Pamuji Rahayu, 

Menstruasi pertama atau disebut Menarche adalah hari bersejarah bagi semua gadis. Di hari itulah para gadis memasuki masa puber. Biasanya terjadi pada usia 11 – 13 tahun. Ada sebagian gadis yang merasa malu, ada juga merasa sangat senang.

Di Keraton Jogja ritual tersebut telah dilakukan turun-temurun sejak ratusan tahun, memperingatinya secara khusus dengan upacara adat yang sampai saat ini masih dilakukan. Di luar keraton sudah jarang sekali, hampir punah.

Tarapan kali ini (Tanggal 20 September 2015 yang lalu) untuk menandai menstruasi pertama Raden Ajeng (RA) Artie Ayya Fatimasari, pada usia 12 tahun🙂 …

Sebagai bagian dari melestarikan tradisi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, pasangan Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Wironegoro dan GKR Mangkubumi menggelar upacara Tarapan. Bagaimana prosesi Tarapan itu ?

Upacara adat Tarapan yang merupakan upacara inisiasi haid pertama bagi anak perempuan, di mana seminggu setelah haid anak perempuan disucikan dengan siraman, berhias, dan diakhiri dengan sungkeman (ngabekten).

tarapan2

RA Artie adalah putri pertama pasangan KPH Wironegoro dan GKR Mangkubumi, yang juga cucu dari Raja Keraton Jogjakarta Sri Sultan Hamengku Bawono 10 dan GKR Hemas. Prosesi diawali dengan siraman RA Artie yang dilakukan oleh GKR Hemas yang kemudian dilanjutkan oleh GKR Mangkubumi. Dalam beberapa kali siraman, tampak bagaimana pelajar kelas 5 SD tersebut masih malu-malu.

download (14)

Berkali-kali ia menutupi mukanya saat jepretan kamera mengarah padanya. Gadis bongsor itu juga selalu menggelayut di lengan ibundanya. Hal itu tentu saja mengundang tawa para undangan. ”Maaf ya, anak saya ndak fotogenik ya,” celetuk KPH Wironegoro seusai prosesi siraman kepada para pewarta.

download (15)

Selanjutnya, setelah berganti dengan kebaya hijau dan bawahan batik cokelat, kakak dari Raden Mas Drasthya Wironegoro itu menjalani ritual pemberian ratus pada rambutnya. Rambutnya yang terurai panjang diberikan ratus dupa agar menjadi harum.

download (13)

Setelah itu, proses terakhir yakni sungkem kepada kakek dan neneknya. Gadis manis kelahiran Singapura, 3 Oktober 2003 itu kembali malu-malu, kemudian sungkem kepada kakek dan neneknya yaitu Sultan HB 10 dan GKR Hemas serta kakek dari ayahnya Soedjatmoko.

tarapan4edit1

GKR Mangkubumi menjelaskan, karena putrinya telah menginjak gadis harapannya dia menjadi lebih baik, sopan, dan bisa membantu orang tuanya. ”Memang masih manja, badannya saja bongsor,  apa-apa masih ibunya. Semoga saja selanjutnya bisa menjaga sikap, bisa meneruskan teladan leluhurnya”.

tarapan3

GKR Mangkubumi menjelaskan, prosesi ini sebagai wujud dalam meneruskan budaya leluhur. Upacara ini secara simbolis sebagai wujud syukur atas limpahan dari Tuhan dan meminta restu sesepuh. ”Kita minta doa, semoga diberikan keselamatan dan pengayoman dari eyangnya, leluhur, dan utamanya Tuhan Yang Maha Esa,” ungkapnya

Sebagai pemandu rangkaian prosesi Tarapan, RAy Kusswantiyasningrum mengatakan, RA Artie mengenakan pakaian adat Jawa lengkap dengan pinjung, sampai cinde motif bulat-bulat. Hal itu, menurutnya, melambangkan guyub rukun. ”Agar nantinya dia banyak temannya, dikelilingi orang-orang yang baik”.

Dalam ritual tersebut, juga ada sesaji jarum. Hal itu melambangkan daya ingat yang tajam. Agar anak dapat memiliki kemampuan berpikir yang tajam. Dijelaskan, upacara ini hanya dilakukan sekali setelah masa haid pertama.

Di samping itu, masih ada pethat gunungan nyawiji Gusti, bros peniti renteng, kamus timang budiran, timang kupu-kupu, sangsangan susun dan gelang kono. ”Garis besarnya bertujuan mendekatkan pada Tuhan Yang Maha Esa. Intinya memohon berkah kepada Gusti dan doa restu pinisepuh supaya masa puber, peralihan ke gadis diberi keselamatan. Puber kan banyak godaan, agar masa itu dijauhkan dari perbuatan yang tidak diinginkan”🙂 …

tarapan

Rahayu… rahayu… rahayu…❤

***