Oleh: Edy Pekalongan

KITAB TRISULA ; Benar, Lurus, Jujur

Kitab ini ditulis pada masa Jawa kuna, dimana seorang Raja yang bernama Kertanegara dari Kerajaan Singhasari, saat ini letaknya di Provinsi Jawa Timur, Sang Prabu sudah punya visi tentang menyatukan Nusantara agar bisa membentengi Jawa dari serangan Mongolia. Jika Kubilai Khan di daratan China mendalami Anuttara Yoga Tantra aliran Heruka Chakra atau Ibu Tantra. Maka Raja Kertanegara di Singhasari, Jawa Timur, mendalami Anuttara Yoga Tantra aliran Kala Chakra untuk mengimbangi kesaktian dan wibawa.

Cita cita Sang Prabu baru terlaksana di Era Kerajaan Majapahit namun tidak sempurna dan cita cita tersebut diwarisi para pendiri negara kita mewujud 7 dalam bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berlandaskan “Bhineka Tunggal Ika” yang merupakan intisari ajaran Spiritual Jawa Kuna yang tercantum dalam Kitab Sutasoma.

Tujuan renungan ini adalah mengajak kita berlatih meningkatkan potensi diri dan kesadaran spiritual.

Untuk Pengembara Spiritual, Sebagai Materi Renungan 40 Malam

1) Seribu

Berapa banyak yang dibutuhkan manusia
agar merasa puas dan cukup ?

Apakah ketika memiliki seribu kerajaan,
seribu pelayan nafsu,
seribu gudang emas,
seribu ilmu,
seribu keajaiban,
atau memiliki usia seribu tahun ?

Jika menuruti keinginan tidak aka nada akhirnya.
seluruh dunia ini pun tidak akan cukup memuaskan
bagi manusia yang serakah.

2) Menikmati Ubi

Ubi dari kebun yang masih mentah
tidak bisa di makan langsung
harus dicuci lalu di bakar,
setelah matang dan empuk baru bisa di makan.

Ubi dari kebun adalah perumpamaan
pengetahuan yang masih mentah,
agar bisa di cernah oleh pikiranmu,
harus di olah terlebih dahulu.

3) Menjernihkan pikiran

Pagi hari duduk di bawah pepohonan,
mendengar kicau burung, suara air mengalir.
Melihat tumbuhan yang hijau segar,
bunga yang beraneka warna di daerah yang sejuk,
saat kabut memudar akibat matahari.

Itu semua bisa membantu pikiran yang menjadi jernih.

4) Daun yang Menguning

Daun yang menguning,
segera rontok dan jatuh ke tanah.
begitu pula manusia yang akan meninggal,
tanda-tandanya sudah jelas.

Energi kehidupannya sudah tidak mengalir,
tangkainya sudah rapuh.
Tinggal menunggu sapuan angin lembut.
daun itu pun lepas meninggalkan ranting pohonnya.

5) Terpusat

Jika ingin terhubung
dengan sumber kehidupan di jagat raya ini,
seluruh daya yang mampu kamu miliki harus di jadikan satu
dan di arahkan terpusat.

Antara pikiran, tubuh, panca indra, perasaan,
kehendak dan doa yang di lantunkan.
semua harus terhubung, dengan demikian
energimu tidak sia-sia.

Langsung mengarah ke atas, naik menuju ke langit.

6) Membangun Candi

Sebongkah batu cadas di tanah kosong, tidak akan
berguna. Namunjika di tambah 1000 bongkah batu
cadas yang lain dan bertemu dengan pembuat candi
serta kehendak membangun.

dalam waktu yang sudah di tetapkan,
akan terwujudlah candi yang indah, dan
orang tidak lagi menyebutnya susunan batu cadas,
tapi bangunan suci.

Itulah perumpamaan manusia keras kepala yang
dikumpulkan dan dikelolah oleh guru-guru spiritual
dalam sebuah pertapaan dan dihaluskan wataknya.

