Penemuan Situs Tondowongso pada awal tahun 2007, yang diyakini sebagai peninggalan Kerajaan Kadiri diharapkan dapat membantu memberikan lebih banyak informasi tentang kerajaan tersebut. Beberapa arca kuno peninggalan Kerajaan Kediri. Arca yang ditemukan di desa Gayam, Kediri itu tergolong langka karena untuk pertama kalinya ditemukan patung Dewa Syiwa Catur Muka atau bermuka empat.

Konon pada tahun 1041 atau 963 M Raja Airlangga memerintahkan membagi kerajaan menjadi dua bagian. Kedua kerajaan tersebut dikenal dengan Kahuripan menjadi Jenggala (Kahuripan) dan Panjalu (Kediri) yang dibatasi oleh gunung Kawi dan sungai Brantas. Adalah Jayabaya  nama seorang Raja dari kerajaan Kediri (Jawa Timur). Memerintah di sekitar tahun 1130-1160.

Kerajaan Jenggala meliputi daerah Malang dan delta sungai Brantas dengan pelabuhannya Surabaya, Rembang, dan Pasuruhan, ibu kotanya Kahuripan, sedangkan Panjalu kemudian dikenal dengan nama Kediri meliputi Kediri, Madiun, dan ibu kotanya Daha. Berdasarkan prasasti-prasasti yang ditemukan masing-masing kerajaan saling merasa berhak atas seluruh tahta Airlangga sehingga terjadilah peperangan.

images (32)

Namun begitu, pada zaman ini kesusastraan Jawa justru mengalami perkembangan yang pesat, sehingga tidak jarang dinamakan zaman keemasan atau zaman kencana. Antara lain lahirnya karya :

1) Sastra Bharatayudha

2) Kakawin Smaradahana

3) Kitab Wedhatama

4) Jangka Jayabaya

***

1. Sastra Bharatayudha

Pada zaman ini pula dua orang pujangga kenamaan, yaitu: Empu Sedah dan Empu Panuluh menulis naskah ‘Bharatayudha’. Kisah ini mengenai lakon dalam pewayangan Jawa yang mengandung mitologi dan sejarah.

Sebenarnya kitab baratayuda yang ditulis pada masa Kediri ini untuk simbolisme keadaan perang saudara antara Kerajaan Kediri dan Jenggala yang sama sama keturunan Raja Erlangga. Keadaan perang saudara itu digambarkan seolah-olah seperti yang tertulis dalam Kitab Mahabarata karya Vyasa yaitu perang antara Pandawa dan Kurawa yang sebenarnya juga keturunan Vyasa sang penulis.

300px-Duryudana_lawan_Bima

Berikut cuplikan naskah Bharatayudha :

