bali3

Wanita dapat memilih yang terbaik untuk hidupnya.
Awalnya wanita Bali sering disebut Lugeng.
Lugeng, berasal dari Luweng yang artinya dalam bahasa Jawa adalah wadah yang memiliki lubang kecil, sempit dan tersembunyi.
Luweng kemudian menjadi Luwa (baca Luwe) dan akhirnya kini menjadi Lua atau Luh.
Luwih artinya Lebih, Mulia, Istimewa.

Wanita adalah Wanita Mulia, Wanita yang penuh Cinta kasih sayang, di kerendahan hatinya menarik perhatian, unggul, baik hati, bercahaya, berseri, jernih, indah, istimewa, sehat jiwa & raganya, memiliki sifat kedewataan.

Wanita dalam bahasa Sanskrit; Svanittha, di mana kata Sva artinya “sendiri” dan Nittha artinya “suci”. Jadi Svanittha artinya “mensucikan sendiri” kemudian berkembang menjadi pengertian tentang manusia yang berperan luas dalam Dharma atau “pengamal Dharma”.

Dari sini juga berkembang perkataan Sukla Svanittha yang artinya “bibit” atau janin yang dikandung oleh wanita. Wanita hendaknya diperhatikan sebagai penerus keturunan dan sumber terwujudnya Punarbhava atau re-inkarnasi, sebagai salah satu srada (kepercayaan/ keyakinan).

bali13

Wanita dalam pandangan Hindu Jawa-Bali memiliki peranan yang tidak terpisahkan dengan kaum pria dalam kehidupan masyarakat dari jaman ke jaman.

Sejak awal peradaban Hindu yaitu dari jaman Veda hingga dewasa ini wanita senantiasa memegang peranan penting dalam kehidupan. Hal ini tidak mengherankan bila ditinjau dari konsepsi ajaran agama Hindu dalam Siwa Tattwa yang mengatakan adanya kehidupan makhluk terutama manusia karena perpaduan antara unsur Suklanita dan Swanita. Tanpa swanita tak mungkin ada dunia yang harmonis.  Demikianlah pentingnya kedudukan wanita dalam kehidupan ini.

Dalam kitab Manawadharmasastra disebutkan bahwa antara wanita dan kaum pria diumpamakan sebagai tangan kanan dan tangan kiri yang tidak dapat dipisahkan dalam satu masyarakat yang utuh. Mereka mempunyai kedudukan yang sama namun fungsi dan tugas serta kewajiban yang berbeda sesuai dengan guna karma (kodrat) dan swadharmanya masing- masing.

bali16

❤ MDS.III.55

Pitrbhir bhratrbhic
Caitah patribhir dewaraistatha
Pujya bhusayita wyacca
Bahu kalyanmipsubhih

* Wanita harus dihormati dan disayangi oleh ayahnya
kakak-kakaknya, suami dan ipar iparnya
yang menghendaki kesejahteraan sendiri

❤ MDS.III.56

Yatra naryastumpujyante, Ramante tatra dewatah,
Yatraitastu na pujyante, Sarwastalah kriyah

* Dimana perempuan dihormati
di sanalah para Dewa Dewi merasa senang
tetapi dimana mereka tidak dihormati
tidak ada upacara suci apapun yang akan berpahala

❤ MDS.III.57

Cosanthi jamayo yatrah, Winacyatyacu tatkulam
Na cocanti tu yatraita, Wardhate taddhi sarwada

* Dimana wanita hidup dalam kesedihan
keluarga itu cepat akan hancur
tetapi diamana wanita tidak menderita
keluarga itu selalu bahagia

bali22

❤ MDS.III.58

Jamayo yani gehani, Capantya patri pujitah
Tani krtyahatanewa, Winacyanti samantarah

* Rumah dimana perempuannya tidak dihormati sewajarnya
mengucapkan kata-kata kutukan
keluarga itu akan hancur seluruhnya
seolah olah dihancurkan oleh kekuatan gaib

