Nasehat Wiku Janabadra : Eling Waspada

Oleh: Edy Pekalongan

Pada suatu ketika Wiku Janabadra, berada bersama muritnya yang bernama Angsa Wreda. Angsa Wreda adalah seorang Pangeran dari Jawa yang telah belajar ilmu Budha Dharma sampai ke tanah kelahirang Sang Budha Gotama di Jambu Dwipa.

Mereka sedang berjalan melewati wilayah di dekat gunung Sindoro dan gunung Sumbing, sebuah daerah di wilayah kerajaan Kalingga di Jawa Dwipa. Yang merupakan bagian dari kerajaan Kalingga di Jambu Dwipa (India) karena rajanya masih satu kerabat.

Lalu mereka berdua memutuskan untuk beristirahat.

Sang Guru berkata pada muritnya :

“ ananda angsa wreda ! “

“ iya bopo guru “ jawab muritnya.

Maka Wiku Janabadra berkata :

“ tahukah kamu bahwa dalam berlatih mencapai eling waspada harus memperhatikan empat langkah “

“ Apakah empat langkah itu ? “ kata angsa wreda.

Lalu Sang Wiku menjelaskan kepada muritnya :

pertama, kamu melakukan pengamatan terhadap ragamu.

kedua, kamu melakukan pengamatan terhadap perasaanmu.

ketiga, kamu melakukan pengamatan terhadap keinginanmu.

“ mohon jelaskanlah pada hamba, tentang langkah yang pertama yaitu melakukan pengamatan terhada raga ? “  tanya murit kepada gurunya, lalu sang guru mulai memberikan penerangan :

kamu haruslah terlebih dahulu merenungi unsure raga. bagaimana ragamu ada lalu seiring waktu ragamu berubah bentuk, kemudian mati, hancur dan menjadi tiada.

diawali dari proses bapa dan ibumu saling mencintai, dan timbul keinginan untuk bersenggama dan memiliki keturunan.

lalu ibumu mengandung, proses di dalam perut ibumu, sampai lahirnya kamu dan mengalami perubahan bentuk dari kecil menjadi besar, dari lunak menjadi keras, anak-anak, remaja, lalu dewasa, tua dan kemudian mencapai kematian.

Ragamu menjadi bangkai, yang seiring waktu akan rusak dan musnah. lalu menjadi debu dan lenyap. kembali menjadi tiada.

oleh karenanya sebagaian manusia membantu mempercepat proses hancurnya raga dengan membakarnya, sehingga lebih cepat hancur dan memperingan kerja alam untuk memurnikan bangkai.

kemudian, segala perilaku ragamu haruslah kamu perhatikan. Mulai dari bangun tidur, mandi membersihkan diri, makan, minum, berjalan, duduk, bicara, bercinta sampai tidur kembali.

haruslah kamu ingat, jangan sampai terlena, sedang melakukan sesuatu tapi kamu tidak sadar betul apa yang kamu lakukan. Dengan begitu kamu tidak akan pernah menyalahkan orang lain atau keadaan atas perbuatan yang kamu lakukan.

karena perbuatanmu adalah atas kesadaranmu sendiri dan kamu memahami sebab dan akibat dari perbuatan tersebut. Sehingga tidak ada penyesalan di kemudian hari, dengan begitu kamu menjadi saksi atas segala perbuatanmu sendiri.

sehingga kamu tidak perlu lagi berbohong kepada orang lain. karena dirimu sendiri adalah saksi yang tidak bisa dibohongi.

Kemdudian duduklah bersila dan mengamati aliran gerak nafasmu karena nafas adalah bagian penting dari raga. daya hidup mengalir dalam nafas. ini adalah pelajaran yang sudaha kamu kuasai maka akan kulewati saja. semua ini adalah bagian akhir dari langkah pertama.

jika kamu mempraktekkan ini secara terus menerus kondisi eling waspada pada raga akan tercapai.

Cukuplah kiranya istirahat disini, mari kita teruskan perjalanan kita.

Merekapun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, menyusuri hutan terus ke arah timur.