Kutipan Terjemahan
Ri huwusirə pinūjā dé sang wīrə sirə kabèh, ksana rahinə kamantyan mangkat sang Drupada sutə, tka marêpatatingkah byūhānung bhayə bhisamə, ngarani glarirèwêh kyāti wīrə kagəpati Setelah selesai dipuja oleh ksatria semuanya, maka pada siang hari berangkatlah Sang Raja putera Drupada, setibanya telah siap mengatur barisan yang sangat membahayakan, nama barisannya yang berbahaya ialah “Garuda” yang masyur gagah berani
Drupada pinakə têndas tan len Pārtha sirə patuk, parə Ratu sirə prsta śrī Dharmātmaja pinuji, hlari têngênikī sang Drstadyumna sahə balə, kiwə pawanə sutā kas kocap Satyaki ri wugat Raja Drupada merupakan kepala dan tak lain Arjuna sebagai paruh, para Raja merupakan punggung dan Maharaja Yudistira sebagai pimpinan, sayap bagian kanan merupakan Sang Drestadyumna bersama bala tentara, sayap kiri merupakan Bhima yang terkenal kekuatannya dan Satyaki pada ekornya
Ya tə tiniru tkap Sang śrī Duryodhana pihadhan, Sakuni pinakə têndas manggêh Śālya sirə patuk, dwi ri kiwa ri têngên Sang Bhīsma Drona panalingə, Kuru pati Sirə prstə dyah Duśśāsana ri wugat Hal itu ditiru pula oleh Sang Duryodana. Sang Sakuni merupakan kepala dan ditetapkan Raja Madra sebagai paruh, sayap kanan kiri adalah Rsi Bhisma dan pendeta Drona merupakan telinga, Raja Kuru merupakan punggung dan Sang Dursasana pada ekor
Ri tlasirə matingkah ngkā ganggā sutə numaso, rumusaki pakekesning byuhē pāndawə pinanah, dinasə gunə tkap Sang Pārthāng laksə mamanahi, linudirakinambah de Sang Bhīma kasulayah Setelah semuanya selesai mengatur barisan kala itu Rsi Bhisma maju ke muka, merusak bagian luar pasukan Pandawa dengan panah, dibalas oleh Arjuna berlipat ganda menyerang dengan panah, ditambah pula diterjang oleh Sang Bima sehingga banyak bergelimpangan
Karananikə rusāk syuh norā paksə mapuliha, pirə ta kunangtusnyang yodhāgal mati pinanah, Kurupati Krpa Śalya mwang Duśśāsana Śakuni, padhə malajêngumungsir Bhīsma Drona pinakə toh Sebab itu binasa hancur luluh dan tak seorang pun hendak membalas, entah berapa ratus pahlawan yang gugur dipanah, Raja Kuru – Pendeta Kripa – Raja Salya – dan Sang Dursasana serta Sang Sakuni, sama-sama lari menuju Rsi Bhisma dan Pendeta Drona yang merupakan taruhan
Niyata laruta sakwèhning yodhā sakuru kula, ya tanangutusa sang śrī Bhīsma Drona sumuruda tuwi pêtêngi wêlokning rènwa ngdé lêwu wulangun, wkasanawa tkapning rah lumrā madhêmi lebū Niscaya akan bubar lari tunggang langgang para pahlawan bangsa Kaurawa, jika tidak disuruh oleh Rsi Bhisma dan Pendeta Drona agar mereka mundur, ditambah pula keadaan gelap karena mengepulnya debu membuat mereka bingung tidak tahu keadaan, akhirnya keadaan terang karena darah berhamburan memadamkan debu
Ri marinika ptêng tang rah lwir sāgara mangêbêk, maka lêtuha rawisning wīrāh māti mapupuhan, gaja kuda karanganya hrūng jrah pāndanika kasêk, aracana makakawyang śārā tan wêdi mapulih Setelah gelap menghilang darah seakan-akan air laut pasang, yang merupakan lumpurnya adalah kain perhiasan para pahlawan yang gugur saling bantai, bangkai gajah dan kuda sebagai karangnya dan senjata panah yang bertaburan laksana pandan yang rimbun, sebagai orang menyusun suatu karangan para pahlawan yang tak merasa takut membalas dendam
Irika nasēmu képwan Sang Pārthārddha kaparihain, lumihat i paranāthākwèh māting ratha karunna, nya Sang Irawan anak Sang Pārthāwās lawan Ulupuy, pêjah alaga lawan Sang Çrênggi rākshasa nipunna Ketika itu rupanya Arjuna menjadi gelisah dan agak kecewa, setelah ia melihat Raja-Raja yang secara menyedihkan terbunuh dalam keretanya, di sanalah terdapat Sang Irawan, anak Sang Arjuna dengan Dewi Ulupi yang gugur dalam pertempuran melawan Sang Srenggi, seorang rakshasa yang ulung

2. Kakawin Smaradahana 

kakawin-samarandana

Adalah sebuah karya sastra Jawa Kuna dalam bentuk kakawin yang menyampaikan kisah terbakarnya Batara Kamajaya

Dikisahkan, ketika Batara Siwa pergi bertapa, Indralaya didatangi musuh, raksasa dengan rajanya bernama Nilarudraka, demikian heningnya dalam tapa, batara Siwa seolah-olah lupa akan kehidupannya di Kahyangan. Supaya mengingatkan batara Siwa dan juga agar mau kembali ke Kahyangan, maka oleh para dewa diutuslah batara Kamajaya untuk menjemputnya. Berangkatlah sang batara untuk mengingatkan batara Siwa, dicobanya dengan berbagai panah sakti dan termasuk panah bunga, tetapi batara Siwa tidak bergeming dalam tapanya. Akhirnya dilepaskannya panah pancawisesa yaitu:

