Ajaran yang pernah tumbuh di Jawa dan mengakar sampai hari ini, setidaknya bisa dibagi dalam tiga kategori :

1. Jawadīpa.
2. Jawa Buda.
3. Kêjawen.

1. Jawadīpa

Ajaran asli Jawa yang sampai hari ini belum kita temukan referensinya secara jelas. Namun beberapa bentuk keyakinan bisa ditemui pada keyakinan-keyakinan selanjutnya.

2. Jawa Buda (Śiwa Buddha).

Ajaran Śiwa yang sudah bercampur dengan ajaran Buddha Mahayana/ Tantrayana berikut bercampur dengan ajaran Jawadīpa. Ajaran ini mencapai puncak keemasan pada masa Majapahit.

3. Kêjawen

Ajaran Tassawuf Islam yang berbalut ajaran Jawa Buda. Muncul pasca Majapahit. kitab WIRD HIDAYAT JATI adalah pegangan bagi islam kejawen.

***

* Kagem poro pinisepuh lan sedulur sedoyo ingkang minulo, berawal dari ‘kerinduan’ saya dan semua para sahabat akan spiritual Jawadwipa, maka kali ini saya mencoba merunut cikal bakal ke-jawen ini…

Pertama saya ucapkan Terima kasih kepada Suhu ¥hredaya dan Begawan Anggapathi yang saya hormati sekaligus saya kagumi atas tulisan-tulisan beliau yang selalu ‘berisi’ dan mencerahkan tentang ajaran ‘Purwo’🙂 …

Suhu ¥hredaya :

Kalau menghitung populasi manusia di dunia maka aliran ciwa-buddha adalah terbesar di muka bumi ini, karena dihuni oleh bangsa India dan China dan jutaan “atheist” tersebar dunia.

Konsep ‘Trinitas’ sudah ada sebelum manusia berbudaya didaratan timur tengah india dan china…

Konsep trinitas diawali dari penemuan artifak negeri “Purwo” yang diprediksi ilmuwan sebagai kitab negeri “ATALA” negeri kita tercinta ini 6000 tahun silam… 4000 tahun sebelum Isa lahir sebelum Budha Gautama lahir sebelum aristokrat lahir.

Lahir Hidup Mati
Ismaya Antaga Manikmaya
Sabdo Bayu Idep
Ang Ung Mang
Hrang Hring Hsah
Bhur Bwah Swah
Brahma Wisnu Ciwa
Pencipta Pemelihara Pelebur
Allah Bapa Bunda Maria.. Dst Dst…

Konsep Trinitas adalah substansi kehidupan bangsa Purwo.

Dalam Wedanta… keESAan trinitas itu dilambangkan dengan energy kehidupan dalam bentuk SATU yaitu Sang Narayana, Sang Kausa Prima, Sang Jagad Natha, Sang Semaranatha (Semar) dan di negara kita ini dikenal sebagai TUHAN YME.

Di jaman nabi-nabi di daratan timur tengah (eropa tenggara dan asia barat termasuk mesir) hanya di kenal istilah Ilah Dewa Surya (matahari) yang dalam perkembangannya menjadi Sang Allah… dijaman Isa konsep Trinitas masih melekat seperti sumber pengetahuannya biangNya dari “timur” sampai sekarang.

Islam Muhammad/Ahmad dalam kehidupannya menggunakan nama Allah juga sebagai lanjutan peradaban sejarah spiritual pendahulunya (“samawi”) termasuk penggunaan istilah jin dan malaikat. Dalam Islam; Allah seolah sebagai Tuhan, Narayana.. Yang Tunggal.. padahal ‘ilah-allah’ adalah Ciwa (surya-raditya) dalam “Trinitas” pelebur/pengkiamat Wedanta… ini yang sudah dimaklumi oleh orang hindu buddha.

Saya/Kita sebagai penonton dari gejolak kedua kubu besar (yang sebenarnya kecil) yang berdampak kurang baik dari penganut garis lurus ajaran samawi ini tetap ‘terjebak’ dalam perbedaan yg tajam, membuat jurang pemisah lebih dalam diantara mereka sampai memperebutkan istilah Allah sebagai hak kelompok masing-masing… mengenaskan… dan menyedihkan.

