Majalah SASMITA No. 01 Tahun I – September 2007

Rubrik Warta :

 SASMITA, Misteri Lelakon

 Renaisans Jawa menuju Indonesia Tamansari Dunia

Setelah sekian lapis kemerdekaan bangsa terkikis, tergadai atau hilang, bahkan sampai kedaulatan spiritual pun nyaris tidak kita punyai lagi, maka sesungguhnya hal ini merupakan keprihatinan mendalam bagi kita semua, warga Indonesia !

Meskipun demikian, masih ada ‘pertahanan spiritual’ bangsa yang ulet tidak mempan digerus tata peradaban dan paham-paham ideologi asing.  Pertahanan spiritual bangsa tersebut pada orang Jawa tercermin pada penggunaan bahasa Jawa ‘ngoko’.  Ya, bahasa plain, bahasa awam yang menyatu dengan kekuatan ‘tata peradaban’ asli sukubangsa Jawa dan terus menerus operasional berkesinambungan dari generasi ke generasi.  Bahasa yang kenyataannya masih mampu menyatukan komunikasi antar wong Jawa darimana berasal dan dimanapun berada.  Ketika orang Jawa sudah merasa sulit menggunakan bahasa ‘krama’, maka secara nyata masih fasih untuk ‘ngoko’.  Contoh lain ketahanan tersebut, bila dalam keadaan terpaksa kehilangan kata-kata, maka akan segera muncul kata-kata bahasa Jawa ‘ngoko’ dari mulut orang Jawa dalam ngudar gagasan

Bertolak dari ‘kamampuan bertahan’ Jawa tersebut, Sekar Jagad didirikan dan dicitakan untuk mampu menggerakkan kebangkitan peradaban dan kebudayaan Jawa guna dipersembahkan kepada Indonesia.  Mengembalikan Jawa sebagai sekaring Jagad untuk menuju Indonesia tamansarinya dunia.

Demikian intisari paparan Ki Sondong Mandali dalam membuka dan memperkenalkan Yayasan Sekar Jagad pada pertemuan informal dengan komunitas Gerak Nusantara pada tanggal 28 Mei 2005 di Jakarta.  Sungguh diluar perkiraan, bahwa gagasan orang kampungan semacam sdr. Ki Sondong Mandali yang lalu saya edarkan ke dunia maya, mailing-list: sekarjagad@yahoogroups.com dan sknap@yahoogroups.com, memperoleh sambutan yang sangat besar dari peserta pertemuan: beberapa tokoh sepuh perjuangan (tokoh TP: Tentara Pelajar), tokoh HPK (Himpunan Penghayat Kepercayaan), dan tokoh-tokoh nasionalis.  Gagasan itu hanyalah cita-cita ‘ngoyoworo’-nya Ki  Sondong Mandali tentang kebangkitan kembali peradaban dan budaya Jawa, yang oleh Ustad Chodjim diberi istilah renaissance Jawa.

Kepandiran KSM bertambah-tambah dengan menambahinya menjadi semacam rumusan visi yang seolah ‘unreachable’, tak terjangkau.  Karena berbunyi: “Membangun Jawa sebagai Sekar Jagad menuju Indonesia Tamansari dunia”.

Menjadikan Jawa sebagai Sekar Jagad yang dimaksud adalah menjadikan Falsafah Jawa atau Kawruh Kejawen  sebagai ‘keindahan peradaban’ umat manusia di dunia.  Gagasan yang ambisius, menjadikan Kejawen sebagai salah satu ‘isme’ dunia. Sementara kenyataannya, peradaban dan kebudayaan Jawa sendiri saat ini nyaris pudar dan tenggelam tergerus ‘isme-isme’ dunia yang lain, terutama modernisme.

(Ki Denggleng Pagelaran, Resume Pertemuan 28 Mei 2005)

 Merekam tembang macapat di Brebah Sleman Yogyakarta, 2004

 Misteri Lelakon

Di ranah ke-Jawa-an KSM berjumpa dengan Yayasan Sastra (Surakarta) dan BKJ Cahya Kawedhar (Brebah, Sleman – Yogyakarta).  Sedang di ranah kebangsaan berjumpa dengan komunitas ‘Gerak Nusantara’ (Jakarta). Gayung bersambut, terlahir ide untuk membangun ‘Jejaring Kebangsaan’ pada aras kebudayaan.  KSM ‘ditugasi’ merintis pendirian ‘Paguyuban’ beraras budaya dan peradaban Jawa.   Melalui dialog internet dan pertemuan ‘membumi’ terhimpun simpatisan yang kemudian bersedia ‘urunan bareng-bareng’ mendirikan Yayasan Sekar Jagad (YSJ) pada 28 Maret 2005.

