Di Bali banyak sekali kita jumpai penjual ayam/ bebek betutu, namun antara penjual satu dengan lainnya tidaklah sama baik penampilan dan rasanya, seperti ada yang berwarna kuning dengan cacahan cabai rawit merah itu adalah ayam betutu khas Gilimanuk. Nah, kalau ayam betutu yang berwarna coklat rasanya cenderung manis itu adalah khas Ubud.

images (20)

Ayam Betutu Khas Gilimanuk

Kebetulan saya pernah mencobanya, namun saya mencobanya dengan resep yang asli/ original, baik bumbu maupun cara memasaknya, tak tanggung-tanggung saya waktu itu sampai minta di ajarin tuan rumah yang asli Bali serta meminjam gerabahnya plus di tunjukkan cara membungkus bebeknya dengan pelepah daun pinang dan cara menyalakan bara sekam padinya.

Awalnya tuan rumah menyarankan saya untuk memakai cara instant saja, seperti di rebus atau di rebus setengah matang dulu, terus di bungkus daun pisang lalu di bungkus aluminium foil dan bisa di oven hingga matang, yang keseluruhannya hanya memerlukan waktu 1-2 jam saja, begitupun bumbunya cukup beli instant biar nggak capek-capek serta bisa di tambahin kecap kalau ingin mendapatkan rasa manis dan warnanya kecoklatan.

Namun melihat kegigihan saya, akhirnya tuan rumahpun bisa memahami… saya merasa, kalau tinggal beli saja ya bisa, seporsi ayam/ bebek betutu utuh harganya Rp 50-60 ribu, udah nggak capek-capek masak dan tinggal makan. Tapi bukan itu yang saya cari, saya ingin tahu cara memasaknya dan membuat bumbunya sendiri, dengan memasaknya kita akan tahu proses pembuatanya, seperti ada kepuasan tersendiri, sekalipun hanya sekali saja, yang penting saya sudah mencobanya.

Dan bebek betutu yang sudah pernah saya coba memang rasa dan penampilannya beda dengan khas gilimanuk yang kuning atau ubud yang berwarna coklat, ia berwarna pucat keruh karena semua bahan bakunya rempah asli, bahkan minyaknyapun klentik atau minyak kelapa asli, dan tanpa memakai lombok merah ataupun kecap…

Di mana ke-authentik-an rempah-rempahnya tersebut di dapatkan dari rimpang, biji dan deaunan, seperti: bawang putih-bawang merah, serai, jahe, cabai puyang, bangle, kulit limau, kencur, kunyit, ketumbar, kemiri, lengkuas, daun salam, daun jeruk purut, daun dlingu, merica hitam dan putih, pala, terasi, garam dan gula merah.

kurang lebih seperti inilah penampakannya🙂

images (74)

Untuk mengetahui resep komplitnya, bisa di lihat di ruang dapur saya (^_^) :

http://dapurdiajeng.wordpress.com/2013/10/06/hidangan-khas-majapahit/

Oh ya, ngomongin lombok merah dan cabai rawit, konon ia bukanlah tanaman asli nusantara melainkan asli dari amerika latin yang di bawah oleh kolonial Belanda untuk di tanam di perkebunan kita pada abad ke 16… So, kalau ada resep betutu yang memakai cabai maka ia bisa di sebut betutu modern, atau sesudah era Majapahit😉

Anyway, saya menamakannya hidangan ini khas Majapahit bukanlah tanpa sebab, berawal dari panggraita/ renungan saya, kejelian saya menelitinya, walaupun masih dalam skala kecil, namun bukan berarti Bali tidak memiliki hidangan khas ini, mungkin hanya berbeda nama saja, kalau ada perbedaan pendapat monggo silahkan saja…

Pertama, saya berpraduga tak bersalah bahwa hidangan ini adalah hidangan asli Majapahit untuk kalangan raja atau kaum the Have pada waktu itu atau suguhan istimewah rakyatnya untuk menjamu para tamu, namun karena tragedi kudeta kerajaan sehingga memaksa mereka banyak yang exodus ke pulau Bali. tetapi mereka exodus juga ‘Beg-gawan’ sebagai bekal, dari pendeta, cendikiawan budaya, seniman musik & pahat, dan mungkin juru masaknya, semuanya mereka bawa turut serta ke Bali juga.

Tapi kalau memang ayam/ bebek betutu itu asli hidangan asli Majapahit, lalu bagaimana tidak ada jejaknya?… kalau di sekitar Mojokerto yang ada ya hanya penjual wader goreng/ di botok (di kukus), karena di sekitar situ memang ada lahan tambak untuk produksi ikan wader…

images (72)

Hmmm, siapa bilang, coba aja tanya beberapa teman kita yang pinisepuh, saya pernah mencoba bertanya, dan dengan mudah di jawab bahwa itu asli masakan Jawa kuno, tapi kalau di Bali namanya ‘Betutu’ ya mungkin kebetulan saja. ia bercerita pada waktu kecil dulu jika ia pulang kampung, si embah putri selalu memasakannya hidangan tersebut.

* Saya membayangkan cara masaknya di masukkan gerabah lalu di tutup dengan bara api, orang jaman dulu membuatnya malam hari dan menikmatinya pagi harinya. sepanjang malam asapnya yang mengepul juga bisa buat mengusir nyamuk:mrgreen:

Saya rasa hidangan ini perlulah kita populerkan lagi, ibarat kepaten obor, maka kita bisa menghidupkan lagi, menggeliatkan gairahnya kembali…

“Rahasia dari kesuksesan kuliner masa depan ada di masakan masa lalu, jika kita bisa menggalinya, menemukan resep-resep asli nenek moyang kita, maka kuliner kita akan bisa jaya sekaligus bisa mengiringi modernisasi global, karena sebenarnya lestarinya kuliner masa kini ada di masakan masa lalu”🙂 …

Artikel ini juga saya tampilkan di forum Kompasiana :

http://wisata.kompasiana.com/kuliner/2013/10/06/food-odissay-hidangan-khas-majapahit-598109.html

Rahayu, salam samya sih🙂 …

***