Adalah  kerinduan dan kerendahatian, yang menjadi prasyarat dunia lebih tenteram. Ajian Pancasona itu menjadi sesuatu sikap jiwa yang subtil daripada klenik rapalan mantra semata. Ia menjadi kesaktian karena pengagemnya adalah perindu bumi yang utama. Ia rindu bumi yang menjadi pusat meski kita bisa memandang empat arah mata angin lainnya. Bumi awalnya, sebelum kau beranjak pada citamu yang tertebar di empat penjuru. Selamanya bumi tempat yang akan kembali memeluk kita satu saat pasti nanti. (by Romo Sindhu)

Kembali sejenak ke masa silam, Rahwana tinggal sendirian, Indrajit sudah kembali kepelukan mega-mega ibunya, aib Rahwana yang tega berniat insest demi kasmarannya yang aslinya adalah obsesi gelapnya pada saudara kandungnya sendiri, Dewi Widowati. ketika bersemadi, wajahnya yang sepuluh saling mengeluarkan keasliannya. bersiap memasukin lakon maju perang. Rahwana yang jelas obsesive dengan ketubuhan Shinta, yang dianggapnya bagian dari pemenuhannya atas kegagalan pada Dewi Widowati.

Karakter pewayangan ramayana yang gradatif dan abu-abu akhirnya berujung pada kehitaman Rahwana, bukan Rahwana tidak memiliki kesempatan atau potensi untuk menjadi baik, ia adalah karakter hitam karena ia selalu menindih potensi kebaikan yang terbersit dihatinya.

***

images (9)

Kisah berlanjut pada keluarga Resi Gotama dan istrinya Dewi Windradi, Di pertapaan Agrastina, tahun berganti tahun, Dewi Indradi yang sering merasa kesepian karena bersuamikan seorang brahmana tua yg lebih banyak bertapa, akhirnya tergoda oleh panah asmara Bhatara Surya. Terjalinlah hubungan asmara secara rahasia yang sedemikian rapi sampai bertahun-tahun tidak diketahui oleh Resi Gotama maupun oleh ketiga putranya yang semakin beranjak dewasa.

Hingga pada suatu hari, berada di pelataran dengan sungai kecil dan gadis kecil Retna Anjani sedang manangkapi awan-awan, Anjani yang tertangkap basah sedang bermain-main dengan cupu wasiat – cupu manik astagina, menjadi awal mulanya penderitaan keluarga ini. Cupu tersebut pemberian ibunya. Namun Dewi Windradi enggan memberitahu Resi Gotama bahwa cupu tersebut diberi oleh kekasihnya (PILnya😉 ) di kahyangan yaitu Batara Surya.

images (88)

Dewi Indradi memiliki sebuah pusaka kedewataan, Cupumanik Astagina, pemberian kekasihnya, Batara Surya. Ketika memberikan Cupumanik itu, Bhatara Surya mewanti-wanti untuk jangan pernah sekalipun benda itu ditunjukkan, apalagi diberikan orang lain, walau itu putranya sendiri. Kalau pesan itu sampai terlanggar, akan terjadi hal hal yang tak diharapkan.

images (5)
Cupumanik Astagina adalah pusaka kadewatan yang menurut ketentuan dewata tidak boleh dilihat atau dimiliki oleh manusia lumrah. Larangan ini disebabkan karena di samping memiliki khasiat kesaktian yang luar biasa, juga di dalamnya mengandung rahasia kehidupan alam nyata dan alam kasuwargan. Bila orang membuka Cupumanik Astagina, pada mangkuk bagian dalamnya akan tampak gambaran swargaloka yang serba menakjubkan dan penuh warna warni yg mempesona. Sedangkan pada tutup bagian dalamnya dapat dilihat berbagai panorama menakjubkan yang ada di seluruh jagad raya, tampil berganti ganti dari satu pemandangan ke pemandangan lain bagaikan keadaan yang nyata, seolah yang melihatnya sedang dibawa berkelana berkeliling mayapada, menikmati keindahan alam dari ketinggian, memandang gunung kebiruan, hutan menghijau, sungai berkelok, mega berarakan dan langit biru menyejukkan…

Resi Gotama pun menanyakan hal itu kepada istrinya, Dewi Indradi diam membisu tidak berani berterus terang dari mana ia mendapatkan benda kadewatan tersebut. Dewi Indradi dihadapkan pada buah simalakama. Berterus terang, akan membongkar hubungan gelapnya dengan Bhatara Surya. Bersikap diam, sama saja artinya dengan tidak menghormati suaminya.

