BUKU TERBARU: FORMULA HIDUP BEJO

Oleh P.B. Susetyo dan S.H. Dewantoro

Melalui percakapan antara Sie Koeng Gembloeng dengan Sie Cah Mbeling dan sosok lain dari berbagai latar belakang, dibabarkan jawaban atas berbagai misteri kehidupan, seperti: Apakah sorga dan neraka itu ada? Apakah sejatinya dosa? Apakah ngraga sukma, dan apa resikonya jika kita melakukan itu? Apa yang dimaksud dengan moksa? Apakah benar dalam ajaran Jawa Kuno terdapat perintah memberi sesaji kepada leluhur dan padanyangan?

Bagi siapapun yang membacanya, buku ini akan mengguncang nalar. Setelah itu, pembaharuan hidup menjadi sebuah kepastian.

AWAS, BUKU INI BISA BIKIN BEJO!

11169537_10206717452483604_2790170205989366270_o

Buku ini tidak sekadar memuat rangkaian aksara yang memberi makna. Tapi buku ini memancarkan energi penyadaran, yang menghentakkan nalar yang selama ini sering diselimuti ilusi. Dan muara dari semua itu, buku ini benar-benar bisa membuat bejo siapapun yang membacanya.

Tidak perlu percaya, buktikan saja…….

(Cuplikan buku Formula Hidup Bejo – www.aksara234.com)

JALAN CAHAYA & JALAN GETAR

Ada banyak tradisi spiritual, yang menggambarkan pengertian manusia mengenai bagaimana seseorang bisa mencapai kesempurnaan hidup dan “menyatu” dengan Sang Misteri. Umumnya, perangkat yang dipergunakan adalah pineal gland dan mata ketiga, untuk melihat cahaya demi cahaya yang dimengerti sebagai emanasi atau pancaran Tuhan.

Contoh dari tradisi ini adalah tradisi Kabbalah (Ibrani). Beberapa mistikus India juga mengambil jalan ini.

Sementara itu, laku Jawa Kuna menggunakan pendekatan berbeda. Yang disadari dan dimengerti terlebih dahulu justru sumber dari cahaya. Itulah getar. Getar adalah pertanda dari keberadaan energi tan kasat mata. Langkah perdananya adalah menyadari hambegan. Dengan langsung masuk ke wilayah ini, maka laku Jawa memudahkan siapapun untuk mengerti tentang rahasia HIDUP yang paling dalam.

KEDJAWEN: Formula Revolusi Mental

Ora usah percaya, ora nganggo prihatin, ora nganggo sajen, ora nganggo suwe, ……..puwenak to?

1. K = Kahuripan, menyadari bahwa kita ini hidup.
2. E = Enotuk/Jatidiri, menyadari bahwa hidup berasal dari hambegan, dan di hambegan ada Hurip Kang Sayekti/Yaktining Hurip. Maka laku sesuai jatidiri adalah dengan ngematke hambegan.
3. D = Dawuh, dengan ngematke hambegan, bisa mengerti susuhing angin dan merasakan dawuh yang bergatra getar di susuning angit (net).
4. J = Jeso, Net atau Dawuh Gusti kemudian menjadi pegangan hidup, prinsip, atau pancering hurip.
5. A = Angger-angger, maka hidup bisa tertata oleh sebuah aturan internal yang mengharmonikan.
6. W = Wohono. Wohono adalah Firman. Ketika pengalaman terhubung dengan Yaktining Hurip diungkapkan, ia menjadi kata-kata penyadaran, sebuah Firman, yang pasti memperbaharui hidup siapapun yang mencermatinya.
7. E = Elok. Siapapun yang senantiasa sadar hambegannya, dan konsisten hidup dalam keterhubungan dengan Yaktining Hurip, ia bisa mendapatkan hidup yang penuh keajaiban.
8. N = Nowoso, keperkasaan dari Realitas Tanpa Batas, mengejawantah dalam laku dan hidup siapapun yang menyadari kejumbuhan dengan-Nya.

