketiadaan, rasakanlah anakku, manakala engkau kehilangan rasa memiliki, termasuk dirimu sendiri. Kita dalam kematian. Kematian adalah melepasnya rasa memiliki. Dibalik kematian justru ada kehidupan yang sejati. Kehidupan yang tidak dapat lagi dialas oleh definisi, kehidupan yang tidak mulai dari awal dan tidak berakhir dari satu batasan. Itulah Jatining Hurip.”

”Wahai anakku, kematian adalah sebenarnya sebuah proses kehidupan yang lebih luas dari proses kehidupan sebelumnya, kita berada dalam kehidupan yang sejati. Tenang dan tentram, karena merasa tidak dimiliki dan tidak memiliki”, demikian sang Begawan.

”Wahai Puteriku, manakala engkau merasa memiliki, engkau akan menggugat pada yang engkau miliki. Dan merasa engkau dimiliki, engkaupun akan digugat oleh mereka yang merasa memiliki dirimu. Kini kita merdeka, kemerdekaan bathin dan perasaan yang tiada batas.”

”Wahai Begawan, dimanakah dewa-dewa?”

”Di sini tidak ada dewa, wahai Puteriku. Dewa pun tiada, hanya kita. Manakala engkau ingat pada dewa, berarti kita masih ’merasa’ ingin memiliki. Dewa pun tidak ada, hanya kita berdua.”

Maka Dewi Sukesih merasa tenang dan tenteram. Ketenteraman yang sangat tinggi dan indah, kesejukan bathin yang tiada tara. Maka mereka masuk lebih jauh lagi.

”Mari kita masuk lebih jauh ke angkasa ketentraman.”

”Kita akan kemana? Bukankah kita sudah sampai ke alam ketenteraman, wahai Begawan”, tanya Dewi Sukesih.

”Belum, diatas ketenteraman ada ketenangan, diatas ketenangan ada kemegahan kesejukan. Itu tidak terbatas, wahai Puteriku.”

”Dimanakah puncaknya, wahai Begawan?”

”Puncaknya, ada didalam cinta. Kita menuju cinta, wahai Dewi Sukesih.”

Maka sampailah ke suatu perbatasan. Alam cinta dimasuki.”

images (34)”Anakku, kita masuk ke Sastra Jendra. Tiada alam diciptakan oleh Nya, kalau bukan karena cinta. Manusia dan hewan tidak mungkin ada tanpa cinta. Alam raya takkan tercipta tanpa cinta. Kita masuk, wahai anakku ke dalam cinta. Itulah Sastra Jendra.”

Masuklah mereka ke alam cinta. Masuklah Dewi Sukesih ke alam cinta. Maka jiwa bukan lagi terbatas oleh rasa tenteram, dibatasi oleh rasa tenang saja. Tetapi jiwanya tiada. Ketenteraman melampaui Kebahagiaan. Tiada lagi dikatakan bahagia, tiada lagi dikatakan nikmat, tiada lagi dikatakan enak. Diatas segalanya.

Maka gelombang cinta itu menyibakkan rambut Dewi Sukesih yang berkonde. Rambut terurai, bergelombang begitu indah terhempas cinta. Cinta, bisa dirasakan, tapi tak bisa dilihat. Cinta, bisa dinikmati tidak melalui kulit dan daging. Karena saat itu, Dewi Sukesih tidak lagi memiliki dirinya sendiri. Cinta yang sesungguhnya, bisa diraba oleh sesuatu, manakala manusia kehilangan eksis fisiknya, eksis pikirannya dan eksisnya. Maka di alam itu, mengalirlah sungai yang bening. sungai mengalir yang membawa energi cinta, kasih sayang.

”Wahai Puteriku, lihatlah sungai. Waktu tidak lagi bergerak, tapi waktu bergerak dibawa oleh kita. Seperti sungai yang melepas air-airnya, dia tetap diam. Waktu harus kita gerakkan, bukan kita yang digerakkan oleh waktu, wahai anakku. Walaupun sungai itu diam, tapi selalu baru. Kehidupan, wahai anakku, harus tetap baru. Usia menguasai kita, tapi kita akan tetap baru, jiwa kita dan perasaan kita. Kita tidak boleh harus tua oleh waktu, kita harus tetap muda, walau kita dirongrong oleh waktu. Kekuatan cinta tidak lagi termakan oleh usia. Tua dan muda, gagal menggoyangkan kemurnian cinta itu sendiri.” Demikian Begawan berkata pada Dewi Sukesi.