Wiku Janabadra yang telah mengundurkan diri dari istana sebagai penasehat kerajaan dan pengajar bagi kaum bangsawan, memilihi hidup mengembara dan dalam pertemuan dengan muritnya angsa wreda saat ini adalah pertemuan setelah sang murit pulang dari tanah kelahiran sang Budha Gotama.

Sang murit adalah putra keluarga kerajaan kalingga di Jawa. Angsa Wreda meninggalkan Jawa Dwipa di usia 20 tahun dan belajar sastra dan tata negara di kerajaan Swarna Bhumi selama 4 tahun.

Kemudian pulang kembali ke Jawa, selama satu tahun, diteruskan mengembara untuk belajar di Jambudwipa, tempat sodaranya sesame bangsawan Kalingga.

Disana dia berguru selama 7 tahun, sampai ke wilayah di lereng pegunungan Himalaya sebelah selatan. sehingga teman seperguruannya ada yang berasal dari berbagai negeri.

Pada tahun ke delapan dia pulang ke Jawa, di usia 33 tahun. Ketika itu sang guru yaitu Wiku Janabadra sudah mengundurkan diri dari istana dan menjadi pertapa pengembara sehingga sulit di temui.

Setelah cukup melaporkan hasil pendidikannya kepada keluarga kerajaan, dia diserahi tugas sebagai metri di istana dan berkeluarga serta di karuniai anak-anak.

Dalam tahun ke tujuh dia bekerja sebagaimentri di istana. Suatu malam dia mendapat mimpi dan bertemu dengan gurunya yang sudah lama tidak berjumpa. Di dalam mimpinya sang guru mengundangnya untuk menemaninya mengembara selama 1 tahun, sang guru akan menjemputnya ketika bulan purnama ketiga.

Seorang lelaki tua berjubah kuning memakai ikat kepala muncul di depan rumahnya meminta sedekah dan berkata kepada penjaga rumahnya untuk berjumpa dengan mentri angsa wreda. Para penjaga menyuruh lelaki tua itu menunggu di ruang tamu. Ketika malam bulan purnama sang mentri pulang ke rumah setelah urusan kerajaan selesai.

Dia terkejut mendapati seorang lelaki tua berjubah kuning sedang berbersemadi di bawah pohon mangga di taman rumahnya yang terletak di halaman depan ruang tamu.

Setelah berganti baju, dia menghadap orangtua tadi dan menyapanya.

“ maapkan hamba, kalau tuan sudah menunggu terlalu lama “

Seketika itu lelaki tua itu membukan mata dan mengucapkan salam “ terimalah salam hormat saya untuk mentri angsa wreda. Semoga anda selalu dalam keadaan bahagia dan panjang umur “

Angsa wreda mempersilahkan tamunya itu masuk ke ruang tamu dengan penerangan lilin dan minyak, lalu mulailah sang mentribertanya “ siapakah tuan pertapa ini? “ lelaki tua itu menjawab “ hamba adalah seorang kawan lama “

Sang mentri kaget dan penasaran lalu memperhatikan wajah sang pertapa yang janggutnya sudah memutih. ketika sednag memperhatikan, lelaki tua itu mengeluarkan sesuatu dari jubahnya, sebuah mangkuk seperti milik biksu pada umumnya, namun mangkuk ini terbuat dari perak dan berukir gambar mandala di dalamnya.

Mentri angsa wreda sejenak mengingat kembali, dan dia ingat. Hanya satu orang yang punya mangkuk perak dengan ukiran mandala di daalmnya,  dia adalah penasehat raja sekaligus gurunya Wiku Janabadra.

Segera dia bersimpuh di lantai dan mengucapkan salam dengan mengatupkan kedua tangan di atas keningnya, “ maafkanlah hamba guru, muritmu yang sudah lama tak berjumpa dan tidak mengenalimu “

 “ bangunlah angsa wreda, aku sengaja menyamar agar orang orang istana tidak mengenaliku dan kamu sendiri juga rupanya tertipu oleh samaranku ini “

Merekapun akhirnya bercakap dan makan, saling bertukar cerita setelah lama tidak berjumpa. Sang guru sudah berumur 70 tahun ketika angsa wreda pertama kali meninggalkan istana menuju swarna bhumi, jadi usia wiku janabadra sudah 90 tahun saat ini.