  • hasrat mendengar yang merdu
  • hasrat mengenyam yang lezat
  • hasrat meraba yang halus
  • hasrat mencium yang harum
  • hasrat memandang yang serba indah

Akibat panah pancawisesa tersebut Dewa Siwa dalam sekejap rindu kepada permaisurinya Dewi Uma, tetapi setelah diketahuinya bahwa hal tersebut adalah atas perbuatan Batara Kamajaya. Maka ditataplah batara Kamajaya melalui mata ketiganya yang berada di tengah-tengah dahi, hancurlah batara Kamajaya. Batari Ratih istri batara Kamajaya melakukan “bela” dengan menceburkan diri kedalam api yang membakar suaminya. Para Dewa memohonkan ampun atas kejadian tersebut, agar dihidupkan kembali, permohonan itu tidak dikabulkan bahkan dalam sabdanya bahwa jiwa batara Kamajaya turun ke dunia dan masuk kedalam hati laki-laki, sedangkan Dewi Ratih masuk kedalam jiwa wanita (*_^).

3. Serat Wedhatama

Konon diciptakan pertama kali oleh pujangga pada masa pemerintahan Raja Daha – Kediri Sri Aji Jayabaya, seiring berjalannya waktu, serat yang berarti ‘Ajaran yang Utama’ pararaton Jawa ini pun mengalami asimilasi ajaran Islam pada masa pemerintahan Demak.

kakawin-baratayudha

Lalu pada masa pemerintahan Belanda, di gubah ulang oleh pujangga keraton Mangkunegaran IV, menjadi 4 inti ajaran pokok, yaitu :

  1. Pelajaran etika, perbuatan baik dan tidak baik yang ditulis dalam tembang pangkur.
  2. Pelajaran tentang Hukum Sebab dan Akibat, ditulis dalam tembang Sinom.
  3. Pelajaran ilmu dan amal (ilmu itu harus dapat dilaksanakan) yang ditulis dalam tembang Pucung, dan
  4. Pelajaran tentang manembah (menghadap kepada Yang Maha Esa) yang ditulis dalam tembang gambuh.

http://id.wikipedia.org/wiki/Serat_Wedhatama

Dalam ajaran yang pertama meyangkut etika misalnya, meskipun ada hal – hal yang sudah tidak sesuai lagi dengan zaman, namun apabila dirasakan akan dapat dimengerti, bahwa sikap dan tingkah laku yang dibiasakan “baik” itu besar pengaruhnya terhadap kemajuan jiwa.

Mingkar mingkuring angkara,

Akarana karanan mardi siwi,

Sinawung resmining kidung,

Sinuba sinukarta,

Mrih kretarta pakartining ngelmu luhung

Kang tumrap neng tanah Jawa,

Agama ageming aji.

Yang kedua, yang berisi uraian mengenai sebab dan akibat, tidak dititikberatkan pada keterangan tandas, sebagai hukum kausal dalam ilmu, namun diterangkan hal – hal yang praktis saja, bahwa manusia itu akan memtik buah dari perbuatannya sendiri. Manusia harus melakukan kewajiban untuk lahir dan untuk batin. Hal – hal yang lahir itu misalnya, mencari penghidupan, kepandaian, dan kedudukan. Sedangkan untuk yang batin dengan menambah pengertian dan ilmu. Namun demikian, ajaran – ajaran tersebut harus dijalankan dan diamalkan. Sedangkan ajaran yang terakhir merupakan klimaksnya, yakni cara – cara untuk menyempurnakan jiwa menuju kepada penyembahan yang sempurna kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Mangka kanthining tumuwuh,

Salami mung awas eling,

Eling lukitaning alam,

Dadi wiryaning dumadi,

Supadi nir ing sangsaya,

Yeku pangreksaning urip.

Sedangkan ajaran ketiga, yakni sembah jiwa adalah sembah kepada Tuhan. Pelaksanaan dari sembah ini, manusia harus dapat menyatukan diri antara makrokosmos (jagad besar) dengan mikrokosmos (jagad kecil). Selanjutnya “Aku”-mu lepas dari kedua jagad yang sudah melebur tersebut, untuk masuk kealam yang lain.

