National Caracter Building

(Membangun Karakter Bangsa Berdasarkan Budaya)

Disajikan oleh: Ki Sondong Mandali

Pada Sarasehan Budaya ‘Komunitas Cah Semarang’ (18 Agustus 2009)

 Tengara

 “Mangkya darajating praja, kawuryan wus sunyaruri, rurah pangrehing ukara, karana tanpa palupi, atilar silastuti, sujana sarjana kelu, kalulun Kalatidha, tidhem tandhaning dumadi, hardayengrat dene karoban rubeda”

(R.Ng. Ranggawarsita, Serat Kalatidha pupuh Sinom)

‘Suatu saat nanti kondisi negara kelihatan hampa sepi (sunyaruri), rusak penyusunan kebijakan/peraturan (pangrehing ukara), karena tanpa dilandasi pedoman kebaikan, meninggalkan dasar-dasar ‘panembah’ (silastuti), para cerdik cendekia ikut terbawa arus ‘jaman edan’ (kalatidha), lenyap tandha keberadaban, dunia (tata kehidupan) bosah-baseh karena banyak masalah’.

Menyimak keadaan yang ada pada sekarang ini, ‘tengara’ (peringatan) setengah ramalan Pujangga Ranggawarsita tersebut sepertinya menjadi kenyataan.  Krisis multidimensi melanda negeri kita ini hingga terpuruk berat dan kehilangan pamor sebagai negara yang ‘tata tentrem kerta raharja’ (tertib, aman, makmur dan menyejahterakan rakyatnya).  Virus pragmatisme ‘pokoke kanthong isi’ produk jaman edan (kalatidha, jaman rusak) menyebar luas dan merata sehingga melahirkan pekerti-pekerti buruk anak bangsa:

1. Nyadhong, merupakan karakter peminta-minta (pengemis) yang kemudian melahirkan budaya suap di segala aspek kehidupan.

2. Nyolong, karakter suka mencuri yang melahirkan budaya korup.

3. Nggemblong, karakter melengket (ngathok, jw.) kepada pihak yang berkuasa atau berduit sehingga melahirkan budaya centeng dan hilangnya kontrol sosial.

4. Nggarong, karakter suka merampas harta orang lain termasuk harta negara sehingga melahirkan ’korupsi berjama’ah’.

5. Ndomblong, karakter bengong kehilangan akal dan kesadaran.  Karakter inilah yang melahirkan sikap apatisme masal terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kelima pekerti buruk tersebut tertengarai ‘ada’ dan ‘merata’ pada saat ini di tengah masyarakat kita.  Maka sangat merusak perikehidupan bangsa dan bisa menjadikan kita ‘gagal’ bernegara.  Suatu kemungkinan yang jelas kita semua tidak menginginkannya.  Maka oleh karena itu, kita yang merasa sebagai bangsa Indonesia, harus tergerak hati dan tumbuh semangat juang kita untuk mengatasi ‘bosah-baseh’-nya tata kehidupan bernegara, berbangsa dan bermasyarakat tersebut.

Kebhinekaan Indonesia

Indonesia diberdirikan dengan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Di saat itu situasi dalam keadaan chaos karena penjajah Jepang yang menguasai Indonesia sudah takluk kepada Sekutu.  Proklamasi ini tidak diakui oleh Sekutu yang merasa boleh ‘mengatur’ dunia. Dan, kita ketahui semua bahwa anggota Sekutu adalah negara-negara penjajah.  Demikianlah konspirasi negara-negara kolonialis dan imperialis mencengkeram dunia.

Tinjauan spiritual, proklamasi kemerdekaan merupakan awal perubahan peta konstelasi dunia.  Dalam ‘Indonesia Menggugat’, Bung Karno mengatakan (meramal) bahwa saat itu sebagai saat terputusnya matarantai penjajahan di dunia.  Saat dimulainya ‘kebangkitan’ bagi bangsa-bangsa terjajah melepaskan diri dari para penjajahnya. Dengan demikian, Indonesia adalah negara dan bangsa baru.  Kelahirannya bagai ‘letusan nuclear’ yang menandai dimulainya jaman baru untuk umat manusia di dunia.  Jaman baru tersebut lahir oleh ‘kuasa Illahi’, dimana tanda-tandanya sudah banyak dinyatakan oleh para pujangga Jawa, ‘jangka jinantraning jaman’.  Maka menjadi karunia (nugraha) dari Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa Indonesia yang terpilih sebagai penanda (mercu suar) perubahan peradaban umat manusia tersebut.  Kanugrahaning Gusti pula bahwa para pendiri bangsa merupakan ‘janma pinilih’ melahirkan Indonesia dan memulai menabuh genderang perubahan tata dunia.

