Ehmmm… judulnya serem banget ya, maunya kelihatan serius tapi malah jadi lucu dan campur aduk :)…

Tapi saya sudah terlanjur kesengsem sama kata ‘mistik’… semacam ada getaran lembut dalam nadi yang melambai-lambai romantis memanggil kalbu… entah mengapa, semacam ada dorongan dalam hati untuk bergumul dan bercinta dengannya. Orang bilang tak kenal maka tak sayang, lha ini malah kebalikannya, wong belum bertemu kok udah jatuh cinta :wink:…

Sebenarnya pertama kali saya berkenalan dengan kata ‘mistik’ adalah ketika saya melihat filmnya Nyimas Julia Roberts yang berjudul ‘Mystic Pizza’. Entah karena yang jadi pemain utama adalah bintang idola saya yang cantik dan bersinar atau mungkin karena ceritanya sehingga saya langsung menyukainya, tapi pada saat itu mungkin saya masih terlalu dini untuk bisa memahami dan mencerna inti filmnya, namun sekali lagi, hanya kata ‘mistik’ saja yang mampu meninggalkan kesan mendalam di hati saya…

images (10)

Dan baru tahu sekarang, lewat baca-baca sinopsisnya di perpustakaan eyang Google, ternyata film box office ini bercerita tentang kehidupan dua saudara perempuan yang beranjak dewasa dan teman mereka melalui kehidupan romantis dari tiga karakter utama: Kat Arujo (Annabeth Gish), Daisy Arujo (Julia Roberts) dan Jojo Barbosa (Lili Taylor) yang bekerja sebagai pelayan di restorant pizza. Film ini juga menyinggung tentang etos kerja serta persaingan dua bersaudara: Kat mempelajari astronomi, bekerja di planetarium lokal, serta restoran, dan telah diterima di sebuah universitias dengan beasiswa parsial. Sedangkan Daisy hanya ingin menemukan cinta melalui nafsu ketika mencoba untuk keluar dari restaurant Mistic Pizza. Kat adalah anak kesayangan di mata ibu, sementara Daisy tidak, dia tidak pilih-pilih dan tidak berorientasi pada tujuan sebagaimana adiknya. Ada juga dinamika antara majikan, seorang ayah yang telah mempekerjakan dia untuk merawat putrinya sementara istrinya sedang pergi, dan hubungan yang dihasilkan antara mereka. Tidak lupa, perbedaan kelas dan varian warisan Eropa dieksplorasi dalam berbagai adegan dalam film ini. itulah yang membuat film ini memperoleh nilai dua jempol alias ‘Two Thumbs Up!’…

images (11)Ok, kembali ke Laaaptop…

Kembali ke judul artikelnya, yaitu Mistik Kejawen.

Setelah browser sana-sini, baca sana-sini, rangkum sana-sini, dan pemirsa…. inilah pemahaman dari para winasis tentang apa itu Mistik yang sebenarnya :

Manusia adalah makhluk mistik.

images (15)

“Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern, westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti akekatnya, dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu (kesadaran “kulit”). Manakala mendengar istilah mistik, akan timbul konotasi negatif”.

Walau bermakna sama, namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan, terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit. Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat. Selama puluhan tahun, kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism, westernisme dan agamisme. Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit, irasional, dan primitive. Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum agamisme sebagai paham sesat dan sumber kemusrikan. Pandangan itu salah besar, jika tidak mau disebut sebagai fitnah keji !

Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah. Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri, kepentingan rezim, dan kepentingan egoisme (keakuan). Penilaian juga rentan terkonaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan, diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan, dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah mistis yang sesungguhnya. Untuk itu, perlulah kiranya pemahaman mengenai makna yang sejatinya akan istilah mistis. Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana, selalu hati-hati terutama dalam menilai seseorang atau suatu kelompok, golongan dan cara pandang masyarakat tertentu. Jika perilaku hidup dan pola pikir kita tidak eling dan waspada, kita akan melebur ke dalam roda “wolak-waliking jaman” di mana orang salah akan berlagak selalu benar. Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh. Emas dianggap Loyang (besi). Besi dikira emas. Burung bangau dianggap dandang (alat menanak nasi). Yang asli dianggap palsu, yang palsu dibilang asli. Semua serba salah kaprah, kacau-balau, chaos, dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan.

kata_mutiara_bahasa_jawa

Eksistensi Mistik :

Mistik dapat dipahami sebagai eksistensi tertinggi kesadaran manusia, di mana ragam perbedaan (“kulit”) akan lenyap, eksistensi melebur ke dalam kesatuan mutlak hal ikhwal, nilai universalitas, alam kesejatian hidup, atau ketiadaan. Kesadaran tertinggi ini terletak di dalam batin atau rohaniah, mempengaruhi perilaku batiniah (bawa) seseorang, dan selanjutnya mewarnai pola pikir nya. Atau sebaliknya, pola pikir telah dijiwai oleh nilai mistisisme yakni eksistensi kesadaran batin.

Meskipun demikian, eksistensi mistik yang sesungguhnya tidaklah berhenti pada perilaku batin (bawa) saja, lebih utama adalah perilaku jasad (solah). Artinya, mistik bukanlah sekedar teori namun lebih kearah manifestasi atau mempraktikkan perilaku batin ke dalam aktivitas hidup sehari-harinya dalam berhubungan dengan sesama manusia dan makhluk lainnya. Apakah anda ingin menjadi seorang agamis, yang hanya terpaku pada simbol-simbol agama berupa penampilan fisik, jenis pakaian, cara bicara, bahasa, gerak-gerik, bau minyak wanginya. Agamis hanya kenyang teori-teori agama atau dalil-dalilnya saja. Ataukah sebaliknya anda ingin menjadi seorang praktisi (penghayat) akan teori-teori tersebut sehingga tidak omong doang. Hal itu menjadi hak setiap orang untuk memilih, masing-masing akan membawa dampak yang berbeda-beda.