DOA ITU NGOBROL (Versi Sie Koeng Gembloeng dan Sie Cah Mbeling)

10941421_10206435298949942_5063144913833688408_n

Gusti, atau Tuhan, adalah sumber hidup, permulaan segalanya. Aku, hulun, adalah titah Gusti..yang mengejawantahkann keberadaan-Nya. Gusti mengejawantah di dalam diri manusia sebagai Hingsun, bersemayam di telenging manah.

Maka, doa adalah tindakan komunikasi atau ngobrol antara hulun dan Hingsun. Seperti sang anak yang ngobrol dengan bapak atau ibu.

Demikian salah satu pembabaran dalam buku Formula Hidup Bejo, buku terbaru karya P.B. Susetyo dan Setyo Hajar Dewantoro. Masih banyak perkara unik yang dibabarkan di dalam buku ini, seperti: apakah ngraga sukma itu nyata? Apakah itu aman? Apakah reinkarnasi itu sebuah kenyataan? Apakah surga dan neraka itu ada?

KITA BUKAN BUTUH ATURAN, TAPI KESADARAN

Dalam laku Jawa, adalah kurang pada tempatnya jika seseorang diberi berbagai aturan eksternal serta penyeragaman pola dan jalan hidup. Meskipun itu beralasan untuk memastikan manusia berada di jalan yang benar dan sesuai kehendak Tuhan. Banyaknya aturan yang datang dari luar diri, yang kemudian memenuhi memori kita dan menjadi rujukan dalam bertindak atau tidak bertindak, hanya akan membuahkan kelelahan.

Kejumbuhan dengan Gusti tak akan bisa diraih melalui pola demikian. Justru sebaliknya, kita perlu bermula dari tindakan sederhana yang bisa dilakukan semua orang, berupa ngetutke lakune hambegan. Dengan tindakan ini, seseorang pasti sadar bahwa Gusti itu jumbuh atau bersenyawa dengan dirinya, bahwa Gusti adalah hidup itu sendiri, dan bahwa Gusti selalu menuntunnya. Lebih jauh, ia akan mengerti dengan jelas tentang tuntunan Gusti dalam berbagai perkara kehidupan. Bahkan, ia bisa mengerti akan berbagai perkara hidup yang rumit dan rinci.

SEDULUR PAPAT

10440969_291554187695469_3237115831926983764_n

Salah satu sikep pawening dalam ajaran Jawa Kuna, adalah membangun harmoni, keterhubungan dengan sedulur papat. Ternyata, sedulur papat dalam ajaran Jawa Kuna ini berbeda dengan selama ini saya kenal ada dalam tradisi Kejawen: kakang kawah, adi ari2, adi getih dan adi puser. Sedulur papat dalam ajaran Jawa Kuna adalah emanasi2 Gusti yang disebut ngabidha (dalam tradisi semitik disebut malaikat). Para ngabidha itulah yang momong kita, dan bersemayam di budi/kulit, rasa/tulang, nalar/daging, dan nyawa/darah.

Melalui sikep terhubung dengan sedulur papat kang sayekti ini, setiap pribadi bisa menjadi pribadi yang kesadarannya selalu terbimbing (oleh Notodhoko atau Jibril), rasa menjadi rasa sejati, nalarnya menjadi sangat cerdas, dan karsanya selaras ritme semesta.

MERUWAT DIRI

Dalam perjalanan hidup kita, sering kita ceroboh mengelola babahan hawa songo atau 9 lubang kehidupan. Dan itu memungkinkan terdistorsinya kemurnian kita sebagai manusia. Ada jejak2 energi yang bisa memberatkan langkah kehidupan. Maka, itu perlu diruwat. Siapa yang bisa meruwat? Ya diri sendiri, dengan kuasa Gusti. Ajaran Jawa Kuna yang mengacu pada manuskrip Gunung Klothok, menunjukkan sikep panyugak sangakala..ini adalah tindakan nyata untuk meruwat budi, rasa, nalar dan karsa kita. Ini adalah tindakan untuk membaharui hidup terus menerus………

KEMBALI KE JATIDIRI

Siapakah kita? Tempat lahir kita, saat kelahiran kita, menentukan kita siapa dan seperti apa. Pengaruh semesta pada saat itu dan koordinat itu, membentuk informasi dasar tentang diri kita karena dari konstelasi tersebutlah cetak biru kehidupan kita tersusun.

