Oleh : Bpk Pramuji Singgih Riyanto

Pramuji Singgih Riyanto

1.AJARAN BUDI RAHAYU TENTANG TUHAN

Tuhannya adalah: Pangeran Kang Maha Agung (HYANG AGUNG)

Hyang Agung berkenan meminjamkan dua Sifat AgungNya untuk memutar laku jantraning jagat beserta isinya, termasuk di dalamnya titah manusia. Sifat Agung yang pertama adalah SIFAT MAHAMURAH-Nya yang mengejawantah menjadi HUKUM ALAM. Hukum Alam ini boleh dibilang tanpa awal dan tanpa akhir yang “mengku” (mewadahi) seluruh paugeran (hukum dan tatanan) yang menata laku jantraning jagat seisinya sejak jagat dan isinya dititahkan. Hukum Alam ini bersifat langgeng selamanya, TIADA BERKESUDAHAN!

Hukum Alam ini memiliki tiga karakter, yaitu:

1. UNIVERSAL, artinya berlaku terhadap keseluruhan jagat seisinya, termasuk entitas yang kelihatan dan yang tidak kelihatan;
2. AJEG (Konsisten) dan Langgeng, artinya tidak mengalami perubahan dan tiada berkesudahan;
3. NETRAL, artinya tiada pilih kasih.

Mulai dari berkecambah dan tumbuhnya biji kedelai, angin bertiup, air mengalir, bumi yang bergerak pada orbit edarnya mengitari matahari sampai dengan berlakunya hukuman dosa karma, semua itu kawengku (terwadahi) oleh Hukum Alam yang bersifat universal. Tanaman kedelai akan berbuah kedelai jika ditanam menurut tatanan (paugeran) hukum alam sejak dulu langgeng hingga sekarang. Ini menunjukkan sifat AJEG dan LANGGENG itu. Biji kedelai akan tumbuh dan berbuah kedelai tak peduli siapun yang menanam, entah orang Jawa, Cina, Bali, Sumatra, entah itu priyayi atau gembel. Tumbuh dan berkembang sesuai dengan paugeran (tatanan) Hukum Alam. Demikian juga, sinar mentari, semilirnya angin, air yang mengalir dan perputaran bumi, tidak pilih kasih dalam menghidupi segenap titah Hyang Agung, termasuk jentik-jentik sekalipun. Ini menunjukkan karakter Hukum Alam yang bersifat NETRAL.

Lalu, Sifat Agung yang kedua dari Hyang Agung adalah Sifat MAHAKASIH yang mengejawantah menjadi Hukum Kasih Kemanusiaan. Sifat MahaKasih ini juga memiliki tiga karakter, yaitu:

1. KHUSUS (SPESIFIK), artinya hanya berlaku bagi titah manusia;
2. MÊMBHAT-MÊNTUL (FLEKSIBEL), artinya bisa berubah menurut perjalanan zaman dan keanekaragaman budaya manusia;
3. ADIL, artinya sifat MahaKasih ini selalu mendorong dan mengupayakan kemakmuran jagat agar semua titah manusia bisa hidup mulia sejahtera selaras dengan kehendak Hyang Agung (Memayu Hayuning Jagat).

2.KITAB AJARAN BUDI RAHAYU (ABR)

Kitab ABR ada dua, yaitu:

1. Hukum Alam yang tertulis di Alam Semesta dan
2. Hukum Kasih Kemanusiaan yang tertulis di Hati Nurani setiap Insan Manusia.

Hukum Alam dalam Wawasan Nusantara dikenal dengan Istilah “Sabdo Palon”: artinya adalah Sabda yang memiliki Palon/Paugêran (Landasan). Itulah Sabda Tuhan yang tergelar sebagai Hukum Alam di Alam Semesta ini. Agar manusia dapat menerima kemurahan dari Tuhan melalui berkah alam, manusia wajib menggunakan akal-pikirnya dengan selalu:

1. Rajin bertanya, rajin belajar, dan rajin mencari ilmu (khususnya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Tepat Guna & Ramah-Lingkungan) dan rajin mengamalkannya;

2. Ulet, militan, dan tidak mudah putus asa. Contoh keuletan ditunjukkan oleh Thomas Alva Edison penemu bola lampu listrik, yang melakukan percobaan lebih dari 10.000x. Hasil penemuan Alva Edison ini memberikan manfaat besar bagi dunia, khususnya di bidang penerangan.

Sementara itu, Hukum Kasih Kemanusiaan dikenal dengan istilah “Noyo Genggong,” yang bersifat spesifik, fleksibel yang dilandaskan pada hikmat dan kebijaksanaan/ kearifan (deliberation and wisdom). Hukum Kasih Kemanusian akan berjalan sesuai dengan konteks dan keanekaragaman budaya manusia dari zaman ke zaman, bahkan seringkali dimanipulasi untuk kepentingan politik atau golongan tertentu.

Hukum Kemanusiaan ini telah tertulis dalam hati sanubari setiap insan sebagai suara Utusan atau Duta Tuhan yang bersemayam di “têlênging manah” (di hati sanubari yang paling dalam). Secara umum, suara Duta Tuhan ini mendorong manusia antara lain untuk:

1. Menghormati dan mengasihi sesama
2. Menyembah dan bersyukur kepada Hyang Agung
3. Menerima dan menjalani hidup dengan iklas dan sabar
4. Hidup sederhana, rendah hati dan jujur.