7) Manusia yang Memprotes Kehidupan

Rumput senang menjadi makanan kambing,
kambing menjadi makanan manusia.
Jika binatang dan tumbuhan tidak mengeluh
dijadikan objek kesenangan manusia.

kenapa ada manusia yang protes ketika mendapat
penderitaan dalam hidup ?

Semua yang hidup, sudah mendapatkan jatahnya masing-masing.

8) Sang Pengamat Suara di dalam Dirimu

Itu suara elang, suara bangau, suara ayam, suara harimau.
Begitu jelas perbedaannya bagi manusia yang mau mengamati

Itu adalah suara ketulusan, suara kegembiraan, suara kesedihan, suara dusta, suara kelicikan, suara kecerdasan, suara kebodohan, suara kebijaksanaan.

Sang pengamat suara di dalam dirimu bisa membedakannya dengan jelas.

Dengarkanlah pendapatnya.

9) Menyalahkan Debu dan Lupa Membersihkan Diri

Orang yang berbuat mencuri dan kejahatan lainnya
karena pengaruh teman kerja dan menyalahkan lingkungan,
tapi dia tidak berusaha membersihkan diri.
adalah seperti orang yang setelah seharian beraktivitas,
tubuhnya kotor. Lalu pulang ke rumah menjelaskan
kepada keluarganya, bahwa dia diterpa debu, terpleset ke sawah
dan dilempar kotoran kuda oleh anak nakal.

Tapi sampai malam dan mau tidur, belum juga
membersihkan diri, tapi terus menyalahkan keadaan.

10) Patung atau Penari

Bertahan pada suatu posisi sungguh melelahkan,
oleh karenanya hidup harus memiliki gerak yang
berkelanjutan agar bisa bertahan dalam hidup.

Jangan berhenti pada suatu posisi atau keadaan
seperti patung. Tapi teruskanlah bergerak dna irama
musik kehidupan seperti penari.

Sampai waktu pertunjukan berakhir,
barulah kamu boleh berhenti.

11) Pemimpin Besar Seperti Gunung yang Indah

Memandangi kehidupan pemimpin besar dari jauh,
seperti menadangi gunung yang indah.
membuat hati kagum dan seneng.

Namun ketika gunung di dekati, orang baru sadar.
Disana terdiri atas hutam rimba yang ganas,
jurang yang dalam, bukit bebatuan yang terjal,
air terjun, dan semak belukar serta kabut yang tebal.

Penilaian kita akan segera berubah.

12) Mencari Embun di Siang Hari

Orang yang berharap mendapatkan pekerjaan atau
keuntungan tapi tidak pernah melakukan persiapan
dan memperhitungkan waktu adalah seperti orang
yang mencari embun di siang hari.

Dia tidak akan pernah menemukannya.

13) Meminta Air Minum Orang Lain

Murit murit spiritual yang tidak mau belajar mandiri
dan hanya bergantung pada gurunya, adalah seperti
sekelompok pendaki gunung yang tidak membawa
air minum. dan ketika mereka haus, selalu meminta
air kepada pemimpin kelompok.

Sampai kapan gurunya akan terus hidup ?

14) Memegangi Bejana

Murit yang membanggakan nama perguruaanya
tapi tidak belajar. Adalah seperti orang yang mencari
air tapi hanya memegangi bejana di pinggir pancuran,
tidak berusaha mengisi air ke dalam bejana sebagai
bekal air minumnya.

15) Menjalankan Tugasnya Masing masing

Ketika ibu menjadi ibu, ayah menjadi ayah,
anak menjadi anak, raja menjadi raja,
pekerja menjadi pekerja, prajurit menjadi prajurit,
pertapa menjadi pertapa.

Ketika semua telah menjalankan tugasnya masing-
masing, keseimbangan dalam hidup akan tercapai.

16) Menikmati Buah Kelapa

Untuk menikmati buah kelapa memerlukan
pengorbanan, mulai dari menemukan pohon kelapa
memanjat pohon, memetik buahnya, mengupas kulitnya,
memecahkan tempurungnya, setelah itu baru bisa
di nikmati air dan buah kelapa.

