Pawiyatan Kabudayan Karaton Surakarta Hadiningrat (Pendidikan Budaya Keraton Surakarta).

keraton7

Mungkin bagi sebagian kita masih merasa asing terhadap istilah tersebut, karena istilah tersebut merupakan Bahasa Jawa.

Pawiyatan meniko artinipun ‘Tempat Belajar’, saking ‘Wiyata’ tegesipun ‘Piwulang/Pawulang’=’Piwulangan/Pawulangan’.

Pawiyatan Kabudayan Karaton Surakarta Hadiningrat merupakan salah satu sumber budaya Jawa, satu-satunya yang ada di Indonesia. Pawiyatan Kabudayan Karaton Surakarta Hadiningrat sebenarnya mempunyai 2 cabang di tempat lain yaitu Tulung Agung dan Semarang. Pawiyatan Kabudayan Karaton Surakarta Hadiningrat merupakan salah satu lembaga non formal yang berbasis budaya Jawa yang didirikan oleh Keraton Surakarta. Seperti halnya pendidikan non formal lain, Pawiyatan Kabudayan Karaton Surakarta Hadiningrat mengajarkan budaya-semua budaya Jawa selama 6 bulan.

Para peserta pada umumnya atas dasar kesadaran diri sendiri untuk mengikuti kegiatan tersebut. Para peserta mulai dari mahasiswa, pegawai pemerintahan, TNI, Polri atau masyarakat umum. Mereka datang / mengikuti pendidikan budaya Jawa ini rata-rata atas dasar kesadaran diri sendiri dengan pertimbangan sebagai upaya untuk melestarikan budaya Jawa. Setiap angkatan rata-rata jumlah peserta sekitar 60 orang.

keraton9

Dalam pelaksanaan pembelajaranpun kita telah dibiasakan dengan adat budaya-budaya Jawa. Semua di setting layaknya kita hidup di jaman keratin jaman dahulu. Dalam pembelajaranpun kita berada pada sebuah pendopo yang dinamakan Bangsal Mercukundho. Tempat duduknyapun cukup dengan lesehan / bersila dengan meja rendah untuk menulis. Lagu – lagu Jawa pun selalu lirih mengiringi pembelajaran. Sedangkan pemateri / dwijo menggunakan baju layaknya abdi dalem keraton sesuai dengan jabatannya masing-masing. Bahasa yang digunakan dalam pembelajaranpun menggunakan bahasa Jawa khas keraton. Dalam pelaksanaannya, pendidikan ini hanya khusus menitik beratkan pada budaya Jawa. Pihak pengelola sendiri telah menetapkan kurikulum dalam pendidikan ini. Adapun kurikulum atau muatan dalam pembelajaran ini antara lain mengajarkan :

1. Kabudayan Jawi (Budaya Jawa),
2. Basa Jawi (Bahasa Jawa),
3. Tatakrama – Kasusilan / Subasita (Tatakrama – Kesusilaan),
4. Kawruh Gendhing (Pengetahuan tentang lagu (Jawa)),
5. Kawruh Beksan (Pengetahuan tentang pra pernikahan),
6. Pancasila,
7. Seratan Jawi (Tulisan Jawa),
8. Tatabusana Jawi (Tatabusana Jawa),
9. Tatacara & Upacara Manton (Tatacara & piranti / hal-hal yang dibutuhkan dalam pernikahan),
10. Gladhen Hamicara (Latihan Berbicara (Dalam Bahasa Jawa),
11. Gladen Macapat (Latihan Menyanyi (Bahasa Jawa).

Dari semua materi yang telah ditentukan tersebut terdiri dari 30 SKS atau sekitar 150 jam (1 SKS = 5 Jam pembelajaran) untuk kurun waktu 6 bulan. Dari 150 jam pembelajaran ini dibagi menjadi 2 yaitu sesuluh (teori) 55 jam dan gladhen tumindak (praktek) selama 95 jam. Adapun misi utama dalam pelaksanaan pendidikan budaya Jawa yang didirikan oleh Keraton Surakarta ini adalah mencetak generasi yang berbudaya Jawa atau “pambiworo ingkang hajiwo budoyo Jawi”.