Itulah sebabnya, saat pertama kali orang melanggar Hukum Kasih Kemanusiaan, jantungnya akan berdegub kencang, perasaan tidak enak, kadang sampai berkeringat. Tapi jika terbiasa melakukan pelanggaran, lama-lama Suara Duta Tuhan itu hanya sayup-sayup terdengar, dan lama-kelamaan mati. Ketika orang sudah tidak mampu mendengarkan suara Duta Tuhan itu tadi, bisa dibilang orang itu mengalami KEMATIAN ROHANI.

Tiada seorang pun di dunia ini mampu melepaskan diri dari Kedua Hukum Kitab Utama ini. Yang patuh dan tunduk kepada kedua Hukum Kitab ini (Hukum Alam dan Hukum Kasih Kemanusiaan), mereka akan memperoleh keselamatan dan kemuliaan hidup (digambarkan sebagai Sorga). Sebaliknya, yang tiada patuh dan tunduk akan mendapatkan penderitaan dan kesengsaraan hidup (digambarkan sebagai Neraka).

Jika digabung intinya menjadi:

1. Head: Otak (Pikir) untuk menanggapi Hukum Alam guna menyongsong kemurahan Tuhan;
2. Heart: Hati (Nurani) untuk menanggapi Hukum Kasih Kemanusiaan guna mewujudkan Hubungan yang harmonis antar sesama manusia;
3. Hand: penguasaan skill (keterampilan) untuk mengaplikasikan Iptek dan kasih kemanusiaan dalam karya nyata yang membumi.

Kedua Hukum utama tadi harus diterapkan dalam dunia nyata dalam karya nyata sehingga tercipta suatu trilogi sempurna HEAD-HEART-HAND. Itulah sebabnya Tuhan mengguratkan Tiga Garis Utama pada telapak tangan manusia normal: yang mengisyaratkan manusia dibekali Tiga Piranti utama untuk mewujudkan karya nyata yang membumi sebagai wakil Tuhan di muka bumi.

3. PEMIMPIN DAN GURU AJARAN BUDI RAHAYU (ABR)

Pemimpin dan Gurunya adalah: PIKIR (AKAL SEHAT), dan HATI NURANI yang telah dianugerahkan oleh Tuhan kepada masing-masing individu sebagai piranti untuk memecahkan segala permasalahan hidup dan untuk mewujudkan hidup yang selamat, rukun, damai, sehat, bahagia, dan sejahtera, penuh kasih-sayang antar sesama manusia.

Ketika kita menisthakan AKAL-SEHAT dan HATI NURANI kita, maka kita telah menisthakan piranti yang valid/haqq (absah) dari Tuhan. Piranti ini sejatinya diberikan agar manusia tertutun di Jalan Keselamatan dan Kemuliaan Hidup. PIKIR dan AKAL SEHAT diberikan oleh Tuhan untuk menanggapi Hukum Alam guna menyongsong kemurahan Tuhan. Petani dan peternak yang berilmu akan menghasilkan panen yang lebih baik dibanding mereka yang tidak berilmu! HATI NURANI diberikan kepada manusia untuk menata batin agar kita selalu hidup penuh syukur dan iklhas atas segala pemberianNya serta hidup rukun, damai, penuh kasih sayang antar sesama manusia tanpa membedakan SARA.

Pikir (Akal-Sehat) dan Hati-Nurani inilah yang selanjutnya menjadi GURU dan PEMIMPIN yang menuntun KAKI & TANGAN melangkah dalam kerja dan karya nyata yang membumi untuk memayu hayuning pribadi, keluarga, lan buwana ! Pada tataran yang luas, untuk menciptakan masyarakat yang damai, sehat, sejahtera dan bahagia. Hasilnya harus dapat dirasakan langsung. Bukan hanya iming-iming belaka! Oleh karena itu, karyanya harus membumi, karena manusia memang diciptakan untuk menjadi Wakil Tuhan di muka bumi ini! Oleh karena itu, jika manusia itu AMANAH, maka manusia itu tentu turut memancarkan sifat mahamurah-Nya dan mahakasihNya.

Coba sejenak kita tengok sejarah ke belakang! Betapa ketiadaan akal sehat dan hati-nurani (kasih antar sesama) telah membawa korban RATUSAN JUTA JIWA MELAYANG SIA-SIA atas nama keyakinan agama, ideologi politik, ekonomi, budaya, dan atribut-atribut lainnya.

Ajaran Budi Rahayu hadir dalam Bimbingan & Naungan Sabdo Palon (Hukum Alam) dan Noyo Genggong (Hukum Kasih Kemanusiaan) untuk mengajak kita semua menghentikan saling-bantai antar sesama manusia karena alasan apapun. Mari kita jadikan Akal-Sehat dan Nurani Kasih Antar sesama manusia sebagai Guru dan Pemimpin kita agar kita bersama dapat mewujudkan Taman Firdos di muka bumi ini: hidup sehat, damai, sejahtera, dan bahagia dalam semangat kasih antar sesama tanpa membeda-bedakan SARA !

4. LANDASAN DAN PELAKSANAAN AJARAN BUDI RAHAYU (ABR)

LANDASAN DAN PELAKSANAAN:

• Budidaya: Bekerja menyongsong kemurahan Tuhan sesuai dengan profesi, pekerjaan dan keahlian masing-masing dengan menanggapi hukum alam sebagai manifestasi Sabda Tuhan.
• Budi Pekerti Luhur: Mengamalkan cinta kasih antar sesama manusia untuk mewujudkan keselamatan dunia (Memayu Hayuning Pribadi, Keluarga lan Jagat).
• Budidaya dan Budi Pekerti Luhur dipadu dan disinergikan menuntun karya nyata yang membumi untuk menghasilkan KARAHAYON (Keselamatan dan Kemuliaan Hidup).