Begitu pula untuk bisa menikmati buah keberhasilan.
dari cabang manapun dari pohon kehidupan.
Diperlukan pengorbanan untuk mencapainya.

17) Wanita dan Ikan Mas

Menjadi wanita simpanan raja, hidupnya mewah,
serba di layani dan semua tercukupi. Tapi gerak dan
kebebasannya di batasi, seperti ikan mas dalam kolam.

Menjadi wanita merdeka adalah seperti ikan mas di sungai,
harus bisa mencari makan sendiri. Dan memiliki kebebasan
hidup, termasuk dalam memilih suami. Namun harus selalu
waspada terhadap perangkap pencari ikan.

18) Bahasa Cinta

Bahasa orang yang saling jatuh cinta adalah tanpa
perlu bersuara. Tapi dari pandangan mata dan
anggukan kepala, pesan yang ingin di sampaikan
sudah dapat di terima dengan baik oleh kekasihnya.

Bahasa cinta yang lebih luas, digunakan oleh pecinta
spiritual untuk berkomunikasi dengan alam semesta.

Oleh karena itu belajarlah bahasa cinta.

19) Mulai Melepas Ikatan Duniawi

Untuk meninggalkan ambisi keduniawian, bukan di tempuh
dengan jalan mengasingkan diri dari keramaian. Tapi dengan
jalan melepaskan tarikan-tarikan kenikmatan dunia di dalam
batinmu.

Sehingga kamu bisa menjaga jarak agar tidak kembali
terperangkap dalam penjara kenikmatan dunia.

20) Membeli Ketenangan Batin

Sebanyak apapun emas yang kamu punya,
kamu tidak bisa membeli ketenangan batin.

Setiap orang harus berjuang untuk mencari
di dalam dirinya sendiri, jikan ingin berhasil
mendapatkannya.

21) Kemalasan

Hambatan dalam latihan spiritual adalah kemalasan.
Kemalasan adalah energi dingin, bisa di cairkan
dengan memanaskan tubuh melalui olah raga.

22) Merak Memamerkan Bulu

Orang yang suka memamerkan kecantikan atau
ketampanannya, untuk memikat orang lain. Adalah
seperti merak memamerkan bulu.

Itu dilakukan oleh merak yang mencari pasangan
untuk kawin.

23) Bambu

Sekelompok tanaman bamboo, dalam kebun yang sama
dengan jenis yang sama. Namun bisa memiliki fungsi
yang berbeda-beda.

Ada yang dijadikan pagar, tiang penyangga, tangga,
kursi bahkan dijaidkan anak panah. Pengrajin bambu
membuat sesuai pesanan.

Serumpun bambu adalah sekelompok manusia
yang berpotensi sama dan pengrajin bambu adalah
Perguruan yang melayani kebutuhan majikan yang
mencari pegawai.

24) Malam Tanpa Obor

Ketika malam tiba dan kamu tidak memiliki obor
untuk menerangi jalanmu. Jangan mengeluh dan
cemas, karena masih ada cahayabulan dan bintang
bintang sebagai petunjuk arah.

Selalu ada petunjuk, bagi manusia yang mau melihat
ke langit.

25) Bersenggama dan Cinta

Bersenggama karena dorongan saling cinta adalah hal
yang wajar, asalkan tidak berlebih lebihan.

Yang perlu di ingat adalah setelah selesai dengan
urusan kenikmatan tubuh, naiklah ke tingkatan
berikutnya yaitu cinta terhadap sesame manusia
diteruskan cinta kepada alam.

Cinta itu bertingkat tingkat, semakin luas wilayahnya.
Maka rasa kenikmatannya juga semakin besar.

26) Petunjuk dan Tempatnya

Petunjuk yang suci,
akan masuk ke tempat yang suci.

Orang yang menjaga kesucian batin, akan mudah
menangkap petunjuk dari Sang Maha Pencipta.