Mengabdi Tanpa Pamrih ala Guru Pawiyatan

solo2

KP Winarno Kusumo: Menjaga Budaya Kraton

Tempat pendidikan ini khusus, maka gurunya juga khusus. Sekhusus tekad mereka bekerja tanpa pamrih. Jangankan sertifikasi, gaji pun tak mereka pikirkan. Semua hanya demi tetap tegak dan lestarinya kebudayaan Jawa.

Sanggar Pawiyatan Pambiwara, Yayasan Pawiyatan Kabudayan Keraton Surakarta ini adalah lembaga pendidikan milik keraton pencetak pambiwara atau pembawa acara Jawa. Didirikan sejak tahun 1993, tempatnya di Bangsal Marcukundha. Hingga sekarang, sanggar tersebut masih tetap eksis. Bahkan bisa dikatakan mengalami peningkatan dengan terus meningkatnya jumlah siswanya.

”Sesuai namanya, spirit dari lembaga pendidikan ini untuk menghasilkan pambiwara yang memiliki jiwa budaya (Jawa),” ujar Kanjeng Pangeran Raditya Lintang Sasongka, pimpinan (pangarsa) sanggar.

Salah satu hal menarik dari lembaga pendidikan tersebut adalah dengan keberadaan para pengajarnya. Mereka sebagian besar adalah abdidalem keraton. Uniknya, sebagian besar dari mereka tak memiliki dasar pendidikan formal keguruan. Meski demikian, jangan lantas menganggap itu sebagai kendala. Justru sebaliknya, tanpa latar pendidikan keguruan mereka tetap bisa mengajar dengan baik dan juga berkualitas.

Mereka para dwija di pawiyatan ini memang orang-orang khusus. Kemampuan mereka yang khusus dibutuhkan karena pawiyatan ini memang berbeda dari lembaga pendidikan pada umumnya.

solo

Kekhususan sanggar pawiyatan tersebut sebagai lembaga pendidikan bisa ditengarai dari materi pelajaran-nya. Di antaranya Tata Hamicara, Tatacara Upacara, Tata Busana, Tata Gending, Tata Beksa, Tembang Jawa, Aksara Jawa, Paes dan Tata Susila. Dari pelajaran tersebut, siswa diberikan pendidikan tentang bagaimana cara berbicara, cara tentang acara adat, cara berpakaian adat Jawa, pengetahuan tentang gending Jawa, pengetahuan tentang tari Jawa, tembang Jawa, aksara Jawa, paes dan sopan santun adat Jawa.

Para muridnya tidak duduk di bangku sebagaimana di sekolah mengajar. Tapi mereka justru duduk lesehan. Atau ketika dwija menghendaki ganti pelajaran tembang di Bangsal Smarakata, para siswa melakukan kegiatan belajar dengan berdiri. Kebetulan saat itu tembang yang diajarkan untuk kegiatan panembrama.  Sehingga proses belajar mengajarnya dilakukan dengan cara yang demikian.

Para guru juga harus taat dengan kalender pendidikan yang ada. Proses belajar selama enam bulan, lalu harus memberlakukan ujian kepada para siswa. Untuk ujian itu kami menyebutnya dengan pendadaran. Ada pendadaran sinerat (tertulis) dan ada pendadaran tumindak (praktik).

Sumber : 

http://www.kompasiana.com/tarn2007/pawiyatan-kabudayan-karaton-surakarta-hadiningrat_551ad26aa33311c120b659d7

http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/mengabdi-tanpa-pamrih-ala-guru-pawiyatan/

solo1

Alamat Yayasan Pawiyatan Kebudayaan Kraton Surakarta

Jl. Kamandungan Kraton, Kp Baru, Pasar Kliwon, Solo 57111.

Telepon : 0271 654286

Apakah kita tertarik? Sudah sewajarnya jika kita harus berfikir ulang, siapakah yang akan melestarikan budaya kita sendiri kalau bukan kita sendiri. Apakah kita akan rela jika budaya kita di ambil alih oleh pihak lain. Sesekali kita perlu merenungkan hal ini. Apakah yang telah saya perbuat, selain kita marah-marah terhadap pihak lain yang mencaplok budaya kita?

❤❤❤

***