PRINSIP DAN TATACARA PELAKSANAANNYA ADALAH:

• Mencari, mengembangkan dan mengamalkan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat-guna & ramah-lingkungan (natural) serta bekerja menyongsong kemurahan Tuhan dengan menanggapi hukum alam untuk KEMASLAHATAN BERSAMA.
• Selalu membaca dan mengkaji Kitabnya, yang berupa Hukum Alam (sebagai manifestasi Sabda Tuhan) setiap saat dan dimanapun berada. Karena manusia hidup di alam, maka manusia harus tunduk, patuh dan memanfaatkan Hukum Alam untuk kemaslahatan bersama.
• Masalah moralitas disinari oleh Pikir, Nalar (Akal Sehat) dan Hati Nurani, yang membentuk suatu kawicaksanan dan kawaskitan (sifat arif-bijaksana).
• Tanpa pemimpin, tanpa hierarki, sebab tiap individu sudah punya kitab sendiri-sendiri yaitu alam semesta, dan punya pemimpin serta guru sendiri-sendiri yaitu Pikir dan Nalar (Akal Sehat), dan Hati Nurani.
• LARANGAN dan PERINTAH dilandaskan pada KESADARAN, yaitu pertimbangan Pikir, Nalar (Akal Sehat) dan Hati Nurani (sifat Arif-Bijaksana).
• Hidup di bawah RAHMAT.
• Sorganya adalah kehidupan yang selamat, rukun, damai, sehat, bahagia, sejahtera, sejuk teduh tenang, penuh kasih-sayang antar sesama manusia.
• Nerakanya adalah penderitaan hidup, kebodohan, kemiskinan, suasana serba panas, dicekam rasa takut, penuh ancaman, terror, kelicikan, tipu-muslihat, kemunafikan, fanatisme buta dan saling bermusuhan satu sama lain.
• Tanpa daftar umat.
• Tanpa rumah ibadah khusus, karena tempat ibadahnya adalah dimana pun kita melakukan aktivitas.
• Tanpa Hari Besar.
• Ajaran Budi Rahayu TIDAK PERLU DISAKRALKAN.
• Ajaran Budi Rahayu TIDAK PERLU DIFANATIKI.
• ABR berfungsi sebagai Way of Life, sebagai pedoman hidup dan wawasan untuk menghilangkan kekacauan dan mewujudkan kehidupan yang selamat, rukun, damai, sehat, bahagia, sejahtera, sejuk teduh tenang, penuh kasih-sayang antar sesama manusia. MEMAYU HAYUNING BUWANA!

 5.WAHYU PADA AJARAN BUDI RAHAYU (ABR)

Wahyu dalam ABR dimaknai sebagai penyingkapan atau pengungkapan (dalam bahasa Jawa disebut sebagai “wêwêngan”) atas Ilmu Tuhan Hyang Maha Agung. Ilmu Tuhan yang digelar di alam semesta berupa Hukum Alam, sedangkan Ilmu Tuhan yang ditulis dalam hati nurani setiap insan disebut sebagai Hukum Kasih Kemanusiaan.

Ketika para penemu Hukum Alam menuangkan hasil temuannya dalam Pengetahuan dan Teknologi sejatinya sang penemu itu mendapatkan inspirasi, ilham atau peyingkapan (wahyu) melalui semangat belajar yang luar biasa, tiada kenal putus asa, sangat gigih dan pantang menyerah. Tapi temuan Hukum Alam ini sifatnya NETRAL dan UNIVERSAL. Setelah Ilmu Pengetahuan dan Teknologi digunakan dan dimanfaatkan barulah aspek nilai (etika: baik-buruk) masuk ke dalamnya. Sebagai contoh, penemuan Nuklir bisa digunakan untuk Pembangkit Listrik (nilai positif), tapi bisa juga digunakan untuk menciptakan Senjata Pemunah Massal (nilai negatif).

Agar terhindar dari pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang merugikan manusia, maka Tuhan pun menulis Hukum Kasih Kemanusiaan dalam Hati Nurani setiap insan. Para nabi, wali, utusan Tuhan, Avatar, Mahareshi mendapatkan wahyu dari Tuhan untuk mengungkap dan merumuskan nilai-nilai kasih kemanusiaan bagi umat manusia agar memperoleh keselamatan dan kemuliaan hidup, antara lain menganjurkan manusia untuk selalu:

• Mengagungkan Tuhan
• Hidup penuh kasih kepada sesama titah Tuhan
• Hidup sederhana dan tidak sombong
• Jujur, adil, dan rendah hati.
• Selalu bersyukur atas apapun pemberianNya
• Sabar, ikhlas menjalani kehidupan.

Namun, sayang suara utusan Tuhan di hati nurani itu kadang hanya terdengar sayup-sayup karena adanya kebisingan, hingar-bingar gebyar duniawi. Sayup-sayup akhirnya tidak terdengar sama sekali. Maka terjadilah KEMATIAN ROHANI.
ABR senantiasa mengajak semua teman dan sedulur untuk mengedepankan AKAL-SEHAT untuk menanggapi Hukum Alam guna menyongsong Kemurahan Tuhan dan menanggapi Suara Hati Nurani guna menjalin hubungan yang harmonis antar sesama manusia.