Karena memang kehendak Penguasa Alam maka Indonesia terselamatkan dari semua persoalan yang mendera.  Upaya Sekutu mengembalikan penjajahan di Indonesia bisa ditangkal.  Pemberontakan dari berbagai kelompok ’anak bangsa’ bisa dipadamkan.  Indonesia yang muda belia menjadi penggagas dan penyelenggara Konferensi Asia Afrika.  Juga menjadi aktor penting lahirnya gerakan Non Blok.

Meski Indonesia sudah diberdirikan dan menjadi suar dunia, kita seluruh anak bangsa harus menyadari bahwa pada dasarnya Indonesia berdiri dari serpihan puing-puing unsur bangsa yang terjajah dan tidak memiliki ’kedaulatan spiritual’.  Setinggi apapun dinyatakan budaya dan peradaban unsur-unsur Indonesia sebelum kemerdekaan, kenyataannya menjadi ’bangsa jajahan’.  Memang ada ’daulat’ Sultan dan kerajaan-kerajaan di Nusantara, namun bukan merupakan negara bangsa yang berdaulat.  Dalam pidato ’Lahirnya Pancasila’ Bung Karno dengan jelas menyatakan bahwa negara bangsa berdaulat yang pernah hadir di Indonesia sebelum kemerdekaan adalah Sriwijaya dan Majapahit.

Lewat kajian sejarah kita mengetahui bahwa seruntuhnya Mapahit, Nusantara terpecah dalam berbagai kerajaan-kerajaan kecil.  Bahkan di Jawa yang merupakan konsentrasi populasi Indonesia terbagi dalam beberapa kesultanan dan kesunanan plus puluhan ’tanah perdikan’.  Namun secara politik dan ekonomi semua terkooptasi oleh pemerintahan penjajah ’Hindia Belanda’.  Justru di ranah budaya yang masih eksis kedaulatannya.

Kita kaji bersama, bahwa pemerintah ’Hindia Belanda’ tidak melakukan ’penjajahan’ secara signifikan terhadap kedudayaan unsur-unsur Indonesia.  Sebaliknya justru memberi suport pelestarian dan pengembangan.  Hal ini bisa dibuktikan dengan perhatian pemerintah penjajahan tersebut dalam pemugaran candi, penyelamatan naskah-naskah (lontar) dari kemusnahan.  Termasuk penelitian dan pengkajian sejarah Nusantara dari masa ke masa.  Sementara itu yang dilakukan pemerintahan para Sultan dan Sunan justru banyak merusak situs purbakala peninggalan masa kejayaan jaman Hindu/Buddha.  Banyak patung-patung candi diambil dari situs-situs untuk penghias dinding keraton. Maklum bahwa sistim hukum pemerintahan di kesultanan dan kesunanan di Jawa dan sebagaian daerah lain Nusantara menerapkan sistim hukum pemerintahan yang diadobsi dari ’Daulah Ustmani Turki’ dan Kesultanan Baghdad.  Dengan demikian, sistim tersebut memang menjalankan kooptasi budaya dan peradaban Hindu/Buddha untuk diubah menjadi Islam versi Turki dan Baghdad.

Budaya asli suatu bangsa tumbuh kembang dari interaksi ’cipta rasa karsa’ (wiji spiritual) bangsa tersebut dengan kondisi alam semesta habitat mukimnya (geo spiritual).  Dengan demikian budaya asli tersebut bersifat ’adi kodrati’ yang tidak mudah hilang dari ruang batin warga bangsa tersebut.  Kalau toh kemudian bersinggungan dengan budaya bangsa lain, maka ’hybrid interconnectedness’ yang terjadi sifatnya ’pengkayaan’ kepada budaya asli yang sudah dimiliki.  Berbagai ragam kondisi geo spiritual yang ada di Indonesia menjadikan beragam pula budaya asli Nusantara.  Ragam tersebut bertambah dengan ‘hybrid interconnectedness’ yang lahir dari persinggungan budaya-budaya unsur tersebut masing-masing dengan budaya dan peradaban yang masuk ke Nusantara.  Demikianlah kemudian menjadikan kebhinekaan (pluralisme) pada bangsa Indonesia.

