Pamuji rahayu❤ ,

Negara yang besar adalah negara yang bisa melestarikan Seni dan Kebudayaan-nya.

Repatriasi adalah pengembalian benda-benda kuno dan dokumen-dokumen ke negara atau komunitas di mana benda-benda dan dokumen-dokumen tersebut didapatkan. Repatriasi menjadi pemikiran para penata arsip dan para ahli museum di masa kini karena mereka berharap koleksi-koleksi yang telah mereka atur dan lestarikan akan berguna bagi para individu dan komunitas yang berkehendak menciptakan sebuah masa depan baru.

Kita sedang hidup dalam sebuah era penuh perubahan berskala besar dalam bidang politik, ekonomi, teknologi dan budaya. Tentunya warisan pusaka seni-budaya ini menjadi sebuah ketertarikan besar bagi komunitas-komunitas lokal di mana benda-benda bersejarah tersebut berasal dan didapatkan pada mulanya.

images (47)

Perlu kita ketahui jumlah dari rekaman-rekaman yang dilestarikan dan dikembalikan termasuk kecil dibandingkan dari jumlah dari rekaman-rekaman pada masa selanjutnya yang berada di tangan pihak-pihak pribadi, terpajang di rak-rak dalam rumah-rumah para seniman, cendikiawan atau kolektor. Indonesia mempunyai banyak cendikiawan aktif yang telah berkarya menghasilkan rekaman-rekaman penting dan juga banyak cendikiawan lainnya sangat ingin rekaman-rekaman mereka tersedia di sini.

Namun kebanyakan dari mereka kekurangan sarana, pendanaan dan dukungan pusat arsip yang nantinya menjadi rumah pelindung bagi koleksinya. Sangat dibutuhkan pengerahan upaya dan dukungan untuk sebuah proyek digitalisasi dalam skala yang amat besar. Ini bisa dilakukan melalui sebuah proyek pemerintah besar-besaran. Ada kemungkinan juga untuk menggalang dan membuat proyek berbasis masyarakat  yang berskala besar dan berdasarkan persyaratan dan control kualitas yang ketat, masing-masing orang berkontribusi dengan mengerjakan porsinya masing-masing, sebagai satu kesatuan dari proyek.

Tetapi bagaimana cara memulangkannya? Masyarakat kerajaan Analog, sebagaimana saudara-saudari masih ingat ingat, juga memikirkan hal yang sama siapa yang akan mendengarkannya dan apa yang akan di lakukan selanjutnya?

images (41)

Alkisah, tak begitu lama dan tak begitu jauh, di Kerajaan Analog yang terletak di lepas pantai pulau Jawa, kehidupan terasa sangat menyenangkan. Masyarakatnya yang analog menikmati usia panjang, dimainkan dan ditukar atau disimpan pada rak-rak pengarsipan, studio-studio dan rumah-rumah para kolektor.

Masyarakat yang kesemuanya adalah rekaman-rekaman, sangat berbahagia mengingat bahwa mereka akan bertahan lama bahkan ketika apa yang telah terekam pada diri mereka bisa saja punah. Kenyataannya, semakin mereka bertambah usia dan ketika para pembuat rekamannya mati mendahului, mereka akan lebih bergengsi. Di tengah terik dan panasnya matahari siang, rekaman-rekaman ini berkumpul dan membahas nasib mereka. beberapa di antaranya bertanya-tanya, apakah masih ada manusia di luar sana yang akan kembali memutar dan mendengarkan rekaman-rekaman yang termuat dalam diri mereka.

Aku telah menghuni rak-rak di UCLA selama empat puluh tahun dan tak seorangpun pernah memainkan diriku selama itu, ujar sebuah cakram. Aku pikir bunyiku terlalu jelek untuk disimak dan dinikmati, sahut sebuah rekaman wax cylinder  silinder rekaman terbuat dari sejenis lilinâ (medium rekam yang mendahului piringan hitam dan medium-medium digital), Dan aku direkam dalam sebuah bahasa yang tak lagi dipraktikkan; siapa yang akan mendengarkan diriku? ujar sebuah rekaman lain. Saya hidup dalam sebuah film bisu, dan manusia telah terbiasa dengan video; tak akan ada yang mau mendengarkan diriku? kata sebuah film oleh Colin McPhee. Banyak orang yang mendengarkanku, tetapi para pengacara tak mengizinkannya, kata rekaman illegal dari sebuah konser Beatles. Kita ini mirip hantu,  mereka bersepakat.

