Pamuji rahayu ❤ ,

Budaya Wayang Mahakarya Dunia Khas Nusantara

UNIMA Indonesia Gelar Perayaan “Hari Wayang Dunia”

Esensi budaya bagi manusia adalah ruang batin dan sumber nilai. Perubahan zaman dewasa ini, mendatangkan tawaran nilai, asimilasi, modernisasi, silang budaya, kompilasi, hingga inovasi.

Ada hubungan paradoksal antara budaya dan peradaban modern yang seakan saling bertentangan. Oleh karena itu nilai-nilai kearifan lokal (local wsidom) merupakan keharusan yang terus dijaga.

“Local wisdom tersebut beberapa di antaranya terkandung di dalam cerita wayang, yang menjadi sumber narasi; sanggit, cerita suluk, sabetan,” ujar Presiden UNIMA (Union Internationale de la Marionnette) Indonesia, TA Samodra Sriwidjaja, kepada wartawan, di acara Peringatan ‘Hari Wayang Dunia’, yang digelar di Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Rabu (21/03/2018).

Samodra menegaskan, bahwa kekekalan sesuatu yang baik adalah hal yang kerap sulit dijaga. Tanpa proteksi, menurutnya, budaya lokal berangsur kehilangan esensinya ditengah peradaban masyarakat global.
UNIMA Indonesia, terang Samodra, terus melakukan berbagai upaya secara fundamental. Pihaknya terus menumbuh kembangkan nilai-nilai yang terkandung dalam wayang, antara lain seperti dalam ungkapan ‘Sura dira Jaya Diningrat, lebur dening pangastuti’.

“Secara umum makna ungkapan ini adalah, segala sifat keras hati, picik, dan angkara murka hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut, dan sabar. Suri teladan para pemimpin terus dikembangkan, misalnya tidak korupsi, jujur dan adil. Ungkapan ini rasanya relevan dengan situasi sekarang,” ujarnya.

Hadir di acara ini, Nyoman Shuida, Deputi Bidang Koordinasi Kebudayaan, mewakili Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Tampak juga para tokoh, budayawan, serta para penggiat dan pemerhati wayang, antara lain; Mr Dadi Pudumjee (Presiden UNIMA Internasional), Karren Smith (dari Australia/Sekretaris Jenderal UNIMA Internasional), dan Runjena Panday (dari India).

Hadir pula H Solichin (Ketua Dewan Kebijakan SENA WANGI), Suparmin Sunjoyo (Ketua Umum SENA WANGI), Kondang Sutrisno (Ketua Umum Persatuan Pedalangan Indonesia), Nurrachman Oerip, (Penasehat UNIMA Indonesia), Al Zastrow Ngatawi (Councillor UNIMA Indonesia), Eny Sulistyowati (Kepala Bidang Humas SENA WANGI), dan para budayawan lainnya.

Berlangsung meriah…

Peringatan ‘Hari Wayang Dunia’ berlangsung meriah dan hikmad, sejak pagi hingga sore. Dimeriahkan dengan sejumlah acara, antara lain pergelaran “Wayang Potehi” (oleh Rumah Cinta Wayang), pertunjukan Boneka Kayu dari Samosir  “Sigale-gale,” pergelaran Wayang Kulit, lakon “Kikis Tunggarana” oleh dalang Ki Sutrisno. Digelar juga pertunjukan Reog, berbagai tarian dengan pesona wayang, serta Kuda Kepang massal, dari empat komunitas Banyumasan.

Sebelum pergelaran diselenggarakan sarasehan menyoal wayang dalam konteks kekinian, yang menghadirkan para pembicara antara lain;  Drs Suparmin Sunjoyo, Dr Darmoko, Dr Al Zastrouw, dan Dr Maria Theresia Widyastuti.

Kepala Bidang Humas SENA WANGI, Sulistyowati yang hadir di acara tersebut, menyampaikan, bahwa ada kesamaan visi antara UNIMA Indonesia dan SENA WANGI. Sejarah perjalanan kedua organisasi pewayangan ini, menurutnya, saling terkait.

