Sarwa Hayu ❤

Sapantuk wahyuning Allah,
Gya dumilah mangulah ngelmu bangkit,
Bangkit mikat reh mangukut,
Kukutaning jiwangga,
Yen mangkono kêna sinêbut wong sêpuh,
Liring sêpuh sêpi hawa,
Awas roroning ngatunggil.

Terjemahan :

Siapapun juga yang mendapatkan wahyu Allah,
seketika akan memancar pemahamannya dan pengetahuannya akan bangkit,
bangkit mengikat sekaligus menggenggam,
terhadap keseluruhan jiwa raga,
apabila demikian yang terjadi maka sudah bisa disebut sebagai manusia sepuh,
maksud dari sepuh adalah telah sunyi dari banyak keinginan,
dan telah awas kepada ‘dua yang menyatu’ (manunggaling Kawula Gusti).”

(Sêrat Wedhatama, Pupuh Pangkur, diterjemahkan oleh Damar Shashangka).

Sêrat Wedhatama dianggit oleh Kangjêng Gusti Pangeran Arya Adipati Mangkunagara kaping Sêkawan yang menduduki tahta Pura Mangkunagara pada tahun 1853-1881 Masehi. Sêrat Wedhatama bernafaskan Kêjawen, yaitu pengajaran Tassawuf Islam yang dijawakan dan bercampur dengan pengajaran Buda pada tataran eksoteris (luar).

Bisa dikatakan, Kêjawen secara esensi atau esoteris berisi ajaran Tassawuf Islam, namun secara kulit luar berbalut pengajaran Buda. Penyebutan Buda di sini merujuk pada pengajaran sinkretik Buddha Tantrayana, Śiwa Tantra dan Jawadīpa. Istilah terakhir, yaitu Jawadīpa merujuk pada ajaran asli leluhur Jawa sebelum masuknya seluruh agama dari Atas Angin. Dengan demikian bisa dikatakan Kêjawen adalah puncak sinkretisme seluruh ajaran yang terjadi di Jawa walaupun sekali lagi, esensi Kêjawen adalah Tassawuf Islam.

Hal ini bisa dibuktikan pada setiap naskah serat dan suluk yang memuat ajaran Kêjawen sebagaimana Sêrat Wedhatama. Dan saya terfikir untuk memposting secara bersambung bait-bait Sêrat Wedhatama berikut terjemahan dari saya sekaligus uraian singkatnya. Entah melalui akun facebook pribadi saya atau melalui fanspage. Jika mendapat sambutan baik, saya akan terus memosting secara berkala hingga bait terakhir. Kita akan kupas Sêrat Wedhatama, mulai kata perkata, bait perbait tanpa ada yang tertinggal dan mari kita simak sejauh mana Buddha Tantrayana, Śiwa Tantra, Jawadīpa serta Tassawuf Islam mempengaruhi Sêrat Wedhatama. Mari ngaji Sêrat Wedhatama secara cuma-cuma, terbuka untuk semua kalangan.

Pangkur #1

1. Mingkar-mingkuring angkara,
akarana karênan mardi siwi,
sinawung rêsmining kidung,
sinuba sinukarta,
mrih krêtarta pakartining ngelmu luhung,
kang tumrap neng tanah Jawa,
agama agêming aji

Terjemahan :

Karena usaha keras untuk menghindar dari angkara,
Didorong pula kerelaan untuk mendidik para putra,
Maka dianggitlah dalam keindahan kidung,
Yang dirangkai dengan sedemikian indah
Juga agar tumbuh hasil dari pengajaran luhur,
Bahwasanya bagi tanah Jawa sesungguhnya,
Agama adalah busana yang dihormati

Arti perkata :

