nakula

“Menjadi seorag Raja atau seorang Pemimpin itu sebenarnya tidaklah mudah tetapi juga tidak sulit. Tetapi ibarat orang yang hendak bepergian, ia haruslah membawa bekal yang cukup. Bila selayaknya orang yang bepergian dengan arti yang sebenarnya, cukuplah dengan bekal uang dan barang barang tertentu. Tetapi bila berbicara mengenai bekal bagi orang yang hendak menjadi pemimpin negara, haruslah kamu berdua memiliki sedikitnya empat hal yang harus kamu berdua kuasai”.

“Uwa Prabu, kami akan mendengarkan segala petuah yang hendak paduka berikan kepada kami berdua”, keduanya mengatakan kesanggupannya.

Pertama, pujilah Asma yang Maha Agung atas kekuasaannya terhadap alam semesta. Mengertilah, bila kamu menjumpai sesuatu yang ada, pastilah ada yang menciptakan. Pencipta itu langgeng namun yang diciptakan akan rusak atau berganti oleh berlalunya waktu. Ikuti perubahan yang terjadi dan janganlah tetap tinggal dalam sesuatu yang tidak langgeng. Bergeraklah dalam perubahan bila tidak ingin terlindas oleh perubahan itu. Maka benarlah sebagian orang mengatakan perubahan itulah, langgeng yang sebenarnya”.

Kedua, lakukan tata cara bersembah, menurut tata cara yang telah digariskan atas kepercayaan masing masing. Jangan pernah memaksa tata cara dan kepercayaan lain yang sudah mereka anggap benar. Tetapi tegakkan terlebih dulu tata cara bersembah yang telah menjadi kepercayaanmu itu. Dan hendaknya kamu berdua jangan mengatur segala hal mengenai kepercayaan secara resmi dalam negara. Dengan keresmian pembentukan wadah kepercayaan kepada yang Maha Tunggal oleh negara, ini akan mengakibatkan kapercayaan yang telah terbentuk oleh negara akan menguasai dan bertindak sewenang wenang atas kepercayaan kelompok kepercayaan kecil yang lain. Awasi saja agar kepercayaan itu tumbuh dengan kewajaran dalam jalur yang lurus, tidak saling mengalahkan atas kebenaran menurut kepercayaan masing masing. Ciptakan kebebasan terhadap setiap pribadi dalam menentukan kepercayaan yang dipilih. Katakan kepada setiap pribadi dan golongan, jangan kalimat dalam kitab suci mereka dipahami secara sempit, hingga mereka terkungkung oleh langit yang mereka ciptakan sendiri dari ajaran yang dianut”.

Ketiga, pahami kebenaran sejati. Jangan pernah menyalahkan kebenaran yang dianut orang lain dan jangan menyalahkan juga kebenaran yang sudah menjadi kepercayaanmu sendiri. Bila kamu senang menyalahkan kebenaran yang dianut orang lain apalagi kelewat mengatakan kepada pihak lain, bahwa kebenaran yang paling benar adalah kebenaran yang kau anut, maka mereka yang kau katai akan kembali menyalahkan kebenaran yang kau anut. Tentu kamu sudah tahu apa akibatnya”.

“Bila itu yang kau lakukan, maka kamu sudah bersifat Adigang, Adigung dan Adiguna. Sifat yang dimiliki oleh watak tiga binatang, yaitu; Adigang, sifat atau watak kijang, Adigung, watak seekor gajah dan Adiguna watak ular. Kijang yang menyombongkan dirinya dengan mengandalkan kecepatan larinya. Gajah yang mengandalkan dirinya yang paling besar dan kuat, sedangkan ular yang sombong mengandalkan bisa atau racunnya yang mematikan. Bila sifat itu yang kamu majukan dalam menata negara, itu seperti halnya kamu tidak akan dapat menata negara dengan berlandaskan rasa keadilan. Keadilan yang sebenar benarnya adil dan dapat dirasakan oleh orang banyak adalah, tetaplah dalam perilaku yang berlapang dada terhadap perbedaan dan mengertilah akan rasa peri kemanusiaan”.

Dan keempat, tetaplah selalu mencari ilmu dan pengetahuan yang selalu baru. Bisalah kamu berdua menyatukan antara ilmu dan pengetahuan. Orang yang menguasai ilmu itu sebenarnya bagaikan manusia yang berjalan dalam pekat malam namun diterangi dengan sinaran yang cukup terang, atau orang yang berjalan dalam licin namun ia bertongkat. Dan ilmu itu sejatinya berkuasa mengurai sesuatu barang atau keadaan yang kusut. Ilmu itu harus kamu jalankan atas landasan budi pekerti yang luhur. Orang yang berilmu dan berpengetahuan tinggi, akan menghancurkan sesamanya bila tidak berjalan diatas landasan budi pekerti yang luhur. Sebaliknya perilaku luhur budi yang didorong oleh ilmu pengetahuan akan menciptakan tata dunia yang tentram tertib dan adil”.

nakula1
Nakula dan Sadewa yang mendengarkan petuah uwaknya tetap ditempat bagai terpaku pada lantai sanggar. Keduanya hanya duduk tertunduk dan mengangguk kecil bila sang uwak memandangnya menanyakan apakah mereka memahami apa yang dikatakannya.

❤ ❤ ❤

Advertisements