“Kita tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi di masa depan. Tapi kewajiban mengenal masa lalu (budaya) menjadi kebutuhan penting, sebagai sumber nilai, norma, adat, tradisi. Inilah yang menjadi visi UNIMA Indonesia dan SENA WANGI, meletakkan budaya Indonesia sebagai bagian sentral dari pembangunan budaya dunia di masa depan,” ujarnya.

Perayaan ‘Hari Wayang Dunia’ merupakan tahapan menjelang Indonesia menjadi Tuan Rumah Kongres UNIMA (Union Internationale de la Marionnette) Internasional dan Festival Wayang Dunia yang akan dilaksanakan di Gianyar Bali, bulan April 2020 mendatang. Acara tersebut dihadiri tidak kurang dari 90 Negara yang menjadi Anggota UNIMA Internasional. (gor)

40 Dalang Ramaikan Hari Wayang Dunia di ISI

SOLO, KRJOGJA.com – Sebanyak 40 dalang dari berbagai daerah tampil meramaikan dalam peringatan Hari Wayang Dunia yang digelar di kampus Institut Seni Indonesia (ISI) yang berlangsung tiga hari, mulai Rabu (07/11/2017).

Hari Wayang dibuka Irjen Kemenristekdikti Prof Dr Jamal Wiwoho, dilanjutkan penampilan fragmen wayang purwo Edward Austin Breatner. Breatner adalah dharma siswa ISI dari Amerika Serikat. Ini merupakan pertunjukan wayang lintas daerah, lintas negara dan lintas usia.

Artikel Terkait :Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

“Selain Breatner, 40 dalang lain datang dari Jawa Tengah, DIY, DKI dan Riau. Mereka dalang dari anak-anak hingga hingga yang sudah meraih marstro,” jelas Rektor ISI Dr Guntur MHum.

Ini merupakan peringatan Hari Wayang Dunia yang ketiga, setelah wayang diakui Unesco sebagai warisan maha karya dunia tradisi lisan non bendawi. ISI terus akan mencari dalang-dalang yang belum berkesempatan tampil. Misalnya dalang yang berlatar belakang birokrat, militer, wakil rakyat dan sebagainya.

“Sekarang masih banyak yang belum tampil dalang dari kalangan birokrat, selain bupati Tegal Ki Entus Susmono,” kata Guntur. Tahun depan ISI akan berupaya bisa menampilkan dalang dari berbagai latar belakang. Menurut Prof Jamal, peringatan Hari Wayang Dunia akan menjadi penguat pendidikan karakter. (Qom)

Festival Dalang Cilik Peringati Hari Wayang Sedunia di Kulonprogo

TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO – Sebanyak 22 dalang cilik asal DIY – Jawa Tengah unjuk kebolehan dalam Festival Dalang Cilik memeringati Hari Wayang Sedunia, di Sanggar Bodronoyo wilayah Kecamatan Girimulyo, Kulonprogo, Minggu (8/11/2015).

Festival dalang cilik dalam rangka peringatan hari Wayang Sedunia, sebagaimana ditetapkan Unesco, ini sekaligus juga untuk melestarikan budaya adiluhung.

Secara keseluruhan, meski penampilan peserta kebanyakan hanya didukung para kerabatnya, mereka tampil maksimal dan mampu menjiwai lakon.

Selain dari Sleman, mereka juga tampil sebagai wakil dari Kulonprogo, Kota Yogyakarta, Bantul, Gunungkidul, Solo, Boyolali, dan beberapa daerah lain di Jawa Tengah.

Pemilik Sanggar Bodronoyo, Mulyono, mengatakan festival tersebut sebagai kesempatan bagi generasi muda termasuk anak-anak untuk mengembangkan kemampuannya.

Menurutnya, pengalaman pentas merupakan bekal untuk menjadi lebih terampil sebagai dalang.

“Kami sangat mendukung festival seperti ini. Anak-anak dan para generasi muda memang harus memiliki kesempatan tampil atau pentas agar lebih baik,” kata pemerhati wayang ini.

