Pamuji rahayu,

Kongres Kebudayaan Jawa akhirnyapun digelar di Solo pada Senin, 10 November 2014. Suatu kebahagiaan bisa menjadi peserta dalam kongres ini mengingat kongres ini merupakan Kongres kebudayaan Jawa yang pertama kalinya diadakan setelah kemerdekaan Republik Indonesia atau yang kedua kalinya  sejak kongres pertama yang dilaksanakan pada tahun 1918 di Mangkunegaran.

Acara yang diikuti sekitar 500 an peserta dan utusan dari berbagai daerah dibuka di kampus ISI Surakarta dan kongresnya dilangsungkan di Hotel Lor In Solo selama 4 hari, 10-13 november 2014.

DSCN1751edit1

Saya dan Ki Sondong Mandali

Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kacung Marijan membuka acara tersebut. Ketua Panitia, H. Mardiyanto, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Gubernur Jatim Soekarwo, dan mantan Panglima Kodam IV/Diponegoro Mayjen TNI Sunindyo pun menjadi pembicara utama dalam acara ini.

”Dalam sejarah, sebelum kemerdekaan pernah diadakan acara ini pada 5-7 Juli 1918 yakni Congres voor Javaneche Cultur Antwikkeling di Surakarta. Bersama Yayasan Studi Bahasa Jawa (YSBJ) Kanthil, kami menyelenggarakan acara serupa yang pertama setelah era kemerdekaan,” ujar Bpk Mardiyanto.

DSCN1757edit1

Himpun Pemikiran

Tujuan yang ingin dicapai atas penyelenggaraan Kongres Kebudayaan Jawa ini, antara lain, menghimpun sejumlah sumbang saran dan sumbangsih bangsa tentang hakikat kebudayaan Jawa untuk pembangunan bangsa dalam menghadapi era global untuk diteruskan sebagai masukan kepada para penentu kebijakan dan pengambil keputusan bahwa kebudayaan Jawa memiliki ajaran budi luhur serta membentuk ketahanan budaya bangsa dari penetrasi budaya asing.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Prof. Dr. Dr. Soetomo. WE, M.Pd menerangkan, tujuan acara tersebut di antaranya untuk menghimpun sejumlah pemikiran aktual dan sumbangsih, tentang hakikat kebudayaan Jawa bagi pembangunan bangsa. Juga untuk menyusun rencana strategis dan dinamis bagi para penentu kebijakan dan pengambil keputusan, dalam menempatkan kembali peran budaya Jawa.

”Selain itu juga untuk mengidentifikasi berbagai masalah mendasar dan menginventarisasi kebudayaan Jawa mana yang patut dikembangkan, mana yang cukup didokumentasikan, dan mana yang dilestarikan, dalam usaha pewarisan budaya dari generasi tua kepada generasi muda”.

RSCN1812

Kongres ini dihadiri oleh narasumber dari para pengambil kebijakan, pembicara kunci yang hadir adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Adapun pembicara utama yang akan hadir adalah Gubernur Jawa Tengah, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Gubernur Jawa Timur. Sementara itu, pembicara panel terdiri atas Sekretaris Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Sesmenkokesra), H. Mardiyanto (mantan Gubernur Jawa Tengah, mantan Mendagri), dan Pangdam IV Diponegoro, serta pembicara dari Keraton Kasunanan Surakarta, Keraton Kasultanan Yogyakarta, dan Direktorat Jenderal Kebudayaan.

Juga para pakar, praktisi dan professor yang mumpuni di bidangnya, setidaknya ada 60 makalah yang disajikan dalam panel diskusi yang terbagi dalam beberapa klaster, Seperti :

DSCN1803edit2

Ibu Mooryati Soedibyo Sang Ibu Jamu

– Budaya kearifan lokal ‘Jamu’ Indonesia yang mendunia oleh ibu Mooryati Soedibyo

– Karya seni, pelestarian, pengembangan dan inovasi oleh Sri Hastanto

– Strategi pengembangan budaya kebudayaa jawa di propinsi jawa timur by
Gubernur propinsi jatim

– Prospek dan harapan  kebangkitan karya seni pada era globalisasi dan
era ‘Indonesia Bangkit’ : kekuatan, tantangan dan posisinya oleh Djoko
Suryo

– Revitalisasi nilai-nilai budaya jawa untuk kejayaan bangsa dan negara
oleh Ravik Karsidi dan Sahid Teguh Widodo

– Peranan nilai-nilai budaya jawa dalam memperkaya kebudayaan nasional
oleh Sugihartatmo

– Budaya jawa sebagai roh bangsa demi ketahanan nasional oleh Gubernur
daerah istimewa Yogyakarta

– Pokok-pokok materi gubernur Jawa Tengah pada kongres kebudayaan Jawa
oleh Gubernur propinsi jawa tengah

– Sistem Religi Falsafah Panunggalan Jawa oleh Ki Sondong Mandali, dll

DSCN1847edit2Bersama Bapak dan Ibu Mardiyanto 

Perlu ada usaha pewarisan dan pelestarian dari generasi ke generasi, agar keprihatinan bangsa tentang kurangnya kepercayaan diri, kurangnya rasa harga diri, dan kurangnya jati diri bangsa, tumbuh kembali sebagai komunitas yang besar demi teraplikasinya Bhineka Tunggal Ika.

Untuk itulah kongres kebudayaan Jawa ini di adakan, supaya ada pemikiran reaktualisasi kebudayaan Jawa, agar generasi muda tidak kehilangan jejak.

Di akhir acara, ada surprised kejutan yang di sampaikan oleh pihak penyelenggara, bahwa Kongres Kebudayaan Jawa akan di selenggarakan lagi 4 tahun mendatang…

Sampai jumpa lagi di Kongres Kebudayaan Jawa 2018 di Surabaya🙂 …. Cheeeeerrrsss ….

Rahayu… rahayu… rahayu…

***