AKAL-SEHAT DAN HATI-NURANI IBARAT DUA REL KERETA API UNTUK MENUJU STASIUN K.A. (KERAJAAN ALLAH). JIKA SALAH SATU ATAU KEDUANYA DILANGGAR MAKA PASTILAH TERJADI PENDERITAAN HIDUP (NERAKA). UNTUK MEWUJUDKAN SORGA, KEDUANYA HARUS BERJALAN BERIRINGAN SECARA SINERGIS DAN HARMONIS! KEDUA PRINSIP INILAH YANG SENANTIASA DIAJARKAN OLEH SETIAP KITAB SUCI !

6.DOA DALAM AJARAN BUDI RAHAYU (ABR)

1. Doa yang bersifat umum:

“HYANG AGUNG, SEMUA ADALAH MILIKMU.”
Doa di atas bisa diganti dengan bahasa yang dirasa cocok, karena Tuhan tidak terpaku pada satu bahasa saja. Doa juga tidak harus diucapkan. Doa boleh diucapkan dalam hati saja (doa dengan bahasa batin).

Doa bisa diubah ke dalam bahasa apapun, misal dalam Bahasa Jawa:
“HYANG AGUNG, SEDAYA MENIKA KAGUNGAN PADUKA.”

Dengan mengucapkan doa ini, pada intinya, kita telah berlatih meruwat (membenahi) atau me-manage keegoan kita, serta menunjukkan sikap rendah hati (lembah manah) di hadapan Tuhan. Kita mengakui segala sesuatu baik pada tataran mikrokosmos (jagat cilik) dan makrokosmos (jagat gedhe) adalah milik Tuhan Hyang Maha Agung.

2. Doa yang bersifat khusus (permohonan):

“HYANG AGUNG, SEMOGA ……… (diisi sesuai permohonan).”

• Tempat dan waktu berdoanya: Dimanapun dan kapanpun kita berada dan dalam situasi dan kondisi apapun, kita boleh berdoa. Semakin sering semakin baik, agar kita selalu terkoneksi dengan Tuhan, selalu mengingat dan meuji keagungan dan kemurahan Tuhan. Berdoa bisa dilakukan saat bangun tidur, mau tidur, mengendarai mobil, saat naik motor, saat naik pesawat terbang, saat mau ke kebun, saat mau berangkat ke kantor, atau saat memulai aktivitas apapun.

• Gunakan kata-kata yang sederhana, tepat dan jelas. Jangan bertele-tele. Boleh diucapkan dan boleh juga diucapkan dalam hati saja (bahasa batin).

• Doa harus disertai dengan penyempurnaan ikhtiar, usaha dan karya. Misalnya, berdoa memohon agar putra-putrinya lulus ujian dengan baik, haruslah disertai dengan usaha dan persiapan belajar yang baik, mempersiapkan sarapan yang bergizi bagi putra-putri, mengawasi dan membimbing proses belajarnya, dsb. Doa memohon agar hasil panen melimpah haruslah disertai dengan usaha mencari bibit unggul, pengolahan tanah yang baik, pemupukan, dan pemberantasan hama, dsb.

3. Meditasi dan kontemplasinya: Mengagungkan Tuhan dan Merenungkan serta Mengagumi karya-Nya, misalnya:

• Kita mengagumi bahwa pada siang hari tumbuh-tumbuhan mengkonsumsi CO2 dan mengeluarkan O2 (Oksigen). Sementara di siang hari, manusia dan hewan menghirup O2 (oksigen) dan mengeluarkan CO2 saat bernafas, yang mana CO2 ini sangat diperlukan oleh tumbuh-tumbuhan di siang hari untuk proses asimilasi. Ada suatu sirkulasi dan saling melengkapi satu sama lain. Suatu proses sinergi yang luar biasa dari Maha Perancang Kehidupan. Mustahil sinergi semacam itu terjadi karena kebetulan belaka!

• Peredaran planet-planet dan bintang-bintang sebagai karya Tuhan. Siapa yang mengatur jarak bumi dan matahari itu seimbang dan tepat. Kalau terlalu dekat, bumi akan terbakar. Kalau terlalu jauh, bumi akan terlempar entah kemana lepas dari orbit sistem tatasurya.

• Ketika naik pesawat terbang, kita menyadari bahwa semua itu adalah berkat kemurahan Tuhan melalui Hukum Alam yang telah disingkap oleh manusia. Hasil panen padi, kedelai, dan panen ikan di kolam semua adalah berkat kemurahan Tuhan.

• Saat Anda naik mobil, sadarilah bahwa segala hukum alam yang diterapkan pada mobil, mulai dari bahan bakar, mesin, dan segala kenyamanan yang ada dalam mobil adalah berkat anugerah Tuhan Hyang Agung.

7.SALAM PADA AJARAN BUDI RAHAYU (ABR)

Salamnya adalah: “Salam Rahayu!”

Atau lebih luas lagi bisa disampaikan salam:

“MUGI RAHAYU SAGUNG DUMADI!”