Setelah satu bulan tinggal di rumah angsa wreda, wiku janabadra memulai lagi perjalanannya ditemani mentri angsa wreda yang telah terlebih dahulu beberapa hari sebelumnya pamit kepada keluarga dan pihak istana, dan menyerahkan tugasnya kepada pejabat yang lain. sang mentri angsa wreda kali ini mengenakan jubah kuning sebagaimana pakaian para pertapa dan membawa barang seperlunya.

Perjalanan pengembaraan dimulai…

Dengan tujuan utama, sang guru akan mewariskan ‘ilmu eling waspada’ yang menjadi landasan agar seseorang dapat mencapai tingkatan kesadaran cahaya.

Itulah awal mula sebelum guru dan murit tersebut sampai di daerah gunung Sindoro.

Suatu sore perjalanan mereka sampai di sebuah pantai. Sambil beristirahat, sang guru meneruskan pelajaran tentang ilmu eling waspada bagian kedua:

“langkah kedua yaitu melakukan pengamatan terhadap perasaanmun”

sang murit bertanya “bagiaman yang di maksut langkah kedua tersebut?”

kemudian sang wiku mulai menjelaskan dan berkata:

kamu mulai mengamati situasi dalam dirimu sendiri. apa yang sedang kamu rasakan. Jenis perasaan ada 3 macam: perasan positif, perasaan negative, perasaan netral.

Pertama: perasaan positif, berupa perasaan dengan ciri menyenangkan, enak, gembira, sehingga kamu suka.

Kedua: perasaan negative, berupa perasaan dengan ciri tidak enak, susah, sedih, menyakitkan, sehingga kamu tidak suka.

Ketiga: perasaan netral, berupa perasaan dengan ciri tidak senang juga tidak susah, tidak masuk dalam kategori positif ataupun negative.

Ketiga jenis perasaan tersebut akan kamu alami sepanjang hidupmu. Jenis perasaan tersebut akan silih berganti melewatimu dalam suatu waktu seperti sebuah desa yang di lewati cuaca seperti panas, mendung, hujan, cerah. namun cuaca selalu berubah seiring waktu berjalan dan tidak menetap selamanya.

Ketika kamu sedang marah, perhatikan rasa marah itu ternyata tidak enak. kamu perhatikan bahwa saat ini perasaanmu sedang dikunjungi jenis perasaan negative, sehingga rasanya tidak enak. Cukuplah kamu perhatikan kondisi tersebut. Perasaan itu akan berlalu dan berganti perasaan lainnya.

Dengan begitu kamu telah melakukan pengamatan terhadap perasaanmu.

Ketika kamu sedang gembira, perhatikan rasa gembira itu ternyata enak. kamu menyadari bahwa saat ini perasaanmu sedang dikunjungi jenis perasaan positif. Cukuplah kamu perhatikan kondisi tersebut.

Dengan begitu kamu telah melakukan pengamatan terhadap perasaanmu.

Ketika kamu sedang merasa biasa saja, tidak senang dan tidak susah. kamu menyadari bahwa saat ini perasaanmu sedang dikunjungi jenis perasaan yang ketiga yaitu netral.

Cukuplah kamu amati dan seiring waktu akan segera berlalu dan berganti perasaan lainnya. Dengan begitu kamu telah melakukan pengamatan terhadap perasaanmu. Itu adalah contoh melakukan pengamataan terhadap perasaanmu.

Ketika kamu mulai mengamati perasaanmu dan mengerti jenisnya, kamu akan menjadi sadar bahwa perasaan yang sedang dialami ini hanyalah sebuah keadaan sementara yang akan segera berlalu, sehingga dalam bersikap kamu tidka mudah terpengaruh oleh perasaan.

Jika di praktekkan terus penerus, kondisi eling waspada akan perasaan akan tercapai.

