Kalender Jawa sama halnya dengan kalender-kalender yang lain menunjukkan tahun, bulan, tanggal dan hari dari suatu saat. Dalam sistem kalender ini selain ada tujuh hari, minggu sampai dengan sabtu juga ada lima hari pasaran: kliwon, legi, pahing, pon dan wage. Di Jawa kedua macam hari itu digabungkan untuk mengingat kejadian-kejadian yang penting, misalnya seseorang lahir hari Minggu Kliwon atau Minggu Wage, seseorang meninggal hari Jumat Legi atau Jumat Pon.

220px-Javanese_week

Gambar siklus pasaran dalam kalender jawa 

Simbol Perputaran Hidup

Kalender Jawa menunjukkan perputaran hidup antara manusia dimana hidup itu diciptakan oleh Gusti, pencipta Jagat Raya, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Sirklus Hari dalam penanggalan Jawa.

Dalam budaya Jawa, sistem sirklus hari ada bermacam-macam. jaman dahulu orang Jawa kuno mengenal 10 jenis minggu. Dari seminggu yang jumlahnya hanya satu hari, hingga Seminggu yang jumlah harinya terdapat 10 hari. Nama macam-macam minggu tersebut adalah Ekawara, Dwiwara, Triwara, Caturwara, Pancawara, Sadwara, Saptawara, Hastawara, Nawawara dan Dasawara.

Pekan yang terdiri atas lima hari ini disebut sebagai pasar oleh orang Jawa dan terdiri dari hari-hari:

Hari Pasaran Lima

Hari-hari pasaran merupakan posisi sikap (patrap) dari bulan.

  1. Kliwon (Asih) melambangkan jumeneng atau berdiri.
  2. Legi (Manis) melambangkan mungkur atau berbalik arah kebelakang.
  3. Pahing (Pahit) melambangkan madep atau menghadap.
  4. Pon (Petak) melambangkan sare atau tidur.
  5. Wage (Cemeng) melambangkan lenggah atau duduk.

Kemudian sebuah pekan yang terdiri atas tujuh hari ini, yaitu yang juga dikenal di budaya-budaya lainnya, memiliki sebuah siklus yang terdiri atas 30 pekan. Setiap pekan disebut satu wuku dan setelah 30 wuku maka muncul siklus baru lagi. Siklus ini yang secara total berjumlah 210 hari adalah semua kemungkinannya hari dari pekan yang terdiri atas 7, 6 dan 5 hari berpapasan.

Untuk lebih jelasnya perhatikan perumusan tata penanggalan Jawa sebagai berikut :

  • Perhitungan hari dengan siklus 5 harian disebut sebagai Pancawara – Pasaran. (Artinya dalam 1 minggu (Pancawara) hanya ada 5 hari)
  • Perhitungan hari dengan siklus 6 harian disebut Sadwara – Paringkelan.
  • Perhitungan hari dengan siklus 7 harian disebut Saptawara – Padinan.
  • Perhitungan hari dengan siklus 8 harian disebut Hastawara – Padewan
  • Perhitungan hari dengan siklus 9 harian disebut Sangawara – Padangon
  • Perhitungan hari dengan siklus mingguan (7 hari) terdiri 30 minggu disebut Wuku.

Namun jaman sekarang yang biasa dipakai hanya 2 jenis minggu saja, yaitu Pancawara (pasaran) dan Saptawara (Padinan). Misalnya Senin Legi, Selasa Pahing dan seterusnya. Saptawara dipakai karena dinilai universal (sirklus 7 hari). Sedangkan Pancawara tetap dipakai karena melambangkan jati diri manusia Jawa yang berbudaya.

Hari

Orang Jawa percaya bahwa hitungan 7 hari dalam seminggu bermula ketika Tuhan menciptakan alam semesta ini dalam 7 tahap. Dimana tahap pertama diawali hari Radite (Minggu).

  • Pertama, Ketika Tuhan memiliki kehendak ingin menciptakan dunia. Kehendak Tuhan ini lalu disimbolkan dengan MATAHARI yang bersinar sebagai sumber kehidupan.
  • Kedua, ketika Tuhan menurunkan kekuatanNYA untuk menciptakan dunia. Kekuatan Tuhan itu lalu disimbolkan dengan BULAN yang bercahaya tanpa menyilaukan.
  • Ketiga, Ketika kekuatan Tuhan tadi mulai menyebarkan percik-percik sinar Tuhan. Percik sinar Tuhan itu lalu disimbolkan dengan API yang berpijar.
  • Keempat, Ketika Tuhan menciptakan dimensi ruang untuk wadah alam semesta. Dimensi ruang itu lalu disimbolkan dengan BUMI menjadi tempat makhluk hidup.
  • Kelima, Ketika tuhan menciptakan panas yang menyalakan kehidupan. Panas yang menyala itu lalu disimbongkan dengan ANGIN yang bergerak dan petir yang menyambar.
  • Keenam, Ketika tuhan menciptakan air yang dingin. Air yang dingin itu lalu disimbolkan dengan BINTANG yang mirip titik-titik air yang menyejukan.
  • Ketujuh, Ketika Tuhan menciptakan unsur materi kasar sebagai dasar pembentuk kehidupan. Materi kasar itu lalu disimbolkan dengan AIR sebagai sumber kehidupan.