❤ MDS.IX.33

Ksetrabhuta smrtha nari, Bijabhutah smrtah puman,
Ksetrabija samayogat, Sambhawah sarwadehinam
* Menurut smrti wanita dinyatakan sebagai benih (bibit),
terjadinya jazad badaniah yang hidup
terjadi karena hubungan antara tanah dengan benih (bibit)
* Wanita diumpamakan sebagai bumi (tanah) dan laki-laki (pria) disamakan dengan bibit. Antara bumi atau tanah dengan bibit mempunyai kedudukan dan peranan yang sama untuk menentukan segala kehidupan. Melalui pertemuan antara benih dengan bumi terciptanya kelahiran dan kehidupan.

❤ MDS.IX.96

Prajanartha striyah srstah, Samtnartham ca manawah
Tasmat sadharanu dharmah, Crutau patnya sahadita
* Untuk menjadi ibu – wanita diciptatakan
dan untuk menjadi ayah – laki laki diciptakan,
karena itu upacara kaagamaan ditetapkan dalam veda
untuk dilaksanakan oleh suami (pria) bersama istri (wanita)

❤ MDS.IX.130

Yathaiwatma tatha putrah, Putrena duhita soma,
Tasyamatmani tisthamtayam, Kathamanyo dhanam haret
* Seorang anak sama dengan dirinya (orang tuanya)
sebagaimana seorang anak perempuan (wanita) sama dengan anak laki-laki, sebagaimana mungkin sebagai ahli waris memperoleh bagian harta warisan, menghormati anak perempuan.
Dalam sloka ini dapat dijelaskan bahwa seorang anak laki-laki maupun perempuan adalah sama yaitu bahwa anaknya itu jika dibandingkan dengan dirinya tidak berbeda antara yang satu dengan yang lain, sama hak warisnya.

bali15

❤ MDS.IX.133

Pautra daushitrayor loke, Na wiceso’sti dharmatah
Tayorhi mata pitarau, Sambhutau tasya dehitah
* Tidak ada perbedaan antara anak laki-laki dengan anak perempuan (wanita) yang diangkat statusnya, baik yang berhubungan dengan masalah duniawi ataupun masalah kewajiban suci karena bagi ayah dan ibu mereka keduanya lahir dari badan orang yang sama.
* Baik yang berhubungan dengan masalah duniawi maupun terhadap kewajiban spirituil, sama saja tugas yang harus dijalankan oleh seorang putri dan putra. Kewajiban spirituil atau kewajiban suci yaitu kewajiban yang dilakukan sesuai menurut kitab suci Weda.

❤ MDS.IX.139

Pautra dauhitrayor loke, Wiceso nopapadeyate
Dauhitro’pi hyamutrainam, Samtarayoti pautrawat
* Antara cucu anak laki-laki dan cucu anak perempuan yang ada di dunia ini tidak ada perbedaan, karena cucu laki-laki dari anak perempuan menyelamatkannya (yang tidak punya turunan) di dunia yang akan datang.

dan dalam Sloka Sarasamuscaya

❤ Na gantavyah sarvavarnesu karkicit,

Na hidrsamanayusyam yathanyastrinisevanam (SS.VI.153)
diterjemahkan:

*Menggoda-memperkosa wanita, sengaja usaha curang, jangan dilakukan;
pun jangan melakukan segala sesuatu yang berakibat umur pendek.
Akibat lain dari kebiasaan melakukan tindakan kekerasan (krurakarma) terhadap seseorang, maka kelak ia akan menjelma menjadi orang penuh dosa, penyakitan, penjahat, suka membunuh, dan pendek umur seperti dinyatakan dalam sloka berikut:

Davskula vyadhibahula dasacarah prahasinah, Bhavantyalpayusah papa roduka kasmalodayat (SS.148)

*Jangan pernah kita memberi penilaian yang merendahkan wanita, namun sebaliknya wanita sebagai wadah dimana kehidupan, kemuliaan, dan kemajuan tercipta.

***