Selanjutnya ketika sampai di sebuah danau di atas gunung Semeru, sang guru kembali meneruskan pelajaran kepada muritnya:

“langkah ketiga dalam mencapai eling waspada yaitu melakukan pengamatan terhadap pikiranmu”

Murit bertanya: “mohon di jelaskan apa yang dimaksut dengan langkah ketiga?”

Sang wiku menjawab: ananda angsa wreda….

Pikiran itu awalnya adalah seperti tanah kosong yang subur dan murni. itulah kondisi pikiran bayi yang baru lahir dan seiring waktu pikiran yang kosong itu diisi oleh berbagai sebab kondisi dimana manusia itu hidup.

seperti lahan kosong yang ditanami benih tumbuhan lalu berkembanglah benih tumbuhan itu.

Kegiatan menanamkan benih pikiran kedalam pikiran disebut mengisi pikiran. Semakin banyak benih pemikiran, benih pengetahuan, dan lain-lain yang di isikan kedalam pikiran, maka semakin kaya pikiran tersebut.

Proses mengisi pikiran ini disebut belajar.

Belajar secara pasif ataupun aktif adalah cara seseorang mengisi pikiran.

Sedangkan proses membantu mengisi pikiranorang lain, mengolah pikiran orang lain, menjajah pikiran orang lain dan aktivitas lainnyadisebut mengajarkan.

Seiring waktu berjalan, pikiran menjadi hidup seperti hutan rimba. Dimana segala macam kehidupan makhluk berdiam disana dengan beragam sifat pemikiran seperti baik-buruk, tinggi-rendah, bersih-kotor, hitam-putih, segala yang berlawanan menjadi satu dalam pikiran, termasuk pemikiran harminis-seimbang.

itu semua adalah isi pikiran hidup yang disebut alam pikiran.

Semua isi alam pikiran itu hidup sehingga masing-masing bekerja untuk tetap bertahan hidup di dalamnya. kadang kadang terjadi perang pemikiran, sehingga ada pemikiran yang mati. itu semua adalah pikiran yang berisi.

Mengamati pikiranmu adalah memperhatikan isi alam pikiranmu. karena isi alam pikiran terlalu banyak, oleh karena itu banyak manusia berlatih untuk membersihkan pikiran agar isi alam pikiran menjadi tertib dan mudah di awasi.

kamu sudah belajar cara cara mendisplinkan pikiran dan bagaimana membersihkan pikiran yang merusak. Namun itu semua harus di lanjutkan dengan mengosongkan pikiran.

Puncak dari latihan samadi adalah membersihkan kondisi pikiran sehingga mendekati keadaan seperti pikiran bayi baru lahir. Mencapai pikiran kosong tanpa pemikiran, itulah suwung, alam kekosongan pikiran namun masih melekat raga sehingga belum bisa sempurna.

Yang dimaksud sempurna adalah ketika panca indra tertutup sempurna.Pikiran kosong sempurna seperti kondisi janin di dalam pertu ibu. Menyatu dalam tubuh ibunya, merasa aman, damai sejahtera.

Sebagaian besar tehnik olah spiritual adalah untuk mencapai keadaan mirip kondisi janin di dalam perut ibu.

Apakah kamu sudah mengerti penjelasan tentang pikiran ini? kalau sudah mengerti akan aku teruskan tentang cara mengamati pikiran…

Murit menjawab “saya menyimak apa yang guru sampaikan, silahkan di lanjutkan”

Sang guru melanjutkan:

Mengamati pikiranmu adalah lebih tepatnya memperhatikan apa yang terjadi di alam pikiranmu. Semua penghuni alam pikiranmu, kamu perhatikan gerak gerik mereka. Sehingga kamu mengerti dan memiliki kendali atas berbagai makhluk pemikiran yang hidup di dalam pikiranmu.

Benih benih pohon pemikiranyang membuat kotor, merusak, jahat, harus di tebang dan di bersihkan. Itu memerlukan waktu untuk menebang, membersihkan dan membasmi pemikiran lama yang telah hidup dengan sifat merusak, buruk dan jahat.

Alat yang dipergunakan untuk melakukan pekerjaan membersihkan adalah kesadaran. Sadar bahwa semua pemikiran itu hanyalah menumpang hidup dalam lahan pikiranmu. Kamu adalah raja bagi lahan pikiranmu sendiri.