Perlu dipahami bahwa penyebutan elemen (anasir) ini hanyalah sebagai simbol. Bukan merupakan urutan kejadian alam semesta itu sendiri. Simbol inilah yang nantinya digunakan dalam mengenali watak (karakter) hari.

Elemen Hari

Minggu : Aditya = Planet Matahari
Senin : Soma = Planet Bulan
Selasa : Anggara = Planet Mars
Rabu : Budha = Planet Merkurius
Kamis : Respati = Planet Jupiter
Jumat : Sukra = Planet Venus
Sabtu : Saniskara = Planet Saturnus

Dino Pitu (Hari Tujuh)

Nama hari ini dihubungkan dengan sistem bulan-bumi. Gerakan (solah) dari bulan terhadap bumi adalah nama dari ke tujuh tersebut.

  1. Radite (Minggu) melambangkan meneng atau diam.
  2. Soma (Senin) melambangkan maju.
  3. Hanggara (Selasa) melambangkan mundur.
  4. Budha (Rabu) melambangkan mangiwa atau bergerak ke kiri.
  5. Respati (Kamis) melambangkan manengen atau bergerak ke kanan.
  6. Sukra (Jumat), melambangkan munggah atau naik ke atas.
  7. Tumpak (Sabtu) melambangkan temurun atau bergerak turun.

Penanggalan Bulan

  1. Tanggal pertama tiap bulan Jawa, bulan kelihatan sangat kecil-hanya seperti garis, ini dimaknakan dengan seorang bayi yang baru lahir, yang lama-kelamaan menjadi lebih besar dan lebih terang.
  2. Tanggal 14 bulan Jawa dinamakan purnama sidhi, bulan penuh melambangkan dewasa yang telah bersuami istri.
  3. Tanggal 15 bulan Jawa dinamakan purnama, bulan masih penuh tapi sudah ada tanda ukuran dan cahayanya sedikit berkurang.
  4. Tanggal 20 bulan Jawa dinamakan panglong, orang sudah mulai kehilangan daya ingatannya.
  5. Tanggal 25 bulan Jawa dinamakan sumurup, orang sudah mulai diurus hidupnya oleh orang lain kembali seperti bayi layaknya.
  6. Tanggal 26 bulan Jawa dinamakan manjing, dimana hidup manusia kembali ketempat asalnya menjadi teja lagi.

images (27)

Sisa hari sebanyak empat atau lima hari melambangkan saat dimana ‘Teja’ akan mulai dilahirkan kembali kekehidupan dunia yang baru. Proses perputaran hidup ini dinamakan ‘cakramanggilingan‘ (cakra = senjata berbentuk roda yang bergigi tajam, manggilingan = selalu berputar) atau juga disebut herucakra. Manusia yang berbudi baik selalu mengikuti jalan yang diperkenankan oleh Yang Kuasa orang tersebut akan dituntun mengetahui sangkan paraning dumadi (datang ke dunia berawal suci hidup didunia berhati dan berperilaku suci dan kembali dalam keadaan suci lagi).

Nama-nama Bulan

Setiap eksistensi dari hidup manusia baru dimulai dengan Teja (sinar hidup yang diciptakan oleh kekuatan gaib dari Gusti Tuhan).

Perputaran hidup manusia adalah dari teja kembali ke teja melalui suwung (kosong). Dari bulan pertama (Warana/ sinar) sampai dengan bulan ke sembilan manusia baru tersebut berada di kandungan ibu dalam proses untuk mengambil bayi hidup yang sempurna, siap untuk lahir; dari bulan kesepuluh dia menjadi seorang manusia yang hidup didunia ini. Bulan kesebelas melambungkan akhir dari pada eksistensinya didunia ini yaitu, wusana artinya sesudahnya. Yang terakhir adalah suwung artinya kosong, hidup pergi kembali dari mana hidup itu datang. Dengan kehendak Gusti hidup itu kembali lagi menjadi Teja/ Cahaya, inilah perputaran hidup karena hidup itu abadi.