Setiap pribadi, laksana sebuah produk, memiliki serial number, Personal Identification Number (PIN), dan password tersendiri, yang perlu diketahui untuk bisa berfungsi secara optimal.

Maka, sudah sewajarnya, kita menjadi diri sendiri, mengenal keunikan kita, mengenal konsekuensi dari tempat dan saat kelahiran kita.

GUSTI, Realitas Tanpa Batas yang menjadi intisari kehidupan kita, memiliki pesan-pesan khusus untuk kita semua manusia Nusantara. Pesan itu yang perlu kita temukan dan mengerti, karena menjadi kunci meraih kehidupan sempurna.

BUKTI KASIH

Apakah engkau sungguh-sungguh mengasihi negeri ini? Jika iya, mengertilah bahwa hanya sabda kasih yang bisa memperharui negeri ini menjadi negeri yang penuh ketentraman.

Apakah engkau mengasihi sesamamu, termasuk yang perilakunya tidak pas sesuai dengan apa yang engkau mau? Jika iya, mengertilah juga bahwa yang bisa mengubahnya hanyalah sabda kasihmu.

Sabda kasih, membawa energi melampau semua tirai, memperbaharui segenap yang disentuhnya.

Sabda kasih, sewajarnya dilantunkan oleh siapapun yang peduli pada negeri ini, juga pada sesama yang menghuni negeri ini.

Didahului dengan diam, menyatu dengan gerak hidup yang ada pada aliran nafas, terhubung dengan pusat kasih di dalam diri, lalu visualkan dan nyatakan idealitas yang kita harapkan terjadi.

KANG GUSTI TJINANTEN TUMUWUH. SOHO

APAKAH JAWA ITU NAMA ETNIS?

11096385_10206593189697112_395474703630159615_o

Jawa berarti mampu menyingkapkan Jarwane (teges/makna) dari apa yang menjadi Wadi (rahasia) ning hurip (hidup) . Sehingga orang yang nJawani artinya adalah orang yang bisa bersikap layaknya Jawa secara essensial.

Lebih jauh, Jawa bisa dimengerti sebagai kemakrifatan (Arab) ataupun sod (Ibrani) dalam peri kehidupan manusia di jagad ini. Jawa adalah merupakan realitas essensial manusia dalam perkara Pola Rasa-Pola Nalar-Pola Laku .yang membentuk suatu pola hidup selaras dengan Kehendak Gusti Kang Murba Ing Dumadi dan semesta raya ini.

Tegasnya, Jawa yang sejati tidak berkaitan dengan etnis, melainkan dengan pola hidup. Siapapun yang pola hidupnya dilandasi penyadaran akan kasunyatan, apa adanya, serba selaras, maka dialah Jawa, apapun etnisnya.

LAWEH PANGELINGAN DJOWO

Laweh = Tanah, Pangelingan = Pengingatan, Penyadaran, Djowo = Mudheng, Mengerti.

Laweh adalah badan ini, diri ini. Dan ini adalah obyek penyadaran. Siapapun yang melakukan penyadaran terhadap diri, ia akan sampai pada kemengertian tentang hidup. Orang yang mengerti tentang hidup inilah yang dijuluki Wong Djowo.

Sekadar berbusana dan berbahasa Djowo, tanpa diiringi pengertian yang akurat mengenai Hidup, tak menjadikan seseorang sebagai Djowo yang sesungguhnya. Tetapi siapapun orangnya, dari etnis dan ras manapun, yang hidup dalam penyadaran, dan mengerti kenyataan hidup ini, itulah yang layak dijuluki Wong Djowo, wong kang mudheng, wong kang mangerteni kasunyatan.

