Sederek sedoyo,

Apa yang ada di benak kita jika nantinya nama Republik Indonesia diganti dengan Nusantara?🙂 …

Adalah Bapak Arkand Bodhana Zeshaprajna seorang ahli dalam ilmu metafisika yang dengan telaten meneliti relevansi antara nama dan nasib seseorang bahkan suatu negara sekalipun!

Beliau mengemukakan bahwa nama Nusantara lebih baik ketimbang nama Indonesia bukannya tanpa alasan, melainkan di analisa dari struktur value dan sincronity huruf yang logis, dimana dalam sebuah nama itu terdapat energi, jika parameter-parameter valuenya jeblok maka akan menjadi energi buruk juga di dalamnya.

Langsung saja kita lihat tayangannya bersama-sama :

Selanjutnya jika ingin melihat tayangan komplitnya :

Baiklah, kita lanjutkan diskusinya…

Adapun beberapa alasan mengapa nama Indonesia sebaiknya di ganti atau di kembalikan ke nama Nusantara adalah sbb:

1. Nama negara Indonesia dengan Nusantara, dalam pandangan metafisika, nama Indonesia hanya memiliki Synchronicity Value sebesar 0.5.

unduhan

Sedangkan Synchronicity Value yang positif berada di angka 0,8 hingga 1,0. Nama Indonesia sendiri hanya memiliki Synchronicity Value 0,5.

“Bahwa negara-negara maju memiliki struktur nama yang berkualitas baik dan negara-negara yang belum juga maju dan tetap miskin memiliki struktur nama yang berkualitas rendah,”

Paramater lain yang digunakan Coherence Value. Coherence Value menunjukkan struktur kode-kode dalam diri sendiri yang saling berkaitan satu dengan kode yang lainnya. Rentang Coherence Value berada di kisaran 0,1 hingga 1,0. Sedangkan nilai positifnya di kisaran 0,7 hingga 1,0. Indonesia hanya memiliki Coherence Value sebesar 0,2. Hal ini jauh dari bagus sehingga nama Indonesia harus diganti dengan nama yang lebih baik, yakni Nusantara.

Coherence Value dalam kehidupan bisa dilihat dari cara seseorang atau negara menguasai satu atau beberapa keahlian. Semakin tinggi Coherence Value tingkat penguasaan terhadap keahlian semakin baik.

 2. Indonesia bukan berasal dari orang Indonesia atau pribumi. Hal ini membuat perjalanan bangsa kini menjadi terseok-seok.

James Richardson Logan

James Richardson Logan pada tahun 1850 menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago (Etnologi dari Kepulauan Hindia). Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan kesetujuannya tentang perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah Indian Archipelago (Kepulauan Hindia) terlalu panjang dan membingungkan.

Logan kemudian memungut nama Indunesia yang sebelumnya diperkenalkan oleh George Samuel Windsor Earl, seorang ahli etnologi bangsa Inggris. Oleh Logan, huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia. Dan itu membuktikan bahwa sebagian kalangan Eropa tetap meyakini bahwa penduduk di kepulauan ini adalah Indian, sebuah julukan yang dipertahankan karena sudah terlanjur akrab di Eropa.

“Asal-usul kata yang ternyata bukanlah hasil karya putra bangsa dan struktur kata yang ternyata tidak baik, yang terbuktikan dengan kondisi bangsa dan negara hingga saat ini yang semakin buruk membangkitkan pemikiran untuk mengganti nama negara Indonesia,”

3. Banyak kebudayaan di dunia yang mengganti nama seseorang yang sering sakit pada masa anak-anak. Begitupun dengan negara, jika bangsanya sering sakit-sakitan, maka mengganti nama negara bisa jadi solusi.

images (9) “Jika banyak budaya di dunia yang mengganti nama seseorang yang sering sakit pada masa anak-anak melalui pendekatan budaya dan religiusitas, maka saat ini kita mendekatinya juga melalui pendekatan budaya, religiusitas dan ilmu pengetahuan. Tiga pendekatan ini menemukan satu kata: Nusantara.”

***