Yen Krasa Enak Uwisana, Yen Krasa Ora Enak Terusna

a. Arti yang tersurat:

Sudahilah bila terasa enak, lanjutkanlah bila terasa tidak enak.

yen = kalau; krasa = terasa; enak = enak; uwis = sudah; uwisana = sudahilah, hentikanlah; ora = tidak; terus = terus, lanjut; terusna = teruskanlah, lanjutkanlah.

b. Arti yang tersirat:

Janganlah menuruti hawa nafsu. Hendaknya kita dapat hidup prihatin, mengendalikan hawa nafsu.

c. Nilai yang terkandung:

Ungkapan ini mengandung nilai ajaran atau nasihat agar di dalam hidup bermasyarakat, orang senantiasa dapat menahan diri, mengendalikan hawa nafsu.

d. Latar belakang sejarah/falsafah:

Dasar pemikiran orang Jawa mengungkapkan, bahwa rohani manusia lebih penting dari jasmaninya. Karena rohani lebih penting dari jasmani, maka kepentingan untuk rohani harus lebih diutamakan daripada kepentingan jasmani. Menurut pandangan hidup orang Jawa apabila hasrat jasmaninya dapat ditekan dan dikendalikan, maka rohaninya akan menjadi lebih bersih dan suci. Berbagai cara dilaksanakan oleh orang Jawa untuk mengendalikan rohaninya, misalnya tirakat, hidup prihatin, puasa, menjauhi kenikmatan, membatasi cara hidup mewah dan lain sebagainya.

e. Pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat:

Didalam kehidupan masyarakat Jawa, ungkapan tersebut sangat berpengaruh karena orang senantiasa diingatkan agar selalu mengendalikan nafsu. Jika memiliki harta benda lebih, tidak hidup dalam cara berlebihan. Jika memilikimkekuasaan dan wewenang, tidka bersikap se-wenang2 mumpung berkuasa. Sebaliknya jika sedang dalam kesulitan jangan berputus asa, jika hidup dalam penderitaan jangan frustasi.

f. Kedudukannya di dalam kehidupan masyarakat:

Ungkapan ini sampai sekarang masih tetap hidup dan dijunjung tinggi di dalam kehidupan masyarakat jawa, merupakan pedoman dalam bersikap dan bertidak.

g. Ungkapan lain yang ada hubungannya:

Ngelingana tembe mburine = ingatlah hari2 yang akan datang. Aja mung nggedekake puluk = jangan hanya mementingkan urusan makan saja.***

Sing Bisa Nggedhong Napsu

a. Arti yang tersurat:

Agar dapat memagari nafsu.

sing = hendaknya, yang; bisa = sapat; nggedhong = memagari, mengendalikan, mengekang; nafsu = nafsu.

b. Arti yang tersirat:

Hendaknya dapat mengekang atau mengendalikan nafsu.

c. Nilai yang terkandung:

Ungkapan ini mengandung nilai atau ajaran agar orang dapat menahan diri, mengendalikan nafsunya. Hendaknya orang dapat memiiki kepribadian yang kuat, tidak mudah terbawa arus, tidak mudah terpengaruh oleh keadaan dan suasana sekitarnya.

d. Latar belakang sejarah/falsafah:

Dasar masyarakat Jawa, rohani manusia lebih penting daripada jasmaninya. apabila hasrat2 jasmaninya dapat ditekan atau dikendalikan, maka rohaninya akan menjadi lebih bersih dan suci. Cara pelaksanaan pengendalian rohani dapat dengan tirakat, berpuasa, bertapa, nyenyirik (berpantang atau istilah umum diet) dan sebagainya. Nafsu2 yang tidak terkendalikan (memiliki kekayaan yang berlimpah, kekuasaan) akan dapat menimbulkan konflik dalam hidup bermasyarakat, sebab orang cenderung mengutamakan kepentingan sendiri daripada kepentingan umum.

e. Pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat:

Ungkapan ini besar pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat. Dengan adanya ungkapan ini, maka orang merasa terkendali atau dibatasi geraknya akan meraih keinginan nafsunya untuk mengutamakan kepentingannya sendiri.

f. Kedudukannya di dalam kehidupan masyarakat:

Ungkapan ini masih hidup dalam masyarakat pendukungnya, bahkan merupakan pedoman hidup yang sangat dijunjung tinggi. Ungkapan ini pun ajakan untuk melaksanakan “pola hidup sederhana” mudah sekali diikuti oleh masyarakat. Demikian pula anjuran yang “mengencangkan ikat pinggang” bukanlah hal yang sukar dilakukan oleh masyarakat Jawa.

g. Ungkapan lain yang ada hubungannya:

Aja mung nggedhekake puluk = jangan hanya mementingkan makan saja. Sing eling lan waspada = hendaknya ingat dna waspada. Sing bisa urip sajroning mati lan mati sajroning urip = hendaknya dapat hidup dalam mati dan mati dalam hidup.***

(Bahan: Ungkapan Tradisional sebagai sumber informasi kebudayaan daerah Istimewa Yogyakarta).

*) Sumber: Kliping koran Berita Buana era tahun 1980 an

❤ ❤ ❤

***