1. Mingkar-mingkur : kegiatan menghindarkan diri dari sesuatu
2. Angkara : keserakahan dan keangkaramurkaan.
3. Akarana : a+karana : karena. Penambahan aksara ‘a’ pada awal kata sekedar untuk menutup jumlah guru wilangan pada gatra (baris) kedua dalam pada (bait) pupuh Pangkur yang ketentuannya harus berjumlah sebelas aksara dalam penulisan aksara Jawa.
4. Karênan : Ka+rêna+an : Kerelaan
5. Mardi : mendidik
6. Siwi : Putra
7. Sinawung : Kata ‘sawung’ mendapat sisipan ‘in’ menjadi ‘sinawung’ artinya : dicipta atau dianggit.
8. Rêsmi + ning : Keindahan dari.
9. Kidung : Syair
10. Sinuba : Kata ‘suba’ mendapat sisipan ‘in’ menjadi ‘sinuba’ artinya : diperindah
11. Sinukarta : Kata ‘sukarta’ mendapat sisipan ‘in’ menjadi ‘sinukarta’ artinya : dirangkai
12. Mrih : agar
13. Krêtarta : tumbuh
14. Pakarti+ning : Perbuatan dari, hasil dari, efek dari
15. Ngelmu : Ilmu, pengetahuan
16. Luhung : Luhur
17. Kang : Yang
18. Tumrap : Teruntuk
19. Tanah : Tanah
20. Jawa : Jawa
21. Agama : Agama
22. Agêm+ing : Busana yang
23. Aji : Berharga.

Ulasan :

Sêrat Wedhatama dibuka dengan Pupuh Pangkur oleh beliau Kangjêng Gusti Pangeran Arya Adipati Mangkunagara Ingkang Kaping Sêkawan sebagai isyarat bahwa secara keseluruhan konten Sêrat Wedhatama yang ditulis oleh beliau sepenuhnya berisi tuntunan moral yang cenderung ‘mungkur’ atau membelakangi segala bentuk keangkara murkaan dan keserakahan manusia. Dengan kata lain, Sêrat Wedhatama berisi tuntunan spiritual yang membelakangi segala gebyar keduniawian. Pangkur adalah nama dari salah satu tembang macapat yang terkait dengan perilaku ‘mungkur’ atau membelakangi segala hal yang berbau kesenangan duniawi. Ketika seorang pujangga memilih Pangkur sebagai media untuk menorehkan syair-syairnya, maka sudah bisa diketahui bahwa isi dari syair yang ditorehkan tersebut tidak jauh-jauh dari pengajaran spiritual. Pangkur identik dengan jalan bathin. Ketika Sêrat Wedhatama dibuka dengan pupuh Pangkur, maka sudah bisa ditebak ke arah mana serat ini bermuara.

Kangjêng Gusti Pangeran Arya Adipati Mangkunagara Ingkang Kaping Sêkawan dengan jelas membuka serat ini dengan kalimat : Mingkar-mingkuring angkara (Karena usaha keras untuk menghindar dari angkara). Angkara adalah titik tolak pertama yang menjadi pemicu beliau menganggit serat ini. Beliau merasa sangat diperlukan usaha untuk membendung, membelakangi keangkara murkaan yang merantak pada lingkungan beliau masa itu sehingga dikhawatirkan bisa menular kepada bathin beliau sendiri. Juga dikarenakan hendak membentengi para putra-putri beliau dari pengaruh racun keangkaramurkaan, maka beliau dengan sadar menganggit sebuah serat indah yang dirangkai dalam syair-syair apik, dan memang serat yang beliau anggit cukup indah dipandang dari tata penulisan sastra Jawa.

Pada baris kelima beliau menulis : mrih krêtarta pakartining ngelmu luhung (Juga agar tumbuh hasil dari pengajaran luhur). Krêtarta berarti tumbuh, bersemi, mekar dengan asri. Serat ini ditulis sebagai pemicu agar bisa bertumbuh manfaat dari semua pengajaran luhur manusia Jawa masa lalu. Baik pengajaran dari Jawadīpa, Buda maupun Islam sehingga nantinya akan tercipta satu kondisi yang kondusif pada bathin masyarakat Jawa terutama mereka yang menjadi kawula dari Pura Mangkunegara.

Kondusifitas bathin tidak akan bisa tercipta tanpa adanya kesadaran tinggi, dan kesadaran tinggi hanya akan dihasilkan oleh spiritualitas yang dewasa. Apapun agama kalian, jika kalian tidak memiliki moral, tidak beretika, semau-maunya, labil, kasar serta tidak memiliki empati kepada sesama makhluk, maka kalian tidak bisa dikatakan memiliki kesadaran tinggi dan kalian tidak bisa dikatakan berspiritual. Apapun agama kalian, bahkan walau tidak memiliki agama sekalipun, jika kalian mempunyai moral, beretika, memiliki komitmen, mampu berdisiplin, stabil, lembut dan besar empati, maka kalian sudah berspiritual.

