Secara umum, kalender yang paling banyak dipergunakan saat ini didasarkan pada peran penting dua benda langit, yaitu Matahari serta Bulan, Selain itu, beberapa kebudayaan mempergunakan kombinasi Solar-Lunar sebagai patokan sistem kalendernya, seperti yang dipergunakan bangsa China serta Yahudi.

Lalu bagaimana dengan geliat sistem kalender di Nusantara?🙂 …

Selain kalender yang didasarkan pada pengamatan astronomi, masyarakat agrarian seperti petani di Jawa, Bali, Sunda, Sumatra, Sulawesi, Flores dsb Tidak saja berdasar pada Bulan dan Matahari, bahkan dalam tradisi nenek moyang Indonesia, utamanya yang berprofesi sebagai petani dan nelayan memanfaatkan pengetahuan baik astronomi, ekologi serta biologi dalam penyusunan kalendernya, serta mempergunakan patokan beberapa benda langit yang lain, seperti Pleiades serta rasi Orion, disamping juga menyesuaikan dengan siklus musim serta bagaimana juga siklus hidup lainnya, dan sistem kalender yang cukup pelik tersebut dikenal sebagai Pranotomongso atau Pranatamangsa, atau dalam bahasa sekarang dapat disadur sebagai Pengelola/ Penata Waktu.

download (11)

Kalender Pranata Mangsa

Pembagi tahunan dalam periode berdasar pola musim & siklus alam (seperti kalender Masehi pada suatu tingkatan tertentu) bagi masyarakat agraris di Pulau Jawa, Satuan waktu terkecil adalah hari: Matahari terbit-terbenam. Bulan/Mangsa bervariasi antara 23 ñ 43 hari, dikarenakan posisi Jawa  yang sekitar 7 derajat Selatan. Siklus tahun terbagi menjadi empat Mangsa Utama (Ketiga, Labuh, Rendheng, & MarËng) yang panjangnya berbeda-beda, dengan pola 6 bulan serta 6 bulan berpola kebalikannya.

Awal Mangsa 1, biasanya dekat dengan Solstice Juni, ditandai dengan Pleiades/Wuluh/Kartika dan Orion/Waluku di Heliacal Rising. Tengah tahun Mangsa 6 dekat dengan Solstice Desember, kebalikannya yang terjadi. Sistem kalender Pranatamangsa dalam prakteknya cukuplah rumit, karena tidak hanya mempergunakan panduan benda langit, akan tetapi juga dengan fenomena alam yang menyertainya, meteorologi, ekologi, serta ungkapan sastra yang memperkayanya.

download (12)

Sebagai contoh, awal mangsa, disebut sebagai Kasa (Kartika), yang merupakan mangsa utama Ketiga ñ Terang, pada rentang waktu di sekitar 22 Juni  – 1 Agustus (41 hari), memiliki Chandra: Sesotya murc ing embanan  (Permata berguguran). Biasanya ditandai dengan fenomena alam: Daun-daun berguguran, kayu-kayu mengering, belalang membuat liang & bertelur. Bagi petani merupakan panduan untuk waktunya membakar batang padi/jerami/dami; dan mulai bercocok tanam Palawija. Biasanya pada masa tersebut akan memasuki musim Kemarau, curah hujan 67,2 mm, lengas udara 60,1%, suhu 27,4?C, sinar Matahari 76%. Dinaungi oleh Zodiak: Mesa & Dewa Wisnu, berbintang: Sapigumarah (sumber: Pranatamangsa, Seri Lawasan), dan secara astronomi: Wuluh/Pleiades di Heliacal Rising, Matahari terbit ke Utara terjauh.

