Kepotangan

Jangan kecil hati kalau tidak faham arti dari judul di atas. Meski bahasa Jawa, banyak orang Jawa yang terheran-heran membaca kata itu. Itu kata Jawa yang sudah lama tak dipakai dalam bahasa lisan dan tulisan. Padanan kata dalam bahasa Indonesia juga tak mudah didapat.

Meski tak tepat amat, “hutang budi” dapat digunakan sebagai sinonim dari kepotangan. Itu pun dengan catatan, bahwa sisi kultural yang lebih  dalam, tidak ditangkap dalam “hutang budi”. Susah menjelaskan, apa yang menyebabkan kepotangan  tak persis sama dengan “hutang budi”.

Bagi orang Jawa, jika anda kepotangan kepada seseorang, apalagi orang itu mempunyai status sosial, usia, pangkat, kekayaan, kepandaian atau posisi yang lebih tinggi, maka seumur hidup  tak bakalan bisa lunas. Ia akan abadi, menyertai hidup sampai mati. Bahkan bisa saja kepotangan harus dibayar dengan hidup itu sendiri. Orang yang mengingkari kepotangan  dianggap aib yang memalukan, durhaka, bahkan dosa, yang tak dapat dimaafkan, apalagi hitungan-hitungan surga-neraka dimasukkan. 

download (6)

Falsafah Jawa tentang  kepotangan  digambarkan dengan pas dalam cerita wayang, dengan lakon “Adipati Karna di Perang Baratayudha”. Karna adalah saudara kandung Pandawa. Dia sangat mencintai Pandawa Lima, seperti layaknya kepada saudara-saudara kandungnya. Tak perlu diragukan, kesetiaan Karna kepada Pandawa, bahkan siap menyerahkan jiwa-raganya untuk bangsa dan negara, saat dibutuhkan.

Pengecualian terjadi, saat Karna harus menimbang kepotangan yang telah diterimanya. Perang Baratayudha pecah dan Karna tak bisa mengingkari jasa baik Kurawa. Meski lahir dari ibu yang sama, Dewi Kunti, Karna dibesarkan oleh Kurawa. Saat bayi, Karna dititipkan Kurawa, karena Kunti malu telah “selingkuh” dengan Batara Surya, dan melahirkan jabang bayi.

Meski tahu Kurawa berada di pihak yang salah, Karna tetap kekeh dan tegar untuk memihaknya. Saudara-saudara kandungnya ditinggalkannya. Karna menjadi senopati Kurawa. Memimpin pasukan dan berdiri paling depan untuk melawan kebenaran.  Karna berdiri di sana, bukan karena dia seorang kesatria, tetapi karena kepotangan.

Kepotangan  mampu menghancur-luluhkan persaudaraan. Kepotangan  bisa mengalahkan kebenaran. Kepotangan dapat mengalahkan tanggung-jawab, bahkan mengorbankan hidupnya di medan laga Kurusetra. Leher Karna ditebas oleh panah Arjuna, Pasopati, gara-gara tak mau mengkhianati sebuah kepotangan, meski hidup dan kebenaran yang menjadi taruhannya.

images (35)

Seperti yang dihadapi Karna, kepotangan  sering membuahkan pilihan yang dilematis. Pilihan sulit saat di depannya ada 2 opsi. “Membalas budi” atau “kebenaran”. Sepanjang keduanya berjalan beriringan, kepotangan tak melahirkan konflik yang membingungkan. Tapi, jika berlawanan, memilih kepotangan sebagai alasan membuat keputusan, menjadi terasa janggal.

Kepotangan memang sering membingungkan, karena konflik yang terjadi adalah perseteruan kultur yang menusuk sukma. Mengkhianati kepotangan dianggap sebagai langkah yang melawan peradaban, tak berbasis budaya, bahkan tidak beradab.  Sementara mengingkari “kebenaran” melawan “kemaslahatan umat”.

Bagi yang kemudian “terpaksa” memihak kepotangan, maka slimuran untuk menutupi keputusan yang keliru, terlihat melawan akal sehat. Alasan yang dibuat – buat terpaksa diucapkan. Sekedar menutupi bahwa dirinya bukan “anak durhaka”, bukan pengkhianat dan tahu balas budi. Terlihat bingung karena perang batin ada di dalam sana. Pertempuran yang sangat sulit diatasi, karena ia melawan hati nurani, mengingkari diri sendiri.

Menyimpan kepotangan memang sangat sulit. Hutang uang bisa dilunaskan. Paling tidak dibayar janji. Hutang harta bisa disahur. Paling minta mundur. Tetapi, hutang budi harus disimpan selamanya, sampai nanti.

Buah nenas bawa berlayar

Dimakan sebiji di Tanjung Jati

Hutang emas bisa dibayar

Hutang budi dibawa mati.

Sulit memberi nasehat bagaimana mengatasi kepotangan, bila sudah terlanjur menetap di dalam hati. Perlu keberanian diri untuk melihat insight, bagaimana kepotangan tetap dihormati, sementara “kebenaran” harus dijunjung tinggi.

Kesatria harus berani menatap ke depan. Jangan surut ke belakang. Hari ini, jangan disibukkan dengan hanya membalas budi kepada mereka yang memberi “hutang”, tetapi usahakan berbudi kepada sebanyak mungkin orang. Kepotangan tetap dihormati, tanpa mengorbankan nilai-nilai kebaikan lainnya. Kemaslahatan umat menjadi satu-satunya ukuran dalam meniti hidup ke depan.

images (36)

Kepotangan memang merisaukan. Terlebih bila itu terjadi bagi orang yang mengerti budaya Jawa. Orang Jawa selaras dengan hurufnya. Bila “dipangku”, ia akan “mati”.  Huruf Jawa yang “dipangku”, tidak menghasilkan suara. Ia tak mengeluarkan bunyi.  Orang Jawa yang “dipangku”  (mendapat kebaikan budi dari orang lain) langsung bertekuk-lutut. Ia mati kutu, dalam arti, tidak berdaya untuk berpikir jernih dalam menyikapi mereka yang sudah “memangku-nya”. Hebohnya, budaya ini malah meluas, menjadi budaya Indonesia.

Mestinya, pihak yang mempunyai “piutang budi”, tak selayaknya menuntut dan terus menagih “hutang”-nya. Berbudi baik dengan tak henti menuntut balas, tak membuahkan keikhlasan. Ia menjadi perbuatan sia-sia yang tak layak untuk dikenang. Biarkan budi baik tumbuh, kapan saja,  di mana-mana, tanpa diingat dan dicatat. Lepaskan saja rantai yang membelenggu, agar neraca kebaikan menjadi seimbang.

Adipati Karna akhirnya mati di medan laga. Dia gugur sebagai pahlawan yang membela negaranya. Jasadnya mendapat penghormatan selayaknya seorang pejuang bangsa. Digambarkan bahwa jiwanya dijemput bidadari-bidadari yang mengantarkannya ke pintu Nirwana. Dia mendahulukan kepotangan meski harus melawan saudara-saudaranya yang lebih memegang kebenaran. Karna tahu bagaimana budi harus dibalas. Kepotangan memang harus dikenang dan dihormati. Kebenaran harus dijunjung tinggi. Suatu konflik nurani yang membingungkan, tetapi itulah kehidupan. Itulah wacana mengenai surga-neraka. Selalu berada dalam nuansa. Tidak hitam-putih, seperti halnya Matematika.

A Quote By : PM Susbandono

***