Pamuji rahayu,

Sebuah ‘Babak’ baru dalam kancah tatanan politik, adat dan budaya di Nusantara tepatnya dari tanah Mataram atau Daerah Istimewa Yogyakarta telah ‘lahir’.

Tentu saja ini merupakan suatu fenomena yang sangat menarik terlebih dinamika kepemimpinan ‘Raja’ dan ‘Ratu’ selama ini selalu di dominasi oleh kultur Paternalistik.

Sepanjang sejarah Nusantara pernah di pimpin oleh wanita di era Ratu Sima dan Tri Bhuana Tungga Dewi, Namun siapa sangka di era modern ini seorang pemimpin wanita bisa di munculkan kembali di tengah kebijakan paham suatu agama yang sangat ketat masih mendominasi tanah air.

Bagaimanakah detik-detik yang dramatis itu terjadi dalam waktu yang singkat?… Tidak ada hal yang tak mungkin. Mari kita simak proses perjalanannya🙂 …

Kesultanan Yogyakarta Disebut Kelanjutan Khilafah Turki Ustamani

sri-sultan-hb-x

Gubernur DIY sekaligus Sultan Kasultanan Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwana X mengatakan bahwa keraton Yogyakarta merupakan kelanjutan dari Khilafah Turki Utsmani.

“Sultan Turki Utsmani meresmikan Kesultanan Demak pada tahun 1479 sebagai perwakilan resmi Khalifah Utsmani di tanah Jawa, ditandai penyerahan bendera hitam dari kiswah Ka’bah bertuliskan La Ilaha Illa Allah dan bendera hijau bertuliskan Muhammad Rasul Allah. Hingga kini (kedua bendera itu) masih tersimpan baik di keraton Jogja,” papar Sri Sultan dalam Konggres Umat islam Indonesia (KUII) ke-6 di Yogyakarta seperti dikutip dari laman Eramuslim.com

“Dalam arti Kesultanan Ngayogyakarta adalah kekhilafahan yang masih eksis di bumi pertiwi,” tambahnya.

KUII ini dihadiri oleh 42 sultan Nusantara. Seperti Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin dari Palembang. KUII Keenam ini dihadiri sekitar 700 peserta yang merupakan tokoh Muslim dari pelbagai lini. Yakni, para ulama, zuama, tokoh ormas, pengusaha, tokoh partai politik, dan cendekiawan.

Salah stau yang diharapkan dari pertemuan ini adalah munculnya sisi sejarah tentang Islam Nusantara yang baru yang bebas dari rekayasa kaum kolonialis.

KUII ke-6 di Yogyakarta itu rencananya dihadiri Presiden Jokowi, Rabu (11/2/2015). Informasi dari Biro Pers Istana, Presiden terbang dari Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta menuju Yogyakarta pukul 08.20 WIB dengan estimasi perjalanan satu jam.

Pukul 10.00 presiden akan bersilaturahim dengan peserta kongres di Hotel Inna Garuda Yogyakarta sekaligus menutup acara tersebut.

Sri Sultan Mendadak Keluarkan Sabdaraja, Apa Isinya?

keraton-sabda_0803

Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengkubuwana X mendadak mengeluarkan Sabdaraja pada Kamis (30/4/2015) pukul 10.00 WIB di Siti Hinggil Keraton.

Prosesi yang berlangsung singkat ini digelar secara tertutup.

Menurut penuturan salah seorang Sentono Dalem yang identitasnya minta disembunyikan, saat ditemui wartawan usai memperoleh penjelasan Sabdaraja di Keraton Kilen, mengungkapkan, prosesi ini dihadiri Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas, para Putri Dalem, Sederek Dalem, Sentono Dalem dan Abdi Dalem.

Meniko undangane mendadak, hanya tidak ada lima menit (prosesi pembacaan sabdaraja) hanya menyebutkan namanya sekarang begini,” ujar Penghageng Keraton itu.

Sentono Dalem tersebut juga menyebutkan bahwa dalam Sabdaraja itu, Sultan menyampaikan adanya perubahan nama terhadap gelar. Namun ia mengaku belum hafal perubahan gelar baru tersebut.

Asmanipun Ngarso Dalem sak niki sampun berubah,” ujarnya.

Namun ia mengutarakan, dalam Sabdaraja itu, Sultan menyampaikan bahwa pergantian nama tersebut bukan semata-mata karena keinginan sang Raja. Melainkan Sultan telah memperoleh petunjuk dari Tuhan Yang Maha Kuasa dan para leluhur.

“Sultan ngendiko, pergantian (nama) ini bukan karepku dewe, karepe Ingkang Moho Kuwaos (Sultan berkata, pergantian ini bukan keinginan Sultan sendiri, tapi petunjuk dari Tuhan Yang Maha Kuasa dan Leluhur),” jelasnya.

Sri Sultan Lepas Gelar Khalifatullah 

sri-sultan-hamengkubuwono-x_20141212_021305

Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang juga Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, akan segera mengajukan perubahan nama dirinya ke Menteri Dalam Negeri (Mendagri).

Seperti diketahui, Sri Sultan pada Kamis (30/4/2015) mengeluarkan Sabdaraja di Setihinggil. Di lokasi yang sama, pada 7 Maret 1989 ia dinobatkan sebagai Raja.