”Namun demikian sungai menurun, tidak pernah menanjak, wahai anakku. Lihatlah kehidupan. Kita jangan cari yang menanjak. Kita harus seperti sungai yang mengalir tanpa beban. Berbelok-belok dihimpit oleh gunung. Biasa, kehidupan harus terhimpit namun sekecil apapun himpitan gunung, sungai tetap mengalir, walaupun melalui celah-celah yang sempit.” tetap mengalir walau himpitan persoalan hidup seperti gunung yang menggencet.

images (27)”Wahai puteriku, jangan kalah, ngalirlah tetap. Kehidupan tetap mengalir.” Maka masuklah ke alam yang baru, lebih tinggi lagi. Di sana mereka tidak melihat masa lalu. Masa lalu tidak ada!

”Wahai Begawan, dimanakah aku waktu dilahirkan? Aku waktu remaja, saat bermanja pada Ayah dan Ibu?”

”Wahai Puteriku, masa lalumu tidak ada. Di sini tidak ada masa lalu, disini tidak ada bedanya. Masa lalu adalah kehidupan dunia. Di sini tidak ada masa lalu.”

”Wahai Begawan, manakah masa depanku?”

”Di sini tidak ada masa depan. Masa depan adalah kehidupan dunia, karena manusia dunia dirancang untuk bercita-cita, melihat masa depan. Dibangun oleh keinginan maka melihat masa depan, dibentuk oleh rencana kerja. Di sini Puteriku, tidak ada masa depan. Kita tidak ada lagi rencana keinginan, apa dan bagaimana. Di sini adalah keberadaan yang sesungguhnya. Bumi adalah bayang-bayang kita dalam kehidupan. Itulah Puteriku”, kata Begawan Wisrawa.

“Kalau demikian, wahai Begawan, apakah ’kerinduan’? Sedangkan aku merindukan masa depan yang lebih baik. Masa depan adalah kerinduan, dimanakah kerinduan. Ditempat ini tidak ada, wahai ayahku.”

”Wahai Puteriku, Kerinduan di sini tidak ada. Tapi ada dalam bathinmu dan jiwamu. Kerinduan akan sesuatu, ada dalam jiwamu. Dan dalam jiwamu lebih besar, lebih agung, lebih hebat dari alam ini, wahai anakku. Itulah Sastra Jendra. Sastra Jendra adalah kerinduan yang tersembunyi dalam bathin. Kerinduan bukan kepada anak isteri, kerinduan bukan pada suami, kerinduan bukan pada kekasih, kerinduan bukan pada harta dan kekuasaan. Kerinduan kepada sesuatu, dimana sesuatu itu pun kita tidak tahu. Itulah Sastra Jendra, wahai anakku.”

Maka, ”Wahai Puteriku, bila engkau merindukan sesuatu, jangan disini. Di sini tidak ada masa lalu dan masa depan. Di sini tidak ada keinginan dan harapan. Kembalilah kepada hati, wahai Puteriku. Hatimu yang ada kerinduan.”

”Masuklah kembali ke dalam hati, di sana ada kerinduan. Di sana ada kehidupan yang sesungguhnya, wahai Puteriku.”

mentari3Maka sang Dewi masuk ke dalam bathinnya sendiri, ke dalam perasaannya sendiri. Maka dijemputlah sang Dewi oleh cahaya gemilang, gemerlap sinar yang keindahannya melampaui cahaya matahari. Dan seluruh cahaya matahari di alam raya padam, tiada arti oleh cahaya yang datang dari bathinnya sendiri ”Wahai Begawan, cahaya apakah itu?”

”Itu adalah cahaya dari yang engkau rindukan. Itulah Sastra Jendra, wahai Puteriku.” Manakala cahaya tersibak, disana ada Kebijaksanaan, kebijaksanaan yang tersembunyi, kebijaksanaan yang tersimpan dari ribuan lapis perasaan hati. Kebaikan hati, keikhlasan, kepasrahan, itu adalah membentang rapat menutupi Kebijaksanaan.

”Wahai Puteriku, sibaklah hati pasrahmu, Puteriku, sibaklah hati kebaikanmu, sibaklah hati keikhlasanmu maka ada Kebijaksanaan. Kebijaksanaan ada di tempat yang paling dasar dari sibakan keikhlasan. Sibaklah hati yang baik.”

