a. Arti yang tersurat:

Yang ber-sungguh2 dan jujur akan mendapat nilai, sedang yang bersalah akan menerima nasibnya.

wong =orang; temen = ber-sungguh2 dan jujur; ketemu = mendapatkan hasil; salah = bersalah; seleh = menerima nasibnya, berhenti dari pekerjaannya.

b. Arti yang tersirat:

Arti yang tersurat dalam ungkapan tersebut sama dengan artinya yang tersurat. Siapa yang jujur. Siapa yang jujur, dialah yang akan meraih hasil. Siapa salah, dialah yang akan menerima nasib buruk atau berhenti dari pekerjaannya.

c. Nilai yang terkandung:

Ungkapan ini mengandung nilai pendidikan ke arah sikap ber-sungguh2, jujur dalam pekerjaan, usaha, perjuangan dan sebagainya. Ungkapan ini juga mengandung jaminan bahwa siapa saja yang bersikap seperti yang sudah diterangkan di atas akan mendapat hasil yang baik. Sebaliknya orang yang bersalah, orang yang menyimpang dari peraturan atau merugikan orang lain akan merasakan akibat perbuatannya. Dia akan “ngundhuh wohing pakarti” (memetik hasil perbuatannya yang tidak baik).

d. Latar belakang sejarah/falsafah:

Kita semua manusia di dunia berkewajiban untuk bekerja, berusaha atau berjuang dengan sikap ber-sungguh2 dan jujur untuk kebaikan umat manusia. Dalam keadaan sepeti ini kita tidak perlu mempersoalkan hasil. Tentang hasil kita serahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pendek kata kita harus “rame ing gawe sepi ing pamrih” (giat bekerja, tanpa pamrih, tidak mengutamakan kepentingan pribadi).

e. Pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat:

Jelaslah bahwa ungkapan tersebut mempunyai pengaruh yang posistif terhadap kehidupan masyarakat. Mereka yang kurang ber-sungguh2 dalam usaha harus dirangsang, mereka yng mengalami frustasi harus dibangkitkan semangatnya. Kepada mereka yang tidak berniat jujur mendapat peringatan oleh bunyi ungkapan tadi. Begitu pula mereka yang berkehendak tidak baik terhadap orang lain atau menyimpang dari hukum Tuhan, akan mendapat penghalang yang kuat karena ungkapan itu.

f. Kedudukannya di dalam kehidupan masyarakat:

Ungkapan ini sampai sekarang masih banyak dikenal dan mempergunakannya. dalam berbagai pertemuan ungkapan tersebut sering dipakai oleh pembicara. Demikian pula dalam keluarga, ayah dan ibu mempergunakan ungkapan tersebut untuk memberi nasihat kepada anak2nya agar ber-sungguh2 dalam usaha mencapai cita2, bersifat jujur dan selalu hidup menurut jalan yang diberikan oleh Tuhan.

g. Ungkapan lain yang ada hubungannya:

Ngundhuh wohing pakarti = memetik hasil perbuatannya. Sing gawe nganggoh, sing nandur ngundhuh = yang berbuat terkena akibatnya, yang menanam akan menuai.***

(Bahan: Ungkapan Tradisional sebagai sumber informasi kebudayaan daerah Istimewa Yogyakarta).

*) Sumber: Kliping koran Berita Buana era tahun 1980 an

❤ ❤ ❤

***