Pamuji rahayu,

Rabu Pon, 22 Juni 2016, di puncak situs Watu Ireng, Desa Lambur Kecamatan Kandangsarang, Kabupaten Pekalongan yang dikenal masyarakat sekitar sebagai batu terbesar di dunia ini menjadi lokasi peringatan Tahun Baru Nusantara (Hari Raya Nusantara) 1 Kasa 2927. Acara yang diprakarsai oleh Paguyuban Kawruh Jawa Jawata Pusat Pekalongan ini diikuti sekitar 150 peserta, perwakilan dari penganut kepercayaan dan pemeluk agama di penjuru nusantara.

Ini merupakan tahun ke dua kita memperingati Tahun Baru Nusantara di puncak Watu Ireng sebagai Hari Raya Nusantara, dan kali ini peserta dan tamu undangan lebih banyak dibandingkan tahun lalu, jelas KRT. Asworo Palguno Hastungkoro, Ketua Paguyuban Kawruh Jawa Jawata.

warsa4

Tahun baru 1 Kasa selalu diperingati setiap tanggal 22 Juni. Hal ini bisa disimpulkan bahwa penanggalan ini termasuk dalam sistem kalender solar/kalender syamsiah/kalender surya/kalender matahari, sistem penanggalan yang didasarkan atas revolusi bumi mengelilingi matahari. Secara fisika satu tahun surya adalah unit relatif waktu sebuah planet mengitari matahari. Satu tahun biasa dibagi menjadi bulan dan hari. Planet bumi mengitari Matahari dalam waktu satu tahun. Kalender ini dipercaya lebih tua dibandingkan dengan beberapa sistem kalender lainnya, seperti masehi, hijriyah, saka jawa, caka bali, bahkan kalender china (imlek) yang saat ini berada di tahun 2567.

Diperingati sebagai Hari Raya Nusantara, tahun baru 1 Kasa ini bertepatan dengan posisi matahari berada pada paling utara wilayah nusantara yaitu kisaran 23.5 derajat lintang utara. Dalam kepercayaan masyarakat nusantara hal ini dijadikan sebagai pedoman dalam aturan kehidupan, misalnya pada tata cara pemakaman dimana meletakkan bagian kepala pada arah utara. Tata cara ini juga diikuti oleh beberapa agama yang ada di negara kita, lanjut Asworo Palguno.

warsa2

Sebelum acara dimulai, di puncak situs Watu Ireng ini digelar Upacara Perkawinan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa oleh Paguyuban Kejawen Maneges. Upacara ini dipimpin oleh KRT. Rosa Mulya Aji, ST. sebagai pemuka penghayat kepercayaan.

Peringatan Hari Raya Nusantara dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Dilanjutkan dengan pembacaan teks Pancasila, dan Puja Brata Tanggap Warsa. Setelah makan tumpeng bersama kemudian dilanjutkan dengan beberapa sambutan dan diakhiri menyanyikan lagu Bagimu Negeri.

warsa

Pada acara ini juga dibacakan “Tahun – Tahun Penting Sejarah Bangsa Jawa” oleh KRT. Dr. Purwo Susongko, M.Pd, dosen UPS Tegal. Tahun penting ini terhitung sejak tahun 230 SM yang menjelaskan tentang seseorang yang bernama Ki Sentang yang mempunyai kepercayaan sebagai agama Jawa dimana mempunyai dasar percaya terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbasis pada budi pekerti luhur. Perkembangan kerajaan – kerajaan di nusantara, khususnya di tanah jawa ini membuat bangsa jawa semakin mengalami penurunan dalam hal berkeyakinan kejawaannya. Keadaan ini sangat drastis setelah kehancuran kerajaan Majapahit saat dipimpin oleh Brawijaya V yang diserang oleh putranya sendiri Raden Patah dari kerajaan Islam Demak. Dari perjalanan yang dibacakan menerangkan bahwa bangsa jawa semakin kesini semakin hilang identitas kejawaannya dalam hal beragama jawa.

Hadir juga sebagai tamu undangan pada acara ini, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah yang diwakili oleh Kasi Nilai Budaya, Bidang Nilai Budaya, Seni dan Film, Eny Haryanti, S.Pd, M.Pd. Dalam sambutannya, secara umum Pemerintah Provinsi Jawa Tengah senantiasa mendukung acara seperti ini sebagai upaya pelestarian dan pengembangan budaya asli peninggalan leluhur. Harapannya dalam waktu yang akan datang bisa dikemas lagi dengan lebih menarik khususnya bagi generasi muda agar ikut berperan serta dalam pelestarian tradisi dan budaya asli nusantara.

Watu Ireng

warsa7

Sebagian dari kita, pasti sudah pernah mendengar bukit ‘Ayers Rock’ di Australia, sebuah bukit batu monolith yang konon terbesar di dunia. Atau Bukit ‘Kelam’ yang berada dikota Sintang, Kalimantan Barat yang konon juga dikatakan sebagai batu monolit terbesar di dunia, Monolit ialah batu tunggal yang berukuran besar. Ternyata Jenis batu ini juga ada di Pekalongan, masyarakat sekitar bukit batu ini, menamainya dengan Watu Ireng (Batu Hitam).

warsa3

Watu Ireng terletak di desa Lambur, Kandangserang, Kabupaten Pekalongan. Sebuah daerah perbukitan lereng Rogojembangan. Daerah ini terletak sekitar 20 Kilometer dari Kajen, ibu kota Kabupaten Pekalongan. Bukit Watu ireng ini lumayan luas, kira-kira sekitar 2 hektar lebih, dan ketinggiannya memungkinkan hamparan perkebunan dan hutan hijau Pekalongan bagian selatan akan terlihat jelas oleh pandangan mata. Seperti batu monolith lainnya, bukit seluas 2 hektar ini terdiri dari batu tunggal yang padat, batunya berwarna hitam dan sangat keras.

http://www.7jiwanusantara.com/2016/06/peringatan-hari-raya-nusantara-tahun.html?spref=fb

Rahayu 3x❤

***