Indonesia adalah negara dengan enam agama resmi yang di restui pemerintah republik Indonesia. Dengan adanya agama-agama seperti Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, Konghuchu yang tumbuh berkembang di negara kita. Bahkan kerukunan umat beragama sudah tercermin dalam sejarah panjang kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk yang terdiri dari berbagai suku, ras dan agama tetapi meskipun demikian kita dapat hidup bersama dan saling menghormati.

Ajaran keberagamaan yang senantiasa membawa kepada kedamaian,
diharapkan menjadi motor penggerak utama dalam menciptakan kehidupan yang harmonis tersebut. Akan tetapi, dinamika kebermasyarakatan mengarah pada fenomena yang berbeda. Jika kita menilik beberapa kasus kekerasan atas nama agama di Indonesia, seakan agama mempunyai wajah yang menakutkan. Apa yang sebenarnya terjadi?. Mungkinkah ada kesalahan dalam menafsirkan ajaran (doktrin) agama yang mereka ikuti?

images (7)

Menanggapi fenomena masyarakat beragama/ agamis sebagai gejala sosial di indonesia, menurut analisis sosio-fenomenologis dari aspek psikologis adalah bahwa agama bagi kebebasan dan kebenaran, sesungguhnya peran agama adalah hanya, -sekali lagi hanya, hiburan atas kekalahan. Hiburan itu yang karena ketidakmampuan kita, kita katakan sebagai ada “tangan-tangan tak kelihatan akan menolong”, itulah isi sesungguhnya pesan agama yang masyarakat kita alami.

Bagi yang percaya akan adanya kebenaran peran agama untuk menyelesaikan berbagai akar permasalahan silahkan, tapi jasa langsung dari Tuhan atau peranan manusia atas nama seagama itu tidak ada sama sekali, itu hanya utopia psikologi dan terapi bagi orang kalah.

Bagi masyarakat kita agama hanya sebagai spirit bagi kemantapan mental dalam berjuang kalau bukan hanya sekedar hiburan. Alloh sekalipun tidak perduli akan nasib orang indonesia. Semua hanya perasaan pemeluk agama belaka, atas ketidak berdayaan dan karena kalah.

Semua manusia mengatakan Tuhan akan menolong tapi kenyataannya sesungguhnya tidak pernah terbukti, namun semua keberhasilan atas jerih-payah itu oleh manusia sendiri tanpa bekerja secara fisik bersama apa yang dinamakan Tuhan kecuali hasil akhir kerja manusia sebagai karunia Tuhan atau berkat Tuhan.

Padahal manusia hanya ada rasa solidaritas, namun dalam konteks yang dibicarakan adalah adanya suatu harapan yang karena rasa solidaritas itu muncul kejujuran karena percaya pada satu Tuhan, namun kenyataannya telah banyak terbukti bahwa semua itu adalah jauh dari harapan itu, malah sebaliknya bertolak belakang dari yang kita harapkan.

images (5)

Banyak pejabat, tokoh, milter maupun non militer yang beragama, namun kelakuan tidak sesuai harapan sebagaimana harapan kita, malah karena satu iman ia yang kita percayai berbuat baik pada kita itu, berbuat baik untuk demi jabatan dan demi uang, bukan atas nama Nurani  yang membawa pesan kedamaian untuk umat manusia.

Jangan kita percaya pada mereka yang membunuh, merampok, mencuri, dan menindas hak-hak atas tanah air kita atas nama Allah, Yesus, atau keyakinan apapun, sebab mereka semua omong kosong belaka. Mereka-mereka yang mengaku beragama memainkan kekuasaan atas nama Tuhan demi kepentingan urusan perut dan golongan mereka sendiri, sekali lagi Tuhan Mereka Bukan Tuhan yang penuh kasih lagi namun Tuhan mereka adalah Jabatan / naik pangkat dan Uang.

Kesimpulannya kita kecewa, karena manusia yang beragama yang kita harapkan dapat menolong malah sebaliknya membunuh kebebasan kita. Adalah suatu kesimpulan cara berfikir yang juga sudah salah sebelumnya, karena sesungguhnya agama tidaklah sama dengan manusia yang menganut agama, manusia berbeda dengan agama. Demikian sama halnya dengan Tuhan, sebab Tuhan juga sangat lain, Tuhan sesungguhnya adalah damai, kebenaran, keadilan, kebebasan, karena itu Tuhan adalah Tuhan titik. Karena itu kesimpulan kebenaran logika demikian adalah bahwa yang akan membebaskan, memakmurkan, mendamaikan, membuat adil manusia adalah oleh manusia sendiri, bukan siapa-siapa.

images (6)* Note : Tulisan diatas adalah rangkuman dari berbagai sumber dialog moral antar agama, analisis sosiologis masyarakat serta studi sosial dan politik Indonesia.

***