Ruktine ngangkah ngukut

Ngiket ngruket triloka kakukut

Jagad agung ginulung lan jagad alit

Den kandel kumandel kulup

Mring kelaping alam kono

Ajaran yang terakhir ini, sangat menonjol. Ajaran penyembahan atau sembah terbagi menjadi empat, yaitu sembah raga (badaniyah), sembah cipta (pikiran), sembah jiwa dan sembah rasa. Pada bait kedua tembang Gambuh, misalnya, berbunyi :

Sembah raga puniku,

Pakartine wong amagang laku,

Sesucine asarana saking warih,

Kang wus lumrah limang waktu,

Wantu wataking wewaton

4. Jangka Jayabaya

Sementara Jayabaya tidak jarang juga menjadi nama yang mengandung misteri maupun arti mistik, terutama di dalam wawasan kesejarahan Jawa. zaman Jayabaya akan terus terulang kembali di dalam sejarahnya kebudayaan Jawa.

images (13)

JANGKA MENGENAI PULIH DAN TERKENALNYA ‘JAWA’

 

TERTUANG DALAM TEMBANG PANGKUR 7 PUPUH: “JAYABAYA WATISARA.”

ARTINYA: MENANG ATAS KESULITAN OLEH ROH KESEJATIAN YANG TAJAM

(JAYA = MENANG, BAYA = KESULITAN; WATI = ROH SEJATI, SARA = TAJAM)

 

1. Samangsane ana perang

 (Manakala terjadi perang), 

perang gedhe warata ing sabumi

(perang besar merata di seluruh bumi),

saindenging Jawa katut

(seluruh Jawa juga terbawa),

botoh loro neneka

(dua pengadu domba datang),

sami arsa nundhung Karaton ing mbesuk

(keduanya berkehendak mengusir Kerajaan nantinya),

nging rineksa mring Hyang Suksma

(tetapi dijagai oleh Sang Kesejatian),

botoh loro nganteb jurit

(dua pengadu domba maju berperang).

 

2. Tandange lir singa lodra

(tindakannya bagaikan singa mengamuk),

araraton wong mondhok ngrurusuhi

(sebagai orang numpang tapi mengganggu),

kebo bule colong laku

(orang kulit putih mencuri langkah),

tan panggah licik ing prang

(tidak selalu licik dalam perang) ,

wus pinurag Tanah Jawa dadi udur

(sudah lama Tanah Jawa diperebutkan),

Prabu Anom majeng ngrana

(Raja Muda maju ke medan perang),

mawor jalma rucah mbenjing

(bercampur dengan orang awam nanti).

 

3. Ambelani Tanah Jawa

(membela Tanah Jawa),

kinarubut saking njero lan njawi

(dikeroyok dari dalam dan luar),

sinaranan agal alus

(secara kasar dan halus),

nging cabar kabadharan

(tetapi dapat ketahuan),

thingak-thinguk temah angrarampek sampun

(celingukan hingga merajuk minta dikasihani),

mungsuh njaba bobodholan

(musuh dari luar tercerai berai),

kesah nging taksih ngrarampit

(pergi tapi masih menyerang).

 

 4. Mungsuh njero nora ngegla

(musuh dari dalam tidak nampak jelas),

sapolahe tansah kacelik-celik

(segala tindakannya selalu salah perhitungan),

ing wuri tan wande emut

(dibelakang tak mau ingat),

janji anampa brekat

(setiap menerima anugerah),

margi tan saged apolah mupus

(karena tak bisa bergerak jadi putus asa),

kaweleh-weleh akalnya

(akalnya selalu ketahuan),

temah srah bongkokan aglis

(sehingga menyerahkan diri segera).

 

5. Tinampan kalangkung rena

 (diterima lebih berkenan),

nora lami mungsuh kabrastha gusis

(tidak lama musuh diberantas habis),

mamala kabeh ginempur

(sesakit semua digempur),

dora durcara samya

(kebohongan dan muslihat semua),

ilang larut winruhken ing bener luput

(hilang terlarut karena diperlihatkan kebenaran),

wus tentrem ing Tanah Jawa

(sudah tentram di Tanah Jawa),

ingesuhan Jawa yekti

(direngkuh oleh Jawa sejati).

