Konsep religiositas humanis dari almarhum Y.B.Mangunwijaya. Ia mengatakan religiositas humanis merupakan aspek yang ada di dalam lubuk hati, riak getaran hati nurani pribadi dan bersifat personal. Ia menafaskan intimitas jiwa yang mencakup totalitas rasio dan rasa manusiawi. Representasi religiositas ini bisa menjelma dalam berbagai praktek hidup, seperti kejujuran, keadilan, solidaritas, tenggang rasa, perasaan empati, sikap toleran, dan respek terhadap yang lain.

Itu berarti, apa pun keyakinan kita, apakah yang beragama atau yang sekuler-atheis-agnostik, tidak bolah melenyapkan atau bahkan merusak nilai rasa kemanusiaan itu. Apa yang kita percayai barangkali harus bertugas dan berorientasi untuk melindungi dan memajukan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Inilah esensi agama universal. Pemikir seperi Hans Kung menyebutnya sebagi etika universal.

Paham spiritual universal di atas sesungguhnya menjadi salah satu keyakinan dan menjadi tolak ukur penghayatan agama-agama atau aliran-aliran kepercayaan di dunia. Para atheis pun menganut hal yang sama. Itu tidak berarti bahwa semua agama atau kepercayaan itu sama saja.

Implementasi konsep agama universal itu tidak akan menegasikan dan meniadakan praktek dan keyakinan agama masing-masing. Malahan dengan menganut prinsip agama universal itu, otonomi dan kekhasan penghayatan masing-masing agama justru semakin dihargai. Hal yang sama berlaku untuk pilihan keyakinan para penganut sekuler-atheis-agnostik.

Jadi, mari kita mengisi keindahan hidup dalam hal berspiritual di indonesia, di Taman Sarinya Mercusuar Dunia :)…

13579567202147140347***