RAJAMANGSA DAN ANEKA IKAN SEBAGAI MENU MAKANAN ISTIMEWA ISTANA MASA HINDU- BUDDHA (1)

Oleh : M. Dwi Cahyono

(Saya rangkumkan dari tulisan Bapak Dwi Cahyono dari blog beliau)

http://patembayancitralekha.com/

A. Rajamangsa, Makanan Khusus Keluarga Istana

Sebutan “Rajamangsa” adalah kata gabung, yang terdiri atas dua kata, yaitu kata : (a) raja, dan (b) mangsa. Kata “mangsa” atau “mansa” adalah iistilah serapan dari bahasa Sanskreta, yang secara harafiah berarti : (1) daging, (2) mangsa, makanan, (3) pemakan daging, menghabiskan, melahap (Zoetmulder, 1995:651). Isilah ini juga kedapatan sebagai kosa kata dalam bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan, bahkan sejak susastra tua seperti kitab Adiparwa (141, 149), Udyogaparwa (101) maupun kakawin Ramayana (6.75). Kata jadian “makamangsa” mengandung arti: mempunyai sebagai mangsa, melaham. Adapun kata jadian “amangsa,” dan “minanfsa” berarti : makan daging, melahap,, makan (pada umumnta).Istilahpati dalam bahasa Jawa Baru, yang ditulis dengan “mongso”, misalnya kata gabung untuk jajanan “Madumongso”. Dalam bahasa Indonesia kata “mangsa” jiga terdapat, dengan arti : (1) (daging) hewan yang menjadi makanan binatang buas, (2) organisme yang ditangkap dan dimakan oleh binatang predator, (3) sasaran perbuatan jahat (KBBI, 2002:711). Kata jadian “memangsa” mengandubg arti: (1) memakan, menjadikan sesuatu sebagai mangsa, (3) menjadikan sesuatu sebagai sasaran perbuatan jahat.

B. Deskripsi Relief “Aneka Kuliner Ikan”.

Relief candi bak “ensiklopedia visual” masa lalu, yang daripadanya dapat ditimba bamyak sekali informasi, temasuk juga infomasi sosial, budaya dan ekologi. Dari salah sebuah panil relief cerita candi Borobudur misalnya, bisa diperoleh informasi yang berkenaan dengan koliner masa lampau, paling tidak abad IX Masehi — tarikh padamana candi Mahayana Buddhisnme ini dibangun. Informasi yang berasal dari satu panil relief yang terlampir dalam bentuk foto-foto berikut, tetgambar menu mskanan yang menurut konteks penyajiannya dihidangkan pada jamuan makan di lingkungan istana. Atau dengan petkataan lain merupakan “makanan istana” , yang dalam konteks sosial serupa dengan “rajamangsa”, yakni disajikan untuk raja, keluarga raja atau sebagai pasugatan makanan pada lingkungan keraton (kadatwan). Bedanya dengan “rajamangsa” adalah makanan itu boleh di santap oleh umum.

Relef ini menggambarkan sajian makanan pada lingkungan istana. Aneka makanan tersajikan ada yang merupaka (a) makanan khusus untuk raja, keluarga dan aparat kerajaan, ada pula (b) makanan yang boleh disantap oleh khalayak luas. Kedua kategori makanan tersebut disajikan menurut tata cara yang konon berlaku di istana. Gambaran mengenai jamuan makan demikian tersirat dalam kisah suatu susastra, keterangan pelengkap dalam prrasasti maupun relief candi. Perihal siapa yang dipetbolehkan dan tak boleh memyantap “rajamangsa”, sumber data prasasti memuat keterangan tentangnya yang berkenaan dengan pemberian hak istimewa berupa sima (swatantra, perdikan) sejak era pemerintahan Mpu Sindok (Sri Isana) hingga masa Majapahit. Walau kuliner “Rajamangsa” yang pada peristiwa biasa dikhususkan untuk raja, namun lantaran pemimpin suatu sima memperoleh anugerah (waranugraha) berupa hak istimewa, maka menu khusus bagi raja itu diperenankan untuk disantap olehnya dan keluarganya.

Hidangan tersebut masing-masing ditempatkan dalam suatu alas melempeng. Pada lajur kanan bentuk alasnya persegi delapan, dan di lajur tengah benbentuk membulat serta oval. Berbeda dengan di lajur kiri, yang mengesankan bahwa hidangan berada dalam wadah berbentuk bujur sangkar. Boleh jadi, penempatannya dalam wadah itu lantaran makanan ini berkuah, yang terdiri atas : (5) dua buah kepiting atau yuyu, dan (6) empat buah ikan — masing-masing tampak hanya bagian atasnya, yaitu sepasang sapit dan kepala kepiting/yuyu serta kepala ikan, lantaran bagian tengah dan bawahnya terendam kuah, yang boleh kadi kuah bersantan — kata “santen” telah kedapatan dalam bahsa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan, dalam arti : diperas dari daging kelapa, seperrti disebut pada kakawin Ramayana (26.25), Bharatayuddha (37.3), Sumanasantaka (28.11, 147.6), kitab Tantri Kadiri (147), Korawa- srama (176).

D. Lauk Daging dan Ikan dalam Sejarah Kuliner Jawa

Dalam bahasa lisan di masyarakat awam, kata “ikan” atau “iwak” digunakan baik untuk daging hewan mamalia, carnifora dan unggas ataupun untuk binatang air tawar dan air asin sebagai hewan anggota vertebrata poikilotermik yang bernapas dengan insang. Ikan merupakan kelompok vertebrata yang paling beraneka ragam. Walaupun kedua kata itu mempunyai spesifikasi, namun kata “ikan” atau “iwak” oleh orang awan dalam hasa lisan digunakan untuk sembarang lauk, seperti sebutan “iwak tempe, iwak peyek, iwak krupuk, dsb.”. Oleh karena itu, musti dipetegas dengan pertanyakan “iwak opo (ikan apa)” yang dimaksud? Padahal, pada masa Hindu-Buddha, daging dan ikan dibedakan tegas dengan istilah serapan dari bahasa Sanskreta yang berbeda, yaitu “Mamsa” untuk daging dan “Matsya” untuk ikan.

Paparan diatas memberi gambaran mengenai menu makanan, yang dalam istilah sekarang disebut “lapapan ikan”. Jenis ikan yang dijadikan lauk adalah belut, ikan cukup besar utuhan, dan potongan-potongan tubuh ikan terangkai dengan tusuk bambu. apakah ikan-ikan itu dimasak dengan jalan digoreng ataukan dipanggang (digarang), atau mungkin kedua-duanya. Lauk ikan tersebut disantap dengan lalap daun sawi dan sambal.

 

Demikianlah tulisan ringkas dan bersahaja ini, semoga memberikan kefaedahan bagi pembaca budiman. Paling tidak, menambah khasanah pengetahuan mengenai “kuliner lawasan”, yang masih dikonsumsi hingga kini.

Matur Nuwun

Griya Ajar CITRALEKHA

Rahayu 3x ❤ …

***