BANGSA YANG KEHILANGAN BUDAYANYA,

KEHILANGAN JATI DIRINYA.

DAN BANGSA YANG KEHILANGAN JATI DIRINYA, KEHILANGAN EXISTENSINYA SEBAGAI BANGSA.

  1. PENDAHULUAN.

Dari sejarah masa lampau, kita mengetahui bahwa di Nusantara ini terdapat Kerajaan Sriwijaya dalam abad ke 6 hingga abad ke 9 yang berpusat di Palembang yang menguasai sebagian besar wilayah Nusantara, dan Kerajaan Majapahit dalam abad ke 12 hingga abad ke 15 yang meliputi seluruh Nusantara,  Singapura, Malaysia, Thailand Selatan dan Philipina Selatan serta pengaruhnya sampai ke Madagaskar.

Bila kita renungkan, kita akan kagum melihat kebesaran kedua kerajaan itu yang dapat menyatukan dan menguasai wilayah yang sedekian luas, sedangkan system transportasi masih menggunakan kereta kuda dan kapal layar yang membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mencapai daerah2 perbatasan. Belum ada system telekomunikasi modern dan pesawat terbang yang dapat menjangkau dalam beberapa jam saja.

Yang menjadi pertanyaan adalah, apa sebenarnya dapat mempersatukan wilayah yang sedemikian besar dengan berbagai macam suku bangsa dengan adat-istiadat, agama dan budaya yang berbeda-beda ?

unduhan (5)

Yang menjadi pemersatu dan memungkin tercapainya kejayaan, tak lain adalah adanya kesamaan falsafah hidup, norma dan etika dari budaya yang dihayati masyarakat di wilayah Nusantara ini. Budaya adalah pelampung di atas mana kejayaan itu mengambang. Het is de kurk waarop de glorie dijft.

Kondisi Indonesia akhir2 ini semakin memprihatinkan.

Invasi budaya dari luar dengan norma dan etika yang berbeda, bahkan bertentangan  dengan nilai2 luhur Budaya Nusantara, telah menimbulkan konflik antar-agama, antar-golongan, antar-suku dan  antar-generasi, yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

2. INVASI FALSAFAH DAN NORMA2 DARI LUAR.

Tidak dapat disangkal bahwa kesamaan falsafah hidup dan norma2 / nilai2 budaya adalah factor pemersatu masyarakat dari berbagai jenis, agama dan golongan di masa lampau yang dibuktikan dengan kebesaran Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit selama beberapa abad.

Invasi budaya dari luar yang dianut kelompok tertentu dengan falsafah hidup, norma, etika dan budaya yang berbeda dengan Budaya Jawa / Nusantara dan memaksakannya kepada orang lain, tidak mungkin hidup berdampingan dengan damai, apa lagi dipersatukan dalam suatu wadah yaitu sebuah kerajaan yang dalam tatanan politik modern, sebuah Negara.

Bukan cuma hidup berdampingan secara damai, tetapi hidup bersama secara damai, saling menghormati dan menghargai tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan dan asal-usul masing2 dengan penuh toleransi dan kasih sayang.

Konflik horizontal dan vertical, tindakan2 anarkhis dan pengrusakan merupakan kejadian sehari-hari yang bertentangan dengan moral dan etika bangsa Indonesia. Landasan dan sendi2 kehidupan berbangsa dan bernegara telah tercabik-cabik.

3. BUDAYA NUSANTARA YANG ADILUHUNG.

Dalam era globalisasi, pengaruh masuknya budaya dari luar tidak mungkin dibendung, kecuali mengisolasi diri dari masyarakat dunia seperti di negara totaliter seperti Korea Utara.

Sangat disayangkan bahwa kebanyakan orang beranggapan tentang apa yang modern adalah lebih baik dari pada budaya Nusantara yang kita miliki, dan menganggap ‘kuno’, ketinggalan zaman, tidak sesuai dengan kemajuan zaman.