”Mengapa demikian wahai Begawan?”

”Karena kebijaksanaan adalah tetesan dari kesakitan yang tak mampu lagi menimbulkan luka. Dari kesakitan yang tidak lagi memberikan hujan duka. Dari tetesan kesenangan yang tak mampu lagi menggembirakan. Kegembiraan dan duka, punah! Itulah kebijaksanaan, wahai Puteriku. Itulah Sastra Jendra.”

”Kebijaksanaan”, kata Sang Begawan, ”Seperti malam bersayap siang, seperti siang berparuh malam. Seperti kematian yang berselimutkan kehidupan. Seperti kehidupan yang bersayapkan kematian. Rembulan di siang hari, matahari di malam hari, itulah kebijaksanaan. Itulah Sastra Jendra, wahai Puteriku.”

Sang Dewi pun tenggelam dalam kebijaksanaan. Di alam itu, sang Dewi muncul lagi rasa sengsara yang tak bertepi. Rasa duka yang luar biasa, Namun, manakala rasa kesakitan yang tinggi, muncul dalam jiwanya, tiba-tiba, tanpa proses. Tenang…senang yang melonjak! …..Terus demikian! Antara sakit dan senang diubah tiba-tiba. Proses psykologi yang tak mampu menampung perubahan yang sangat hebat. Dari sakit ke senang, dari duka ke tenang, dari resah ke aman, tiba-tiba. Terus demikian berganti-ganti.

”Wahai Begawan, apakah ini?”

”Ini adalah tangga-tangga menuju jagad raya, yang tak bertepi. Kita datang ke suatu tempat, Sumber Pencipta Alam Raya ini. Anakku, tangga-tangganya berlapis kesengsaraan yang tidak terhingga dan kebahagiaan yang tak terhingga.” Sang Dewi pun masuklah.

Manakala jiwanya tak terkecoh oleh duka dan senang, oleh rasa dan tenteram. Masuklah ke suatu alam, dimana di alam ini semuanya tidak ada lagi proses permulaan dari kejadian. Proses awal dan akhir. Maka Sang Dewi merasa malu kepada dirinya sendiri. Yang tadinya bangga dengan dirinya, bangga dengan kecantikanya. Saat itu, sang Dewi malu pada dirinya sendiri dan malu kepada alam, keadaan alam saat itu.

”Wahai Begawan, aku malu pada diriku.”

”Wahai Puteriku, manakala engkau malu pada dirimu berarti engkau kembali kepada kehidupan yang sesungguhnya. Manakala engkau malu pada alam ini, engkau sebenarnya kembali pada sumber awal kehidupan. Engkau berangkat dari sini, wahai anakku, dilahirkan ke bumi.”

”Aku pun malu yang tidak mengerti”, berkata sang Dewi.

”Wahai Puteriku, pengertian malu adalah malu pada Penciptamu. Ada disini Pencipta kita, kita tidak bisa melihat. Tapi kita ada dalam genggaman sang Maha Pencipta. Kita sedang berenang di Samudera kedewataan, wahai Puteriku.”

unduhan (4)

Tidak lama kemudian, Dewi Sukesih menemukan keindahan, keindahan sebuah permulaan. Dimana segala sesuatu tidak lagi melalui pengertian. Pengertian yang tidak perlu dipelajari, perasaan-perasaan rasa tidak lagi harus dibuat. Dia sampai pada puncak keindahan tiada tara.

”Wahai anakku, kita sudah sampai pada puncak kebahagiaan. Tiada lagi kebahagiaan selain di tempat ini, wahai anakku. Kebahagiaan yang tak bisa dipetik dengan ilmu. Kebahagiaan ini, tak bisa dipetik, dipanen dari perbuatan. Kebahagiaan yang bukan dipetik dari pengorbanan. Itulah puncak kebahagiaan.”

”Wahai Begawan, bilamana kebahagiaan ini yang bukan dipetik dari pengorbanan, apakah itu?”

”Itu adalah ’Hayuningrat’ anakku, Sastra Jendra Hayuningrat. Hayuningrat adalah kebahagiaan bukan yang dirintis dari keinginan berbuat baik, tapi Hayuningrat adalah Pangestu Hyang Pengeran. ” dalam memberikan sesuatu. Bukan keinginan kita, bukan jerih payah kita, Kehendak-Nya. Itulah Sastra Jendra Hayuningrat, wahai anakku.”