MENCINTAI NEGERI

13270_10206602822657930_4909654961375548906_n

Mencintai negeri, tak sewajarnya terejawantahkan lewat kritikan apalagi sumpah serapah dan kutukan kepada para pengelola negara. Kritikan, sumpah serapah dan kutukan hanya mempertebal awan tebal kegelapan bagi negeri ini, yang pasti merugikan.

Lebih tepat, cinta kepada negeri ini, ditunjukkan lewat intensitas mengucapkan kata-kata penuh daya: NUSANTARA YANG DAMAI, DILIPUTI KASIH, DENGAN PARA PEMIMPIN YANG DIBIMBING TERANG DARI GUSTI. HOOOOONG…….

Sebagai sebuah bangsa, patutkah kita mengikuti formula bangsa lain dan tidak menjadi diri sendiri? Dimulai dari perkara paling mendasar, perlukah kita mengikuti pola penyadaran yang diadopsi dari bangsa lain? Salah satu yang cukup membuat saya penasaran adalah ungkapan2 dari Mas Leonardo Rimba, tentang meditasi mata ketiga yang jadi landasan membangun kemajuan peradaban karena menumbuhkan rasionalitas.

Setelah saya pelajari pola penyadaran dan penjernihan diri melalui manuskrip Gunung Klothok, saya kok menyimpulkan betapa manusia Nusantara punya great tradition..yang berorientasi menumbuhkan semua perangkat kemanusiaan secara utuh. Meditasi berdasarkan manuskrip Gunung Klothok secara utuh meng-upgrade budi, rasa, nalar dan karsa. Lokusnya di telenging manah, simbol kekuatannya di ibu jari. Itu membuat kita terhubung dengan The Cosmic Intelligence.

Terkait dengan Sabda atau Dawuh Gusti yang turun di Tanah Jawa 4436 Sebelum Masehi, melalui tiupan Notodhoko pada batu di Gunung Klothok, tidak perlu percaya asal percaya. Gusti tidak memaksa untuk percaya. Yang terpenting adalah kita mengujinya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Jika Sabda atau Dawuh itu kita jalankan lalu berguna, maka kita nyatakan itu sebagai kebenaran. Jika itu tidak berguna, ya carilah yang lebih tepat untukmu.

SABDA PERINGATAN BAGI PENGHUNI TANAH JAWA

1496257_10206563635198268_5589810865409413594_o

(Dono 3) Tjoro Notodoko inganggit salir dawuh Gusti aneng watu amung kadamu koso sakoso tumuwuh dawuh Gusti prowoso ngagesang siti pangelingan Djowo Kedjawen tembung wantjahan kahuripan enotuk dawuh jeso angger angger wohono elok nowoso Gusti aran Djowo datan hono sanes kang gesang sekoro.

(Ayat 3) Cara Notodoko menulis semua sabda Gusti di batu hanya ditiup satu persatu maka timbul sabda Gusti, yang menjadi hukum kehidupan tanah Djowo KEDJAWEN: 1, Kehidupan 2, Asal usul 3, Sabda 4, Pegangan 5, Hukum kehidupan 6, Firman 7, Keajaiban 8, yang Berkuasa. Gusti, julukan Djowo bagi realitas yang kekal abadi.

Catatan: Sabda Gusti di Tanah Jawa, pastilah berlaku abadi….karena sekali Gusti bersabda…tak mungkin sabdanya goyah oleh waktu. Tak mungkin ada Sabda Gusti yang menjadi “tidak tepat” dan harus direvisi oleh sabda yang baru.

(Refleksi Cah Mbeling terhadap keberadaan Firman Tuhan di Gunung Klothok)

KESADARAN YANG TERUS BERGERAK

Dulu sekali, saya rajin sekali datang ke masjid, karena dalam kesadaran saya, di sanalah saya bisa bertemu Tuhan dan kebahagiaan. Senyatanya, memang kala itu saya bisa menemukan ketenangan di masjid. Kemudian, saya jadi rajin berkunjung ke berbagai pepundhen, petilasan dan makam leluhur, juga gua, hutan, gunung-gunung dan pantai yang disakralkan. Saya melakukan itu karena dorongan mencari kesejatian. Tentunya saya mendapatkan kedamaian ketika melakukan itu. Dan kadang menemukan fenomena unik yang menggetarkan.