Dalam menjabarkan istilah mistik, saya sangat sepakat dengan guru besar Filsafat UGM Prof. Dr. Damarjati Supadjar, bahwa cirri-ciri mistikisme adalah sebagai berikut :

  •     Mistisisme adalah persoalan praktek.
  •     Secara keseluruhan, mistisisme adalah aktifitas spiritual.
  •     Jalan dan metode mistisisme adalah cinta kasih sayang.
  •     Mistisisme menghasilkan pengalaman psikologis yang nyata.
  •     Mistisisme sejati tidak mementingkan diri sendiri.

unduhan (4)

Jika kita cermati dari kelima ciri mistikisme di atas dapat ditarik benang merah bahwa mistik berbeda dengan sikap klenik, gugon tuhon, bodoh, puritan, irasional. Sebaliknya mistik merupakan tindakan atau perbuatan yang adiluhung, penuh keindahan, atas dasar dorongan dari budi pekerti luhur atau akhlak mulia. Mistik sarat akan pengalaman-pengalaman spiritual. Yakni bentuk pengalaman-pengalaman halus, terjadi sinkronisasi antara logika rasio dengan “logika” batin. Pelaku mistik dapat memahami noumena atau eksistensi di luar diri (gaib) sebagai kenyataan yang logis atau masuk akal. Sebab akal telah mendapat informasi secara runtut, juga memahami rumus-rumus yang terjadi di alam gaib.

Agama sebagai sarana menggapai tataran spiritual. Sementara spiritual adalah kesadaran tinggi akan nilai-nilai transenden atau ketuhanan. Mistisisme adalah wujud kesadaran itu dalam laku perbuatan konkrit. Dengan adanya kesadaran yang cukup memadai akan bagaimana sesungguhnya yang terjadi di alam gaib hal itu membuka pola pikir kita sehingga mampu memahami noumena kegaiban secara logis. Hal ini menjadikan para pelaku spiritual memiliki kemantapan tidak hanya sekedar yakin, tetapi dapat dikatakan bisa menyaksikan sendiri bagaimana “rumus-rumus halus” akan bekerja. Antara pengetahuan spiritual dengan tindakan nyata seiring dan seirama. Bagaikan lirik dengan syairnya. Aransemen dengan nada-nada musicnya. Sastra dengan gendhingnya. Sinergis dan harmonis, antara pengetahuan spiritual dengan perbuatannya. Menjadikan para pelaku spiritual sejati justru terkesan lebih santun dan memiliki ‘sense on humanity’ yang tinggi, memiliki kepekaan social, solidaritas dan toleransi, kepedulian lingkungan social dan alam yang sangat mendalam. Perilaku-perilaku yang menunjukkan sikap arif dan bijaksana dalam menjalani kehidupan ini ketimbang orang-orang bergaya “agamisme” (kesadaran symbolic) yang terkadang perilakunya lepas kendali, sewenang-wenang dan beringas, emosional dan reaksional. Karena merasa diri menjadi sangat kuat telah menjadi orang yang memegang hak istimewa (privilege) di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa.

images (13)

Penjelasan singkat mengenai arti harfiah dan maknawiah tentang mistik, dapat diambil benang merah bahwa “Mistik Kejawen” adalah laku spiritual berdasarkan pandangan hidup atau falsafah hidup Jawa. Atau disebut Jawaisme (Javanism). Yang paling utama dalam laku spiritual Jawa adalah perilaku didasari oleh cinta kasih dan pengalaman nyata. Maka, bagi siapapun yang mengaku menghayati falsafah hidup Jawa namun perangainya masih mudah terbawa api emosi, angkara murka, reaksioner, sektarian, dan primordialisme, kiranya belum memahami secara baik apa itu nilai-nilai dalam falsafah hidup Kejawen. Mistik kejawen merupakan bagian dari ribuan mistik yang ada di bumi ini. Setiap masyarakat, bangsa dan budaya biasanya memiliki nilai-nilai tradisi mistik yang dipegang teguh sebagai pedoman hidup.

Mistik lebih fleksibel jika dibandingkan dengan agama, sebab mistik tidak mempersoalkan apa latar belakang ajaran, agama, budaya orang yang ingin menghayati. Hal itu tidak menimbulkan resiko terjadinya benturan nilai-nilai, karena dalam tradisi mistik yang sesungguhnya, keberagaman “kulit” akan dikupas, lalu mengambil sisi maknawiahnya yang bersifat hakekat atau esensial. Sebenarnya orang Islam, Hindu, Kristen, Budha dan siapa saja bisa pula mempelajari falsafah hidup Jawa. Hanya saja, kecenderungan kekuasaan rezim agama akan membuat batasan-batasan tegas kepada para penghayat mistik dengan mistik itu sendiri. Bahkan sering terjadi prejudis, pencitraan secara subyektif dan punishment yang berdasarkan kepentingan rezim. Pelarangan dilakukan dengan dalih agama pula, sehingga pelarangan seringkali bekerja secara efektif membelenggu dinamika kesadaran umat. Yang terjadi adalah umat yang terkesan “agamis” tetapi sangat miskin pencapaian spiritualnya.

images (14)

Rahayu… rahayu… rahayu…

***