(Semoga selamat damai sejahtera semua titah ciptaan Tuhan!)
MAKNA “MUGI RAHAYU SAGUNG DUMADI” PADA AJARAN BUDI RAHAYU:
KITA MENGHARAPKAN, MENDOAKAN, DAN MENGUPAYAKAN AGAR SEMUA TITAH TUHAN, YANG KELIHATAN DAN YANG TIDAK KELIHATAN SELALU SELAMAT, DAMAI, SEJAHTERA (RAHAYU), TANPA MEMBEDAKAN IMAN KEYAKINAN, KEPERCAYAAN, SUKU, RAS, ATAU PUN GOLONGAN.

SEANDAINYA BELUM MAMPU MEMBAHAGIAKAN TITAH LAIN, SETIDAKNYA JANGANLAH SAMPAI MEMBENCI ATAU MENCELAKAI TITAH LAIN !
• SEMUA TITAH TUHAN MEMILIKI PERAN, FUNGSI, DAN KODRAT MASING-MASING. KITA WAJIB SALING MENGHORMATI DAN MENGHARGAI SATU SAMA LAIN.

• KITA TIDAK BOLEH MEMAKSAKAN KEHENDAK ATAU PUN IMAN KEYAKINAN KEPADA SIAPAPUN, KARENA SETIAP INSAN MEMILIKI TAHAP PERKEMBANGAN SPIRITUAL SENDIRI-SENDIRI. TUHAN YANG MAHA AGUNG LAH YANG BERHAK MEMBERI PETUNJUK ATAU HIDAHAT KEPADA TITAHNYA. KITA BOLEH MENGAJAK, TAPI JANGAN MENYEPAK !

• INDAHNYA TAMAN KARENA ADA BERANEKA BUNGA DENGAN CORAK WARNA DAN KEHARUMAN YANG BERBEDA!

• SEMUA TITAH YANG DIJADIKAN (DUMADI) MERUPAKAN MANIFESTASI DARI TUHAN SENDIRI. KALAU KITA MENISTHA DAN MENGHINA TITAHNYA, BERARTI KITA JUGA MENISTHA DAN MENGHINA TUHAN SEBAGAI SANG PENCIPTA TITAH ITU!

• TIDAK BOLEH MEMUSUHI DAN MENGKAFIRKAN SIAPAPUN. KARENA MANUSIA HANYA MENGETAHUI KEBENARAN RELATIF. HYANG AGUNG LAH YANG MEMILIKI KEBENARAN ABSOLUT (MUTLAK).

8.TUJUAN ABR (AJARAN BUDI RAHAYU)

Tujuan ABR:

Mewujudkan TAMAN FIRDOS DI MUKA BUMI: Hidup Bebrayan Agung yang selamat, rukun, damai, sehat, bahagia, sejahtera, sejuk teduh tenang, penuh kasih-sayang antar sesama manusia, tanpa membedakan kepercayaan atau pun iman keyakinan, suku, ras, atau pun golongan. Hidup dalam semangat KEBERSAMAAN !

Caranya:

Dengan mempraktekkan Budidaya dan Budi Pekerti

• Budidaya: Pengelolaan dan pemanfaatan hukum alam dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat-guna dan ramah-lingkungan untuk mengolah dan menghasilkan produksi dari sumber-sumber kekayaan alam untuk kesejahteraan masyarakat.

• Budi pekerti luhur: Untuk menata sikap batin tenang dan damai sehingga dapat mengambil langkah-langkah tetap dalam kehidupan nyata guna mewujudkan hidup yang selamat, rukun, damai, sehat, bahagia, sejahtera, sejuk teduh tenang, penuh kasih-sayang antar sesama manusia.

(Secara detail, diuraikan dalam “LANGKAH-LANGKAH MENUJU TAMAN FIRDOS Versi PRABHU (pakdhe) AJISAKA.”

9.LANGKAH-LANGKAH MENUJU TAMAN FIRDOS Versi PRABHU pakdhe AJISAKA

(LANGKAH 1):

AKSARA RÉKAN: JALAN KEBIJAKSANAAN PENYEMPURNA IKHTIAR

Betapa banyak kesenangan dan kemudahan hidup yang telah kita peroleh dari hasil rekadaya dan budidaya manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dari nasi atau roti untuk sarapan pagi, sabun mandi, pakaian, kendaraan untuk ke kantor, alat telekomunikasi smart phone, penerangan dan energi listrik yang memberdayai hidup kita semua.

Itulah sebabnya, kata FIRDOS sendiri dimulai dengan Aksara Rékan “Fa.” Aksara Fa sendiri merupakan hasil RÉKAAN (atau rékan) dari aksara Pa, yaitu dengan membutuhkan tanda “cecak” (titik tiga) di atas huruf Pa. Maknanya adalah: untuk mewujudkan “Firdos”, kita harus melakukan budidaya & usaha untuk mewujudkannya dengan menggunakan Akal-Sehat dan Hati Nurani.

Itulah fungsi dari otak (pikir) dan Hati Nurani yang diberikan oleh Tuhan kepada kita. Dengan kemampuan rekadaya dan budidaya inilah kita bertransformasi dari manusia gua, lalu membuat gubug sederhana, mulai budidaya tanaman, menemukan roda penarik pedati, dan akhirnya menjadi manusia modern seperti sekarang ini.