Hayuningrat adalah penyerahan diri total. Kebahagiaan yang begitu meresap ke dalam jiwa sang Dewi. Maka muncul kebahagiaan baru yang berlapis-lapis. Tambah mengangkasa tambah indah. Ternyata kebahagiaan pun berlapis-lapis tak bersisi, kebahagiaan yang tak ada limitnya.

”Wahai Begawan, kita menuju kemana?”

”Kita arungi kebahagiaan yang tak bertepi.”

”Apakah…..apakah ada tempat puncak?”

”Ada, puncak kebahagiaan.”

”Bagaimanakah cara sampai ke sana, wahai Begawan”,

”Wahai Puteriku, adakah sisa perasaan dalam hatimu untuk dipersembahkan?”

”Ada.”

”Apa?”

”Aku rindu kepada Tuhan.”

Dewi Sukesih merasakan, kebebasan sebebas-bebasnya tanpa rasa kekangan dari perasaannya sendiri. Artinya, setiap manusia mengalami himpitan dalam mengarungi kehidupan. Namun saat itu, Dewi Sukesih terbebas dari apapun yang menghambat dalam perasaannya. Dia terbang di alam Yang Maha Merdeka, Maha Sentosa, Gemah Ripah Loh Jinawi. Angkasa kebebasan yang sangat demokrasi.

”Wahai Puteriku, terbanglah sejauh-jauhnya, kepakkan sayapmu.”

images (58)Maka Dewi Sukesih terbang yang sebebas-bebasnya, seperti merpati yang mengarungi angkasa luas.

”Namun Puteriku, jangan terlalu jauh dalam terbang. Sejauh-jauh merpati terbang, akhirnya akan lelah jua. Sebelum lelah engkau harus kembali.”

Dewi Sukesih merasa sebagai manusia yang punya harkat, merasa dirinya mempunyai makna. Betapa dekat dengan yang menciptakannya, kasih sayangNya, terasa membelai jiwa. Sang Dewi merasa mendapat titah dari Hyang Urip, dan merasa seolah-olah dirinya tidak berhak lagi hidup di dunia. Dirinya enggan pulang ke bumi.

”Wahai Puteriku, jangan munculkan perasaan itu. Di sini adalah hak setiap manusia, di sini adalah hak setiap makhluk. Namun bumi pun adalah hak kita. Sekalipun engkau merasa tidak berhak lagi di dunia, namun fisikmu, dagingmu masih terikat oleh hukum dunia. Kematian masih memijak alam bumi ini. Engkau tidak akan mampu jauh di alam kebahagiaan ini, sedang kau masih punya raga di dunia. Jangan lupakan itu”, berkata Begawan Wisrawa.

Terus sang Dewi mencoba berusaha melupakan duniawi. Dunia terlalu hina dirasakan, niat baiknya sering dinodai.

”Wahai Begawan, segala keinginan yang baik selalu terjegal oleh noda dunia, aku enggan kembali ke bumi. Setiap pengorbanan yang kupersembahkan dengan ikhlas, selalu dihina oleh mereka yang hidup di dunia. Wahai Begawan, setiap bunga-bunga dihatiku kuungkapkan dalam kerinduan kepada rakyat, kepada mereka, kepada yang aku cintai. Namun mereka tidak pernah melihatku bahwa aku mempersembahkan keindahan, keikhlasan kepada mereka. Aku muak kepada dunia yang penuh kehinaan dan kekotoran.”

”Wahai Dewi Sukesih Puteriku, jangan engkau merasakan perasaan itu. Usirlah, rasa menghina bumi. Karena bumi, Hyang pula yang menciptakan, sama pula menghinakan-Nya, kalau engkau menghina dunia atau bumi. Stop gejolak penjelajahan perasaan seperti itu. Kita masih di dua alam. Keterikatan dengan bumi dan mengarungi hak kita di alam jagad ini.”

Namun Dewi Sukesih nakal, tetap diarungi. Tidak mau kembali ke dunia. Tiba-tiba keresahan bergelombang kembali. Keresahan bukan berasal dari alam keindahan ini. Alam surga Nirwana yang maha nikmat, tetap dengan segala keindahan dan kesempurnaan. Keresahan dan gejolak pilu datang dari bathinnya sendiri. Resah, merasa kotor, merasa terhina, ternoda.