 

6. Jawa tedhak Hyang Nurcahya

(Jawa keturunan Penguasa Cahaya Terang),

cahya wening sumusup rasa jati

(cahaya jernih merasuki kesejatian),

jati-jatining tumuwuh

(kesejatian kehidupan),

wawakil Hyang Suksmana

(perwakilan Sang Roh Sejati),

amarbuka saliring ganda rum-arum

(membuka segala bau keharuman),

pindhaning wreksa cendhana

(bagaikan kayu cendana),

njaba arum njero wangi

(di luar harum di dalam mewangi).

 

7. Suwuring kang Nungswa Jawa

(kemasyhuran Pulau Jawa),

 anglir surya dhewasa amadhangi

(bagaikan matahari terik menerangi),

tumekeng praja lyanipun

(sampai ke pemerintahan lainnya),

mratani jagad raya

(merata ke seluruh jagad raya),

kang umiyat balerengan temah sujud

(yang melihat menjadi silau lalu sujud),

Jawa Jawata tingalnya

(Jawa pengejawantahan Ilahi),

padhang narawang makasi

(terang benderang mengakhiri segalanya).

 * Seratan punika katedhak turunaken saking “ALMENAK MAHA-DEWA” 1954 tahun ingkang kaping 3, kaca 16. Babaran Badan Penerbit “MAHA – DEWA” ing Ngayogyakarta Hadiningrat. Sinartan mawi basa Indonesia dening RMT Dwija Setya Nagara ing Surakarta Hadiningrat.

***

joyoboyoMaharaja Jayabhaya adalah raja Kadiri yang memerintah sekitar tahun 1135-1157. Nama gelar lengkapnya adalah Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa.

Pemerintahan Jayabhaya dianggap sebagai masa kejayaan Kadiri, Peninggalan sejarahnya berupa prasasti Hantang (1135), prasasti Talan (1136), dan prasasti Jepun (1144), serta Kakawin Bharatayudha (1157).

Pada prasasti Hantang, atau biasa juga disebut prasasti Ngantang, terdapat semboyan Panjalu Jayati, yang artinya Kadiri menang. Prasasti ini dikeluarkan sebagai piagam pengesahan anugerah untuk penduduk desa Ngantang yang setia pada Kadiri selama perang melawan Jenggala. dan dari prasasti tersebut dapat diketahui kalau Jayabhaya adalah raja yang berhasil mengalahkan Janggala dan mempersatukannya kembali dengan Kediri.

Kemenangan Jayabhaya atas Jenggala disimbolkan sebagai kemenangan Pandawa atas Korawa dalam Kakawin Bharatyudha yang digubah oleh empu Sedah dan empu Panuluh tahun 1157.

Ramalan Prabu Jayabaya :

NewsImage

Ramalan Jayabaya ini memang lumayan fenomenal, banyak ramalannya yang bisa ditafsirkan “mirip” keadaan sekarang. Diantaranya :

1. Datangnya bangsa berkulit pucat yang membawa tongkat yang bisa membunuh dari jauh dan bangsa berkulit kuning dari Utara (zaman penjajahan).

2. “kreto mlaku tampo jaran”, “Prau mlaku ing nduwur awang-awang”, kereta tanpa kuda dan perahu yang berlayar di atas awan (mobil dan pesawat terbang?)

3. Datangnya zaman penuh bencana di Nusantara (Lindu ping pitu sedino, lemah bengkah, Pagebluk rupo-rupo, gempa 7 x sehari, tanah pecah merekah, bencana macam-macam.

4. Dan ia bahkan (mungkin) juga meramalkan global warming, “Akeh udan salah mongso”, datangnya masa dimana hujan salah musim.

Nah, naik turunnya peradaban sebenarnya sudah banyak dianalisis, bahkan sejak ratusan tahun lalu. Diantaranya oleh Ibnu Khaldun (Muqaddimah, 1337, Wikipedia : Ibn Khaldun), Gibbon (Decline and Fall, 1776), Toynbee (A Study of History), atau Jared Diamond. Intinya sederhana. Manusia atau bangsa, bisa berubah. Manusia bisa lupa, dan sebaliknya juga bisa belajar. Bangsa bisa bangkit, hancur, dan bisa juga bangkit lagi.