Tanda “cecak” sendiri mengandung 2 (DUA) MAKNA:

• “CEtha wiCAKsana” (Jelas Bijaksana): ketika kita mengambil Jalan Kebijaksanaan menggunakan dan menyelaraskan Daya Pikir dan Hati Nurani untuk melakukan budidaya dan rekadaya untuk mengatasi SEGALA permasalahan apapun. Contoh, Anda punya uang Rp20 juta, lalu Anda gunakan untuk usaha yang sesuai dengan Hukum Alam dan selaras dengan Hukum Kasih Kemanusiaan (tidak merugikan orang lain). Itulah Jalan Kebijaksanaan yang tentunya menghasilkan Kebahagiaan.

• “CEtha piCAK” (Jelas Buta): Ketika kita tidak menggunakan Akal Sehat dan Hati Nurani yang telah diberikan Tuhan, akan muncul makna sebaliknya, yaitu “CEtha piCAK” (Jelas Buta). Orang yang mencari kekayaan tanpa usaha, tanpa budidaya dan rekadaya yang berdasar akal sehat dan hati nurani dapat digolongkan ke dalam “CEtha piCAK” (Jelas Buta), misal orang yang tergiur pada proses penggandaan uang, menjual harta benda dan menyetornya ke Dhimas K. P., mengharapkan uang itu dapat dilipat-gandakan. Itulah Jalan Kebutaan dan akibatnya mengarah ke dalam jurang kesengsaraan!

SEGALA SESUATU MEMBUTUHKAN PROSES. PERNAHKAH ANDA MELIHAT IKAN LÉLÉ MENCHOLOT DARI KOLAM MASUK KE WAJAN PENGGORENGAN? TIDAK KAN? KITA SEMUA DIBEKALI DENGAN OTAK DAN HATI NURANI UNTUK DIGUNAKAN SEBAGAIMANA MESTHINYA. AKAL-SEHAT DAN HATI NURANI ADALAH PIRANTI YANG HAQQ (VALID dan ABSAH) DIGUNAKAN UNTUK MENGATASI SEGALA PERSOALAN HIDUP KITA DI MUKA BUMI INI.

PASRAH SEBELUM MENYEMPURNAKAN IKHTIAR ADALAH BUNUH DIRI!

10.LANGKAH-LANGKAH MENUJU TAMAN FIRDOS Versi PRABHU pakdhe AJISAKA

(LANGKAH 2):

WULU (WUjude LUgu): JALAN KESEDERHANAAN

Aksara ‘Fa’ selanjutnya dikasih simbol ‘wulu’ (ᶛ) semacam lingkaran kecil di atas huruf itu, jadilah Fi. Tanda “Wulu” juga dapat diberi dua makna:

• “WUjude LUgu” atau “Wujudnya Sederhana.” Seperti yang dikatakan oleh Albert Einstain: “Orang Jenius menyederhanakan hal yang rumit. Orang Idiot merumitkan hal yang sederhana.” Kesederhanaan adalah tajuk mahkota keindahan. Dengan menjalani hidup sederhana (tidak berlebihan), Anda akan mudah bahagia, mudah bersyukur atas segala pemberian Tuhan. Inilah jalan menuju Taman Firdos.

• “Wujude LUngit” (Wujudnya Lungit atau Rumit). Segala sesuatu dari Tuhan itu selalu sederhana, mudah dipahami dan dilaksanakan. Manusia itu sendiri yang membuatnya menjadi rumit atau dirumit-rumitkan. Sesuatu yang dirumit-rumitkan dan dibuat berlebihan pastinya akan membawa ke arah Jurang Kesengsaraan dan Penderitaan Hidup.

KESEDERHANAAN ADALAH TAJUK MAHKOTA KEBAHAGIAAN DAN KEMULIAAN HIDUP.

11.LANGKAH-LANGKAH MENUJU TAMAN FIRDOS Versi PRABHU pakdhe AJISAKA

(LANGKAH 3):

LAYAR (têtéLA maYAR): JALAN YANG DIMUDAHKAN

Selanjutnya ‘Fi’ diberi tanda ‘layar’ (/) semacam coretan dari arah atas, maka terbacalah “Fir.” Seperti halnya tanda “Cecak” dan “Wulu,” tanda “Layar” juga dapat diberi dua makna:

• têtéLA maYAR atau “pastinya mudah atau dalam bahasa Jawanya “mayar.”” Tuhan selalu memberi jalan mudah atau mayar bagi umatnya. Tuhan hanya meminta kita untuk menggunakan piranti sah yang telah diberikan-Nya, yaitu Akal-Sehat (Otak) dan Hati Nurani. Asal kita menggunakan akal-sehat kita untuk menanggapi Hukum Alam (Sabda Tuhan) guna menyongsong kemurahan dan berkah-Nya serta menggunakan hati nurani kita untuk menjalin hubungan harmonis antar sesama manusia, maka segala sesuatunya akan menjadi mudah (têtéLA maYAR). Contoh, jika kita ingin menyalakan lampu listrik, gunakan kabel dan perangkat yang sesuai, maka pasti menyala. Kita ingin menaikkan air dari sumur ke dalam bak mandi, gunakan saja mesin pompa air. Mudah kan?

• “têtéLA buYAR.” (pastilah Buyar). Kalau kita melanggar Hukum Alam dan melanggar Hukum Kasih Kemanusiaan pastilah buyar (têtéLA buYAR), menjadi buyar, hancur-berantakan, runyam dan tersesat.

Coba perhatikan, negara, bangsa atau masyarakat yang hancur pastinya mereka melanggar salah satu atau kedua Hukum Utama itu !