Masalah akan timbul yaitu berupa ketakutan, kekawatiran akan pendapat orang lain, terutama orang lain yang menganut benih pemikiran yang akan kita bersihkan, sehingga muncullah perang pemikiran di dalam diri kita dan perang pemikiran antara diri kita dan orang lain.

Ini semua akan mempengaruhi kondisi raga, perasaan dna pikiranmu. namun karena kamu sudah belajar mengamati ragamu, mengamati perasaanmu, mengamati pemikiranmu, kamu mengetahui itu semua sellau berubah dan tidak abadi lalu musnah.

Maka sirnalah segala macam gejolak pikiran, gejolak perasaan, gejala raga. Kesadaran yang muncul ini menghapus semua duka, menghapus derita, menghapus ketakutan, menghapus kekawatiran.

Itulah kondisi eling waspada, latihan ini membutuhkan waktu bertahun tahun dan ketika kamu menguasai langkah ketiga yaitu mengamati pikiranmu, kamu akan menjadi raja bagi pikiranmu. Segala pemikiran yang hidup di alam pikiranmu termasuk para tamu pemikiran yang masuk adalah atas ijinmu. Keadaan eling waspada terhadap pikiran akan kamu capai.

Selanjutnya ketika berada di dalam sebuah perahu yang menyebrang dari pulau Jawa ke pulau Bali, guru dan murit kembali bercakap-cakap.

Sang guru mengatakan: “akan aku jelaskan tentang langkah keempat yaitu mengamati keinginan keinginanmu”

murit menjawab “dengan senang hati hamba akan mendengarkan”

sang guru pun berkata:

Muritku, segala sesuatu lahir karena keinginan.

aku, kamu dan semua manusia lahir karena keinginan. sebelum aku terbentuk, pastilah ada seorang lelaki yang ingin meneteskan cairan kehidupannya di dalam perut perempuan, atau seorang perempuan yang menginginkan ada cairan kehidpan lelaki mengalir dalam perutnya.

Keinginan bersenggama adalah sebagian besar sebab dari kelahiran manusia.

Keinginan seseorang memiliki rumah, akan membuat dia mewujudkan rumah. keinginan untuk belajar ke kerajaan swarna bhumi, akan menuntunmu sampai kesana.

Keinginan manusia baik itu hal kecil atau besar akan berakibat melahirkan apa apa yang diinginkannya menjadi terwujud.

Di dunia ini, keinginan seorang yang kuat seperti raja, bisa menghancurkan rakyatnya atau menjadikan rakyatnya sejahtera.

Di dunia ini keinginan seorang bisa mencelakakan orang lain atau menguntungkan orang lain.

Di dunia ini, keinginan seseorang bisa membawa akibat baik dan buruk bagi dirinya dan orang lain.

di dunia ini, keinginan manusia bisa menghancurkan seluruh kehidupan di jagat atau mmeperindah jagat ini. Sebab dan akibat akan bekerja karena keinginan, dan itu terus menular satu orang ke orang lain.

Keinginan manusia muncul karena kebutuhan alami manusia seperti lapar, haus, tidur, bercinta sampai buang kotoran. Munculnya keinginan juga karena pergaulan panca indra dengan alam sekitar.

Ada pula keinginan yang muncul karena terpengaruh keinginan orang lain. Manusia hidup berjalan mengikuti keinginan, baik itu keinginannya sendiri, mengikuti keinginan orang lain dan makhluk lain.

Keinginan manusia selalu berubah seiring waktu dan keadaan dan keinginan akan selalu muncul lagi ketika keinginan yang lama sudah tercapai.

Seperti terbitnya matahari di waktu fajar lalu menjelang sore matahari akan tenggelam. Lalu muncul rembulan dan di akhir malam menjelang pagi rembulan tenggelam, akan berulang ulang, terus menerus.

Setelah mengetahui bahwa proses kehidupan dari dulu sampai sekarang karena keinginan, maka kita tidak akan mudah melekat pada keinginan.

