Di usia senjanya Majapahit bukan lagi sang surya yang memancarkan kebesaran dan keagungan bagi manusia. Surya Majapahit telah tenggelam ke dasar samudera kejahilan.

Kebesaran, keagungan, kemuliaan dan kehormatan yang pernah menjadi kebanggaan tiba-tiba berubah asing dan tak dikenal lagi. Kesucian dan keluhuran yang pernah menjadi dambaan tiba-tiba lenyap bagai tertelan bumi.

Kutaramanawa Dharmashastra
download (18)Kitab perundang-undangan hukum Majapahit – yang selama beratus tahun dijunjung sebagai hukum suci telah menjadi lembaran-lembaran keropos tidak berharga. Aparat penegak hukum seperti hakim (pamegat), jaksa (adyaksa), penasehat hukum (panji), dan pengawal hukum (bhayangkara) telah menganggap nilai-nilai luhur keadilan yang menjiwai kutara-manawa tidak lebih dari barang dagangan yang murah. Bagaikan pedagang kecil menjajakan dagangan di pasar, mereka berkeliling menawar-nawarkan pasal-pasal hukum dengan harga murah.

Akibat nilai-nilai luhur keadilan kutaramanawa sudah diinjak-injak, dikencingi dan diberaki oleh para aparat penegak hukum, kehidupan manusia pun di berlangsung tanpa ditandai rambu-rambu dan aturan. Akibatnya, ketertiban, keamanan, ketentraman, dan kedamaian menghilang dari permukaan bumi. Sebuah tindak kejahatan tidak lagi dianggap sebagai kejahatan jika pelaku kejahatan dapat membayar aparat penegak hukum.

Majapahit12

Hukum berlaku hanya bagi kawulo alit yang bodoh dan miskin. Para ningrat, darah biru dan saudagar kaya berjalan melenggang di atas permadani ketidakbersalahan. Karena nilai-nilau luhur hukum kutaramanawa telah menjadi barang dagangan yang memperkaya para aparat penegaknya, dan sebaliknya hukum menjadi malapetaka bagi kawula miskin yang hina dan papa, akhirnya lahir hukum jalanan yang diprakarsai kawula alit yang lebih kejam dari pasal-pasal kutaramanawa.

Coreng-coreng kehidupan Majapahit di usia senjanya tidak hanya mengubah citra agung dan luhur manusia menjadi keropos dan busuk, bahkan telah pula menjelma citra suci dan mulia ajaran agama menjadi wajah-wajah hantu yang menakutkan. Citra Syiwa-Buda yang luhur mulia yang selama beratus tahun memancar gemilang menerangi kebesaran dan keagungan Majapahit telah meredup dan tenggelam. Kejernihan Syiwa-Buda telah keruh bercampur lumpur klenik kalangan jelata sehingga sulit dikenali lagi. Kemudia muncul wajah baru, agama roh dan hantu yang rendah dan penuh dilingkari kepercayaan kalangan jelata yang sarat ‘Gegwantuhuwan’ (Jawa kuno: takhayul) menyesatkan. Pengetahuan Brahma (Brahmajnana) yang tinggi dan mulia, yang selama ratusan tahun menjadi ajaran keyakinan rahasia di perguruan-perguruan luhur Majapahit, telah pudar dan kehilangan makna.

Sebagai gantinya, muncul ajaran rendah kalangan jelata yang menyeret manusia pada pengingkaran terhadap kemuliaan manusia sebagai pengejawantahan Brahm-man. Tantra-sadhana yang selama ratusan tahun diyakini memiliki tujuan utama mencapai kesempurnaan (siddhi) telah kabur dan menyeleweng jauh. Yang kemudian dikenal sebagai penggantinya adalah ajaran-ajaran olah kanuragan yang hanya mengajarkan kesaktian dan kedigdayaan yang dangkal, yakni ajaran yang memerangkap manusia pada sifat adigung-adigang, sapa sira-sapa ingsun. Upacara ‘Pancamakara’ yang sakral dan rahasia tiba-tiba menjelma dalam bentuk bhairawa-bhairawi haus darah yang gemar menyantap wadal, tumbal dan mayat.

images (47)

Relief penobatan Raden Hayam Wuruk menjadi Raja Majapahit

Di ujung usia senjanya Majapahit benar-benar menjadi negara yang tidak berdaya, keropos, berkarat, busuk dan bejat. manusia-manusia yang membusuk di kerajaan tua itu bukan hanya mereka yang menjadi naya-kapraja, melainkan mereka yang disebut pemuka agama pun ikut membusuk akibat mengikuti nilai-nilai rendah kalangan jelata yang bertentangan dengan kebenaran, akal sehat, kemuliaan dan keadilan. Ibarat sepotong-potong yang diganyang kawanan ulat ganas, Majapit perlahan-lahan tetapi pasti telah meranggas, keropos, membusuk dan akan tumbang di gerogoti jaman.

Menurut guru adiraja di Terung (Magetan), Kekuasan Majapahit mulai terasa melemah ketika memasuki usia hampir dua abad. Hal itu di awali oleh rangkaian panjang yang sambung-menyambung dan susul menyusul dari peristiwa perebutan takhta penuh warna kekerasan dan pertumpahan darah, laksana guncangan gempa yang merobohkan tiang-tiang penyangga kerajaan yang sudah dalam sekejap.