Kebhinekaan tersebut sudah ada sejak jaman Sriwijaya dan Majapahit berdaulat.  Maka pemerintahan yang ada di jaman itu menerapkan sistim yang akomodatif terhadap kemajemukan bangsa Nusantara.  Sistim apa di jaman Sriwijaya belum kita ketahui.  Namun untuk di jaman Majapahit diketemukan peninggalan berbagai kitab undang-undang pemerintahan pada waktu itu.  Diantaranya hukum untuk mengatur hubungan antar desa, hukum yang mengatur hubungan antar agama yang ada.  Konsepnya sangat jelas, ” Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa” yang dicetuskan Empu Tantular dalam kitab Sutasoma. 1

Terapan sistim yang akomodatif terhadap pluralisme pada Negara Kesatuan Republik Indonesia yaitu Pancasila yang digali oleh Bung Karno.  Cukup jelas kiranya pernyataan Bung Karno: ”Pancasila merupakan ’altar statis’ yang mempersatukan dan menjadi ’litstar dinamis’ yang memimpin dan menunjukkan arah dan tujuan Indonesia diberdirikan”.2

Sesungguhnya saat Indonesia diberdirikan, maka semua unsur-unsur yang bergabung ibarat masuk ke dalam “tabung reaksi” yang melebur semua unsur-unsur primordial tersebut menjadi kesatuan unsur yang disebut bangsa Indonesia.  Proses peleburan unsur-unsur dengan sendirinya berdampak kepada masing-masing unsur untuk bersedia kehilangan “kejatidirian lama” dan menerima “jatidiri baru”. Demikian pula dalam proses peleburan tersebut terjadi pula pergolakan-pergolakan antar unsur untuk saling menemukan kecocokan hingga mampu bersatu.  Pergolakannya ada yang berdampak positif namun banyak pula yang berakibat negatif.  Salah satu dampak negatif tersebut adalah “gerakan politik” yang menjadikan budaya dan peradaban asli Nusantara sebagai “rival” ajaran agama.  Ditambah lagi dengan “stigma ngâyâwârâ” yang menyatakan bahwa dalam kerangka Indonesia, Jawa diposisikan sebagai penjajah terhadap unsur-unsur Indonesia lainnya. Stigma yang demikian sudah pasti mencederai ’persatuan’ Indonesia.

Lahirnya stigma sebagaimana disebutkan di atas kemudian bias dalam ranah politik di negeri tercinta ini.  Terwacanakan adanya partai berideologi nasionalis (Pancasila) dan partai berideologi agama (Islam).  Dinamika hubungan kedua golongan partai yang terwacanakan tersebut sering memunculkan ketegangan antar sesama anak bangsa sampai ke akar rumput.  Tanpa sadar wacana keblinger ini ’membenturkan’ nilai-nilai Pancasila dengan ’ajaran’ Islam.  Celakanya, kemudian terjadi politisasi agama sehingga berakibat rakyat terkotak-kotak dalam sekat perbedaan agama yang dianut.  Kebhinekaan yang semestinya menjadi rahmat dan berkah tanpa disadari menjadi pemicu ketegangan sosial.  Kemungkinan terjadi konflik sangat mempengaruhi kebijakan pemerintahan yang ada.  Setidaknya, demi mengakomodasi semua ideologi, dan atas nama demokrasi, lahirlah banyak aturan-aturan perundangan yang ’tidak sejalan’ dengan Pancasila sebagai dasar negara dan filsafat hidup bangsa Indonesia.

Situasi keruh tersebut diperparah dengan ideologi pragmatis ’pokoke kantong isi’ para elit yang diberi amanah mengelola jalannya pemerintah Indonesia.  Kita bisa saksikan dengan kasatmata kasus-kasus korupsi yang terjadi dan terungkap di negeri ini.  Maka sesungguhnya kita perlu bertanya dimana letak kesalahan kita dalam memilih sistim untuk bernegara dan berbangsa ini ?