Hukum sebab akibat berjalan karena keinginan. Selama raga, perasaan, pikiran masih menyertai kita, maka keinginan akan selalu muncul.

Semua latihan langkah keempat adalah bertujuan untuk mengendalikan keinginan karena keinginan memiliki sifat positif, negatif, netral.

Keinginan positif adalah semua bentuk keinginan yang baik namun tetap akan melahirkan akibat positif dan negatif bagi diri sendiri dan orang lain.

Keinginan negative adalah semua bentuk keinginan yang buruk namun tetap saja akan melahirkan akibat yang buruk dan baik bagi diri sendiri dan orang lain.

Keinginan netral adalah ketika kita tidak ingin melakukan sesuatu atau absen atau diam dari aktifitas atau waktu jeda sementara. Ini tidak menimbulkan akibat baik ataupun buruk, akibatnya adalah netral.

Langkah keempat yaitu memperhatikan keinginanmu yaitu kamu harus mengawasi ketika keinginan itu muncul.

Itu sumbernya dari mana?

Ini yang disebut memahami sebab keinginan muncul.

Contoh: Ketika muncul keinginan, enak ya menjadi raja. saya ingin menjadi raja suatu ketika. Amatilah bahwa saat ini muncul keinginan menjadi raja. apa sebabnya? sebabnya pastilah keinginan lain. Contohnya karena aku ingin di hormati, aku ingin kaya, aku ingin… aku ingin…

Lalu akibatnya apa?

Akibatnya muncullah rencana dan keinginan mewujudkan rencana tersebut. Walaupun seandainya terlaksana menjadi raja, keinginan lain masih tetap akan muncul.

Proses tanpa akhir keinginan inilah yang ketika dilihat, diawasi, dan dimengerti akan melahirkan kondisi kesadaran.

Jika kamu mampu melakukan langkah keempat ini maka eling waspada terhadap keinginanmu akan tercapai.

Dengan begitu kendali keinginanmu berada di tanganmu sendiri. Engkau tidak lagi menjadi budak keinginan orang lain atau budak keinginanmu sendiri. tapi keinginanmu kamu penuhi atas ijinmu dengan pertimbangan kesadaran akan sebab dan akibat.

Sehingga jelaslah mata kita ketika melihat perilaku orang lain, semua itu didorong oleh keinginan.

Selesailah sudah ilmu eling waspada.

Sang murit berkata: “Terima kasih guru, bolehkah hamba bertanya?”

Sang guru mengangguk, lalu sang murit bertanya: “ apakah tanda seseorang telah mencapai keadaan eling waspada?”

Sang wiku menjawab: “dia akan menemukan kebahagiaan sejati karena telah berpraktek mengakhiri sumber penderitaan yaitu keinginan. Sehingga dalam hidup ini dia menjadi orang yang ‘narimo ing pandhum’ seperti watak Dewi Bhumi yang mengandung kita saat ini.

Dewi bhumi menampung orang jahat, orang baik, air, angin, api semua diterima. itulah watak orang Jawa yang sejati.

Oleh karena itu sebagai ungkapan terima kasih, orang jawa menulis sebuah mantra ‘hamemayu hayuning bhawono’ yang berarti ikut merawat kecantikan dewi bhumi.

Sang murit kembali bertanya “terima kasih guru, apakah ajaran eling waspada ini sama yang diajarkan sang Budha Gotama?”

Sang wiku menjawab:

“ajaran eling waspada yang aku sampaikan ini, inti sarinya serupa dengan maha sattipathana sutra yang diajarkan dan dipraktekkan oleh para gurumu di Jambudwipa”.

Perahu sudah sampai di pulau Bali, mereka melanjutkan perjalanan menuju gunung Agung untuk menemui sahabat Wiku Janabadra yaitu seorang Maha Yogi.

Maha Yogi tersebut akan membantu Wiku Janabadra untuk mengajarkan ilmu Hasta Brata kepada muritnya Angsa Wreda.

https://sabdadewi.wordpress.com/2017/01/17/hasta-brata-konsep-kepemimpinan-jawa/

❤ ❤ ❤

Advertisements