images (99)

Sikap membisu Dewi Indradi membuat Resi Gotama marah, yang lalu bersupata bahwa sikap diam Indradi itu bagaikan sebuah patung batu. Karena pengaruh kesaktiannya, dalam sekejap sang Dewi benar-benar berubah ujud menjadi batu sebesar manusia yang mirip sebuah tugu. Menghadapi keterlanjuran itu Sang Resi segera mengangkat tugu batu tersebut dan dilemparkannya sejauh mungkin, dan ternyata jatuh di taman Argasoka dekat kerajaan Alengka. Cupu tersebut lalu terpisah menjadi dua, bagian mangkuk jatuh ke tanah dan berubah wujud menjadi sebuah telaga bernama Nirmala, sedangkan tutupnya jatuh menjadi telaga Sumala. Kutukan ini akan berakhir kelak bila batu tersebut digunakan untuk membela kebenaran dengan cara dihantamkan ke kepala seorang raksasa atau angkara murka.

Guwarsa dan Guwarsi pergi mengejar cupu manik astagina, sementara Retna Anjani mengikuti mereka. Sesampai di Telaga Sumala, ketiganya berubah menjadi kera. Dalam rupa kera tersebut mereka bertiga diminta untuk bertapa. Guwarsa -yang berganti nama menjadi Subali- melakukan tapa ngalong, Guwarsi -yang juga berganti nama menjadi Sugriwa- melakukan tapa ngidang, sedang Retna Anjani melakukan tapa nyatuka. Dalam tapa nyatuka-nya inilah Retna Anjani akhirnya dianugerahi seorang anak berwujud kerap putih yang diberi nama Anoman.

images (85)

Dan lihatlah, anak anak manusia yang berupa jiwa jiwa ilahi berkeliaran di tengah fajar. Tidur beralaskan kembang kembang mekar. Bangun dipangkuan cahaya bintang. Anak anak manusia ini selalu menjadikan hidupnya adalah ucapan syukur bersama kicauan burung yang berterima kasih pada kehangatan alam. Dalam jagad raya itu, sang surya menjadi mata dari malam.

“Putriku, benda ajaib adalah Cupu manik astagina, yang merupakan air kehidupan yang berasal dari permata permata mendung. Dalam air kehidupan itulah berada jagad raya sebelum dirusak oleh dosa manusia, di dalam air kehidupan itu jiwa jiwa ilahi hidup dalam keseimbangan serupa keindahan aneka warna. Itulah sebabnya kau tidak mendengar jeritan manusia atau kicauan burung atau gaung suara serigala yang merindukan sesuatu yang belum dimilikinya”.

“Romo …, tapi kenapa kami mesti menjadi kera, dimana keadilan di jagad raya ini ?”

Oh Dunia, bersinarlah karena penderitaan anak anakku ini. Teguklah air mata mereka, supaya kau mendapat berkah dari padanya. Air mata mereka adalah keheningan yang ingin menghampirimu. Berjalanlah bersama kesedihan anak anakku ini, dan janganlah kau takut, karena mereka tak akan membakarmu dengan api kemarahan, melainkan akan mendinginkanmu dengan sedu sedannya.

“Anakku, kera adalah titah yang merindukan kesempurnaan manusia. Ia paling dekat pada bentuk seorang manusia. Untuk itulah, ia selalu berprihatin, supaya lekas diangkat kesempurnaanya. Janganlah kau anggap itu semuanya sebagai ketidak adilan, tetapi rasakanlah sebagai kerinduan akan kesempurnaan. Dan berbahagialah kau,  Anakku, karena kerinduan itulah yang  menciptakan kerendahan hati dan memberi harapan akan sesuatu yang belum dimilki yaitu kesempurnaan. Lebih berbahagia kamu daripada mereka yang sudah berada dalam kepenuhan akan kesempurnaan tapi kemudian mencampakkan kepenuhan itu kepada dosa dosa yang diperbuatnya”

“Anakku, kau mengira hanya dengan budimu kau dapat mencapai kebahagiaan yang abadi. Kau lupa bahwa hanya dengan pertolongan Sang Hyang, baru kau dapat mencapai cita cita mulia. Manusia memang terlalu percaya pada kesombongannya, lupa bahwa kesombonganya hanyalah setitik air dilautan kelemahannya yang dapat menenggelamkan dirinya. Dan ingatlah pula, air kehidupan permata mendung itu pun sudi bercampur dengan air duniawi yang belum sempurna. Air suci itu menderita, tapi dari penderitaannya itulah dunia akan memperoleh kebahagiannya”.… 