Ada kalanya orang tua bijak memberikan nasihat sebaiknya setiap orang itu tahu inti dari sangkan paraning dumadi atau purwa, madya, wusana. Sehingga orang akan selalu bertingkah laku yang baik dan benar selama diberi kesampatan untuk hidup didunia ini.

Satu tahun terdiri dari 12 bulan yang menunjukkan sangkar paraning dumadi (asalnya dari mana dan akan pergi kemana), disini ada 12 proses yaitu :

  1. Wadana (Sapar) artinya wiwit.
  2. Wijangga (Mulud) artinya kanda.
  3. Wiyana (Bakda Mulud) artinya ambuka.
  4. Widada (Jumadi Awal) artinya wiwara.
  5. Widarpa (Jumadi Akhir) artinya rahsa.
  6. Wilapa (Rejeb) artiya purwa.
  7. Wahana (Ruwah) artinya dumadi.
  8. Wanana (Pasa) artinya madya.
  9. Wurana (Sawal) artinya wujud.
  10. Wujana (Sela) artinya wusana.
  11. Wujala (Besar) artinya kosong.
  12. Warana (Sura) artinya tejo
No Penanggalan Jawa Lama Hari
1 Wadana 31
2 Wijangga 28
3 Wiyana 31
4 Widada 30
5 Widarpa 31
6 Wilapa 30
7 Wahana 31
8 Wanana 31
9 Wurana 30
10 Wujana 31
11 Wujala 30
12 Warana 31
Total 365

*Bandingkan jumlah harinya dengan tahun lunar/ hijriah berikut:

No

Penanggalan Jawa

Lama Hari

1 Sura 30
2 Sapar 29
3 Mulud 30
4 Bakda Mulud 29
5 Jumadilawal 30
6 Jumadilakir 29
7 Rejeb 30
8 Ruwah (Arwah, Saban) 29
9 Pasa (Puwasa, Siyam, Ramelan) 30
10 Sawal 29
11 Sela (Dulkangidah, Apit) * 30
12 Besar (Dulkahijjah) 29
Total

354

Tahun

Terdapat delapan nama dari tahun Jawa, pada masa kasultanan Agung, nama-nama tersebut digubah dan disisipkan bahasa arab/ islam, Nama-nama tahun tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Purwana – Alip, artinya ada-ada (mulai berniat)
  2. Karyana – Ehe, artinya tumandang (melakukan)
  3. Anama – Jemawal, artinya gawe (pekerjaan)
  4. Lalana – Je, artinya lelakon (proses, nasib)
  5. Ngawana – Dal, artinya urip (hidup)
  6. Pawaka – Be, artinya bola-bali (selalu kembali)
  7. Wasana – Wawu, artinya marang (kearah)
  8. Swasana – Jimakir, artinya suwung (kosong)

Siklus Windu atau per 8 tahun

#

Mangsa

Pasaran

Hari

 1 Purwana Selasa Pon 354
2 Karyana Sabtu Pahing 355
3 Anama Kamis Pahing 354
4 Lalana Senin Legi 354
5 Ngawana Jumat Kliwon 355
6 Pawaka Rabu Kliwon 354
7 Wasana Minggu Wage 354
8 Swasana Kamis Pon 355
Total

2835

Kedelapan tahun itu membentuk kalimat ”ada-ada tumandang gawe lelakon urip bola-bali marang suwung” (mulai melaksanakan aktifitas untuk proses kehidupan dan selalu kembali kepada kosong). Tahun dalam bahasa Jawa itu wiji (benih), kedelapan tahun itu menerangkan proses dari perkembangan wiji (benih) yang selalu kembali kepada kosong yaitu lahir-mati, lahir-mati yang selalu berputar.

Daftar Musim Matahari Jawa

Daftar ‘pranata mangsa’ ini adalah pembagian bulan yang asli Jawa dan sudah digunakan sejak jaman dahulu kala yang juga merupakan kalender Surya, sebagai patokan para petani untuk bercocok tanam,  tetapi lama setiap mangsa berbeda-beda.

Nama musim atau mongso yang disebut sebagai ‘Pranata Mangsa’

No

Penanggalan Jawa

Awal

Akhir

1 Kasa 23 Juni 2 Agustus
2 Karo 3 Agustus 25 Agustus
3 Katiga (Katelu) 26 Agustus 18 September
4 Kapat 19 September 13 Oktober
5 Kalima 14 Oktober 9 November
6 Kanem 10 November 22 Desember
7 Kapitu 23 Desember 3 Februari
8 Kawolu 4 Februari 1 Maret
9 Kasanga 2 Maret 26 Maret
10 Kadasa 27 Maret 19 April
11 Dhesta 20 April 12 Mei
12 Sadha 13 Mei

22 Juni

***