Ini pula rupanya yang hendak ditegaskan oleh Kangjêng Gusti Pangeran Arya Adipati Mangkunagara Ingkang Kaping Sêkawan terkait agama. Beliau menulis dengan tegas :

Kang tumrap neng tanah Jawa, agama agêming aji (Bahwasanya bagi tanah Jawa sesungguhnya, agama adalah busana yang dihormati).

Bagi masyarakat Jawa, apa yang disebut sebagai agama dipahami sebagai busana semata. Satu busana yang berharga. Yang sangat dihormati. Itu artinya, agama adalah busana yang sangat dihargai dan tidak boleh dikenakan sembarangan. Artinya lagi, agama adalah satu bentuk pakaian yang walaupun seberharga apapun, tetap tidak bisa dipaksakan untuk dikenakan kepada orang lain. Setiap orang memiliki selera, ukuran dan kecocokan masing-masing. Pakaianku, seberharga apapun itu, mungkin cocok dan sesuai dengan seleramu. Namun bisa juga, pakaianku, seberharga apapun itu, tidak cocok dan tidak sesuai dengan seleramu. Oleh karenanya, apapun pilihan agama bagi setiap manusia Jawa, bahkan bagi yang tidak memiliki agama sekalipun, semestinya harus dihormati. Tidak bisa satu orang atau kelompok, memaksakan agar orang lain atau kelompok lain beragama, bersalin agama sesuai keinginannya. Ketidakcocokan hanya akan menimbulkan ketidaknyamanan dan ketidakharmonisan. Bagi diri dan bagi lingkungan sekitar di mana diri-diri yang dipaksa mengenakan satu agama yang tidak cocok ini berada.

Biarkanlah setiap manusia bebas memilih keyakinannya dengan sadar. Biarkanlah mereka menikmati apapun yang menjadi pilihan mereka. Biarkanlah setiap manusia Jawa memiliki busana berharga mereka sendiri-sendiri, busana yang mencocoki bagi diri mereka sendiri. Dan ini juga berlaku bagi yang tidak beragama, sebab bagi mereka yang tidak beragama, sebenarnya juga mengenakan satu busana, yaitu busana tanpa busana.


Pangkur #2

Jinêjêr neng Wedhatama,
mrih tan kêmba kakêmbêng ing pambudi,
mangka nadyan tuwa pikun,
yen tan mikani rasa,
yêkti sêpi asêpa lir sêpah samun,
samangsane pakumpulan,
gonyak-ganyuk nglêlingsêmi

Terjemahan :

Ditata apik dalam Wedhatama,
agar tidak menyurut gairah untuk meningkatkan kesadaran,
oleh karenanya walaupun sudah tua pikun,
manakala tidak memahami rasa
pasti sepi dan hambar bagaikan ampas yang tiada arti,
semasa pertemuan,
salah tingkah memalukan.

Arti perkata :

1. Jinêjêr : Kata ‘jêjêr’ mendapat sisipan ‘in’ menjadi ‘jinêjêr’ yang artinya : ditata berderet rapi
2. Neng : Artinya ‘di’ atau ‘ke’. Dalam bait ini artinya adalah ‘di’
3. Wedhatama : Wedha berasal dari bahasa Sansekerta ‘Veda’ yang artinya ‘pengetahuan’. Tama merupakan kependekan dari kata ‘utama’. Wedhatama artinya Pengetahuan Utama.
4. Mrih : agar
5. Tan : tidak
6. Kêmba : hambar, surut
7. Kakêmbêng : Kata ‘kêmbêng’ mendapat awalan ‘ka’ artinya : keadaan menggenang penuh
8. Pambudi : Kata ‘budi’ yang artinya ‘kesadaran’ mendapat awalan ‘pam’ artinya menjadi : tindakan untuk kesadaran
9. Mangka : oleh karena
10. Nadyan : walaupun
11. Tuwa pikun : tua dan pikun
12. Yen : jika
13. Mikani : memahani, menyadari
14. Rasa : Perasaan. Dalam rangkaian kalimat ini maksudnya adalah : sesuatu yang lebih dalam dari sekedar perasaan, yaitu bathin terdalam yang merupakan piranti untuk terhubung dengan Diri Sejati (Ruh) dan Sang Sumber Semesta (Tuhan).
15. Sêpi : sunyi, sepi
16. Asêpa : kata ‘sêpa’ mendapat awalan ‘a’ untuk menutupi guru wilangan artinya : hampa
17. Lir : bagai
18. Sêpah : ampas
19. Samun : kosong
20. Samangsane : Kata ‘mangsa’ mendapat awalan ‘sa’ dan akhiran ‘ne’ berarti : di waktu
21. Pakumpulan : Kata ‘kumpul’ mendapat awalan ‘pa’ dan akhiran ‘an’ berarti : pertemuan.
22. Gonyak-ganyuk : Sikap salah tingkah
23. Nglêlingsêmi : Kata ‘lingsêm’ mendapat awalan ‘Nglê’ dan akhiran ‘i’ artinya : memalukan.

