Apa yang pertama kali muncul dalam benak kita jika melihat penyandang cacat? Dapat dipastikan, suka atau tidak suka, realitanya adalah kita masih memandang sebelah mata kepada mereka, bahkan cenderung negatif dan merendahkan. Terlebih lagi dalam budaya masyarakat kita yang hingga kini di Pemerintahan dan masyarakat masih terdapat persepsi yang keliru dan ‘peyoratif’ tentang keberadaan mereka.

 (* Peyoratif adalah unsur bahasa yang memberikan makna menghina, merendahkan, melecehkan, dsb. yang digunakan untuk menyatakan penghinaan atau ketidaksukaan seorang pembicara).

images (3)

Kesempatan dalam Hidup orang cacat di negara kita masih banyak yang terisolasi, kekurangan uang dan harus berjuang hanya demi berpartisipasi dalam aktivitas normal sehari-hari. mereka menderita dari kegelisahan dan percaya diri sangat rendah karena mereka di anggap tak memiliki kemampuan bekerja. Halangan yang dihadapi kaum cacat merentang mulai dari stigma, diskriminasi, tak ada perawatan kesehatan layak dan layanan rehabilitasi, sulit mengakses transportasi, bangunan dan informasi publik dsb.

Sebenarnya orang cacat atau mereka yang memiliki keterbatasan fisik tidak berarti miskin dan tidak harus dikucilkan, mereka tidak perlu dipisah-pisahkan. Mereka bukan warga kelas dua, mereka ada di semua kelompok umur di setiap wilayah dan masyarakat, Mereka juga merupakan bagian dari budaya dan bangsa.

images (15)

Kebijakan pemerintah dalam penanganan penyandang cacat, tertuang  dalam Undang-undang No. 4  pada tahun 1997 tentang penyandang cacat, dan peraturan pemerintah nomor 43 tahun 1998 tentang upaya peningkatan kesejahteraan sosial (UPKS) bagi penyandang cacat.  Berdasarkan kedua landasan tersebut, dikemukakan bahwa pemerintah dan masyarakat seharusnya mempunyai tanggung jawab yang sama dalam melakukan pembinaan demi kesejahteraan penyandang cacat.  Untuk itu pemerintah dalam menjalankan tugas tersebut, masyarakat diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk bersama-sama pemerintah atau oleh masyarakat itu sendiri melakukan kegiatan peningkatan kesejahteraan sosial bagi penyandang cacat (pasal 23-25 UU No.4 tahun 1997).

Pada tanggal 30 Maret 2007, Pemerintah Indonesia mengambil langkah penting dalam memperkuat komitmen bangsa Indonesia untuk memajukan hak-hak asasi penyandang cacat dengan menandatangani naskah konvensi PBB tentang hak-hak penyandang cacat. Namun perjalanannya masih belum dapat di katakan sepenuh hati atau maximal.

images (16)

Di perkirakan populasi Penyandang Cacat di Indonesia sebesar 3,11%, menurut data yang ada, baik dari Kementrian Sosial RI dan Kementrian Kesehatan, jumlahnya sebagai berikut: Penyandang Tuna Netra 1.749.981 jiwa, Tuna Rungu Wicara 602.784 jiwa, Tuna Daksa 1.652.741 jiwa, Tuna Grahita 777.761 Jiwa.

Penyandang disabilitas akan terus meningkat mengingat struktur umur penduduk semakin menua, epidemologi ke arah kronik degeneratif, kecelakaan dan bencana alam. Juga tidak kalah pentingnya isu perempuan dengan penyandang disabilitas penting untuk diperhatikan lebih seksama karena mereka mengalami multi diskriminasi, yaitu sebagai perempuan, penyandang disabilitas, dan sebagian dari mereka hidup dalam kemiskinan.

unduhan (1)

Selain Tuna Netra, Tuna Rungu Wicara, Tuna Daksa dan Tuna Grahita, adalagi yang di sebut Tuna Laras…

Tuna Laras adalah individu yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial. Individu tunalaras biasanya menunjukan perilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku di sekitarnya. Tunalaras dapat disebabkan karena faktor internal dan faktor eksternal yaitu pengaruh dari lingkungan sekitar.

Belum di ketahui secara pasti berapa jumlah penderita Tuna Laras di indonesia, Pada umumnya mereka ini mengalami ‘Low Level of Behaviour’, dan penyakit ini bisa menimpa siapa saja, tak terkecuali individu dengan latar belakang pendidikan tinggi, ekonomi mapan, keluarga agamis, bertubuh sehat prima, bahkan sangat berpengaruh di sekitar kita. mereka adalah pengidap penyakit jiwa kronis yang tidak menyadari penyakitnya.

