Poro sederek ingkang minulyo, Malam hari ini Jum`at Kliwon, berketapatan dengan hari Purnomo Tilem…

Lazimnya kebanyakan orang bergirang manakala hari itu bertepatan dengan bulan terang purnama. Banyak tradisi di dunia lebih menyambut istimewa hari-hari menuju terang purnama ketimbang hari-hari menuju gelap tilem. kita seharusnya bisa menerima sama indah gelap tilem itu dengan terang purnama. Tatkala purnama menerima dari alam semesta raya, tatkala tilem melepas ke alamnya…

Purnama dan Tilem, Purnama menampakkan dirinya setiap 30 hari sekali. Begitu pula halnya dengan Tilem hadir setiap tiga puluh hari sekali. Purnama adalah hari ketiga sang rembulan memancarkan sinarnya yang terang benderang. Sedangkan Tilem disebut pula bulan mati, yaitu ketika keadaan gelap gulita. Jarak antara Purnama dan Tilem adalah berselisih 15 hari. Purnama sering diidentikkan dengan kecerahan, sedangkan Tilem diistilahkan dengan kegelapan.

images (71)

Menerima gelap sama indah dengan terang menjadikan kehidupan itu sempurna, layaknya berjalan di permukaan tanah yang datar, tiada ubahnya bersampan di danau yang tenang. Usah kita risaukan benar gelap dan terang, Bukankah keduanya adalah keniscayaan sepanjang hayat kehidupan: Usai gelap malam niscaya terang fajar pun terbit, usai terang siang niscaya gelap malam pun menggantikan. Usai purnama, terang bulan niscaya terus menyusut, lalu berganti gelap tilem. Usai gelap tilem niscaya pula terang bulan menyembul hingga bulan sempurna purnama pun tercapai. Semuanya sama-sama indah, sempurna dan menyempurnakan. Gelap menjadi terang berguna dan bermakna sempurna, terang pun menjadi gelap berguna dan bermakna sempurna.

images (100)

Ber-sembah-HYANG, bermeditasi, berkontemplasi pada hari wulan tilem mengajarkan dan memberi pesan moral: Mustahil menggapai terang dengan mengabaikan atau menghindari gelap. Cuma mensyukuri terang lalu mengutuk gelap, itu bukanlah kesantunan ilmiah alamia sempurna. Itu baru hanya separuh kebenaran, separuh kepatuhan. Itu sama saja dengan mengagungkan langit dengan mengotori tanah-air bumi, Sibuk mengejar spiritual dengan jalan menolak menyelesaikan urusan duniawi keluarga, menyanjung- nyanjung jiwa dengan mengingkari kenyataan hakikat tubuh-materi, giat berkurban/ beribadah/ berupacara tetapi tidak terpanggil untuk melestarikan alam lingkungan. Hidup yang berkesantunan adalah hadir menjadi sinar terang di tengah kegelapan, di titik itulah ‘Dharma Kauripan’ di transformasi menjadi ‘Damar Kauripan’, sehingga hidup tak sekedar merdeka tetapi juga sekaligus memerdekakan🙂.

***