Sesungguhnya masih banyak bahasan-bahasan atau cabang-cabang Kejawen yang belum disajikan untuk bawarasa ini. Namun demikan apa yang dimiliki penghimpun memang baru sebatas yang tersampaikan dalam buku ini.  Oleh karena itu, mohon maaf seandainya isi buku ini masih jauh dari sem-purna.

Penghimpun hanya dapat berharap semoga apa yang telah disajikan ini dapat diterima pembaca budiman dengan baik. Sukur-sukur dapat menggugah perhatian sehingga secara bersama-sama kita, para lajer Jawa, mampu menghasilkan suatu rumusan hasil bawarasa tentang Kawruh Kejawen yang lebih tersistim meliputi : Spirituilisme Jawa, Falsafah Jawa, Tradisi dan Laku Budaya Jawa, Seni Budaya Jawa, Bahasa dan Sastra Jawa.

Penghimpun merasa dititahkan sebagai orang Jawa (kinodrat Jawa), oleh karena itu apa yang disampaikan dalam buku “Bawarasa Kawruh Kejawen” ini sangat terkesan kuatnya keinginan penghimpun dalam rangka menunjukkan “unsur rasionalitas” Kejawen yang sudah terlanjur kaprah dianggap klenik dan ngayawara. Dengan sajian penghimpun ini, diharap-kan para lajer Jawa tidak lagi merasa rendah diri sebagai “orang Jawa”, karena Jawa memang tidak kalah mutu peradaban dan tata peradabannya dibanding sistem peradaban lain.

Ada sekitar dua ratus Perguruan Tinggi di mancanegara memiliki jurusan studi Jawa, maka semestinya masyarakat Jawa di tanahnya sendiri memiliki “Pusat Studi Jawa”.  Ke depan, sangat mungkin untuk didirikan “Universitas Jawa” yang pendiriannya dilakukan oleh para lajer Jawa sendiri.  Bukan merupakan pikiran ngayawara meskipun ambisius.  Perlu diingat bahwa di jaman dulu Jawa adalah pusat studi dengan mahaguru terkenalnya “Jnanabadra” dan perlu diingat pula bahwa Perguruan Nalanda di India merupakan hasil karya Raja dari wangsa Syailendra di Jawa.

Selanjutnya mudah-mudahan tulisan ini dapat menjadi penggerak untuk mempelajari, menggali dan merekonstruksi Kejawen yang ditulis oleh para Pujangga. Dengan demikian – apabila masih ada dan bertambah-tambah orang Jawa yang mempelajari lagi karya para Pujangga itu – kita dapat bangkit kembali menggerakkan renaissance Jawa. Sehingga warga Jawa dapat mengimplementasikan kembali nilai-nilai luhur peradabannya sendiri dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Budi pekerti luhur yang merata di seluruh masyarakat Jawa, mau tak mau, akan menyeret gerbong pencerahan peradaban Jawa yang sekarang semakin surut dan suram. Maka, marilah bersama-sama mewujudkan bahwa Jawa itu sebenarnya adalah Sekaring Jagad – Kembangnya Jagad.

Marilah kita bersama-sama pula mengupayakan kein-dahan dan keharmonisan kehidupan di dunia ini, tertama Indonesia, agar dapat menjadi tempat yang menarik dan menenteramkan (nyengsemake) untuk kepentingan anak-cucu kita di masa depan. Semoga, bila benar-benar kita bersembah dan berbakti kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, pasti akan diperkenankan-Nya.

https://kisondongmandali.wordpress.com/2016/02/20/kawruh-kejawen-penutup/

Teguh yuwana rahayu, Swuhn.

images (45)

Senen Wage, Wuku Mandhasiya, 17 Sapar 1938 (Jimakir),

Windu Adi (28 Maret 2005 Masehi)

***