Ramalan Jayabaya mungkin bisa dipahami secara ilmiah, bahwa manusia dan peradaban memang selalu bisa bangkit, hancur, dan bangkit lagi. Dan mungkin karena Jayabaya menyadari manusia bisa lupa, Bliau sengaja menulis ini sebagai peringatan agar manusia tidak lupa. Dan itulah satu tanda kearifan sang Prabu Jayabaya. Mungkin, ini juga dorongan pada manusia agar selalu berbesar hati dan optimis. Bahwa di saat yang paling berat sekalipun, suatu hari akhirnya akan datang juga Masa Kesadaran, Masa Kebangkitan Besar, Masa Keemasan Nusantara🙂 .

Berakhirnya Era Kerajaan Kediri

kediri

Runtuhnya kerajaan Kediri dikarenakan pada masa pemerintahan Kertajaya, terjadi pertentangan dengan kaum Brahmana. Mereka menggangap Kertajaya telah melanggar agama dan memaksa meyembahnya layaknya Dewa. Kemudian kaum Brahmana meminta perlindungan Ken Arok, akuwu Tumapel. Perseteruan memuncak menjadi pertempuran di desa Ganter, pada tahun 1222 M. Dalam pertempuarn itu Ken Arok dapat mengalahkan Kertajaya, pada masa itu menandai berakhirnya kerajaan Kediri.

Setelah berhasil mengalah kan Kertanegara, Kerajaan Kediri bangkit kembali di bawah pemerintahan Jayakatwang. Salah seorang pemimpin pasukan Singasari, Raden Wijaya, berhasil meloloskan diri ke Madura. Karena perilakunya yang baik, Jayakatwang memperbolehkan Raden Wijaya untuk membuka Hutan Tarik sebagai daerah tempat tinggalnya. Pada tahun 1293, datang tentara Mongol yang dikirim oleh Kaisar Kubilai Khan untuk membalas dendam terhadap Kertanegara. Keadaan ini dimanfaatkan Raden Wijaya untuk menyerang Jayakatwang. Ia bekerjasama dengan tentara Mongol dan pasukan Madura di bawah pimpinan Arya Wiraraja untuk menggempur Kediri. Dalam perang tersebut pasukan Jayakatwang mudah dikalahkan. Setelah itu tidak ada lagi berita tentang Kerajaan Kediri.

Petilasan Sri Aji Joyoboyo

Petilasan-Prabu-Sri-Aji-Joyoboyo

Petilasan Sri Aji Joyoboyo adalah sebuah petilasan atau tempat semedi raja dari kerajaan Kediri, yaitu Raja Joyoboyo. Selain sebagai Raja Kediri pada abad XII, Joyoboyo juga terkenal dengan kitab ” JONGKO JOYOBOYO ” yang berisi tentang ramalan-ramalan kejadian di masa yang akan datang. Petilasan ini merupakan situs bersejarah yang terletak di 15 Km dari pusat kota Kediri.

Permaisuri Jayabaya bernama Dewi Sara. Lahir darinya Prabu Joyo Amijoyo, Dewi Pramesti, Dewi Pramuni, dan Dewi Sasanti. Prabu Ami Joyo menurunkan raja-raja tanah Jawa, bahkan sampai Majapahit dan Mataram Islam. Sedangkan Pramesti menikah dengan Astradarma raja Yawastina, melahirkan Anglingdarma raja Malawapati.

Jayabaya turun takhta pada usia tua. Ia dikisahkan moksha di desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Tempat petilasannya tersebut dikeramatkan oleh penduduk setempat dan masih ramai dikunjungi sampai sekarang.

Selayaknya tempat bersejarah, petilasan ini banyak dikunjungi oleh mereka yang ingin melihat beberapa peninggalan seperti, Sendang Tirto Kamandanu, Palinggihan Mpu Mharadah dan Arca Totok Kerot. Selain itu, banyak pula yang mengunjungi untuk berziarah, dengan puncak kunjungan terjadi pada 1 Suro.

***