Kemudian semenjak itu manusia sadar akan keberadaannya didunia dan mulailah manusia selalu berfikir dan bertanya tanya akan setiap hal untuk mencari jawaban terhadap persoalan persoalan hidup, kebenaran, kebaikan dan Tuhannya, kemudian manusia berikhtiar untuk membuka jalan pengertian yang tertutup misteri kearah kejelasan akan relita yang kadang secara radikal membongkar sampai keakar akarnya setiap gejala yang dipermasalahkan, agar sampai pada suatu kesimpulan yang bersifat universal dengan mencari kejelasan hubungan sebab akibat seperti kita orang jawa yang mewasiatkan Cupu Manik Astagina menjadi pedoman hidup agar menjadi manusia yang sesungguhnya dengan Asta Bratanya.

***

pandawa5b

Sementara itu, Semenjak pulang dari Indraprastha, Duryodana sering termenung memikirkan usaha untuk mendapatkan kemegahan dan kemewahan yang ada di Indraprastha. Ia ingin sekali mendapatkan harta dan istana milik Pandawa. Namun ia bingung bagaimana cara mendapatkannya. Terlintas dalam benak Duryodana untuk menggempur Pandawa, namun dicegah oleh Sengkuni.

Sengkuni berkata, “Aku tahu Yudhistira suka bermain dadu, namun ia tidak tahu cara bermain dadu dengan akal-akalan. Sementara aku adalah rajanya main dadu dengan akal-akalan. Untuk itu, undanglah dia, ajaklah main dadu. Nantinya, akulah yang bermain dadu atas nama anda. Dengan kelicikanku, tentu dia akan kalah bermain dadu denganku. Dengan demikian, anda akan dapat memiliki apa yang anda impikan”… Duryodana tersenyum lega mendengar saran pamannya.

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Wajangfiguur_voorstellende_Duryadana_TMnr_15-954-91

Di kerajaan Indraprastha, sosok Drupadi adalah pemuja kebaikan Lima Pandawa. Dari sisi lain, Dewi Drupadi sebagai gambaran wanita yang cantik, molek , gambaran kesempurnaan secara phisik, sehingga banyak para satria selalu menaruhkan pandangan maupun hati pada Drupadi saat bertemu.

Ia putri Prabu Drupada di Cempalaradya yang mengadakan sayembara untuk mendapatkan jodohnya. adalah barang siapa dapat mengalahkan Gandamana, akan memboyongnya. Pemenang sayembara itu adalah Arjuna. Drupadi diboyong, maksudnya diperuntukkan kakaknya tertua, Yudistira. Dewi Kunti yang tidak tahu bahwa Arjuna membawa pulang seorang putri, seperti biasanya bila Pandawa mendapatkan sesuatu selalu mengatakan agar dibagi rata berlima. Karena ia seorang putri utama, Berbudi Bawa Laksana, kata-katanya harus ditepati, dan itu memang sudah menjadi kehendak dewata agung. Maka Drupadi pun menjadi isteri Pandawa lima dan dari masing-masing pernikahannya ia memperoleh lima putra.

images (29)

Demikian perkawinan Dewi Drupadi dengan Pandawa, berganti lima hari berturut-turut mulai dengan yang paling tua, Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa berlangsung secara besar-besaran dan meriah (ibid, 341-346).

Kepihakan kepada kebaikan Lima Pandawa itu, telah mengundang kecemburuan kasatrian Kurawa yang suka akan perempuan. plus dengan intrik, mereka merayu pendawa untuk ikut dalam arena dadu, lalu dengan kelicikannya, mereka menginginkan Drupadi, tentu saja mereka menolak, karena tidak etis mempertaruhkan seorang garwa (isteri), dengan begitu permainan dadu inipun tidak sah. Namun ketidak sampaian para kasatria Kurawa itu mendapat momentumnya, sehingga melampiaskan kemurkaannya dengan menyeret Drupadi kebalairung dan memaksa melepaskan stagen (pengikat jarik) tujuannya agar kemolekan tubuhnya bisa dinikmati setiap orang yang ada di balairung Astinapura. Namun sang Hyang Kuasa tidak menghendakinya, sehingga saat di tarik kedua kasatria Kurawa, stagen tidak bisa lepas dan tetap mengikat kain jarit yang membungkus tubuh Drupadi.

