Di TV News Asia Channel ditayangkan Taiwan Geger Gender Keputusan Pemerintahnya mengurangi dari 6 jam menjadi 4 jam/minggu mapel Matematik di Dikdasmennya!

Protespun datang dari mana-mana dengan alasan akan menurunkan daya saing Taiwan dalam Teknologi dunia.

Solusinya sepertinya akan mirip Indonesia ada SMP-A dan B dan SMA-A,B dan C th ’50 an dulu. Mereka mengeluhkan mapel Math jadi jauh tertinggal dari AS, Jerman dan negara-negara Eropa dan Asia lainnya.

images (40)

kira-kira kenapa ya anggota DPR Taiwan kok mempermasalahkan atau mengurangi 2 jam pada mata pelajaran matematikanya?… Mengko gek ndang koyo wakil rakyat negri kurawa raya, golek proyek wae?… he he he…

Salut atas perhatian warga Taiwan untuk kemajuan iptek di negaranya.

Lalu bagaimana dengan wajah sistem pendidikan di negri kita?

Kalau di Taiwan geger karena jam mata pelajaran matematikanya akan di kurangi, maka kualitas pendidikan di Indonesia masih berkutat masalah (maaf) selakangan?…

http://regional.kompas.com/read/2013/08/20/1259325/MUI.Tes.Keperawanan.Perlu.Masuk.Undang-undang

Adalah MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang getol menyuarakan aspirasinya untuk perlunya tes keperawanan masuk undang-undang kurikulum pendidikan di Indonesia bagi calon siswi untuk masuk sekolah.

Jika hal ini benar-benar di lakukan, tentu sangat menampar wajah sistem pendidikan di negri kita, di mana kualitas moral dan pendidikan di tentukan oleh ‘Status Keperawanan’.

Hmmm, kapan ya negri kita mau ‘usreg’ jika menyangkut kualitas pendidikannya?… Indonesia kok ndak kuwatir apa-apa dalam segala lini persaingan global.

download (13)

Turut prihatin, alangkah sangat tidak manusiawinya test ‘keperawanan’ ini. Terketuk hati melihat keadaan carut marut bangsa ini, maka sayapun menuangkannya dalam bentuk artikel.

Berikut cuplikan tulisan saya mengenai ‘kontroversi test keperawanan’ tiga tahun silam, untuk selengkapnya :

https://bungalowbidadari.wordpress.com/2013/08/31/memecahkan-mitos-keperawanan/

Heboh wacana test keperawanan untuk bisa masuk ke sebuah jenjang pendidikan yang di lontarkan oleh seorang Bupati dan MUI di suatu daerah dengan dalih untuk melindungi masa depan generasi bangsa belum lama ini, membuat miris dan menggemparkan dunia pendidikan, tak sedikit yang turut ber-pro dan kontra.

Sekalipun Menteri Pendidikan sudah menyatakan melarang test keperawanan, tapi ini merupakan fenomena gunung es dalam budaya patriarki masyarakat kita yang masih salah kaprah serta cenderung emosional dalam menjustifikasi moral keperawanan.

Hmmm, ketika negara lain kian melaju dengan menjunjung tinggi hak asasi dan meraih berbagai prestasi, sementara di negara kita malah kian tersungkur dengan sibuk mengurus selangkangan dan keperawanan orang lain…

Sebenarnya satu hal yang sangat relevan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas masa depan generasi bangsa yang berkaitan dengan isu/ hal seputar kesehatan kelamin adalah pendidikan sex yang baik dan benar sejak dini, yaitu membekali mereka bagaimana cara menjaga dan merawat kesehatan reproduksi, dan yang terlebih penting adalah:

1. Pecahkan MITOS keperawanan itu, karena selaput darah yang setipis kulit ari itu bisa saja tersobek/terkelupas sendiri karena banyak beraktivitas dan kalaupun ia masih ada dan utuh, ia tak mutlak harus mengeluarkan darah pada saat pertama kali berhubungan badan, karena ia juga bisa bersifat elastis.

2. Sex itu privasi, secara moral, urusan sekolah dan belajar itu urusan masa depannya, kalau virginity itu urusan privasinya.

Penerapan pendidikan budi pekerti itu contoh aplikasinya antara lain menghargai cinta sejati, tepo sliro bisa membedakan antara privasi sebagai hak normatif dan individu sebagai hak prerogative akan bisa menjembatani bias sosial, juga toleransi saling menghormati dan welas asih harus di tanamkan sejak dini tidak hanya di lingkungan sekolah, tetapi juga di masyarakat dan negara.

3. Untuk lebih meningkatkan kualitas masa depan generasi bangsa terutama perempuan adalah dengan vaksin anti kanker serviks sejak dini, itu lebih real. indonesia sudah punya wacana itu, bahwa semua remaja yang mulai berumur 14 th harus di suntik vaksinasi dan semua itu gratis seperti halnya vaksin polio yang di berikan cuma2 agar semua anak indonesia bebas polio di masa depan.

Semoga kita bisa lebih cerdas dan bijaksana sekaligus bisa santun dalam mendidik dan melindungi generasi bangsa:)

~ Rahayu ~

***