Siapa yang akan mendengarkan kita? Apa yang akan mereka lakukan setelah mendengarkan kita? Inilah sekelumit kehidupan di Kerajaan Analog.

images (39)

Pusat-Pusat Arsip, Masa Lalu dan Masa Depan

Pusat arsip mempunyai reputasi dan citra buruk sebagai tempat-tempat berdebu dan membosankan, disesaki barang-barang tua dan tak berguna yang susah ditemukan dalam rak-rak penyimpanan. Tetapi sesungguhnya, pusat arsip bisa menjadi tempat-tempat menarik untuk penemuan, inspirasi dan kreativitas. Pusat arsip adalah tempat-tempat di mana masa lalu, masa sekarang dan masa depan saling bersinggungan dan bermuara. Namun sayangnya, tidak semua orang berpikiran bahwa memperhatikan masa lalu adalah sesuatu yang baik dan penting.

Ada beberapa pendekatan yang telah dilakukan berkenaan dengan repatriasi, salah satu tujuannya adalah memulangkan kembali rekaman-rekaman yang disimpan di pusat-pusat arsip di luar negeri dan memastikan bahwa sebuah salinan dari rekaman-rekaman baru oleh para ahli telah terlibat dalam program pelatihan di Indonesia dan pelbagai pelosok dunia.

Terkadang koleksi-koleksi yang dipulangkan dimanfaatkan dalam cara-cara yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Terkadang akses kepada koleksi-koleksi yang tersimpan di pusat-pusat kebudayaan berskala komunitas sama sulitnya dengan akses di pusat arsip luar negeri. Pengalaman menunjukkan bahwa rekaman-rekaman yang dipulangkan ke komunitas-komunitas bisa diterlantarkan, disembunyikan dan digunakan untuk kepentingan pribadi, atau berlanjut tak bisa diakses oleh masyarakat.

Ini adalah salah satu alasan mengapa proses pemulangan kembali dari rekaman-rekaman terawal tabuh, tari dan nyanyian Bali ke masyarakat Bali menjadi sangat penting. Daripada menemukan cakram-cakram aslinya dan membuat sebuah salinan bagi sebuah institusi semata-mata, proyek ini sejak awal dipandang sebagai sebuah kolaborasi dan melibatkan partisipasi dari kelompok akademisi, budayawan dan seniman dengan tujuan membuat rekaman-rekaman ini tersedia bagi publik luas.

Kehancuran yang Membayangi Pelestarian

images (40)

Tiba saatnya kita kembali menengok apa yang sedang terjadi di Kerajaan Analog:

Kehidupan di Kerajaan Analog berlalu selama beberapa decade dengan damai. Kemudian, setelah beberapa tahun mendengar desas-desus tentang keberadaan dua naga jahat dan menyeramkan, naga-naga tersebut pun muncul di gerbang kerajaan. Mereka bernama Kemerosotan dan Keusangan. Naga-naga ini mengancam akan menghancurkan Kerajaan Analog dan melahap semua penghuninya. Masyarakat di seluruh pelosok kerajaan dibuat tak berdaya.

Sebuah kerajaan tetangga yang baru terbentuk yang bernama Digitalisasi pun menawarkan bantuan untuk mengusir para naga. Tetapi Kerajaan Digitalisasi sangat miskin dan anggaran pertahanannya sangatlah kecil, tak seimbang dengan jumlah rakyat Kerajaan  Analog yang banyak. tanpa mengindahkan permohonan-permohonan UNESCO, Kemerosotan dan Keusangan menghabisi rakyat Kerajaan Analog, kecuali segelintir pihak yang sempat meloloskan diri ke Kerajaan Digitalisasi.

Dalam kurun waktu singkat, Kerajaan Analog tinggal kenangan, sama halnya dengan nasib seluruh rakyatnya, punah. Pastinya tidak abadi dan tidak ada lagi bahkan sebagai hantu atau leluhur, rekaman-rekaman analog yang tak bisa diputar menjadi sesuatu yang tak berarti. tak lama kemudian, si naga bernama Keusangan pun mulai menyerbu Kerajaan Digitalisasi.

images (42)

Kisah di atas mungkin saja menjadi pementasan wayang, tari atau gubahan musik yang menarik, tetapi kisah tersebut bukanlah fiksi. Cerita tersebut adalah fakta.

Permasalahannya, kebanyakan media yang memuat rekaman-rekaman analog secara perlahan mengalami kemerosotan kualitas dan menjelang masa akhir kemampuannya untuk diputar. taak ada format yang kebal terhadap hal-hal itu. Betacam dan pita rekam digital secara pasti mengalami penurunan kualitas dan akan sampai pada titik tak bisa diputar.

***