Berkat kebijaksanaan Resi Bisma sebagai penengah antara kericuhan Pandawa bersaudara dan sepupunya Duryadana. Pandawa yang kalah dalam permainan dadu akhirnya menjalani masa pengasingan di hutan, selama itu pula Dewi Drupadi juga dengan sabar dan setia menemani suami-suaminya😉 , hingga pada akhir tahun ke 12 dari pengembangan Pandawa mereka menyamar mengabdi di Wirata. Hidup Pandawa banyak diabadikan kepada pekerjaan agung, sebagai satria yang mendarmabaktikan diri kepada masyarakat dan memerangi kebatilan/ keangkaraan, untuk menjalankan karya agung di dunia, Drupadi harus menjadi isteri berlima Pandawa untuk membantu tugas mulia tersebut, Setelah masa penyamaran selesai, maka para Pandawa dan Dewi Drupadi kembali lagi ke istana untuk memperoleh kerajaannya.

***

Dari epos Dewi Drupadi ini muncullah sosok fenomenal dan heroic, Bima Werkudara. ia hebat, kuat, tegas tapi juga adil dan teguh pendirian. Berbicara apa adanya tidak direkayasa, tidak mengenal takut dan memperlakukan sama kepada siapa pun tanpa memandang tinggi rendahnya derajat. Ia menggunakan bahasa kasar dan tidak pernah menyembah, kecuali kepada gurunya dengan cara merengkuhkan badan. Sedang kepada orang yang lebih tua dan dihormati cukup badannya ditegakkan seperti seorang prajurit memberi hormat kepada komandannya.

imagesbi

Tubuhnya yang jangkung dan besar bagaikan bunga besar yang wangi luar dalamnya pertanda hatinya bersih ilmunya tinggi tapi tidak menyombongkan diri. Mudah tersinggung tapi cepat berbaik kembali, bahkan jika perlu mau mengalah asal untuk kedamaian dan keselamatan. Dalam menerapkan keadilan tidak pandang bulu walau sanak kadang jika bersalah harus dihukum dan tabu berbohong. Sekalipun demikian ia penurut kepada Yudhistira kakak tertuanya.

Hal itu dibuktikan ketika Pandawa kalah bermain judi dengan Drupadi menjadi taruhannya hingga menjadi milik Kurawa. Ketika itu Dursasena berusaha menelanjangi Drupadi di hadapan orang banyak dengan cara membetot kain yang menutupi tubuh si putri jelita itu hingga Bima manjadi sangat murka dan hendak menolong serta membunuh Dursasena. Tetapi Yudhistira mencegah seraya berkata: “Tahan, simpan amarahmu kita sedang diuji,” ujarnya. Terpaksa Bima mengurungkan niatnya sambil menahan nafsu yang membara.

Ternyata usaha Dursasena hendak mempermalukan Drupadi menemui kegagalan, karena setiap kali membetot kain yang menutupi tubuh Drupadi, Sri Kresna menolong Drupadi secara ghaib, karena Dewi Drupadi pernah membalut luka Kresna ketika upacara rajasuya, menggantinya dengan kain lain hingga Dursasena menjadi pusing sendiri. Atas perlakuan Dursasena yang diluar batas itu, Bima bersumpah jika kelak timbul perang besar antara kedua golongan karena telah mempermalukan diri Drupadi.

images (95)

Keistimewaan lain Bima adalah lambang kejujuran dan kesetiaan seorang murid kepada gurunya. Durna (guru) di mata Bima adalah manusia utama bermartabat baik, berilmu tinggi. Karena itu kejujuran dan kesetiaan kepada guru dibuktikan ketika Bima diperintahkan mencari Air Hidup (Tirta Amerta) di samudera selatan, suatu lokasi yang amat terpencil dan mengerikan dengan gelombangnya yang ganas bergulung gulung sebesar gunung anakan hingga tak seorang pun yang berani menjamah tempat itu. Sebaliknya bagi Bima sedikit pun tak merasa gentar. Diterjangnya gelombang dahsyat itu hingga mencapai tengah samudera. Di saat itulah Bima dihadang seekor Naga bernama Nembur Nawa dan pertarungan hebat pun terjadi yang berakhir dengan terbunuhnya sang penjaga samudera itu. Keberhasilan menyingkirkan ular naga itu, melambangkan bahwa Bima berhasil membunuh nafsu duniawi yang menghambat tujuan mendekatkan diri dengan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Tetapi akibat perkelahian yang dahsyat itu, Bima pun mengalami akibat fatal dilanda kelelahan yang amat sangat hingga tubuhnya timbul tenggelam tak berdaya. Hal ini melambangkan bahwa betapapun hebatnya manusia, namun ibarat sebutir beras di dalam karung menunjukkan betapa kecilnya manusia dibandingkan kebesaran Tuhan. Semua yang dimiliki, kekuatan, keperkasaan, ilmu pengetahuan yang dibanggakan untuk pemenuhan hasratnya masih sangat terbatas dibanding keakraban Maha Pencipta seru sekalian alam.