Setelah pertemuan 28 Mei 2005 sebagaimana resume terkutip, maka atas dukungan dan bantuan banyak pihak, Yayasan Sekar Jagad bisa menerbitkan Buletin Perkenalan dan menyelenggarakan Sarasehan Budaya di PPPG Kesenian Yogyakarta pada tanggal 3 September 2005.  Tema sarasehan: “Menelisik Budaya dan Peradaban Jawa dalam rangka membangun ketangguhan bangsa Indonesia”.

Catatan :

Hadir sebagai pembicara: Prof. Timbul Haryono (UGM), Prof. Sunaryo Wreksosuhardjo (Yayasan Studi Pancasila – Surakarta), Prof. Semuel Agustinus Patty (UKSW), Prof. Singgih Wibisono (Dewan Kebudayaan DKI), Ir. Yuwono Sri Suwito (Dewan Kebudayaan DIY), Ustad Ir. Achmad Chodjim (YSJ), Djoko Aminoto (YSJ/Gerak Nusantara).

Dalam sarasehan bergulir wacana untuk merevitalisasi budaya dan peradaban Jawa.  Maka kembali Ki Sondong Mandali mewacanakan perlunya didirikan ‘Pusat Studi Budaya dan Peradaban Jawa’ yang berfungsi sebagai lembaga informasi dan studi ke-Jawa-an.  Landasan pemikirannya, bahwa sejauh ini belum ada lembaga atau institusi yang secara komprehensif mampu melayani kebutuhan informasi dan studi tentang ke-Jawa-an.

Wacana renaisans Jawa dan pendirian ‘Pusat Studi Jawa’ semakin mendapatkan dukungan dari banyak pihak.  Disamping sebaran sosialisasi melalui internet, di ranah nyata juga didialogkan ke banyak pihak melalui perjalanan muhibah, pertemuan, dan sesorah Ki Sondong Mandali.

Juni 2006, Yayasan Sekar Jagad mengumpulkan banyak pihak untuk membentuk Panitia Revitalisasi dan Unicode Registrasi Aksara Jawa.  Pertemuan untuk kepentingan ini terselenggara di PPPG Kesenian Yogyakarta dan CSIS Jakarta.  Berlanjut pertemuan dengan Wagub Jawa Tengah di Kantor Biro Kesra Propinsi Jawa Tengah.  Pada pertemuan terakhir ini wacana Registrasi Unicode Aksara Jawa perlu ditangani Lembaga Pemerintah.  Maka Yayasan Sekar Jagad menyerahkan ke pihak-pihak yang lebih memiliki kapasitas.

Majalah Renaisans Jawa SASMITA

IMG00034-20140102-1100edit2

Dengan mengajak banyak tokoh dan institusi ke-Jawa-an, Yayasan Sekar Jagad merintis pendirian Lembaga Studi Jawa ‘Sekar Jagad’ dan menerbitkan Majalah SASMITA.  Dengan semangat ‘Panunggalan’, kegiatan tersebut dirintis bersama-sama.  Simpati dan dukungan didapatkan hingga majalah SASMITA bisa hadir di hadapan Anda, para pembaca yang budiman.

Majalah Renaisans Jawa SASMITA hadir dengan warna ‘Jawa’, namun kandungan isinya merupakan ‘sasmita’ untuk mewujudkan Indonesia Tamansari Dunia.  Ke depan, sudah barangtentu akan dikembangkan agar mampu menjadi media dialog budaya dan peradaban antar elemen Indonesia.

Selain untuk kepentingan Indonesia, SASMITA memang bertujuan melakukan upaya-upaya untuk terjadinya renaisans budaya dan peradaban Jawa. Pijakan pemikirannya, bahwa banyak nilai-nilai budaya dan peradaban Jawa yang relevan untuk diangkat dan dipersembahkan bagi kemaslahatan Indonesia dan Dunia.

Seiring bisa diberdirikannya Lembaga Studi Jawa ‘Sekar Jagad’, maka di masa depan dimungkinkan untuk menyajikan hasil kajian literatur Jawa oleh para pakar yang kami himpun.  Namun perlu diinformasikan bahwa untuk kegiatan pengkajian tersebut dibutuhkan sejumlah dana.  Maka kami mengharap akan bisa kami dapatkan dana dari penerbitan majalah SASMITA ini.