No. Mangsa Mangsa utama Rentang waktu Candra Penciri Tuntunan
(bagi petani)
1 Kasa
(Kartika)
Ketiga – Terang 22 Juni – 1 Ags
(41 hari)
Sesotya murcĂ„ ing embanan (“Intan jatuh dari wadahnya” > daun-daun berjatuhan) Daun-daun berguguran, kayu mengering; belalang masuk ke dalam tanah Saatnya membakar jerami; mulai menanam palawija
2 Karo
(Pusa)
Ketiga – Paceklik 2 Ags – 24 Ags
(23 hari)
BantĂ„lĂ„ rengkÄ (“bumi merekah”) Tanah mengering dan retak-retak, pohon randu dan mangga mulai berbunga
3 Katelu
(Manggasri)
Ketiga – Semplah 25 Ags – 18 Sept
(24 hari)
SutĂ„ manut ing bĂ„pÄ (“anak menurut bapaknya”) Tanaman merambat menaiki lanjaran, rebung bambu bermunculan Palawija mulai dipanen
4 Kapat
(Sitra)
Labuh – Semplah 19 Sept – 13 Okt
(25 hari)
WaspĂ„ kumembeng jroning kalbu (“Air mata menggenang dalam kalbu” > mata air mulai menggenang) Mata air mulai terisi; kapuk randu mulai berbuah, burung-burung kecil mulai bersarang dan bertelur Panen palawija; saat menggarap lahan untuk padi gaga
5 Kalima
(Manggakala)
Labuh – Semplah 14 Okt – 9 Nov
(27 hari)
Pancuran mas sumawur ing jagad (“Pancuran emas menyirami dunia”) Mulai ada hujan besar, pohon asam jawa mulai menumbuhkan daun muda, ulat mulai bermunculan, laron keluar dari liang, lempuyang dan temu kunci mulai bertunas Selokan sawah diperbaiki dan membuat tempat mengalir air di pinggir sawah, mulai menyebar padi gaga
6 Kanem
(Naya)
Labuh – Udan 10 Nov – 22 Des
(43 hari)
RÄsÄ mulyÄ kasuciyan Buah-buahan (durian, rambutan, manggis dan lain-lainnya) mulai bermunculan, belibis mulai kelihatan di tempat-tempat berair Para petani menyebar benih padi di pembenihan
7 Kapitu
(Palguna)
Rendheng – Udan 23 Des – 3 Feb
(43 hari)
WisĂ„ kĂ©nter ing marutÄ (“Racun hanyut bersama angin” > banyak penyakit) Banyak hujan, banyak sungai yang banjir Saat memindahkan bibit padi ke sawah
8 Kawolu
(Wisaka)
Rendheng – Pangarep-arep 4 Feb – 28/29 Feb
(26/27 hari)
Anjrah jroning kayun (“Keluarnya isi hati” > musim kucing kawin) Musim kucing kawin; padi menghijau; uret mulai bermunculan di permukaan
9 Kasanga
(Jita)
Rendheng – Pangarep-arep 1 Mar – 25 Mar
(25 hari)
Wedharing wacĂ„nĂ„ mulyÄ (“Munculnya suara-suara mulia” > Beberapa hewan mulai bersuara untuk memikat lawan jenis) Padi berbunga; jangkrik mulai muncul; tonggeret dan gangsir mulai bersuara, banjir sisa masih mungkin muncul, bunga glagah berguguran
10 Kasepuluh
(Srawana)
MarĂšng – Pangarep-arep 26 Mar – 18 Apr
(24 hari)
Gedhong mineb jroning kalbu (“Gedung terperangkap dalam kalbu” > Masanya banyak hewan bunting) Padi mulai menguning, banyak hewan bunting, burung-burung kecil mulai menetas telurnya
11 Desta
(Padrawana)
MarĂšng – PanĂšn 19 Apr – 11 Mei
(23 hari)
SesotyĂ„ sinĂ„rĂ„wĂšdi (“Intan yang bersinar mulia”) Burung-burung memberi makan anaknya, buah kapuk randu merekah Saat panen raya gĂ©njah (panen untuk tanaman berumur pendek)
12 Sada
(Asuji)
MarĂšng – Terang 12 Mei – 21 Juni
(41 hari)
TirtĂ„ sah saking sasĂ„nÄ (“Air meninggalkan rumahnya” > jarang berkeringat karena udara dingin dan kering) Suhu menurun dan terasa dingin (bediding) Saatnya menanam palawija: kedelai, nila, kapas dan saatnya menggarap tegalan untuk menanam jagung

Kalender Pranatamangsa dapat juga dipandang sebagai Kalender Orionik atau kalender yang menggunakan rasi bintang, karena kehadiran Orion yang menurut masyarakat agraris dipandang sebagai (Wa)luku/bajak lebih memegang peranan bagi masyarakat. Bagi petani di masa lampau, dengan memegang beras pada telapak tangan terbuka, kemudian mengarahkan tangan pada Luku pada rembang petang, maka ketika bulir-bulir beras jatuh dari tangan, itulah saat untuk memulai bercocok tanam.Praktek penggunaan kalender ini telah dilakukan semenjak sejarah Indonesia belum tercatat. Patokannya tidak hanya benda langit, tapi juga fenomena yang terjadi di alam: Musim tanaman, perilaku binatang, arah angin, kelembaban, curah hujan; dan kalender ini dipergunakan sebagai pedoman bertani, berdagang, merantau, berperang & pemerintahan. Baru di abad ke-19, kalender ini dibakukan sebagai sistem kalender oleh Sri Susuhunan Pakubuwono ke-VII , 22 Juni 1856, juga dengan memasukkan tahun Kabisat.

images (23)

Kosmografi, Klimatologi, Astronomi, Antropologi & Astrologi

Pranata mangsa memiliki latar belakang kosmografi (“pengukuran posisi benda langit”), pengetahuan yang telah dikuasai oleh orang Austronesia sebagai pedoman untuk navigasi di laut serta berbagai kegiatan ritual kebudayaan. Karena peredaran matahari dalam setahun menyebabkan perubahan musim, pranata mangsa juga memiliki sejumlah penciri klimatologis.