12.LANGKAH-LANGKAH MENUJU TAMAN FIRDOS Versi PRABHU pakdhe AJISAKA

(LANGKAH 4):

TALING TARUNG: ditaTA bèn eLING malah TARUNG

Kita telah selesai dengan aksara pertama dari “Pa” diubah menjadi “Fa” (aksara Rekan dengan tanda cecak), lalu diberi tanda wulu menjadi “Fi”, dan diberi tanda layar jadilah “Fir”. Selanjutnya, kita beralih ke Aksara kedua, yaitu “Da.”

Aksara ‘Da’ (diucapkan seperti pada kata “roda”) diberi tanda ’taling tarung’ agar menjadi ‘Do’ (diucapkan seperti kata “kodo” kata bahasa Jawa untuk arti “sifat kaku”).

“TALING TARUNG” MAKNANYA: “ditaTA bèn eLING malah TARUNG.” [DITATA DENGAN SEGALA BENTUK AJARAN SUCI ATAU PUN AGAMA BIAR MENJADI ELING DAN SADAR, TAPI MALAH “TARUNG” (KONFLIK) SATU SAMA LAIN.]

Coba sudah berapa banyak guru, reshi, nabi, avatar telah diturunkan untuk menata dunia biar hidup rukun, damai dan sejahtera, tapi faktanya sekarang dunia masih ribut dan perang melulu karena alasan ideologi politik, ekonomi dan kapitalisme, keyakinan agama, budaya, dan motif-motif lainnya.

Itulah fakta yang dapat kita saksikan sekarang:
• Untuk memberikan pertolongan, sekarang orang akan bertanya dulu: “apa agamamu?” “Apa aliran politikmu?” “Apa sukumu?”…. Sudah sedemikian kerdilkah jiwa manusia?

SALING TARUNG ini terjadi karena manusia pada tataran ummat, masyarakat, atau pun pribadi belum mampu melakukan PANGruwating aKU, atau belum mampu membenahi atau mengelola Egonya. Belum mampu melakukan Manajemen Ego, entah itu ego pribadi, ego kesukuan, ego keyakinan agama, atau ego-ego sektoral lainnya, yang pada intinya selalu membenarkan diri sendiri dan menyalahkan orang lain. Merasa diri paling benar dan menganggap orang lain pasti salah: Itulah akar permasalahannya!

TETEP ELING LAN WASPADA! JANGAN SAMPAI DIADU-DOMBA ANTAR SESAMA MANUSIA KARENA DALIH DAN ALASAN APAPUN !

13.LANGKAH-LANGKAH MENUJU TAMAN FIRDOS Versi PRABHU pakdhe AJISAKA

(LANGKAH 5):

PANGKU: PANGruwating aKU

Kita telah selesai, dengan aksara pertama dan kedua, yaitu aksara “Fir” dan “Do”. Untuk membentuk “Firdos” masih dibutuhkan satu aksara satu lagi yaitu “Sa.” Kalau aksara “Sa” tidak dipangku maka akan terbaca “Firdosa.” Dalam aksara Carakan, kalau aksara tidak dipangku itu istilahnya “nglêgêna” (NGêLÊG barang sing aNA). Segala sesuatu ditelan mentah-mentah tanpa disaring dengan Akal-Budi dan Hati Nurani. Itulah penyebab orang atau bahkan ummat saling membunuh karena sepenggal ayat yang ditelan mentah-mentah, tanpa disaring dengan akal-budi dan hati nurani! Ibarat makan durian dengan kulitnya.

“Sa” sejatinya adalah unsur keegoan atau unsur Setani dalam diri kita (hawa-nafsu kita yang liar tiada terkendali). Maka kita harus pandai-pandai meruwatnya agar kita bisa menciptakan “Firdos.” Kalau Unsur Setani ini dibunuh, maka jasad itu kehilangan energi api (panas) dan akan anyêp dingin, lalu “diujurke ngalor…” alias mati. Maka kita hanya perlu meruwat atau membenahinya agar tidak liar. Kita perlu melakukan Manajemen Ego. Gantilah geni “abra markata” dengan api suci. Penuhilah kebutuhan hidup, bukan keinginan nan liar yang tiada batasnya! Karena tanpa unsur “S” tidak tercipta kata “Firdos,” tapi “Firdo.” Maka unsur aksara “Sa” tetap harus ada dan harus dipangku, yaitu unsur keegoan kita harus diruwat dan dibenahi agar membuahkan hasil kesejahteraan bagi umat manusia. Itulah yang disebut dengan “Es Buah.” (Unsur setani atau keegoan yang telah diruwat sehingga menghasilkan buah kesejahteraan untuk umat manusia dalam semangat kebersamaan, bukan KEEGOAN). Inilah pencapaian perjalanan spiritual tertinggi seorang anak manusia, yaitu telah mampu melakukan Manajemen Ego alias Jihadul Akbar (Perjuangan/Perang Besar), mampu memenangkan perang terhadap hawa-nafsunya sendiri.