Ulasan :

Rangkaian syair indah dan apik yang akan dianggit oleh Kangjêng Gusti Pangeran Arya Adipati Mangkunagara Ingkang Kaping Sêkawan dikumpulkan dalam satu naskah Sêrat atau Suluk yang diberinama Wedhatama. Kata ‘Sêrat’ berasal dari kata ‘Arab ‘Surah’ yang kadang dibaca ‘Surat’. Pengertiannya adalah pembagian sekumpulan ayat dalam Al-Qur’an. Dengan kata lain, pengertian ‘Surat’ adalah ‘Bab’. Kata ini diserap dalam Jawa setelah penyebaran Islam secara masif sesudah runtuhnya Majapahit pada 1478 Masehi. Dipakai sebagai awalan judul sebuah naskah Jawa yang terdiri dari syair-syair indah dalam rangkaian tembang Macapat berbahasa Jawa Anyar (Baru) dan berisi ajaran Tasawwuf Islam. Naskah-naskah seperti ini yang menjadi sumber dari ajaran Kêjawen.

Naskah yang memiliki judul awal ‘Sêrat’ biasanya lebih luas dan bervariasi isinya, tidak melulu membahas ajaran Tasawwuf Islam saja. Berbeda apabila judul naskah diawali dengan kata ‘Suluk’. Bila judul naskah memakai awalan ‘Suluk’ maka dapat dipastikan, kita akan menemukan ajaran-ajaran Tasawwuf Islam yang kental di dalamnya. ‘Suluk’ sendiri berasal dari bahasa ‘Arab yang artinya ‘Jalan untuk mencari Tuhan’. Mereka yang menjalani jalan tersebut, yang melakoni jalan tersebut, disebut ‘Salik’. Naskah Kêjawen semuanya memiliki judul yang diawali dengan kata ‘Sêrat’ atau ‘Suluk. Dan ini sudah cukup jelas untuk menunjukkan, ajaran apa yang dibawa oleh Kêjawen.

Sebelum Kêjawen muncul selepas runtuhnya Majapahit, judul naskah-naskah Jawa selalu diawali dengan kata ‘Sanghyang’ atau ‘Aji’, berbahasa Jawa Kuno (Kawi) dan berisi pengajaran Śiwa, Buddha, Wiṣṇu atau campuran Śiwa Buddha. Syair-syairnya dirangkai dalam aturan pembuatan tembang Madhya atau Kakawin. Sesekali juga ada yang berbentuk gancaran (prosa). Selepas runtuhnya Majapahit dan seiring penyebaran Islam secara besar-besaran di Jawa, karya sastra yang dibuat dalam aturan pembuatan tembang Macapat menggantikan dan mendominasi karya sastra Jawa, dan Sêrat Wedhatama adalah salah satunya.

Sebagaimana sudah dituturkan pada bait pertama, Sêrat Wedhatama ditulis untuk menggali nilai-nilai keluhuran ajaran Jawa agar berguna bagi kehidupan masyarakat Jawa yang tengah terdampak oleh krisis keangkara murkaan dan penurunan kesadaran spiritual. Wedhatama berfungsi sebagai bahan bakar yang sengaja disiramkan ke tengah bara api yang mulai meredup. Wedhatama diharapkan bisa kembali mengobarkan bara api spiritual di dada masyarakat Jawa sebagaimana pada masa lalu.

Spiritualitas yang dewasa tidak hanya akan berdampak pada kedamaian bathin setiap individu yang menjalani. Spiritualitas yang dewasa juga akan berdampak kepada keharmonisan satu bangsa secara menyeluruh sehingga kemajuan-kemajuan duniawi pun bisa dengan mudah dapat diraih. Ketika api spriritual merantak berkobaran, maka negara akan memanen jiwa-jiwa dewasa yang siap untuk bekerja demi kesejahteraan. Jiwa-jiwa kerdil, sempit, fanatik, kaku, keras, intoleran akan tertapis dan tergerus oleh api spiritual yang berkobaran. Sriwijaya, Mêdhang dan Majapahit pernah mengalami hal tersebut. Sehingga kejayaan bisa mereka reguk dan hingga hari ini menjadi satu kenangan abadi. Dan semenjak keruntuhan Majapahit, belum pernah ada capaian besar dari bangsa Jawa hingga hari ini.