Namun, kesadaran saya terus bergerak. Seiring dengan realitas bahwa sejatinya saya belum mendapatkan apa yang saya cari, saya terus bergerak mencari jalan-jalan baru. Kemudian, kini lebih banyak menjelajah ke dalam diri, mencermati berbahagi rahasia di dalam diri. Jelas, saya juga mendapatkan kedamaian. Tetapi satu perkara yang tampaknya berbeda dengan laku di masa lalu yang berorientasi ke luar diri, bahwa pola menjelajah ke dalam diri ini merupakan jalan yang bersahaja, murah dan cepat untuk membawa pada jatidiri, pada kesejatian.

Yang, demikianlah secuplik pengalaman pribadi tentang pergulatan mencari kesejatian.

Jawa, biasa dipergunakan sebagai nama pulau, etnis, aksara, bahasa, dan laku hidup. Sebagai laku hidup, sejatinya Jawa terkait dengan satu esensi: MENGERTI TERHADAP KENYATAAN/KASUNYATAN/REALITAS, secara tepat tanpa terdistorsi berbagai ilusi. Maka, laku hidup Jawa, bukanlah diperuntukkan dan bisa ditunjukkan oleh etnis Jawa, atau yang tinggal di Pulau Jawa, dan berbahasa Jawa. Siapapun yang hidup dengan landasan pengertian yang tepat akan kenyataan, maka dialah JAWA, tak peduli etnis dan rasnya.

Demikian pula, apapun yang telah tumbuh di tanah Jawa ini, termasuk panduan laku untuk menjernihkan diri dan mencapai kejumbuhan dengan Gusti, bisa dipergunakan oleh siapapun yang membutuhkannya..tak peduli apapun etnis, ras, kebangsaan, bahkan juga agamanya. Laku Jawa adalah laku universal yang meneguhkan kesadaran bahwa kita adalah SATU, SALING TERHUBUNG. Kita berbeda baju dan label, tapi di balik itu….kita sama2 sebagai pengejawantahan dari REALITAS TANPA BATAS.

NGELMU JAWA VS AGAMA

19813_10206479636618356_9167963957891264277_n

Sie Cah Mbeling mempertanyakan, apa perbedaan antara agama dan ngelmu Jawa. Sie Koeng Gembloeng dengan perlahan meletakkan gelas berisi Whitecofee yang semula ia pegang, “Ya beda tho Jo. Agama adalah tatanan, seperangkat aturan untuk membuat hidup manusia tertata. Asumsi mengapa agama diperlukan adalah bahwa manusia perlu ditata hidupnya melalui seperangkat aturan eksternal (dari luar). Sementara Ngelmu Jawa membimbing manusia untuk peka terhadap rasa-nya…..Dengan mengikuti rasa-nya ini, manusia tidak lagi perlu diberi rambu-rambu dari luar.

Sebagai contoh, dalam perkara penggunaan helm. Jika memakai perspektif agama, agar setiap orang menggunakan helm, perlu dibuat aturan WAJIB menggunakan helm, jika tidak diberi sanksi. Sementara jika memakai Ngelmu Jawa, orang yang telah peka terhadap rasa-nya, bisa mengerti bahwa menggunakan helm itu penting untuk keselamatan diri karena bisa melindungi kepala pengemudi sepeda motor. Sehingga meskipun tidak ada aturan yang mewajibkan, tetap menggunakan helm itu.

Dalam Ngelmu Jawa, laku atau perbuatan kita sehari-hari ditata oleh rasa njero atau Kesadaran yang dituntun oleh rasa sejati.

Maka, bisa dikatakan bahwa inti Ngelmu Jawa adalah penyadaran diri tentang laku yang membawa harmoni untuk setiap pribadi. Ngelmu Jawa menumbuhkan rasa peduli, membuat setiap pribadi sadar dan bisa menjalankan Hukum Kasih.”