Islam adalah ajaran aliran siwaisme atau Ciwa’sidanta.. Mau bukti..?

1, Saya tidak harus mengulang istilah ILAH-ALLAH adalah Dewa Surya-Ciwa.
2. Lambang bulan bintang (ardha chandra) adalah “arca” lambang Dewa Ciwa.
3. Batu ka’bah adalah archa stana Ciwa sebagai Lingga dan bumi sebagai Yoni..
4.Tiga bukti cukup untuk kita maklumi.

Maka, sesungguhnya Allah adalah Sang Ciwa dalam TRINITAS Wedanta.

*) Jadi anda anda yang fanatik islam jangan sok “keminter” apalagi dengan orang Kawitan/Purwo/Kejawen… Mereka mengerti dan menjiwai Wedanta adalah ajaran leluhur nenek moyang bangsa ini😉 …

Beg-Gawan Anggapathi :

SEMESTA ALAM telah mereproduksi kehidupan ini milyaran kali dengan ketepatan mega supra.. Lalu “kenapa” ada produk gagal? atau manusia sakit?

Jawabannya adalah karena dirinya sendiri, karena PENDIDIKAN pikiran dan jiwanya, karena dibiarkan liar, dibiarkan terkungkung.. lalu tersangkut pada ke’nikmat’annya, terminus point-nya (satu arah) kesitu, vector frequency -nya kesitu, tegangannya (stressing) ke jaringan itu, energy-nya kesitu, akhirnya pola pikirnya terdominasi oleh KE-ingin-An, bila keinginannya tak tercapai maka menjadi stess/tegang, emotional flexibility nya kacau meledak ledak, tubuh daging urat saraf tergoyahkan, bahkan tak mampu menahan tekanan dari dalam.. dan akhirnya mulutnya berkoar koar..: alloh-hu akbar..alloh-hu akbar..alloh-hu akbar.. ya tuhan.. ya tuhan allah.. ya tuhan allah.. ya allah ya tuhan.. berulang ulang.. suara dari mulut latah yang tak bemakna.!

Untuk itu meditasi sangat membantu jalan untuk mengenal kemampuan energi pikiran kita, pikiran kita adalah energi itu.. Jadi disaat meditation.. kemurnian energi energi dibagian tubuh menjadi hidup (link cakra-kundalini) itu latihan untuk lebih aktif, itulah pengobatan diri sendiri. Tidak ada obat secanggih sehebat apapun untuk menyembuhkan diri tanpa ke-matching-an energi kundalini ini…

images (93)

Hmmm, betapa universalnya ajaran Purwo ini hingga ia mengilhami peradaban hampir seluruh penduduk bumi dalam mengenal guru sejatinya hingga konsep Trinitas dalam berketuhanan.

Di manakah alas bumi Purwo itu berada?… Mari kita telusuri misterinya…

Cerita dan Rahasia Di Balik Keangkeran Alas Purwo

Mendengar nama Alas Purwo, imajinasi kita pasti akan tertuju pada sebuah kawasan hutan lebat. Hal itu memang benar, Alas Purwo adalah sebuah kawasan hutan Taman Nasional di bawah lingkup Departemen Kehutanan dan Perkebunan. Sebuah hutan lebat (dan angker) dengan berbagai macam habitat yang hidup di dalamnya, konon termasuk dalam 7 daftar tempat paling angker di dunia dan tempat terangker di pulau Jawa.

unduhan (1)

Alas Purwo adalah salah satu tempat yang terdapat pintu masuk ke dimensi ghaib. Nama sebenarnya adalah Purwa Kala, hanya sampai sekarang masyarakat menyebutnya Alas Purwo saja. Jaman dahulu pintu gerbang dimensi ghaib tersebut pernah dibuka, dikarenakan pada waktu itu tanah Jawa masih gung lewang lewung, banyak sekali manusia datang ke Alas Purwo menemui ajalnya, istilahnya jalmo moro jalmo mati. Mengapa bisa begitu ? karena pada waktu itu pintu dimensi ghaib terbuka yang menyebabkan para mahluk ghaib menebarkan aura hitam yang membuat manusia lupa diri.