Perjalanan bangsa-bangsa yang dipilih sebagai penentu budaya dan peradaban  dunia kiranya memang harus melalui ’kawah candradimuka’ yang berat ditanggung asa.  Bangsa Yahudi yang sekarang berperan menguasi perekonomian dunia3 adalah bangsa yang pernah dijadikan budak bangsa Mesir.  Dijajah Romawi dan terusir dari tanah airnya sehingga ’klambrangan’ di seluruh penjuru dunia (terutama benua Eropa).  Amerika yang sekarang menjadi super power dunia juga melalui sejarah kelam.  Eropa, Jepang, China, dan India melalui sejarah kelam untuk eksis.

Bertolak dari fenomena sejarah yang demikian, maka kita bangsa Indonesia harus menanamkan keyakinan dalam ruang batin kita bahwa suatu masa nanti kita akan menjadi suar dunia dalam bidang budaya dan peradaban.  Indonesia adalah tamansari dunia nantinya.  Kebhinekaan dalam ampuan ideologi Pancasila yang kita miliki nantinya adalah contoh ’kehidupan bersama umat manusia’ yang ber-Tuhan, sadar semesta, dan beradab.  Contoh nyata sudah ditunjukkan oleh budaya dan peradaban Bali pada saat ini dikagumi dan menundukkan hati nurani umat manusia sedunia.  Maka sangat mungkin budaya dan peradaban unsur-unsur Indonesia yang lain mengikuti Bali tersebut karena memiliki aras dasar yang sama. Ber-Tuhan, sadar semesta (kosmis), dan beradab.

 Pembangunan Karakter Bangsa

‘Membangun Karakter Bangsa Berdasarkan Budaya’, maka mau tidak mau kita harus mengkaji masalah budaya dan peradaban.  Baik budaya dan peradaban unsur-unsur Indonesia maupun budaya dan peradaban umat manusia di dunia.  Terutama budaya dan peradaban besar yang punya pengaruh terhadap Indonesia.  Kepentingan pengkajian tersebut guna ‘memperteguh’ dan ‘mempertangguh’ eksisnya ideologi Pancasila dalam kancah pergulatan antar budaya dan peradaban global.

Mengawali kajian masalah budaya dan peradaban Indonesia, maka kita selisik nilai-nilai budaya dan peradaban yang mewarnai setiap orang Indonesia sebagai berikut:

1.  Nilai-nilai budaya dan peradaban ‘bawaan’ dari etnis dan sub-etnis masing-masing.

2. Nilai-nilai budaya dan peradaban yang terbawa lewat keyakinan agama yang dipeluk.

3.  Nilai-nilai budaya dan peradaban modern (Barat) yang masuk melalui ilmu pengetahuan dan teknologi yang diajarkan di sekolah.

Ketiga nilai-nilai budaya dan peradaban tersebut di atas mewarnai sikap orang per orang dalam kaitan ‘menjadi’ dan ‘memiliki’ Indonesia.  Dengan demikian, kebhinekaan Indonesia memang nyata ada.  Kebhinekaan tersebut secara idealis diidamkan untuk mampu diwadahi dengan baik oleh ideologi Pancasila.  Dengan demikian bisa kita pahami ketika di awal berdirinya Indonesia, para pemimpin negeri ini begitu gencar melakukan upaya menanamkan pengertian tentang Pancasila sebagai dasar negara dan filsafat hidup bangsa Indonesia.

Namun, karena kemerdekaan menghasilkan ‘kue’ yang berlimpah maka melahirkan nafsu serakah berebut kue tersebut untuk kepentingan diri dan golongan.  ‘Budaya wangwung kumbang janur’4 marak dan memporakporandakan negeri sendiri. Dalam hal ini bisa kita saksikan maraknya perdagangan narkoba, ilegal loging sampai kepada ‘suap’ terhadap penegak hukum oleh para pencuri harta negara ini.  Inilah budaya ‘wangwung kumbang janur’ yang demi kepentingan hidupnya sendiri telah mematikan pohon kelapa tempat hidupnya.