AGAMA JAWA

Umumnya, ketika berbicara tentang agama Jawa, orang-orang akan berpandangan seperti yang ditulis seperti ini: “Masih dalam konteks yang sama, Simuh juga mengatakan bahwa suku-suku bangsa Indonesia, khususnya suku Jawa sebelum kedatangan pengaruh Hinduisme telah hidup teratur dengan tradisi animistik dan dinamistik sebagai akar religiusitas, dan hukum adat sebagai pranata sosial mereka. Lebih dari itu Simuh mengatakan bahwa religi animisme dan dinamisme yang menjadi akar budaya asli masyarakat Jawa cukup memiliki daya tahan yang kuat terhadap kebudayaan-kebudayaan yang telah berkembang maju.

http://syariah.uin-malang.ac.id/index.php/komunitas/blog-fakultas/entry/mencermati-asal-usul-kepercayaan-religi-dan-agama-jawa-kuna

Sungguh unik, di tanah ini, Laweh Pangelingan Djowo, apa yang menjadi ajaran Gusti yang disampaikan melalui para ngabida, terkubur demikian dalam sehingga tak banyak yang tahu. Lalu, ketika orang Jawa coba mengerti tentang dirinya melalui para pakar dari negeri kulon, yang terjadi tentunya kesalahpahaman yang makin tebal.

Sesungguhnya, orang Jawa telah ada di tanah ini sejak semula. Orang Jawa adalah ras kulit coklat yang sejak dulu sudah ada di tanah ini. Dan sejak dulu punya penyadaran tinggi akan kehidupan yang sejati, dengan pancer Gusti Sulo Kang Tenggil Puroso.

WUS TITI WANCINE WARANG DJOWO MANGERTI MARANG ENOTUKE……

10982475_791341494275839_7436528902566264422_n

GUSTI……

Hulun berserah diri sepenuhnya.
Hulun membuka diri sepenuhnya untuk datangnya keperkasaan-Mu
Paduka permulaan segalanya
Paduka pula yang menuntun pada jalan kebenaran
Dan paduka yang menggenggam segenap kekuasaan.
Hidup hulun sepenuhnya ada dalam naungan dan pengayoman paduka.
SOHO

GUSTI YANG BERSINGASANA DI TELENGING MANAH

Kata Gusti menjadi berarti, ketika itu disadari sebagai realitas. Kata Gusti menjadi berguna, jika itu tak lagi sekadar menjadi kata-kata, melainkan pembahasaan terhadap sumber kecerdasan, sumber kuasa, sumber rancangan hidup bagi setiap pribadi, yang selalu disadari keberadaanNya.

Tak penting apa pandangan orang mengenai perkara ini: bagi yang jernih, Gusti adalah segala-galanya: Bapak sekaligus Ibu kehidupan yang sejati, sumber kasih sayang yang sejati, tempat kembali manakala kita diterpa lelah dan jalan menjadi gelap.

BUAH PERBUATAN

Menurut kesadaran saya, Gusti itu tidak akan dirugikan dan menjadi marah, atas apapun yang kita lakukan. Termasuk yang disebut sebagai perbuatan dosa. Namun, kenyataannya, setiap perbuatan itu pasti punya konsekuensi logis. Dan ada perbuatan-perbuatan tertentu yang pasti membuahkan derita mendalam. Beruntunglah jika ada peristiwa, atau orang, yang membuat kita tercegah dari tindakan kita sendiri yang akan menyengsarakan hidup kita.

Menengok ke dalam diri, di jiwa terdalam kita masing2 telah tertata hukum kasih. Dan kita akan tahu, bahwa pelanggaran akan hukum kasih itulah yang pasti membuahkan kesengsaraan.

LAKU SPIRITUAL SEWAJARNYA BERBUAH NYATA

11187236_10206767234128114_8760070558042637085_o

Menjalani sebuah laku spiritual itu buahnya memang harus bisa dirasakan, dampaknya harus nyata. Manut pada Gusti itu sewajarnya membuat kita semakin menjauh dari derita, dan orang-orang yang ada di sekeliling kita bisa kian merasakan anugerah dan hidup yang lebih baik. Toh, tujuan dari semua laku spiritual itu adalah tercapainya penyadaran akan kasunyatan yang seutuhnya.