Termangu sang Bima di tepian samudera dibelai kehangatan alun ombak setinggi betis, tak ada lagi tempat bertanya sesirnanya sang naga nemburnawa Dewaruci, sang Marbudyengrat, memandangnya iba dari kejauhan, tahu belaka bahwa tirta pawitra memang tak pernah ada dan mustahil akan pernah bisa ditemukan oleh manusia mana pun.

unduhan (4)

Sang Dewa Ruci menghampiri: “Apa yang kau cari, wahai Werkudara, hanya ada bencana dan kesulitan yang ada di sini di tempat sesunyi dan sekosong ini”… terkejut sang sena dan mencari ke kanan kiri setelah melihat sang penanya ia bergumam: ‘makhluk apa lagi ini, sendirian di tengah samudera sunyi kecil mungil tapi berbunyi pongah dan jumawa?

Serba sunyi di sini, lanjut sang Marbudyengrat mustahil akan ada sabda keluhuran di tempat seperti ini sia-sialah usahamu mencarinya tanpa peduli segala bahaya. sang sena  semakin termangu menduga-duga, dan akhirnya sadar bahwa makhluk ini pastilah seorang Dewa… ah, paduka tuan, gelap pekat rasa hatiku. entahlah apa sebenarnya yang aku cari ini. dan siapa sebenarnya diriku ini?

Ketahuilah anakku, akulah yang disebut Dewa ruci, atau sang Marbudyengrat yang tahu segalanya tentang dirimu anakku yang keturunan hyang guru dari hyang brahma, anak Kunti, keturunan Wisnu yang hanya beranak tiga, Yudistira, dirimu, dan Janaka. Yang bersaudara dua lagi nakula dan sadewa dari ibunda madrim si putri mandraka. datangmu kemari atas perintah gurumu dahyang Durna untuk mencari Tirta Pawitra yang tak pernah ada di sini.

Bila demikian, pikulun, wejanglah aku seperlunya agar tidak mengalami kegelapan seperti ini terasa bagai keris tanpa sarungnya. Sabarlah anakku, memang berat cobaan hidup, ingatlah pesanku ini senantiasa jangan berangkat sebelum tahu tujuanmu, jangan menyuap sebelum mencicipnya. tahu hanya berawal dari bertanya, bisa berpangkal dari meniru, sesuatu terwujud hanya dari tindakan. janganlah bagai orang gunung membeli emas, mendapat besi kuning pun puas menduga mendapat emas bila tanpa dasar, bakti membuta pun akan bisa menyesatkan.

Duh pikulun, tahulah sudah di mana salah hamba bertindak tanpa tahu asal tujuan, sekarang hamba pasrah jiwaraga terserah paduka….

Nah, bila benar ucapanmu, segera masuklah ke dalam diriku. lanjut sang marbudyengrat sang sena tertegun tak percaya mendengarnya.

Ah, mana mungkin hamba bisa melakukannyapaduka hanyalah anak bajang sedangkan tubuh hamba sebesar bukit kelingking pun tak akan mungkin muat. wahai werkudara si dungu anakku, sebesar apa dirimu dibanding alam semesta? seisi alam ini pun bisa masuk ke dalam diriku, jangankan lagi dirimu yang hanya sejentik noktah di alam.

Mendengar ucapan sang Dewaruci sang Bima merasa kecil seketika, dan segera melompat masuk ke telinga kiri sang dewaruciyang telah terangsur ke arahnya, Werkudara, katakanlah sejelas-jelasnya segala yang kau saksikan di sana hanya tampak samudera luas tak bertepi, ucap sang sena alam awang-uwung tak berbatas hamba semakin bingung, tak tahu mana utara selatan atas bawah depan belakang janganlah mudah cemas, ujar sang dewaruci yakinilah bahwa di setiap kebimbangan senantiasa akan ada pertolongan dewata dalam seketika sang bima menemukan kiblat dan melihat surya setelah hati kembali tenang tampaklah sang dewaruci di jagad walikan.