Justru Budaya Nusantara yang kita miliki merupakan identitas Bangsa Indonesia yang sampai akhir tahun 1990-an masih dikenal sebagai bangsa yang paling lemah lembut, damai dan ramah di dunia, tetapi sekarang dianggap sebagai bangsa yang biadab, uncivilized.

Hal ini disebabkan karena kita telah meninggalkan budaya yang kita hayati dan menggantikan dengan norma2 yang sering kali bertentangan.

Welas asih yang menjadi pokok ajaran budaya kita, adalah penuh toleransi dan tidak mengenal pembedaan agama, keyakinan, suku, ras, golongan dan asal-usul.

Welas asih adalah penuh toleransi, tidak mengenal balas dendam, drengki, syirik dan hal2 negatif lainnya terhadap sesama seperti yang diajarkan “laqum dinuqum walyadin”, dan tidak mengkafirkan orang lain yang tidak sefaham, walaupun seagama tetapi yang menganut aliran / mazhab yang berbeda.

Hidup rukun dan damai dengan sesama adalah salah satu kondisi yang diperlukan untuk pembangunan dan mensejahterakan bangsa, seperi era kejayaan Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit.

4. MEMBANGUN KEMBALI KEJAYAAN MASA LAMPAU.

Masalah yang kita hadapi untuk membangun kembali kejayaan masa lampau, adalah menggali dan menghayati kembali nilai2 luhur budaya Nusantara yang telah membawa kejayaan di masa lampau.

Beberapa hal yang dapat kita lakukan adalah, antara lain adalah :

images (10)

1. Penulisan kembali sejarah dan meluruskannya.

Sejarah yang kita pelajari selama ini, belum tentu akurat karena dipengaruhi penjajah sesuai kepentingannya. Yang dicatat sebagai pemberontak, kemungkinan besar adalah pejuang kemerdekaan yang ingin mengusir penjajah dari tanah air. Kita harus menggali kebenaran yang sesungguhnya dan tidak menerima secara mentah2 apa yang dikatakan penjajah sebagai suatu kebenaran yang hakiki.

Dengan mempelajari naskah2 kuno, dapat ditemukan fakta2 sejarah yang sebenarnya dan mengetahui faktor2 yang membawa kejayaan.

Penelitian naskah2 kuno dan penggalian / penelitian candi2 dan peninggalan2 kuno, merupakan bagian penting dari penulisan sejarah masa lampau.

2. Menggali nilai2 luhur Budaya Nusantara dan melestarikannya

Yang lebih penting adalah mempelajari naskah2 kuno yang masih banyak di antaranya tersimpan di Belanda dan Inggris, dan dapat tergali pula nilai2 budaya yang luhur yang tak terilai yang merupakan modal utama kejayaan masa lampau.

Mengumpulkan dan mempelajari naskah2 kuno dari berbagai daerah Nusantara, merupakan suatu keharusan.

Sebagai contoh, Serat Centini dijuluki sebagai sebuah “ensiklopedia” karena isinya yang mengandung berbagai topic dari kehidupan manusia. Contoh lainnya : Serat Sastro Jendro Hayuning Rat Pangruwating Diyu adalah sebuah master piece tentang rahasia alam semesta.

Menggalakkan kembali penggunaan Aksara Hanacaraka terutama oleh generasi muda, adalah langkah untuk menghindari terkikisnya Budaya Jawa / Nusantara dan kepunahan dan diganti dengan budaya asing ! Budaya Jawa yang adhi luhung tertulis dalam naskah2 kuno dengan Aksara Hanacaraka.

Pelestarian seni pembuatan keris dan gamelan secara tradisional, merupakan kewajiban kita. Perlu diingat bahwa keris sudah dinyatakan sebagai heritage budaya dunia.

Bila Unesco menghargai dan mengakui keris sebagai salah satu world heritage, ironis sekali bila kita sendiri meremehkannya!

3. Mempelajari metafisika sebagai disiplin ilmu.

Metafisika yang telah dikuasai oleh leluhur kita, sekarang dicemohkan sebagai ajaran sesat, takhayul, klenik dan tudingan negative lainnya. Membicarakan Budaya Jawa / Kejawen saja,

ada yang mencemoohkan se-olah2 sesuatu yang najis.

