Oleh Pak Dalang I Wayan Nardayana 

Wayang humor ala Bali, Wayang Cenk Blonk, wayang komedi tradisional Bali.

Panca Sala (Plesetan Pancasila)

1.Keuangan yang maha kuasa
2.Kemanusiaan yang kikir dan biadab
3.Perseteruan manusia
4.Kesengsaraan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam perjudian dan
perselingkuhan
5.Kebatilan sosial bagi seluruh rakyat pecinta kemewahan

😀 😀 😀

Meski pertunjukannya tidak semalam suntuk—hanya dua setengah jam— kemunculan wayang Cenk Blonk serasa angin segar di antara pementasan seni yang sepi ide. Penonton pun bisa membeludak.

Kemasan pencahayaan yang apik, disertai lelucon hingga obrolan ceplas-ceplos ala rakyat, menjadikan penonton lanjut usia dan generasi muda tak beranjak selama pertunjukan. Nardayana menyisipkan lelucon segar dan kritik sosial melalui tokoh rakyat Nang Klenceng dan Nang Eblong. Kedua tokoh itu punya bentuk lucu, dari kepalanya yang botak dan berkucir, serta gigi tonggos. Kedua tokoh yang dia mainkan inilah yang membuat Nardayana dikenal sebagai dalang Cenk Blonk.

Penggunaan huruf K menggantikan G pada Nang Klenceng (Cenk) dan Nang Eblong (Blonk), lanjut Nardayana, agar terkesan lebih gaul. Lagi-lagi ini juga menjadi bagian cara menarik penonton. Apalagi, saat itu ia belum berinovasi dengan tata pencahayaan warna-warni.

”Menurut tiyang (saya), budaya bisa berubah setiap saat. Tetapi, ini tidak berlaku pada spiritualnya. Tiyangmemang mengubah penampilan, tetapi tidak mengubah spiritualnya,” kata pak Wayan Nardayana.

Tak sedikit orang, termasuk kalangan seniman, sempat memusuhinya karena Nardayana dinilai merusak pakem pewayangan. Namun, ia tutup telinga dan terus berkarya. Bahkan, beliau memperkaya ilmu otodidaknya dengan kembali ke bangku kuliah yang sempat ditinggalkannya karena tak ada biaya.

”Maaf, tiyang menghargai sekali wayang-wayang ini. Oleh karena itu, tiyang tidak bisa sembarangan mengeluarkannya jika tidak ada kepentingan langsung untuk pentas atau upacara.”

Namun, kata Nardayana membesarkan hati, jika ingin melihat pementasannya, di pasaran sudah beredar enam albumnya berupa VCD berbahasa Bali dan bahasa Indonesia.

”Wah, kalau tiyang tidak belajar bahasa selain bahasa Bali, wayang tidak akan bisa maju. Ini pertunjukan seni yang seharusnya bisa dinikmati siapa saja dan datang dari suku atau negara mana pun. Oleh karena itu, tiyang pun tak puas sampai di sini. Inovasi harus jalan terus dan berkembang. Jika tidak, tiyang dan wayang ditinggalkan masyarakat. Tiyang tidak mau itu terjadi,” pak Nardayana menegaskan.

Matursuksma ❤ … Bravo!

Advertisements