Awalnya terlihat cahaya terang memancar, kata sang sena kemudian disusul cahaya hitam, merah, kuning, putih. apakah gerangan semua itu? ketahuilah Werkudara, cahaya terang itu adalah pancamaya, penerang hati, yang disebut Mukasipat, penunjuk ke kesejatian, pembawa diri ke segala sifat lebih. cahaya empat warna, itulah warna hati hitam merah kuning adalah penghalang cipta yang kekal, hitam melambangkan nafsu amarah, merah nafsu angkara, kuning nafsu memiliki. hanya si putih-lah yang bisa membawamu ke budi jatmika dan sanggup menerima sasmita alam, namun selalu terhalangi oleh ketiga warna yang lain hanya sendiri tanpa teman melawan tiga musuh abadi. hanya bisa menang dengan bantuan sang suksma. adalah nugraha bila si putih bisa kau menangkan di saat itulah dirimu mampu menembus segala batas alam tanpa belajar.

war

Duhai pikulun, sedikit tercerahkan hati hamba oleh wejanganmu setelah lenyap empat cahaya, muncullah nyala delapan warna, ada yang bagai ratna bercahaya, ada yang maya-maya, ada yang menyala berkobar. itulah kesejatian yang tunggal, anakku terkasih semuanya telah senantiasa ada dalam diri setiap mahluk ciptaan. sering disebut jagad agung jagad cilik dari sanalah asal kiblat dan empat warna hitam merah kuning putih.

Seusai kehidupan di alam ini semuanya akan berkumpul menjadi satu, tanpa terbedakan lelaki perempuan tua muda besar kecil kaya miskin,akan tampak bagai lebah muda kuning  gading amatilah lebih cermat, wahai Werkudara anakku.

Semakin cerah rasa hati hamba, kini tampak putaran berwarna gading, bercahaya memancar. warna sejatikah yang hamba saksikan itu? bukan, anakku yang dungu, bukan, berusahalah segera mampu membedakannya zat sejati yang kamu cari itu tak tak berbentuk tak terlihat, tak bertempat-pasti namun bisa dirasa keberadaannya di sepenuh jagad ini.

Sedang putaran berwarna gading itu adalah pramana yang juga tinggal di dalam raga namun bagaikan tumbuhan simbar di pepohonan ia tidak ikut merasakan lapar kenyang haus lelah ngantuk dan sebagainya. dialah yang menikmati hidup sejati dihidupi oleh sukma sejati, ialah yang merawat raga, tanpanya raga akan terpuruk menunjukkan kematian.

Pikulun, jelaslah sudah tentang pramana dalam kehidupan hamba lalu bagaimana wujudnya zat sejati itu? itu tidaklah mudah dijelaskan, ujar sang Dewa Ruci, gampang-gampang susah. Sebelum hal itu dijelaskan, kejar sang bima, hamba tak ingin keluar, dari tempat ini serba nikmat aman sejahtera dan bermanfaat terasa segalanya.

Wahai Werkudara, itu tak boleh terjadi, bila belum tiba saatnya, mengenai zat sejati, engkau akan menemukannya sendiri setelah memahami tentang penyebab gagalnya segala laku serta bisa bertahan dari segala goda, di saat itulah sang suksma akan menghampirimu, dan batinmu akan berada di dalam sang suksma sejati janganlah perlakukan pengetahuan ini seperti asap dengan api, bagai air dengan ombak, atau minyak dengan susu perbuatlah, jangan hanya mempercakapkannya belaka jalankanlah sepenuh hati setelah memahami segala makna wicara kita ini jangan pernah punya sesembahan lain selain sang maha luhur pakailah senantiasa keempat pengetahuan ini pengetahuan kelima adalah pengetahuan antara, yaitu mati di dalam hidup, hidup di dalam mati hidup yang kekal, semuanya sudah berlalu tak perlu lagi segala aji kawijayan, semuanya sudah termuat di sini.

images

Maka habislah wejangan sang Dewaruci, sang guru merangkul sang Bima Werkudara dan membisikkan segala rahasia rasa terang bercahaya seketika wajah sang sena menerima wahyu kebahagiaan bagaikan kuntum bunga yang telah mekar. menyebarkan keharuman dan keindahan memenuhi alam semesta dan blassss . . . !

Sudah keluarlah sang Bima dari raga Dewaruci sang Marbudyengrat kembali ke alam nyata di tepian samudra luas sunyi tanpa sang Dewaruci sang Bima melompat ke daratan dan melangkah kembali siap menyongsong dan menyusuri rimba belantara kehidupan…

***