Ketua Panitia festival tersebut, Guntur Songgo Langit, mengatakan pengembangan keterampilan mendalang sekaligus untuk membentuk karakter anak sehingga menjadi bertanggungjawab dan pemberani.

Menurutnya, festival itu juga memiliki latarbelakang keprihatinan minimnya generasi dalang belakangan ini.

“Sebab itu kami tergugah untuk merintis dalang muda,” kata Guntur.

Adapun festival tersebut digelar selama tiga pekan sejak 25 Oktober lalu. Penampilan dalang cilik pada Minggu ini merupakan yang terakhir.

Harapannya, mereka menemukan ruang berkreasi dan berekspresi sehingga potensi terpendam dapat dimunculkan dan dilestarikan sebagai bagian budaya adiluhung.

Wayang Beber Pacitan Turut Semarakkan Hari Wayang Dunia 2018

Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta kembali menggelar serangkaian acara dalam rangka memperingati hari Wayang Dunia ke IV tahun 2018.

Informasi yang diperoleh Pacitanku.com, acara tersebut dibuka pada Selasa (6/11/2018) di Pendapa Ageng GPH Joyokusumo, ISI Surakarta, Jalan Ki Hajar Dewantara 19 Kentingan, Jebres, Kota Surakarta.

Yang menarik, pada gelaran kali ini ditampilkan juga wayang Beber Pacitan pada hari yang sama dengan dalang Ki Supani Gunodharmo dan Ki Abunawas. Wayang beber kali ini akan ditampilkan pada Selasa (6/11/2018) pukul 22.00-23.30 WIB dengan lakon “Panji Joko Kembang Kuning.”

Acara pentas Hari Wayang Dunia ke-IV ini diawali dengan wayang ruwatan Sukerta, dalang Ki Manteb Soedharsono, lakon “Murwakala”, dilanjutkan Wayang kulit purwa gaya Surakarta, dalang Ki Endro Kusumo dengan lakon “Karna Tandhing” dan juga Wayang kulit purwa gaya Surakarta, dalang Ki Sri Susilo (Thengklèng) dengan lakon “Werkudara Kembar.”

Selanjutnya akan tampil juga Wayang boneka, dalang Ki Dr. Trisno Santoso, ISI Surakarta dengan lakon “Di Atas Langit Masih Ada Langit”, Wayang Perjuangan oleh Ki Dr. Sunardi, S.Sn., M.Sn. (ISI Surakarta) dengan lakon “Untung Surapati” serta juga Wayang krucil Kediri, dalang Ki Harjito dengan lakon “Panji Semirang.”

Selain pentas wayang, juga akan turut tampil pameran wayang-wayang lawas, seni rupa wayang, dan buku-buku wayang pada Selasa hingga Kamis di Loby Gedung Teater Besar “Gendhon Humardani” ISI Surakarta.

Hari Wayang Sedunia, Tiga Dalang Muda Gelar Pertunjukan di Giri Harja

BALEENDAH, AYOBANDUNG.COM–Tiga dalang muda keturunan Sunandar Sunarya menggelar pagelaran wayang golek di Padepokan Giri Harja, Rabu (7/11/2018) malam. Pagelaran wayang tersebut merupakan peringatan hari wayang sedunia.

Putra dari Asep Sunandar Sunarya, Dadan Sunandar Sunarya mengatakan tiga dalang yang menggelar pagelaran wayang adalah Batara Sena Sunandar, Wisnu Sunarya, dan Yogaswara Sunandar Sunarya.

“Batara mempertunjukan wayang kulit priangan, sementara Wisnu dan Yogaswara menggelar pertunjukan wayang golek,” tutur Dadan kepada ayobandung.

Batara membawakan wayang kulit dalam lakon Jaya Perbangsa. Selama ini, kata Dadan, orang Sunda dikenal dengan wayang golek. Dengan Batara yang mampu memainkan wayang kulit, bisa menunjukan kalau orang Sunda juga bukan hanya bisa membawakan wayang kulit.