Acara adat ini, juga dihadiri para kerabat Keraton, sang Permaisuri Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas, para sentono dalem, dan abdi dalem.

Namun tak dihadiri sejumlah keluarga Keraton, antaralain GBPH Yudhaningrat, GBPH Prabukusumo, GBPH Condrodiningrat. Begitupula KGPAA Sri Paduka Paku Alam IX. Pangeran yang hadir yaitu KGPH Hadiwinoto.

Menurut penuturan salah satu kerabat Keraton yang hadir di Siti Hinggil, saat ditemui di kediamannya, Jumat (1/5/2015) mengutarakan, prosesi pembacaan Sabdaraja ini mirip dengan prosesi saat Sultan naik tahta.

Sultan mengenakan pakaian keprabon (kebesaran), namun tidak memakai kuluk hitam melainkan memakai kuluk biru.

Ia mengutarakan, dalam Sabdaraja, Sultan menegaskan bahwa ini merupakan perintah Raja yang tidak boleh dibantah.

Ada lima hal penting yang disampaikan, di antaranya mengenai perubahan gelar dan perubahan paugeran :

Antaralain penyebutan Buwana akan diubah menjadi Bawana. Dalam gelar Kasultanan tidak lagi menggunakan Khalifatullah. Kemudian penyebutan Kaping Sedasa diubah menjadi Kaping Sepuluh.

Gelar ini juga sudah tercantum dalam Ketentuan Umum Undang Undang nomor 13 tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY Pasal 1 nomor 5. Yang berbunyi bahwa Kasultanan adalah warisan budaya bangsa yang berlangsung secara turun temurun dan dipimpin seorang Sultan dengan gelar tersebut di atas.

Dan Segera Ajukan Perubahan Gelar ke Mendagri

images (7)

Sementara itu, saat ditemui wartawan dalam sebuah acara di Grha Sabha Pramana (GSP) Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat (1/4/2015), Sultan menegaskan bahwa dirinya akan mengajukan perubahan nama tersebut ke Mendagri, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dan sejumlah pihak terkait.

“Saya akan laporkan ke Menteri Dalam Negeri (Mendagri) dan sebagainya, bukan untuk pers (publik). Nanti saya lapor dulu (ke Mendagri terkait perubahan nama gelar)”.

Ia juga menegaskan bahwa laporan ke Mendagri tersebut berkaitan dengan perubahan nama gelar Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang otomatis Gubernur DIY. “Itu mengubah, ada nama yang berubah,” kata Sultan.

Selanjutnya, akan mengubah perjanjian antara pendiri Mataram Ki Ageng Pemanahan dengan Ki Ageng Giring. Terakhir, Sultan akan menyempurnakan keris Kanjeng Kyai Ageng Kopek dengan Kanjeng Kyai Ageng Joko Piturun.

“Buwono itu maknanya ya jagat raya, kalau Bawono ya saya tidak tahu maknanya. Kalau keris Kanjeng Kyai Ageng Joko Piturun merupakan simbol pewaris tahta, kalau Kanjeng Kyai Ageng Kopek itu pusaka saat Sultan sudah bertahta,” kata kerabat Keraton bergelar Kanjeng Raden Tumenggung ini.

Saat Sultan HB X naik tahta, ia memeroleh gelar Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati-ing-Ngalaga Ngabdurrakhman Sayidin Panatagama Kalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sadasa ing Ngayogyakarta Hadiningrat.

Keluarkan Sabda Raja, Sri Sultan angkat Pembayun jadi Putri Mahkota

keluarkan-sabda-raja-sri-sultan-angkat-pembayun-jadi-putri-mahkota-rev-2

Sri Sultan Hamengku Bawono X kembali mengeluarkan Sabda Raja di Seti Hinggil, Keraton Yogyakarta, Selasa (5/5) siang sekitar pukul 11.00 WIB. Pembacaan Sabda Raja tersebut hanya berlangsung singkat dan hanya berisi satu poin.

Menurut kerabat Keraton, KRT Yudhohadiningrat, pembacaan Sabda Raja hanya berlangsung sekitar dua menit. Beliau mengungkapkan hanya ada satu poin saja yang disampaikan.

“Nanti biar Ngarso Dalem (Sri Sultan) yang bicara,” ujarnya seusai pembacaan Sabda Raja.

Ia menambahkan setelah pembacaan Sabda Raja, kerabat Dalem Keraton berkumpul di keraton Kilen tempat tinggal Sultan.

Hal serupa dibenarkan oleh KRT Jayaningrat, menurutnya ada pembahasan lagi di internal kerabat setelah ini.

Sementara itu, Raden Wedono Ngabdul Sadak salah seorang abdi dalem yang bertugas di Masjid Panepen mengatakan poin dalam Sabda Raja yaitu mengganti nama GKR Pembayun menjadi GKR Mangkubumi dan sekaligus mengangkat sebagai putri mahkota.

“Ganti nama GKR Pembayun menjadi GKR Mangkubumi,”.

Bravo!… Ayu hayu rahayu❤ …

10410424_1002830313068457_1067941263736903464_n

*(Semua photo dan tulisan diambil dari sumber: Tribun News.com) 

***