Guncangan dahsyat yang awal sekali melanda Majapahit adalah saat terjadi pertempuran antara Bhre Wirabumi, putera Prabu Hayam Wuruk dari selir yang menjadi penguasa Blambangan, dan Prabu Wikrawarddhana, menantu Prabu Hayam Wuruk. Perang perebutan takhta itu berlarut-larut dengan tempo lamban, bergerak maju dan berhenti, kemudian maju lagi (Jawa kuno: paregreg). Perang Paregreg inilah yang telah menguras kekuatan Majapahit dan perlahan-lahan meruntuhkan tiang-tiang penyangganya ke jurang kebinasaan.

download (19)

Guncangan susulan terjadi saat Bhre Daha, putera Bhre Wirabhumi, mengangkat senjata hendak merebut takhta dari tangan Prabu Stri Suhita. Kekuatan Bhre Daha ditumpas oleh Ario Damar, putera Dyah Kertawijaya, adik tiri Prabu Stri Suhita. Namun baru saja gerakan maker Bhre Daha ditumpas, Pasunggiri mengangkat senjata. Pasunggiripun ditumpas oleh Ario Damar. Belum dingin api pergolakan di Pasunggiri, tiba-tiba kerajaan Gegel di Bali bergolak mengangkat senjata. Lagi-lagi Ario Damar berhasil menumpasnya.

Kemunculan Ario Damar ke pentas sejarah Majapahit membangkitkan rasa takut sejumlah kerabat kerajaan yang berambisi menduduki takhta. Mereka bersekongkol mempengaruhi Prabu Stri Suhita agar menjauhkan Ario Damar dari ibu kota. Akhirnya, persekongkolan itu berhasil. Ario Damar dijauhkan dari ibu kota Majapahit dengan dalih diangkat menjadi adipati Palembang – yang sudah dikuasai para petualang Cina – ke pangkuan Majapahit.

Keberadaan Ario Damar yang jauh dari ibu kota itu, diakui atau tidak, telah menjadikan Majapahit kehilangan salah satu penyangganya.

download (21)

Sesungguhnya, tenggara bakal terjadi yang lebih dahsyat di Majapahit sudah sejak awal ditangkap oleh para bijak bestari. Menurut mereka, selama berkuasa Prabu Stri Suhita lebih banyak berperan sebagai boneka bagi Bhre Parameswara, suaminya. Prabu Stri Suhita hampir tidak pernah menunjukkan keberadaan dirinya kepada dunia sebagai Maharaja agung majapahit yang sebenarnya. Dia hanya menjadi  bayang-bayang dari suaminya. Padahal Bhre Parameswara bukanlah orang yang cerdas apalagi bijaksana. Hari-hari dari rentang kehidupan Bhre parameswara lebih banyak diwarnai kemewahan, sanjungan dan penumpukan kekayaan.

Akibat kegemaran Bhre Parameswara menikmati kemewahan, sanjungan dan menumpuk kekayaan, berkerumunlah di sekitarnya para penjilat berakhlak bejat dan berjiwa bobrok. Bhre Parameswara yang bertubuh tambun dan berperut buncit telah menjadi tak lebih berharga daripada sebongkah bangkai busuk yang dikerumuni lalat-lalat menjijikkan.

Bagi Bhre Parameswara dan begundal-begundalnya, nilai kesetiaan, kejujuran, keteguhan, kesederhanaan dan keberanian tidak lagi dijadikan ukuran utama untuk menilai keberadaan seorang abdi negara. Mereka yang paling pintar menyanjung, menjilat dan menyenangkan hati atasan itulah abdi negara yang dinilai terbaik dan terkasih.

images (52)

Di tengah hiruk keadaan yang menyedihkan itu, tersingkirlah satu demi satu kerabat kerajaan dan pejabat-pejabat unggul berjiwa luhur dan setia. Sebagai ganti, tampil pejabat-pejabat dari kalangan ornag kebanyakan yang pintar menjilat dan piawai menyediakan kemewahan bagi atasan. Manusia-manusia unggul seperti Ratu Angabhaya Bhre Nurapati dihukum mati. Mahapatih Kanaka yang berwawasan luas dan berpandangan jauh kedepan dipensiun mendadak. Ario damar, sang pahlawan perang yang tangguh dan tak terkalahkan disingkirkan jauh-jauh dari ibukota.

Kebijakan menyingkirkan manusia-manusia unggul untuk diganti dengan orang kebanyakan yang mencitrai kekuasaan Prabu Stri Suhita itu, sekali lagi disadari atau tidak telah mengakibatkan merosotnya wibawa pemerintah.

Pejabat-pejabat yang berasal dari kalangan penjilat dan menyanjung itu umumnya manusia berjiwa kerdil yang tidak cerdas, sempit wawasan dan picik pandangan. Mereka memang orang-orang yang patuh, setia dan selalu menyenangkan atasan, namun mereka bukanlah orang-orang yang berjiwa besar yang memahami makna kebesaran, keagungan dan kemuliaan.

download

(Sumber Tulisan: Suluk Sang Pembaharu. liberty.co.id 1-10 maret 2016)

***