“Ingin memperlihatkan kalau orang sunda juga bisa memainkan wayang kulit,” katanya.

Secara prinsip cerita yang dibawakan dalam wayang baik golek maupun kulit tidak jauh berbeda. Kisah Mahabrata menjadi cerita utama wayang.

“Untuk wayang kulit yang dibawakan Batara, disebut wayang kulit priangan. Wayangnya sama dengan wayang kulit di daerah lain, hanya saja bahasa dan pengiringnya menggunakan bahasa dan laras Sunda,” ungkapnya.

Sementara Wisnu dan Yogaswara membawakan lakon kumbakarna gugur secara bergantian.

Dadan melanjutkan, selain menggelar dua pementasan wayang oleh tiga dalang, dalam perayaan hari wayang sedunia tersebut Padepokan Giri Harja juga menggelar acara lain.

“Dipamerkan juga lukisan wayang, di sini pelukis banyak. Ada juga talkshow dalang dengan moderator Sarah warga Prancis,” ujarnya.

Terkait peringatan hari wayang sedunia dengan menampilkan tiga dalang muda, Dadan berharap anak muda zaman sekarang bisa lebih mencintai wayang.

“Harapannya wayang tetap diminati semua kalangan, khususnya orang sunda umumnya Indonesia,” ujarnya.

Dia juga berharap eksitensi wayang terus terjaga dan mampu bersaing dengan budaya modern.

“Mudah-mudahan budaya lokal mampu bersaing dengan budaya modern, nitabene banyak masuk ke kita. Mudah-mudahan juga bisa membangkitkan kembali anak muda untuk mencintai wayang,” tutupnya.

Dalang Asing di Hari Wayang Dunia 2018

Dua orang dalang dari Hongaria dan Jepang berpartisipasi dalam rangkaian pergelaran Hari Wayang Dunia ISI Surakarta 2018, Kamis (8/11). Zsuzsa, dari Hongaria memainkan sajian “Fragmen Budhalan”, sementara Misaki Kishi dari Jepang memainkan sajian “Fragmen Bambangan Mlampah”. Keduanya adalah mahasiswa asing yang sedang belajar di Program Studi Pedalangan ISI Surakarta melalui jalur Darmasiswa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Dengan segala kelebihannya, keberanian kedua dalang perempuan muda ini menampilkan sajian di hadapan penonton yang memenuhi Pendhapa GPH Joyokusumo Kampus ISI Surakarta patut mendapat apresiasi.

Penampilan kedua dalang tersebut juga menjadi motivasi yang lebih untuk generasi muda kita agar lebih mengenal dan mencintai seni budaya nasional, terutama wayang. [humasisiska]

Rekor MURI di Hari Wayang Dunia 2018

Peringatan Hari Wayang Dunia 2018 di Insititut Seni Indonesia Surakarta, Jumat (9/11) mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

Pemberian Penghargaan MURI ini karena pada pentas penutupan Hari Wayang Dunia 2018 dilaksanakan Pergelaran wayang kulit dengan kelir sepanjang 130 meter. Pergelarna wayang ini semakin spektakuler, dengan lakon “Pandhawa Kumpul,” disajikan oleh 8 dalang, 25 pengrawit, dan 27 swarawati.

Mereka yang mendapatkan penghargaan dari MURI adalah:

–Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakoe Boewono XIII, sebagai pemrakarsa;

–Rektor ISI Surakarta, sebagai penyelenggara;

–Kanjeng Pangeran Arya Adipati Suro Agul-agul Begug Poernomosidi, SH., MM., sebagai seniman dalang.[humasisiska]

CNN Indonesia

Pada 7 November, tepatnya 15 tahun yang lalu wayang diakui PBB sebagai warisan budaya dunia. Bayang-bayang menurunnya minat generasi muda dalam mencintai seni tradisi sempat menjadi kekhawatiran pelestariannya. Namun kini, teknologi telah memperpanjang nafas pelestarian nafas pelestarian seni tradisi Adi Luhung ini.

Rahayu 3x ❤ …

***