Perlu diinformasikan bahwa Yayasan Sastra yang juga menjadi pendukung utama pendirian Lembaga Studi Jawa ‘Sekar Jagad’ dan penerbitan SASMITA telah menyediakan lebih 2000 naskah dan literatur beraksara Jawa yang sudah disulih aksarakan ke huruf Latin.  Kepustakaan mana sangat penting untuk dikaji dan kemudian hasilnya disosialisasikan ke banyak lembaga-lembaga studi ke-Jawa-an.  Untuk itu, tidak muluk-muluk kiranya kalau kami berharap bisa berdiri banyak lembaga studi Jawa dimaksud di banyak komunitas Jawa.  Lembaga-lembaga tersebut sangat kami harapkan untuk bersama-sama kami mendirikan ‘Pusat Studi Jawa’.

Sistim Panunggalan kami terapkan sepenuhnya dalam rangka mengampu kegiatan Lembaga Studi Jawa ‘Sekar Jagad’ dan Majalah SASMITA ini.  Sistim Panunggalan yang kami maksud, bahwa kita semua (lajer Jawa) menjadi ‘pemilik’ dan peserta kegiatan “Membangun Jawa sebagai Sekar Jagad menuju Indonesia Tamansari Dunia”.

Salam Teguh Yuwana Rahayu.

Redaksi.

~DANA SUMBANGAN UNTUK YAYASAN SEKARJAGAD~

Kagem poro pinisepuh, poro kadang lan sederek sedoyo,

Dalam rangka merevitalisasi budaya Jawa, maka yayasan Sekarjagad ingin mendirikan padhepokan budaya Jawa, yang bertujuan untuk :

1. Menghidupkan kembali budaya daerah sebagai dasar pengembangan budaya Nusantara.
2. Menjadikan budaya daerah sebagai dasar pijakan ide-ide kreatif pembangunan.
3. Mengembangkan kearifan budaya daerah sebagai nilai-nilai Pembangunan Nasional.

Adapun Visi dan Misi didirikannya pusat kajian budaya Jawa adalah :

Visi : Menjadikan tradisi kearifan lokal sebagai ideologi strategi pembangunan jati diri bangsa.

Misi :

1. Mewujudkan suatu wadah pemikiran budaya Jawa sebagai pilar pendukung utama lembaga/ organisasi/ kegiatan yang berbasis nilai-nilai luhur budaya nasional.

2. Meningkatkan berbagai kajian mendalam terhadap hasil karya cipta budaya intelektual Jawa yang berbhineka dari aspek gagasan dan pandangan hidup (ideafact), sistem perilaku sosial (social fact), dan wujud atau bentuk (artefact).

3. Penggalian nilai-nilai luhur budaya Jawa dalam berbagai bentuk forum komunikasi ilmiah sebagai upaya untuk memperkokoh, memperkaya, dan lebih mewarnai nilai luhur kearifan lokal dalam pembentukan, pembinaan, dan pengembangan jati diri bangsa Indonesia.

4. Meningkatkan pengelolaan tradisi budaya yang mencakup tindakan inventarisasi, pemeliharaan, penelitian, pengembangan, pendayagunaan, penyebarluasan, dan revitalisasi nilai-nilai luhur kearifan lokal Budaya Jawa.

5. Menjalin kerjasama kemitraan dengan berbagai elemen, baik negeri maupun swasta, sebagai upaya konkrit pelestarian, pembinaan, dan pengembangan kebudayaan Jawa.

6. Menyelenggarakan berbagai model dan jenis pelatihan dan pembelajaran dialogis yang bersifat motivatif terhadap aspek pengetahuan, ketrampilan, nilai-nilai kebudayaan Jawa kepada masyarakat luas.

images (12)

Bagi masyarakat yang menaruh perhatian besar untuk kemajuan renaissance Jawa, serta bersedia berdonasi ria, bisa menyalurkan bantuannya di sini :

Bank BNI Kantor Cabang UNDIP Semarang No.: 0211943526 atas nama: TOTOK DJOKO WINARTO ( Ki Sondong Mandali )

Dana yang terkumpul akan digunakan untuk pembangunan Pusat Studi Jawa, sebuah kerja nyata dalam revolusi kebudayaan Nusantara🙂  …

Matursembah nuwun.

***