Dampak dari laku spiritual yang tepat adalah hidup menjadi harmonis, dan pada waktunya sukma kita berpisah dengan raga, kita tidak terjebak oleh kemelakatan kepada apa yang ada di bumi ini. Tapi, kita tidak perlu menyengsarakan diri, atau dengan sengaja menjauh dari anugerah berupa kehidupan indah yang sewajarnya kita bisa nikmati. Hidup bersahaja itu berbeda dengan hidup blangsak ataupun sengsara……

BISAKAH KITA BERTEMU DAN NGOBROL DENGAN LELUHUR YANG SUDAH MENINGGAL?

Salah satu tamu Sie Koeng Gembloeng beranya, “Bisakah kita bertemu leluhur yang telah meninggal dunia, apalagi yang hidup pada masa ratusan tahun atau ribuan tahun sebelum kehidupan kita? Apakah yang saya temui itu dan menyampaikan berbagai pesan itu memang leluhur saya?”

Sie Cah Mbeling yang kemudian mengurai perkara ini, “Mengenai perkara ini, kita perlu meminjam khazanah science fiction. Saya pernah nonton film berjudul Artificial Intelligence, tentang robot bernama David yang memiliki emosi seperti manusia, dan punya pertanyaan-pertanyaan eksistensial seperti manusia pada umumnya. Nah, suatu saat, ia masuk ke sebuah mesin memberi jawaban atas segala pertanyaan. Mirip dengan Google di jaman sekarang, tapi ia berupa hologram yang interaktif. Bentuknya berupa hologram seorang lelaki berkacamata, wajahnya mirip Albert Einstein. Nah, setelah David membayar sejumlah uang dan mengajukan pertanyaan, hologram itu memberikan jawaban. Tampaknya yang ditemui Pak Angga ya semacam hologram yang interaktif itu Koeng. Dia diprogram untuk secara otomatis menjawab pertanyaan tertentu.”

Sie Koeng Gembloeng menambahkan, ““He, he, he, he. Begini ya. Kehidupan yang telah terjadi di muka bumi ini, ada rekamannya. Nah, di tempat-tempat tertentu kita bisa melihat rekaman dari kehidupan dari masa lalu. Termasuk melihat gambar dari sosok leluhur di masa lalu. Dan tentu itu gambar bergerak. Itu yang disebut hologram. Nah, yang kamu temui itu, sebenarnya ya hologram. Leluhurmu meninggalkan itu bagi anak cucu yang bisa mengaksesnya. Itu semacam program berisi data dengan mode interaktif yang bisa membantu anak cucu untuk mengetahui berbagai perkara termasuk mengenai masa silam.”

RAHASIA MOKSA

Orang-orang Jawa Kuna, bisa mengelola raganya sedemikian rupa sehingga bisa sesuai dengan tuntutan atmosfer di dimensi yang lebih halus dan murni itu. Lebih jelasnya, mereka bisa mendematerialisasi raganya. Pada saat mereka memang mesti meninggalkan bumi ini, mereka bisa mengubah raganya menjadi bentuk baru yang lebih halus dan murni sesuai kebutuhan di tempat kehidupan baru. Itulah yang disebut moksa.

PENYADARAN HAMBEGAN & OLAH NAFAS

10896967_779600882116567_2812747520058382669_n

Menyadari hambegan itu adalah tindakan menyadari satu perkara yang natural, berupa mengalirnya oksigen melalui hidung ke paru-paru kita..lalu keluar lagi melalui hidung juga. Hasilnya adalah penyadaran akan hidup dan sumber hidup.

Olah nafas, dilakukan dengan mengatur nafas…dengan memberi hitungan tertentu ketika nafas ditarik masuk dan dikeluarkan, juga ketika ditahan di dada atau di perut. Hasil tindakan ini adalah tenaga dalam.

