Agaknya tidak sulit untuk melakukan komunikasi dengan raja-ratu Majapahit bila kita mengerti maksud dari berkomunikasi tersebut. Akan tetapi tampaknya juga mustahil untuk berkomunikasi dengan raja atau ratu dari masa Majapahit yang berkembang pada abad ke-13 hingga 15 M tersebut. Secara supranatural mungkin itu sah-sah saja disebut dapat “berkomunikasi” dengan raja atau ratu Majapahit, namun tulisan ini bukanlah dalam kajian semacam itu. Bahkan tidak menyinggung sama sekali mengenai mahluk astral yang ada di Museum Nasional.

Iya, raja dan ratu Majapahit ada di Museum Nasional, persisnya di dalam ruang arca di gedung lama. Memang bukan raja dan ratu sungguhan melainkan hanya arca perwujudan dari Raja Majapahit yang pertama, yakni Krtarajasa Jayawardhana serta arca perwujudan Ratu Majapahit, yakni Tribhuwana Tunggadewi. Krtarajasa Jayawardhana diwujudkan dalam bentuk arca Harihara, sedangkan Tribhuwana Tunggadewi dalam bentuk arca Parwati. Apabila kita menilik kembali kedua tokoh tersebut, maka tidak ada hal lain kecuali tentang pendirian Kerajaan Majapahit dan Ibunda Hayam Wuruk, raja tersohor Majapahit.

Kedua tokoh tersebut berdiri tegak di ruang arca Museum Nasional dengan sikapnya yang kaku dan statis tanpa senyum. Banyak para pengunjung museum yang berkunjung sejenak memandangi mereka, membaca label koleksi arca dan berlalu begitu saja. Dimanakah “komunikasi” di antara mereka?Pernahkah kita membayangkan sebagai pengunjung bahwa arca raja dan ratu tersebut bisa berbicara kepada kita dan memberitahukan seluruh kisah hidupnya? Agaknya hal itu tidak mungkin didapatkan apabila kita selaku pengunjung tidak pernah tahu mengenai sejarah kerajaan masa lalu Nusantara.

Krtarajasa Jayawardhana atau Raden Wijaya (1293-1309) adalah tokoh yang dikenal sebagai pendiri Majapahit dan raja pertama dari kerajaan tersebut. Ia merupakan menantu dari Raja Singhasari terakhir, yakni Kertanegara, yang berhasil selamat dari serangan Jayakatwang ke Singhasari. Kemudian ia membuka hutan tarik sebagai wilayah barunya, yang kemudian berkembang menjadi daerah Majapahit. Raden Wijaya setelah wafat didharmakan di Simping (Nag, 47:3) dengan bentuk arca perwujudan sebagai Harihara. Arca Harihara merupakan arca dalam bentuk Siwa dan Wisnu, dalam arca Harihara di Museum Nasional itu terdapat beberapa laksana atau benda yang masing-masing dipegang arca terdiri dari dua laksana Siwa dan Wisnu.

Tribhuwana Tunggadewi adalah tokoh yang dikenal sebagai Ratu Majapahit dan juga ibu dari raja terbesar Majapahit, yakni Hayam Wuruk. Arca Parwati ini ditemukan di Candi Rimbi, Jombang, Jawa Timur, yang merupakan candi pendharmaan Tribhuwana Tunggadewi. Parwatimerupakan energi dari Siwa yang berwujudkan dewi dan arca Parwati yang ada di Rimbi, diyakini merupakan arca perwujudan dari Tribhuwana Tunggadewi.

Foto 2. Candi Rimbi, Jombang, Jawa Timur (BPCB Trowulan, 2010)

Foto 3. Arca Parwati, Perwujudan dari tokoh Tribhuwana Tunggadewi (Chaidir, 2014)

“Berkomunikasi” dengan raja-raja Majapahit tampaknya tidak sulit bila kita merupakan pemerhati sejarah atau arkeologi, namun bagi pengunjung museum yang berasal dari latar belakang berbeda dapat dipastikan tidak dapat “berkomunikasi” dengan raja Majapahit tersebut. Komunikasi merupakan suatu bentuk tukar kata, ada pembicara dan ada pendengar, serta terdapat pula pembicaraan yang terjadi secara dua arah. Sebagai seorang pengunjung, kita tidak bisa mengharapkan dapat berkomunikasi dengan raja-raja Majapahit melalui arca peninggalannya di museum, namun kita berharap para pengunjung medapatkan informasi lebih tentang peninggalan masa lalunya dan tidak hanya sekedar label kecil semata. Diharapkan dengan adanya informasi lebih, namun tidak berlebihan, pengunjung bisa mengetahui informasi yang banyak dan tidak mereka ketahui sebelumnya.

Komunikasi antar pengunjung dan raja-raja Majapahit memang tidak dua arah, pengunjung cenderung untuk melihat label yang ada di dekat arca yang sebagaian besar isinya hanya deskripsi singkat arca itu sendiri, lalu berjalan kembali. Bayangkan apabila arca tersebut didirikan dengan latar belakang lokasi candi ditemukannya arca tersebut. Mungkin pengunjung akan lebih tertarik untuk sejenak membaca informasi yang ada dan “berkomunikasi” dengan para raja. Sepemahaman saya, museum berusaha untuk menarik pengunjung untuk datang berkunjung ke museumnya. Akan tetapi hal itu dirasa masih kurang cukup apabila tidak disertai dengan pola tata pameran dan kajian koleksi yang lebih baik. Sama seperti kedua arca perwujudan raja-raja Majapahit tersebut yang kaku dan statis, museum yang tidak berinovasi, kaku dan statis tidak bisa “berkomunikasi” dengan para pengunjungnya.

* Sumber: Museum Penerangan Taman Mini Indonesia Indah.

***