”Wahai Begawan, aku merasa malu. Bukan malu seperti dulu, tapi aku malu kehinaan diriku. Betapa aku kotor di tempat ini, aku tidak pantas di tempat yang suci ini, wahai Begawan. Aku tidak pantas di tempat yang Agung ini, karena aku ternoda, karena noda itu aku sendiri yang menciptakan, wahai Begawan. Kenapa demikian wahai Begawan?”

”Wahai Puteriku, engkau, aku, memang datang dari noda, berangkat dari noda. Berangkat dari kesalahan, pergi menuju ke kesalahan. Kita menyimpan jagad kesalahan dalam diri kita, walau di tengah surga yang indah ini.”

Demikian Begawan Wisrawa berkata. ”Karena itu Puteriku, engkau harus ’diruwat’, supaya Gusti, bagus ing ati mensucikan jagad kita yang ternoda. Pangruwating. Karena dalam jiwa kita penuh nafsu dan amarah. Angkara murka yang tak bersisi, keserakahan yang tak berbentuk lagi, Itu harus diruwat. Pensucian jagad kita, karena kita tetap dalam kekotoran, walau kita mengangkasa di jagad keindahan yang sangat permai, yang sangat suci, yang sangat agung”, Begawan Wisrawa meneruskan keterangannya.

”Marilah kita kembali, Sastra Jendra sudah kupedar, Hayuningrat sudah kupedar, Kita harus kembali ke bumi, segera! Supaya Hyang Asih mensucikan jagad kita yang sudah kelam dalam kekotoran dan noda.”

Namun karena keindahan yang luar biasa. Terhanyutlah sang Dewi Sukesih dengan Begawan Wisrawa sendiri, hingga sampai ke gerbang Kahyangan, pintu surga, pintu Nirwana, tempat para dewa bersemayam. Gerbang ini dinamakan Sela Menangkep pintu masuk surga.

images (63)

”Ikutilah wahai Puteriku, cahaya itu. Kencana untuk mengarungi kehidupan. Cahaya dari Sang Hyang, cahaya yang sampai ke dasar hati.”

Begawan Wisrawa dengan Dewi Sukesih tambah tinggi-tambah tinggi, mengarungi lapisan-lapisan kebahagiaan yang tiada tara, melampaui ketenteraman dan kedamaian. Makna ketenteraman dan kedamaian itu adalah ”sela” atau batasan kecil dari rasa aman di muka bumi. Tapi di Jagad tersebut, di perbatasan alam Kahyangan, mereka terhanyut oleh alam kebahagiaan. Di mana alam kebahagiaan ini memiliki satu kenikmatan yang tak terhingga, walau masih kosong atau sepi dari energi kesejatian-Nya.

”Wahai Dewi Sukesih”, kata Begawan Wisrawa, ”Kita harus kembali secepatnya ke bumi.”

”Mengapa demikian wahai Begawan?”

”Karena kita ini masih memiliki raga. Di sini, di alam Kesucian tidak ada alatnya untuk mensucikan tubuh kita. Dan tiada mampu alam ini mensucikan jagad kotor yang kita simpan dalam jiwa kita. Sekalipun dunia penuh noda tapi di sana tempatnya ’pensucian’, tempat ’meruwat’.”

”Namun Begawan, saya tak mampu melepaskan kerinduan yang sangat kepada sesuatu yang ada di balik Kahyangan. Kita harus masuk ke pintu Kahyangan”, kata Dewi Sukesih.

”Apakah wahai Begawan, yang menarik jiwa ini untuk masuk ke Kahyangan. Walau pikiranku tidak merindukan kenikmatan Surgawi. Tidak merindukan kenikmatan Kahyangan. Bathinku merindukan yang menciptakan Kahyangan itu sendiri. Apakah itu, wahai Begawan?”

”Itu adalah ’Budi’, jawab Begawan Wisrawa, ”Budi yang ada dalam jiwa kita, yang tersembunyi, karena Budi berangkat dari cahaya kasih-Nya. Maka, meronta, bergerak, selalu menuju pada cahaya-Nya .”