27) Kecepatan dan Tujuan

Siapa melangkah ke utara akan sampai ke utara,
Siapa melangkah ke selatan akan sampai ke selatan.

Manusia yang berjalan dan berlari, kecepatannya
berbeda.Siapa yang memiliki kecepatan lebih tinggi,
dialah yang samapi lebih dulu di tempat tujuan.

28) Keterbatasan

Lihatlah elang yang perkasa, terbang menjelajah
menguasai angkasa. Sehebat apapun elang dia tidak
bisa menyelam seperti ikan atau menembus tanah
seperti tikus.

Setiap makhluk punya kelebihan dan keterbatasan.
Begitu pula dengan manusia, masing masing punya
bakat yang berbeda.

Itu menjadi pelajaran, bagi manusia yang mau berpikir.

29) Kucing dan Bebek

Orang yang menderita karena menghadapi masalah
adalah seperti kucing tercebur ke sungai.

Orang yang bergembira karena bertemu masalah
adalah seperti bebek yang tercebur ke sungai.

Lalu dirimu dalam posisi kucing atau bebek ?

30) Waktu Kematian

Siapapun yang mempelajari
“gerak perputaran roda kehidupan”
akan mengetahuai waktu kematiannya.

Sehingga bisa bersiap-siap mengumpulkan bekal.

31) Penderitaan dan Kebahagaian

Siapa yang bermain api akan terbakar,
siapa yang bermain air akan basah.
Manusia menjalani penderitaan dan kebahagiaan,
itu disebabkan perilakunya sendiri.

Oleh karena itu, berhati hatilah dalam melangkah.

32) Bekal Kekuatan

Manusia itu diberi bekal kekuatan, namun sedikit
yang mau melatih kekuatan yang dimiliki hingga
menjadi sempurna.

Semua masalah bisa di hadapi,
dengan ilmu tridaya manunggal.
yaitu perpaduan kekuatan fisik,
kecerdasan pikiran dan kepekaan batin.

Beruntunglah bagi yang menguasainya.

33) Hilangnya Kedamaian Batin

Hilangnya kedamaian batin,
disebabkan oleh perbuatan tercelah.

Oleh karena itu,
jangan bertindak menyakiti orang lain.

34) Mencari Jawaban

Siapa yang mencari jawaban atas persoalan yang rumit,
Duduklah mengheningkan cipta di malam hari.
menghadapkan diri kepada sang pencipta,
sambil menyebut namaNya di dalam batin.

35) Ilmu Tentang Air

Air lautan, air terjun, air kelapa, air susu, air tuak, air hujan.
Semua air memiliki kekuatan untuk kebutuhan manusia.

Manusia yang mengerti, tidak salah memilih air yang
tepat untuk kebutuhannya.

Maka dari itu harus belajar ilmu tentang air.

36) Mengajar

Sebelum mengajar orang lain,
harus bisa mengajar dirinya sendiri.

Sebelum menerangkan isi dan bagian bagian
dari alam semesta, harus bisa menerangkan isi
dan bagian bagian dari dirimu sendiri.

37) Perang Batin

Tidak ada manusia lain yang bisa menolong dan bisa
menyelesaikan perang batin yang terjadi di dalam diri kita.

Setiap diri harus memiliki senjata untuk menjaga
kedamaian batin, yaitu keyakinan batin.

Ketika manusia sudah yakin
semua kekacauan akan lenyap.

38) Sanggar Pamujan

Sanggar pamujan atau tempat memuji Sang Maha
Pencipta yang sesungguhnya adalah dirimu sendiri.

39) Brahmana

Brahmana yang sudah mumpuni, seringkali
menyamar sebagai orang Sudra.

40) Membuka dan Menutup

Membuka ilmu menggunakan kunci,
menutup ilmu menggunakan gembok.

Manusia yang menguasai ilmu sampai tataran
sempurna, bisa membuka dan menutup ilmu
dengan kehendak batinnya.

***

Advertisements