Dalam sesorah ini, saya diminta untuk membahas pembangunan karakter bangsa dengan ‘budaya’.  Maka, disamping saya petakan kenyataan yang ada pada ranah budaya yang kita miliki, perlu juga kita tinjau peta budaya dan peradaban umat manusia di dunia.  Kemudian pada posisi mana dan peran apa yang bisa dikontribusikan budaya Nusantara kepada tata peradaban umat manusia penghuni planet bumi ini.  Peta peradaban umat manusia sedunia pada dasarnya terbagi dalam 2 (dua) kutub.  Kutub pertama merupakan peradaban yang berdasarkan nilai-nilai religius agama.  Kutub lainnya merupakan peradaban sekuler.  Kedua kutub tersebut berseberangan dan tak henti-hentinya meletupkan konflik antar umat manusia.  Berbagai rekayasa kompromi dilakukan banyak negara dan bangsa untuk meredam kemungkinan terjadinya konflik tersebut.  Namun keserakahan sekuler dan fondamentalisme agama memicu konflik besar sampai kepada peperangan dan terorisme.

Merupakan keprihatinan besar kita bahwa suasana konflik antar peradaban tersebut merambah ke bumi Indonesia pula.  ’Kawah Candradimuka’ untuk kita rupanya masih berlanjut.  Namun demikian, kita tidak boleh gamang menghadapi semua ujian semesta ini.  Dalam ruang batin  harus kita tanamkan kesadaran menjadi pilihan semesta untuk menghadirkan jaman baru untuk peradaban umat manusia. Keparenging Gusti, bangsa Indonesia diberi suatu ’wiji spiritual’ yang memberi kesadaran tentang makna ‘sejatining urip’ (hakekat hidup).  Seluruh budaya asli Nusantara memiliki sistim religi dan filsafat hidup tentang kesejatian hidup.  Semua memiliki aras dasar ber-Tuhan, memiliki kesadaran ’manunggal’ dengan semesta, dan beradab.  Ekspresi nyatanya bisa dikaji dengan budaya dan peradaban Bali yang terang benderang mempesona hati nurani umat manusia sedunia.

Dalam ajaran Kejawen dengan jelas diajarkan tentang ’jumbuhing jagad cilik (manusia) dengan jagad gedhe (alam semesta).  Maka ketika ada bosah-basehnya kesemestaan yang ada, manusia diberi kewenangan dan kemampuan untuk melakukan berbagai mantra (mendayakan dayaning urip) untuk ’ndandani’ keadaan semesta yang bosah-baseh tersebut.  Ada bayak lakubudaya untuk mendayakan mantra dayaning urip tersebut.  Salah satunya berupa ’mantraswara’ yang dikemas sederhana dalam kemasan ’kidungan’, ’ritual gamelan Gadhung Mlathi dan Ki Layu Nedheng’, ’ritual Bedhayan’, dan pementasan wayang purwa dengan lakon tertentu’.

Mantraswara-mantraswara tersebut merupakan ritual ’memanunggalkan diri dengan alam semesta’ yang bisa dilakukan oleh manusia segala strata.  Kita yakin bahwa semua budaya unsur-unsur Indonesia yang lain juga memiliki ritual semacam di Jawa dan Bali tersebut.  Maka kalau memang benar menginginkan pembangunan karakter bangsa melalui budaya, perlu diawali gerakan ritual kesemestaan tersebut.  Gerakan ritual ini akan membuat semesta kembali tertata dan bernuansa geo spiritual Nusantara.  Di saat itulah akan terjadi jumbuhing wiji spiritual yang ada di sanubari setiap orang Indonesia dengan geo spiritualnya.  Maka akan lahir gerakan budaya Nusantara di seluruh negeri.

Gerakan budaya Nusantara merupakan gerakan budaya yang mampu menggugah daya “linuwih”-nya ’otot bayu’ Indonesia.  Sebagaimana otot bayu Jawa yang bergelora ketika dibangunkan dengan “ritual budaya” Jawa, maka otot bayu Indonesia pun akan bergelora bangkit sebagaimana bangkitnya kundalini (dayaning urip manungsâ, jw.) yang memiliki “daya spiritual” adidaya pada setiap rakyat Indonesia.  Gelora “otot bayu” Indonesia yang terbangkitkan secara luas dan terus-menerus akan mampu menggugah “râsâ handarbèni” Indonesia dari seluruh rakyat.  Dengan kepatriotan rakyat semesta yang tergugah, maka haqul yakin bahwa semua persoalan yang mendera bangsa akan bisa diatasi.