Maka manakala menjelang Sela Menangkep, pintu Nirwana terbuka, dengan kegembiraan yang sangat, sang Dewi masuk. Yang tadinya Begawan menasehati untuk mengajak pulang, sang Begawan pun tersedot untuk ingin masuk ke pintu Kahyangan tersebut.

images (65)

Begitu masuk kepada sentral terdalam jiwa dewi Sukesih, muncullah perasaan tertentu dalam diri Dewi Sukesih. Dipuncak kesucian dari jagad perbatasan Kahyangan, Keagungan dan Kesucian memadu dengan keagungan dari Begawan Wisrawa. Dalam pandangan Dewi Sukesih, betapa gagah, betapa agung, betapa indah pribadi yang dipancarkan oleh sang Begawan. Menimbulkan kekaguman yang sangat dalam pada perasaan sang Dewi sebagai wanita.

Keagungan jagad Nirwana yang suci, memberi sentuhan keagungan dari sikap Begawan Wisrawa. Maka terlihatlah laksana Dewa Batara Kamajaya, simbol kesempurnaan seorang lelaki. Muncullah cinta asmara yang hebat pada sang Begawan, cinta dari anak ke Bapak, punah! Yang ada hanyalah sebagaimana cinta wanita pada pria. Rontaan-rontaan perasaan ini tidak kuat untuk diungkapkan.

”Wahai Begawan, Aku cinta padamu. Betapa engkau mempesona aku, betapa bertambah indahnya alam ini dan betapa bahagianya jiwa ini, sentuhlah kulitku ini, wahai Begawan.” Sang Begawan pun tersentak kaget!

”Dewi Sukesih anakku!….. Aku datang untuk anakku Danareja. Oh, Dewi Sukesih, kenapa pipimu yang merah dan indah itu harus dipoles oleh kembang api birahi? Dan alismu yang hitam, harus dihitamkan oleh abu angkara? Kulitmu yang halus, mengapa harus diperhalus oleh kemurkaan awan-awan yang kuning, Yang menyorot tubuhmu?.”

Maka pada saat Begawan Wisrawa bicara demikian, Dewi Sukesih kembali kepada jagad kesuciannya.

”Mohon ampun Begawan….. Mohon ampun raja Dewa. Aku tidak mengerti, kenapa tumbuh perasaan seperti itu. Dan akupun sadar, betapa aku belum pantas untuk masuk ke Nirwana yang Suci”, berkata sang Dewi dengan terbata-bata.

Untuk sesasat, perasaan cinta sang Begawan sebagai seorang ayah, ternyata telah menyelamatkan dirinya dari belaian maut cinta asmara.

Namun begitu muncul jagad daging sang Begawan, bergetarlah syaraf-syarafnya, muncul perasaan aneh dari sang Begawan. Terlihatlah, wajah cantik nan rupawan Dewi Sukesih, bertambah cantik. Betapa keindahan jagad suci kahyangan bertambah indah dengan kehadiran Dewi Sukesih. Pesona Kahyangan pun bertambah mempesona oleh wajah dan keindahan tubuh Dewi Sukesih. Terungkaplah rontaan perasaan yang tak bisa lagi dikendalikan. Yang biasanya ”wahai anakku” tapi kini, ”wahai dindaku”

Dewi Sukesih tersentak, kaget!

”Wahai Dindaku”, mengapa kita tidak manunggal ? Manunggal dalam jiwa, manunggal dalam perasaan, manunggal dalam bathin. Manunggal dalam jagad pikiran dan jagad raga kita. Supaya engkau meneteskan darah dari rahimmu, supaya dunia bertambah indah oleh darah-darah yang indah. Marilah kita lewati malam pertama dengan kakawin, supaya manusia di dunia tambah dirasakan indah. Dan menjadi dambaan tertinggi dari harapan kehidupan dunia.”

images (66)”Wahai Begawan, Aku melihat di matamu yang teduh, keluar mega-mega hitam dari nafsu seluruh manusia. Mengapa engkau ambil alih semua nafsu manusia yang ada di bumi? Yang katanya tak boleh dicela, wahai Begawan, walaupun engkau berhasil untuk tidak menghina dunia, namun kau ambil alih noda nafsu seluruh manusia di seluruh jagad bumi. Mengapa engkau isi mega-mega hitam itu dengan birahi? Yang telah engkau mampu padamkan. Dan engkaupun telah membawa obor birahi dari bumi, padahal aku tak melihat engkau mengambilnya dari bumi. Mengapa demikian, wahai Begawan?”