Kedua hasil itu tentu ada kegunaannya. Bedanya adalah, tindakan pertama membawa pada kesadaran akan kesejatian dan kelanggengan hidup. Tindakan ini adalah dasar dari sampurnaning hurip. Sementara yang kedua, kegunaannya bersifat pragmatis, jangka pendek, sekaligus punya resiko berupa keterikatan dengan bumi ini dan segenap energi yang mengitarinya.

Anda sebaiknya pilih yang mana? Ya bebas tho, he, he, he…semua Anda yang menentukan…tugas saya cuma menjelaskan perbedaan, kegunaan, dan resiko dari kedua cara ini….

NGELMU JAWA, SIRNAKAN KEMELEKATAN

Sie Cah Mbeling kembali mengajukan pertanyaan, “Apa yang Koeng sampaikan ini…tampaknya membuat seseorang yang semula tergantung pada energi di luar diri, katakanlah suka menggunakan khodam atau ketempelan demit, juga beragam rupa kesaktian, akan meninggalkan semua itu ya Koeng?”

“Ya jelas tho. Apa yang aku sampaikan ini sebenarnya adalah Ngelmu Jawa Kuno, sesuatu yang sudah menjadi kesadaran para leluhur di Jawa sejak jaman dahulu kala. Ngelmu Jawa ini orientasinya kemurnian. Neng, ning, nung. Orang perlu meneng, lalu hening wening, jernih, murni, supaya bisa dunung atau menempati tempat yang diharapkan: dimana kita bisa merdeka dari segala bentuk penderitaan. Ngelmu Jawa itu mengarahkan kita untuk tidak memiliki kemelekatan apapun dengan sesuatu yang ada di luar diri, karena itulah sumber penderitaan.” Demikian Sie Koeng Gembloeng memaparkan.

Apa yang dipaparkan di atas, adalah salah satu teknik perluasan kesadaran. Praktik teknik di atas, yang paling mudah, setelah memberi perhatian pada cakra jantung di mana terletak thimus dan menyabda atau mengafirmasi sesuai idealitas kita, kita mengikuti aliran nafas yang bergerak naik ke ubun2. Dengan langkah ini, energi diri terhubung dengan energi semesta, itu yang menjadi dasar perluasan kesadaran.

Cara kedua, dan ini sebetulnya lebih mudah…..beri perhatian pada aliran nafas, lalu temukan titik perhentian nafas di ulu hati, rasakan getaran yang muncul dari situ…lalu secara natural, kita ikuti radius energi yang secara natural semakin meluas seiring intensitas penyadaran kita pada getaran di pusat hati (sekitar ulu hati). Bisa juga, jika kita hendak menyalurkan energi kepada seseorang yang ada di ruang lain, atau jauh dari kita, kita ikuti kesadaran kita yang meliputi orang tersebut, sadari bahwa kita tak berjarak dengan dia, lalu alirkan energi yang berasal dari pusat hati kita.

APA YANG SUDAH ENGKAU BERIKAN UNTUK IBU PERTIWI

Mengutuk dan bersumpah serapah
Bukanlah bukti cinta pada negeri
Tetapi itu hanya penanda kebebalan nalar
Sekaligus kerasnya hati.
Tak ada yang menjadi lebih baik
karena kutukan dan sumpah serapah.

Jika di hadapanmu ada sehampar tanah
Jadikanlah ia menghijau
Berbuah atau berbunga.

Jika kekuatanmu ada pada pena
Goreskanlah pena itu untuk
Menebar kasih dan spirit membangun negeri.

Jika engkau hanya sanggup berbuat dengan kata2mu
Sebarkanlah sabda berdaya kasih
Yang memulihkan atmosfer negeri ini
Yang muram akibat angkara murka.

(SIe Cah Mbeling)

Segera dapatkan buku ‘Formula Hidup Bejo’ Rp 100,000 plus ongkos kirim, dengan menghubungi Bpk S.H Dewantara di nomer HP beliau : 087728734105🙂 …

10985963_10206679319930314_5753052619231379043_n

 ***