Terdapat petunjuk bahwa masyarakat Jawa, khususnya yang bermukim di wilayah sekitar Gunung Merapi, Gunun Merbabu, sampai Gunung Lawu, telah mengenal prinsip-prinsip pranata mangsa jauh sebelum kedatangan pengaruh dari India.

Prinsip-prinsip ini berbasis peredaran matahari di langit dan peredaran rasi bintang Waluku (Orion). Di wilayah ini penduduknya menerapkan penanggalan berbasis peredaran matahari dan rasi bintang sebagai bagian dari keselarasan hidup mengikuti perubahan irama alam dalam setahun. Pengetahuan ini dapat diperkirakan telah diwariskan secara turun-temurun sejak periode Kerajaan Medang (Mataram Hindu) dari abad ke-9 sampai dengan periode Kesultanan Mataram di abad ke-17 sebagai panduan dalam bidang pertanian, ekonomi, administrasi, dan pertahanan (kemiliteran).

Dalam hal ‘Astrologi’ atau ‘Horoscope Jawa’ yang bersifat spiritual juga ada hitung-hitungan Pranata Mangsanya, seperti perhitungan primbon yang menggambarkan kekayaan musimnya dan dipadukan dengan kejeniusan kearifan lokalnya.

images (18)

Misalnya :

Mereka yang terlahir pada tanggal 26 Agustus – 18 September termasuk didalam Mangsa “KATELU” dalam perhitungan Horoskop Jawa. Mangsa “KATELU” berorbit selama 24 hari dan berada di langit belahan Tenggara. Kemunculannya ditandai dengan berhembusnya angin dari Utara ke Selatan dengan kekuatan sedang. Hawanya panas, sedangkan air untuk keperluan pertanian mempergunakan irigasi, sungai, atau sumur dengan menyiram tanaman palawija di sawah dan ladang. Saat itu adalah Musim Kemarau.

Mangsa “KATELU” itu dalam pengaruh kekuasaan Dewi Kamaratih dan Batara Kamajaya. ketika Mangsa itu berjalan, maka petani telah memulai panen palawija. Pada saat-saat seperti itu rasa percaya diri mulai timbul. Anak mulai percaya dan menghormat orang tuanya, mereka dapat makan kenyang walau dari jagung, kedelai, atau kacang. Maka mangsa “KATELU” ini candranya “Suta Manut Ing Bapa”, yang artinya “Anak Menurut Kepada Ayah “. Penjabarannya adalah semua nasehat orang tua diturut oleh anak-anaknya.

Hal itu dapat terjadi karena pengaruh daya sakti Dewa Kamajaya dan Dewi Kamaratih, dewa-dewi yang selalu rukun dan saling mencintai itu teryata mempunyai pengaruh besar kepada keadaan alam semesta maupun insan yang baru terlahir pada Mangsa “KATELU”tersebut.

Sanghyang Kemajaya, adalah dewa yang menempati kaendraan di langit belahan Tenggara yang bernama “Cakrakembang” bersama Dewi Kamaratih, memelihara wilayah kekuasaannya. Memberkahi suatu kelahiran maupun musim dengan penuh kasih sayang dan disiplin.

Orang yang terlahir tepat pada Mangsa “KATELU” itu akan mempunyai sifat kasih sayang, adil, senang berdamai, disiplin dan jujur🙂 …

Untuk selengkapnya bisa di lihat di http://www.primbon.com/

Sekolah Pranata Mangsa

Bagi yang ingin memperdalam ilmu dan kelander perhitungan Pranata mangsa, di bidang pertanian tanaman pangan, telah dikembangkan Sekolah Lapang Iklim (SLI) atau yang dikenal sebagai BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) untuk meningkatkan kemampuan petani dalam memahami berbagai aspek prakiraan cuaca dan hubungannya dengan usaha tani. Kegiatan SLI dimaksudkan untuk membuat petani mampu “menerjemahkan” informasi prakiraan cuaca yang sering kali sangat teknis, sekaligus membuat petani mampu mengadaptasikannya dengan kearifan lokal yang telah lama dimiliki. Dalam kaitan dengan SLI, pranata mangsa menjadi rujukan untuk berbagai gejala alam yang diperkirakan muncul sebagai tanggapan atas kondisi cuaca/perubahan iklim. Pranatamangsa masih tetap dapat diandalkan dalam kaitan dengan pengamatan atas gejala alam. Kemampuan membaca gejala alam ini penting karena petani perlu beradaptasi apabila terjadi perubahan dengan mengubah pola tanam.

http://www.bmkg.go.id/BMKG_Pusat/Sestama/Humas/SEKOLAH_LAPANG_IKLIM_TAHAP_III_PROVINSI_JAWA_TIMUR_.bmkg

Sistem kalender Pratamangsa asli budaya bangsa ini tidak hanya sebagai penjaga waktu tapi juga mencerminkan kearifan masyarakat agraris pada masa lampau, akan tetapi seiring dengan perubahan jaman, sistem kalender ini tetap relevan sepanjang jaman🙂 …

250px-Orion

Rahayu samya sih

***