Melakukan gerakan budaya Nusantara secara semesta memang tidak mudah.  Namun perlu dimulai dengan contoh.  Pada komunitas kecil dimana kita berkumpul ini, seyogyanya bisa kita mulai uji coba melakukan gerakan budaya tersebut.  Kita semua plural berbeda-beda, maka perlu disatukan menjadi Indonesia secara nyata dan lahir batin.  Untuk itu saya sangat mendukung  ’internalisasi’ nilai-nilai kebangsaan dengan ’upacara bendera’ untuk disebarkan kembali agar menjadi suatu ’ritual kebangsaan’ guna menanamkan kesadaran menjadi dan memiliki Indonesia.

 Kesimpulan

Untuk mewujudkan cita-cita luhur diberdirikannya Indonesia sebagaimana diamanahkan oleh konstitusi (Pembukaan UUD 1945), maka diperlukan adanya kerukunan mendasar dari seluruh elemen bangsa Indonesia.  Pluralisme atau Kebhinekaan warga bangsa Indonesia dalam “beriman” kepada Tuhan Yang Maha Esa  perlu dijembatani untuk saling mengerti dan saling menghormati keimanan yang dipilih masing-masing.

Budaya dan peradaban semua unsur Indonesia yang sudah panjang pengalaman mengampu perbedaan-perbedaan “keimanan” umat manusia, kiranya bisa dijadikan salah satu media yang menjembatani untuk saling mengerti dan menghormati dari sesama warga bangsa Indonesia.

Bahwa carut-marut (keamburadulan, bosah-basèh) kondisi peradaban umat manusia (termasuk Indonesia) yang ada pada saat ini, kiranya bisa diupayakan untuk kembali baik dengan gerakan “laku budaya”. Gerakan dimaksud berpangkal tolak dari aras: Keber-Tuhan-an, kesadaran semesta, dan keberadaban manusia.

Pemulihan ke-’hayu’-an semesta merupakan kewajiban umat manusia.  Untuk kepentingan Indonesia, maka pemulihan ke-’hayu’-an semestanya dengan laku budaya “Ritual Kebangsaan”.  Mengingat bangsa Indonesia merupakan kemajemukan umat manusia dengan berbagai latar budaya dan peradabannya masing-masing, maka “Ritual Kebangsaan” dimaksud perlu didukung “Ritual Budaya” dari masing-masing elemen bangsa Indonesia.

Demikian semoga bermanfaat dan mohon maaf sekiranya makalah saya ini kurang “nyambung” dengan pandangan Anda sekalian.  Semoga kita semua berhasil menjalin tali persaudaraan sebagai sesama umat manusia, sebagai sesama warga bangsa Indonesia.  Siapa lagi kalau bukan kita yang wajib mengatasi persoalan negara dan bangsa kita ini.

Têguh yuwânâ rahayu ingkang sami pinanggih lan mugi-mugi Gusti Ingkang Maha Kâwâsâ ngijabahi.  Swuhn.

Semarang,  18 Agustus 2009

Catatan:

Ki Sondong Mandali, adalah nama lain dari Totok Djoko Winarto.

Ketua Yayasan Sekar Jagad.

Lahir: Klaten, 11 Mei 1951

Alamat:

Jl. Keruing II No. 111, Perumnas Banyumanik Semarang 50263

Tilp: (024) &477292;  HP: 08157611019

E-mail: kisondongmandali@yahoo.com

1  Kitab-kitab (lontar) hukum jaman Majapahit terlestarikan di Leiden dan juga di berbagai Pura di Bali. (Pernyataan Bambang Noorsena dan Ustad Achmad Chodjim)

2  Kuliah Pancasila Bung Karno di Istana Negara tahun 1957.

3  Hampir semua bank dan lembaga keuangan dunia dimiliki oleh orang Yahudi.

4  ‘Budaya kumbang wangwung’ adalah budaya merusak habitat hidupnya sendiri untuk bertahan hidup

 ***