Dalam ajaran leluhur Nusantara, ada istilah “PANGKU” (atau aksara dipangku), yang bisa dimaknai sebagai PANGruwating aKU. Aku atau Ego yang diruwat atau dibenahi atau di-manage. Siapapun yang mampu meruwat (me-manage) egonya, dia sudah mencapai tataran yang tinggi dalam perjalanan spiritualnya. Dialah Sang Pemenang. Saya setuju dengan opini kangmas Adjatasatru Widjono Santoso bahwa keakuan memang TIDAK HARUS DIHILANGKAN atau tepatnya TIDAK DAPAT DIHILANGKAN, tapi CUKUP di-ruwat atau di-manage agar tidak ABRA MARKATA (LIAR). Itulah sebabnya sosok Rahwana (sebagai simbol hawa-nasfu nan liar tak terkendali dalam versi wayang Nusantara) tidak dapat DIBUNUH, tapi hanya dapat dikendalikan oleh HANOMAN, ditindih dengan GUNUNG KENDALISADA. “Kendali” adalah “Mengendalikan”, sedangkan “Sada” dari kata Usada (upaya atau obat)…. Yaitu usaha terus-menerus untuk mengendalikan ego, mengelola ego, membenahi ego. Perang Besar yang terus berlangsung di Medan Kurusetra Kehidupan kita sampai akhir hayat. Istilah modern-nya adalah MANAJEMEN EGO.

Proses “pangruwatan aku” (manajemen ego) ini seyogyanya bukan saja dilakukan pada tataran pribadi, tapi juga harus dilakukan pada tataran masyarakat, agama, keyakinan, suku, atau pun golongan, agar masing-masing pihak bisa saling menghargai dan menghormati satu sama lain. Selalu melihat ke dalam untuk mawas diri dan koreksi diri, dan tidak selalu mencari kesalahan di luar diri. Mulat sarira (salira) hangrasa wani (Berani mawas diri, melihat ke dalam diri, intro-speksi).

DENGAN MELAKUKAN “PENGRUWATAN AKU” (MANAJEMEN EGO) AKAN TERCIPTA FIRDOS: HIDUP YANG RUKUN, DAMAI, SEHAT, BAHAGIA DAN SEJAHTERA SERTA SALING MENGHORMATI DAN MENYAYANGI ANTAR SESAMA MANUSIA PADA TATARAN PRIBADI, KELUARGA DAN JUGA TATARAN BEBRAYAN AGUNG (MASYARAKAT LUAS).

Demikianlah pesan dari Prabhu (Pakdhe) Ajisaka !

14.LANGKAH-LANGKAH MENUJU TAMAN FIRDOS Versi PRABHU pakdhe AJISAKA

(BAGIAN AKHIR: PENYIMPUL):

MARI MENCIPTAKAN FIRDOS

Langkah-langkah menciptakan Taman Firdos di Muka Bumi dapat dirangkum sebagai berikut:

1. Aksara Rékan: Jika ingin hidup mulia dan sejahtera, gunakanlah piranti yang valid dan sah yang telah diberikan oleh Tuhan, yaitu Otak (Akal-Sehat) dan Hati Nurani untuk mengembangkan segala potensi diri yang ada dengan bekerja menanggapi Hukum Alam untuk menyongsong kemurahanNya. Janganlah mengambil jalan kesesatan! 


2. Tanda “Cêcak” (“CEtha wiCAKsana”: Jelas Bijaksana): ketika kita mengambil Jalan Kebijaksanaan menggunakan dan menyelaraskan Daya Pikir dan Hati Nurani untuk melakukan budidaya dan rekadaya untuk mengatasi SEGALA permasalahan apapun.


3. “WUjude LUgu” atau “Wujudnya Sederhana.” Seperti yang dikatakan oleh Albert Einstain: “Orang Jenius menyederhanakan hal yang rumit. Orang Idiot merumitkan hal yang sederhana.” Kesederhanaan adalah tajuk mahkota keindahan. Dengan menjalani hidup sederhana (tidak berlebihan), Anda akan mudah bahagia, mudah bersyukur atas segala pemberian Tuhan. Inilah jalan menuju Taman Firdos. Penuhilah kebutuhan hidupmu, bukan keinginan yang liar dan tak terkendali itu!


4. TêtéLA maYAR atau “pastinya mudah atau dalam bahasa Jawanya “mayar.”” Tuhan selalu memberi jalan mudah atau mayar bagi umatnya. Tuhan hanya meminta kita untuk menggunakan piranti sah yang telah diberikan-Nya, yaitu Akal-Sehat (Otak) dan Hati Nurani. Asal kita menggunakan akal-sehat kita untuk menanggapi Hukum Alam (Sabda Tuhan) guna menyongsong kemurahan dan berkah-Nya serta menggunakan hati nurani kita untuk menjalin hubungan harmonis antar sesama manusia, maka segala sesuatunya akan menjadi mudah (têtéLA maYAR).


5. “Taling tarung” maknanya: “ditaTA bèn eLING malah TARUNG.” [ditata dengan segala bentuk ajaran suci atau pun agama biar menjadi eling dan sadar, tapi malah “tarung” (konflik) satu sama lain.] Maka kita harus tetap Eling lan Waspada! Jangan mudah diadu-domba, tetap berpegang pada akal-sehat dan hati-nurani. Lakukan mawas diri dan intro-speksi ke dalam diri dan lakukan koreksi!


6. “PANGKU” bisa dimaknai sebagai PANGruwating aKU. Aku atau Ego yang diruwat atau dibenahi atau di-manage. Siapapun yang mampu meruwat (me-manage) egonya, dia sudah mencapai tataran yang tinggi dalam perjalanan spiritualnya. Dialah Sang Pemenang.

Dengan demikian, terciptalah Firdos. Welcome and go down to the Earth, Firdos !

Mugi rahayu sagung dumadi!

Ajaran BUDI Rahayu

Rahayu 3x… Mugi Rahayu Sagung Dumadi! ❤

***

 

Advertisements