Kita menguasai ilmu kebal ‘lembu sekilan’ misalnya yang melindungi seseorang dari tembakan peluru atau bacokan senjata tajam. Bagaimana itu mungkin terjadi? Apakah karena bantuan setan atau lainnya yang musyrik ?

unduhan (4)

Bila kita renungkan dengan kepala dingin, mungkin ada penjelasan yang masuk akal.

Mungkin sekali orang tersebut telah menguasai metafisika dan dapat memanfaatkan cosmic energy untuk melindungi dirinya.

Kalau begitu, apa penjelasannya sehingga dia tidak terluka sama sekali ?

Saya mencoba me-nebak2 saja dua kemungkinan tentang “kesaktiannya” sebagai berikut :

1) Peluru itu benar2 menembus tubuhnya.

Seperti kita ketahui, segala materi di alam semesta ini terdiri dari atom2 yang bila diurai terdiri dari proton, electron, neutron dan anti-proton, anti-electron dan anti-neutron. Disamping itu ada sub-atomic particles lain misalnya photon, neutrino, gluon, muon, substansi W, Y dan Z dan lainnya. Partikel2 tersebut terikat oleh energi yang masih merupakan misteri bagi ahli2 fisika quantum. Ada yang menyebutnya dark energy, dark matter dan lainnya. Untuk sederhananya, saya menyebutnya cosmic energy.

Di antara atomic / sub-atomic particles tersebut terdapat ruang yang semula dianggap void atau ruang hampa, ruang kosong dan yang sekarang diperkirakan terisi dark matter / dark energy itu.

Peluru dan tubuh orang sakti tersebut juga terdiri dari atom2 yang diikat oleh cosmic energy dalam suatu ’ruang kosong’.

Apakah mungkin si orang sakti itu dengan penguasaan metafisikanya, menetralisir cosmic energy dari peluru dan tubuhnya sehingga peluru dapat melewati tubuhnya dan utuh kembali setelah keluar seperti air teh yang melewati sebuah saringan, tanpa melukainya sedikitpun ?

2) Tubuhnya terlindungi oleh cosmic energy.

Cosmic energy yang melindungi tubuhnya adalah laksana rompi anti-peluru yang men-deflect jalannya peluru sehingga tubuhnya tidak terluka sama sekali. Apakah begini cara bekerjanya ilmu ‘lembu sekilan’ ?

Jika kita melihat segi positifnya, santet, tenung, ilmu pelet dan lainnya, tak lain adalah penguasaan metafisika untuk tujuan yang negative.

Metafisika adalah universal dan untuk menguasainya, tergantung bakat dan tingkat perkembangan spiritual sesorang.

Dunia barat yang mengagungkan ratio, telah dengan tekun mempelajari metafisika, bahkan KGB dan CIA mempelajari telepathy, telekinetics secara ilmiah untuk kepentingan spionase dan pertahanan negara mereka.

Tidaklah mustahil, bila kita dapat mengembangkan metafisika yang telah kita kuasai sebagai suatu disipli ilmu, kita dapat memberikan sumbangan yang signifikan untuk perdamaian dunia, misalnya dengan men-deflect peluru kendali yang diarahkan ke kita, atau menetralinir maksud dan niat jahat orang2 yang mau merusak tatanan kehidupan dunia yang damai.

Suatu sumbagsih untuk memayu hayuning bawono.

5. PENUTUP.

Demikian sedikit lamunan saya dalam keinginan “To Build The Past Glory”.

images (9)

Salam sejahtera.

Jakarta, 5 Februari 2014

W. Haryono

***

Biodata:

Nama : W. Haryono ( Yon )
Alamat : Jl. Rembiga Blok N-2, Kemayoran, Jakarta 10720
Tempat/ tgl lahir : Semarang, 12 Agustus 1938
Email : w.haryono@yahoo.com
Hp : +62 811 96 1236
Professi : Airport Consultant / pensiun dari PT Angkasa Pura II

***