Tersadarlah sang Begawan.

”Wahai Maha Dewa yang ada di Kahyangan, betapa aku masih mensisakan rasa manusiaku, aku tak pantas menjadi penghuni Kahyangan. Izinkanlah aku dan Dewi Sukesih untuk segera kembali ke bumi, supaya kami tidak terjebak oleh sisa manusiawi kami, yang teryata masih kuat, teguh menjadi raja dalam jiwa kami.”

***

Reaksi pertama muncul dari alam jiwa, alam pikiran dan alam fisik Begawan Wisrawa. Dirasakan oleh sang Begawan, energi birahi lelaki menimbulkan meregangnya semua syaraf dan pori-pori tubuh. sang Begawan merasa menjadi gagah dengan otot-ototnya yang teguh serta urat-urat yang menegang. Resah! Diterpa birahi. Semakin meregang tubuhnya semakin keras pula keresahan yang menerpa. Melejitlah bak anak panah yang tersentak dari busurnya, berlari dengan desah nafas memburu dan keringat yang membanjir, tak tahan atas desakan birahi yang maha tinggi, melampaui kekuatan dan keteguhan jiwanya sendiri.

Maka Dewi Sukesih pun seperti bertelanjang dan sedang mandi di Taman telaga Nirmala. Lentik jemarinya pun menelusuri seluruh lekuk tubuhnya sendiri. Maka seketika kesucian alam Sastra Jendra Hayuningrat, punah! Bahkan sentuhan sibakan air pun mampu menimbulkan erotisme tersendiri. Berenanglah sang Dewi di telaga Nirmala, dipetiknya bunga-bunga yang tumbuh di atas telaga, sang bunga pun disentuh-sentuhkan pada tubuhnya, Sentuhan-sentuhan bunga teratai surgawi menambah rangsangan erotisme sensual sang Dewi.

Maka puncak sensual sang Dewi masih harus menuntut. Dan naiklah sang Dewi dari telaga yang indah…

images (10)

***

Hingga berlanjut-lanjut dan hubungan mereka akhirnya membuahkan anak-anak hasil dari percintaan terlarang mereka…

images (74)

Dasamuka, raksasa besar yang mengerikan, mukanya sepuluh, berwarna merah bagai api, wataknya jahat sekali, hanya mengedapankan nafsu.

images (75)Kumbakarna, putranya yang kedua, raksasa besar, kulitnya hitam, melambangkan nafsu makan dan doyan tidur yang berlebihan.

images (73)

Sarpakenaka, putrinya yang ketiga berwujud reksasi, adalah lambang wanita yang tidak puas dan berjiwa nafsu angkara, mampu berubah wujud menjadi wanita rupawan tapi sebenarnya sangat jahat wataknya.

Sampai dengan kelahiran anak mereka yang ketiga, yang ketiganya berupa raksasa, Sukesi dan Wisrawa belum juga sadar bahwa hubungan mereka itu berdasar nafsu rendah belaka. Mereka belum eling, belum ingat, belum tersadarkan kembali. Sampai tiga kali mereka menarik benih kehidupan yang tidak baik, yang dilambangkan raksasa-raksasa jelek.

Baru pada waktu ”pembuatan” anak yang keempat, mereka sadar kembali dan melakukan hubungan kasih yang dilandasi kepada norma- norma Asmaragama yang mulia dengan memohon berkah kepada Gusti. Lahirlah Gunawan Wibisana, satria jujur, baik hati dan selalu memihak kepada kebenaran.

images (76)

Gunawan Wibisana, putra keempat berupa manusia. Satria yang berwajah bagus, putih pucat. Ini perlambang senang kepada laku tirakat, hidup sederhana dan menjalani kehidupan spiritual.

***

Proses pengajaran Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu berhenti di tengah jalan. Dan hasil dari segala uraian yang gagal di selesaikan itu adalah sebuah noda, aib dan cela yang akan menjadi malapetaka besar sekaligus pelajaran yang berharga di dunia di kemudian hari. Namun apapun hasilnya harus tetap dijalani dengan kesatria. Wisrawa dan Sukesi menceritakan semuanya apa adanya kepada sang ayah Prabu Sumali. Dengan bijak Prabu Sumali bisa menerima kenyataan yang sudah terjadi. Dan seluruh sayembara ditutup.

images (27)

 ***