Kata ‘Wedha’ dalam Wedhatama sendiri sama sekali tidak berhubungan dengan Kitab Suci Weda secara langsung. ‘Wedha’ berarti : Pengetahuan. Padanan katanya adalah ‘Waidya’. Wedhatama lebih dimaksudkan sebagai sekumpulan pengetahuan utama dari leluhur Jawa, baik pengetahuan yang datang dari kurun masa Jawadīpa – yaitu masa sebelum Jawa dimasuki oleh ajaran agama dari mancanegara. Kurun masa Buda (Śiwa Buddha) – yaitu masa di mana Jawa telah dimasuki agama dari Bharatawarsa (India) yang bercampur dengan ajaran Jawadīpa. Maupun masa Kêjawen – yaitu masa ketika Islam telah menyebar di tanah Jawa dan berpadu dengan ajaran Jawadīpa serta Buda (Śiwa Buddha). Kêjawen adalah hasil sinkretis dari Tasawwuf Islam, Jawadīpa dan Buda (Śiwa Buddha). Kêjawen dilahirkan oleh Walisanga pada abad 15, dimotori oleh Kangjêng Susuhunan ing Kalijaga. Format Kêjawen adalah Tasawwuf Islam dengan dibalut ritual yang diambil dari Jawadīpa dan Buda (Śiwa Buddha), bukan sebaliknya. Sekali lagi, bukan sebaliknya. Dengan kata lain, Kêjawen adalah Tasawwuf Islam yang di-Jawa-kan.

Nilai-nilai luhur ini penting untuk kembali dikobarkan pada bathin manusia Jawa. Sebab sudah jamak pada masa itu, yaitu masa di mana Kangjêng Gusti Pangeran Arya Adipati Mangkunagara Ingkang Kaping Sêkawan masih berkuasa, kemunduran spiritual sangat mencolok terlihat. Banyak orang Jawa yang sudah berumur ternyata buta dengan spiritualitas, buta dengan bathinnya sendiri. Mereka sama sekali tidak mengenal ‘Rasa’, tidak mempelajari ‘Rasa.’ Rasa di sini tidak bisa dimaknai sebagai Perasaan. Rasa di sini berarti satu piranti bathin yang dalam, yang dengan keberadannya, mampu menghubungkan diri kita dengan Ruh kita sendiri bahkan dengan Gusti Kang Murbeng Dumadi atau Tuhan. Pada teks naskah Kêjawen yang lebih kuno penulisannya dibedakan menjadi ‘Rahsa.’ Namun pada teks yang lebih muda, ditulis menjadi ‘Rasa’ saja, sehingga sedikit menyulitkan untuk membedakan dengan pengertian Perasaan biasa.

Sudah jamak manusia-manusia Jawa berusia tua buta dengan ‘Rahsa’ mereka. Dikatakan dalam Sêrat bahwa mereka ini : …mangka nadyan tuwa pikun, yen tan mikani rasa, yêkti sêpi asêpa lir sêpah samun (oleh karenanya walaupun sudah tua pikun, manakala tidak memahami rasa, pasti sepi dan hambar bagaikan ampas yang tiada arti). Sangat kentara sekalli bila berada pada sebuah perkumpulan yang melibatkan diskusi aktif terkait pengetahuan bathin, mereka-mereka ini seringkali salah dalam bertingkah, salah dalam memahami, salah dalam mengerti. Mereka ini seringkali tidak nyambung dengan apa yang didiskusikan namun bersikap ngotot, ngeyel, serta membuat masalah. Tingkah seperti ini yang dikatakan oleh Kangjêng Gusti Pangeran Arya Adipati Mangkunagara Ingkang Kaping Sêkawan sebagai tingkah : Nglêlingsêmi (Memalukan).

Hayu hayu hayu Rahayu

Hênêng, hêning, dumunung.

Sarwa Hayu ❤

Damar Shashangka

(Copy paste harus seijin penulis: Damar Shashangka)

***

Advertisements