Pemberian sebutan seseorang berkelainan perilaku yang menyimpang (Tuna Laras) didasarkan pada realita bahwa penderita kelainan perilaku mengalami problema intrapersonal dan atau interpersonal secara ekstrim, sehingga mereka mengalami kesulitan dalam menyelaraskan perilakunya.

Ada beberapa jenis level untuk mengkategorikan kecacatan/ kelainan perilaku ini, antara lain:

1.Emotional-disorder, antara lain penyakit Kleptomia yang suka mengambil barang yang bukan miliknya, seperti para pencuri dan para koruptor. Mereka mengganggap perilakukan negatif yang dilakukan itu wajar-wajar saja, dan itu sangat menyedihkan sekali.

2.Semi-socialize, pengidap ini hanya mau berteman dengan kelompok dan golongannya saja. terdorong dari lingkungan yang menganut norma-norma kefanatikan tersendiri, seperti fasis dan rasis dll, yang mana norma tersebut bertentangan dengan norma-norma kebaikan dan kemanusiaan.

3.Minimum-capacity, suatu kelainan yang disebabkan kurang perhatian dan kasih sayang atau bahkan malah sebaliknya terlalu sering di manja, atau kesalahan pengajaran, mereka umumnya suka mencari perhatian dengan kenekatan, kenakalan dan keisengannya, bahkan tak jarang ulahnya bisa meresahkan orang lain dan merugikan dirinya sendiri. seperti suka tawuran, amuk massa, main hakim sendiri, dsb.

4.Psychotik-processes, Adanya ketidaksadaran ini disebabkan oleh gangguan pada sistem syaraf sebagai akibat dari keracunan, misalnya meminum minuman keras dan obat-obatan yang berlebihan atau melebihi dosis yang di anjurkan sehingga mengakibatkan kecanduan.

Masyarakat dan negara dalam menghadapi penderita ini juga tidak bisa acuh dan membiarkannya begitu saja, kita harus tetap memperhatikan mereka, pemberian effek jera dengan penjarapun sebenarnya belumlah cukup, melainkan harus di carikan jalan keluar dari permasalahan mental dan jiwanya, jika mereka tak segera mendapatkan bantuan konseling dan bimbingan psychologi, di khawatirkan kelakuan negatifnya bisa kambuh kembali sewaktu-waktu dan akan semakin meningkat.

Dan jika penderitanya masih di bawah umur/ remaja, sesuai amanat Undang-undang Pendidikan Nomor 20 Tahun 2003, “Anak Tuna Laras berhak mendapatkan layanan pendidikan yang relevan dengan kebutuhannya”. Dengan harapan kelak penderita Tuna Laras yang terdidik memiliki kemampuan bertindak baik atas kemauan sendiri, ulet mencapai prestasi, berpikir dan bertindak secara rasional, mampu mengendalikan diri, serta memiliki harga diri dan kepercayaan diri yang baik.

imagesa

Belajar dari fakta realita, Ada baiknya kita perlu memberikan penilaian yang proporsional dan bijaksana tentang apakah arti cacat itu sebenarnya? Apakah dengan ketidaksempurnaan fisik itu bisa serta merta di sebut sebagai suatu kecacatan? itu bukanlah suatu kecacatan melainkan hanya berbeda saja. dalam hal ini Kita perlu melihat lebih jernih lagi, bahwa suatu kecacatanpun tidak ada hubungannya dengan fisik semata.

“..kecacatan adalah hasil dari interaksi orang-orang yang tidak sempurna secara fisik dan mental dengan hambatan-hambatan lingkungan yang menghalangi peran serta (partisipasi) mereka dalam masyarakat..”

Sekiranya perlu kita sadari bahwa mereka adalah ‘special people’ atau orang yang sangat spesial, di sebut istimewa karena dalam keterbatasan fisikpun mereka masih bisa beraktifitas seperti layaknya orang normal pada umumnya.

Hal paling mendasar yang mereka butuhkan dari kita, disamping bagaimana sikap terhadap mereka, aksesibilitas fisik dan komunikasi akan sangat membantu interaksi antara kita dan mereka. Karena penyandang cacat juga manusia, yang punya hati, pikiran dan perasaan.

Untuk itu, keperdulian terhadap sesama menjadi aset dan karakter bangsa yang sangat penting dan berharga.

images (13)

***

Selamat menyongsong Tahun Baru 2013, Dengan berjalannya waktu, setiap pengalaman dalam hidup adalah pelajaran, tapi cinta & peduli akan selalu menjadi kekuatan dalam kehidupan.

Sagung Aung Paratitah, Kagem poro sederek ingkang kinasih, Kulo ngaturaken Sugeng wilujeng manghayubagyo Warsa Enggal 2013,         Mugi berkah dalem Gusti tansah lumeber dumateng kito sedoyo.

***