Menurut laporan National Geographic Traveller, Taman Nasional Alas Purwo (TN Alas Purwo) adalah taman nasional yang terletak di Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Secara geografis terletak di ujung timur Pulau Jawa wilayah pantai selatan. Taman nasional ini memiliki ragam obyek dan daya tarik wisata alam dan wisata budaya (sea, sand, sun, forest, wild animal, sport and culture) yang letaknya tidak begitu jauh satu sama lain. Bagi masyarakat sekitar, nama Alas Purwo memiliki arti sebagai hutan pertama, atau hutan tertua di Pulau Jawa. Oleh sebab itu, tak heran bila masyarakat sekitar menganggap Alas Purwo sebagai hutan keramat. Sehingga, selain diminati sebagai tujuan wisata alam, kawasan Alas Purwo juga diyakini memiliki situs-situs yang dianggap bersejarah yang sering digunakan untuk melakukan ritual.

images (10)

* Sampai disini… Nuwunsewu, nyuwun gunge samudro pangaksami, mbok bilih enten seratan ingkang kirang lan mboten dados kerso ing manah… Minta maaf yang sebesar-besarnya jika artikel kali ini mungkin ada yang dirasa masih banyak kekurangan ataupun tidak membuat berkenan dihati, oleh karena kurangnya referensi ilmu pengetahuan terkait yang mungkin masih tercecer, terpendam atau tersimpan diluar sana.

Jika kita ibaratkan ilmu spiritual ini seperti ‘cermin’ yang pecah dan berserakan, maka sudahlah tentu kita memiliki kewajiban moral tanpa pamrih untuk mengumpulkan serpihan-serpihan cermin mutiara tersebut sehingga bisa digunakan generasi sebagai cerminan jati diri.

Sumonggo kerso paring sumbangsih panggraitanipun, artikel ini dimaksutkan untuk ‘Menggali spiritual asli Jawa’ yang seluas samudra jagad semesta ini. Kita harapkan melalui diskusi interaktif berupa sharing pengalaman dan pencerahan dari poro kadang lan pinisepuh, sehingga dengan demikian pemahaman tentang Jawa tidak stagnant dan terhenti dalam sudut pandang tertentu saja.

images (6)

Menurut berbagai sumber, ajaran ‘Jawa’ sebenarnya sangatlah simpel dan mengena. ini seperti kata mutiara yang pernah di lontarkan oleh ilmuwan sekaliber Kanjeng Mas Albert Einstein, he said “If You Can`t Explain It Simply, You Don`t Understantd It Well Enough” ^_* …

Intisari ajaran Purwo selalu bermuara dari/ke/pada filosofi ‘Lingga Yoni’ 

1496634_689088624454907_1721271089_n

“…Purwaning dumadine manungsa. Tan liya saka dening Roh Suci kang sinabatumurun. Gumelar aneng alam donya. Kang sarwa tuwuh manuwuh. Dedalane Manunggal. Kinentenan sarwo mijil. Gelar gumelare manungsa. Saka dening manunggaling rasa sejati. Manunggaling rama klawan ibu sakarone podo rebut rasa. Rangkul rinangkul datan pada uwal. Uwalira namun wis mijil. Mula sakabehing para manungsa. Elinga purwaning dumadi. Sun jarwani marganipun. Nalika jenengsirakinandut ning ibunira. Ibunira rina klawan dalu. Tan kendat anggone anyuwun mring sihin Gustine. Pamintanipun ibunira murih widada lan dadi. Tulusing kang kinandut sangang sasi nandang sangsara mbenjang miyos wanita miwah kakung ingkang kagungan URIP.”

images (4)

“Tes putih soko bopo tes abang soko biyung, wujute gedong cagak 4 lawang 9 isen-isene sukma sejati kang gumantung tanpo cantolan, lungguhe ono batinku kang sekti kang kanggonan wekasan urip sejati yoiku… arane, ora ono ingsun kejobo Gusti ora ono Gusti kejobo ingsun. Duuuhh sejatine… wenehono pituduh lamun mripat durung nganti weruh, wenehono krungu lamun kuping durung nganti krungu, wenehono roso lamun kulit durung nganti kroso, wenehono tombo lamun rogo lagi nandang lara. Mandio pangucapku keturutono karepku kasembadanono opo sing dadi karepku.”

***