Luar biasa ‘euforia’ hijaber yang melanda Nusantara saat ini, mulai dari artis, pejabat hingga ibu-ibu di seluruh pelosok tanah air, tak ketinggalan pula para politisi ikut angkat bicara tentang polemik dan kontroversi perda jilbab.

Sebagai negara plural perbedaan itu tentu sudahlan sewajarnya, hanya saja jika terlalu berlebihan hingga harus ada ‘Nasionalisasi’ jilbab seperti peraturan perda dsb. maka ‘Arabisasi’ terkesan hanya memaksa untuk menggeser budaya setempat, dalam hal ini mengukur keimanan dengan cara berbusana.

Selera dalam berbusana tentulah menunjukkan masing-masing kualitas kecerdasan dan kearifan seseorang, dari yang sekedar ikutan trend hingga pemenuhan identitas diri, semua itu sah-sah saja, namun akan lebih elok jika kita tidak melupakan budaya serta bisa kembali ke selera nusantara😉 …

images (39)

Pertama, yang perlu kita pahami adalah ‘Ada apa dengan rambut’?…

Rambut adalah mahkota manusia yang memiliki energi dan bisa memancarkan aura spiritual.

Rambut adalah manifestasi fisik dari pikiran dan perpanjangan diri kita sendiri. ia terhubung dengan berbagai elemen yang menghubungkan kita dengan alam semesta, semua orang dan makhluk lain. Hal ini memungkinkan kita untuk mengasihi semua orang dan segala sesuatu, untuk berbelas kasih, hidup dengan kebahagiaan dan gairah, untuk menjadi selaras dengan energi yang lebih tinggi.

Itulah mengapa orang-orang kuno, baik pria maupun wanitanya suka memelihara rambutnya panjang lalu di simpulkan/ di gelung ke atas dekat ubun-ubun, supaya bisa merasakan dan terhubung dengan pusat getaran energi semesta setiap saat terutama dalam bermeditasi.

Dan hal ini sangat inspiratif, betapa budaya leluhur kita sebenarnya memiliki kearifan lokal yang jenius, bercita rasa seni dan lebih berbudi daya.

images (37)

Filosofi gelung atau sanggul pada wanita merupakan pesona wanita, karena rambut memiliki 8 daya tarik, yaitu rambut merupakan mahkota wanita, menampilkan keanggunan, memancarkan kecantikan, menjadi pelindung, menumbuhkan percaya diri, menciptakan ketenangan batin, mewujudkan keserasian, serta simbol kekompakan persatuan dan kesatuan.

Keserasian seorang memakai sanggul agar berpenampilan mantap dan merasa puas adalah hal yang sesuai dengan jiwa dan adat ketimuran, bukan seperti budaya Arab yang menganggap rambut wanita adalah suatu aib seperti halnya aurat sehingga harus ditutupi karena termasuk dosa besar, terlebih jika yang melihat bukan muhrimnya.

unduhan (8)

Sejarah ‘islamisasi’ dalam hal kesakralan berbusana dan upacara sebenarnya sudah di mulai sejak pemerintahan Islam Demak, dimana busana pengantin Jawa yang mengandung nilai filosofi Nusantara secara halus telah di ganti sedemikian rupa digantikan dengan unsur nilai-nilai islam, seperti : Tusuk konde pada pengantin wanita yang berjumlah sembilan (atau kadang cukup tujuh) yang merupakan arti dari ‘Pasuryan Majapahit’ atau ‘Matahari Nusantara’ telah di kurangi menjadi lima, yang berarti ‘Lima Rukun Islam’.

images (41)

Dan di jaman sekarang seperti yang kita lihat sendiri, malah secara terbuka terang-terangan lebih ‘agresif’ lagi, dimana pengantin wanitanya rambutnya harus di tutup brukut dengan hijabnya dan pengantin prianya mengganti blangkonnya (yang merupakan filosofi rambut gelung pada pria) dengan peci.

images (40)

Bahkan tidak hanya kaum agamawan yang berhijab ria, tetapi juga di segala lapisan masyarakatnya, mulai dari instansi pemerintahan seperti polwan dan para ibu pejabat, juga para guru, petani, pelayan, artis, siswi, dsb. tak ketinggalan pula jika perlu busana renang ‘Bikini’ di ganti dengan ‘Burkini’ ^_^ …
1535607_587484747996991_44058207_nedit1

Saya percaya budaya kita itu universal, sehingga bisa memangku semua budaya asing, namun ada kalanya seseorang/ masyarakat seharusnya bisa memilah mana yang patut di kenakan pada acara tertentu atau tidak. jadi ini bukan mempersoalkan penampilan jilbabnya, melainkan di acara apa dan di mana ia menggenakannya. walau tentu saja pendapat ini mudah di patahkan oleh karena euforia hijaber yang melanda nusantara saat ini, sehingga sekali lagi budaya baju pengantin Jawa serta busana daerah-daerahnya lainnnya di Nusantara beserta model rambut gelungnya yang pakempun terus mendapat ‘gerilya’ penetrasi budaya jilbab sebagai ganti penutup rambutnya.

“Kita semestinya harus tetap selalu eling lan waspada”🙂 …

Jika kita memiliki kedaulatan spiritual budaya bangsa yang seutuhnya, maka kita harus menjunjung tinggi budaya pakem aslinya, yaitu dengan menghargai, menghormati dan melestarikannya, bukan malah mendebatnya hingga merembet ke urusan keyakinan agama yang tentu tidak akan ada habisnya untuk dikupas. Semoga semua pihak bisa berintropeksi diri.

pak cik

Ada satu hal yang sangat menarik, rupanya fenomena memakai kerudung di kalangan wanita melayu ini juga telah menarik perhatian seorang sutradara dan pembuat karya seni dari negeri jiran/ tetangga, Malaysia, beliau adalah U-Wei bin HajiSaari, yang kebetulan juga seorang pemerhati gender.

Beliau mengkritik wanita asia tenggara/ melayu yang telah kehilangan jati dirinya… “Saya percaya perempuan melayu mempunyai kekuatan untuk melakukan apa sahaja yang mereka inginkan, tetapi mereka lebih suka menjadi Arab.”

Wanita dalam pandangan cik U-Wei semestinya mempunyai tiga ciri :

* Ada misteri
* Sadar akan sexuality
* dan Ada peran dalam kehidupan bermasyarakat

Lebih lanjut beliau mengulas, rahasia itulah yang menjadikan seorang wanita itu menarik untuk di jadikan karakter.

Banyak wanita yang lupa akan rahasia diri mereka : Apakah perkataan pertama yang keluar dari lelaki yang pertama diciptakan? “Siapakah kau?”, Dan apakah jawaban pertama yang memecahkan kesunyian surga?… rahasia itulah yang dilupakan oleh wanita.

Dengan berkerudung, mereka fikir sudah melaksanakan perintah agama, kadang-kadang U-Wei merasa lucu dan heran, mengapa mereka berbuat demikian sedangkan sejatinya wanita melayu memiliki tempatnya sendiri.

Satu lagi yang di perhatikan U-Wei, wanita melayu bisa merubah dirinya dan bisa hidup dalam keadaan apapun…

Cik U-Wei said “Nothing special about them and yet also very special” 🙂 

***