Wastra Lungset Ing Sampiran

a. Arti yang tersurat:

wastra = kain; lungset = kusut; ing = di; sampiran = sampiran.

b. Arti yang tersirat:

Ungkapan tersebut mengandung arti, seseorang sebenarnya mempunyai kepandaian, tetapi sama sekali tidak memanfaatkan kepandaiannya. Ilmu yang tidak diamalkan, tidak ada gunanya.

c. Nilai yang terkandung:

Ungkapan ini mempunyai nilai yang bersifat mendidik agar semua orang, khususnya para cerdik pandai suka memanfaatkan kepandaiannya bagi kesejarhteraan masyarakat, dan pasti semua orang sudah banyak mendapat banyak jasa dari masyarakat.

d. Latar belakang sejarah/falsafah:

Tuhan adaah sumber segala sesuatu yang baik bagi umat manusia. Kekayaan, pangkat, kekuasaan dan lain sebagainya haruslah dapat mengucap syukur kepada Tuhan. Di samping bersyukur harus disertai tindakan yang positif yang dikehendaki oleh Tuhan untuk kemulin nama Tuhan dan untuk sesame manusia berdasarkan kasih.

e. Pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat:

Ungkapan ini sangat besar pengaruhnyaterhadap masyarakat terutama di kalangan masyarakat terpelajar. Kita kethaui orang yang pernah mendpat pendidikan yang baik, misalnya di perguruan tingggi, tidka semua mempunyai kesadaran bahwa dia harus mengamalkan ilmunya demi kebesaran nama Tuhan dan demi kesejahteraan umat. Di kalangan orang terpelajar sebagaian menempatkan ilmunya hanya sebagai hobby, sebagai symbol status atau hanya sebagai senjata untuk mencapai maksud2 pribadi. Dalam keadaan demikian maka ungkapan ‘wastra lungset ing sampiran” berperan sebagai penyadar atau pengingat agar yang bersangkutan sadar dan ingat akan tugasnya untuk berbuat amal dengan ilmu yang dimilikinya.

f. Kedudukannya di dalam kehidupan masyarakat:

kUngkapan ini masih mempunyai pendukung, artinya masih banyak yang mempergunakannya. Baik orang tua, guru maupun tokoh masyarakat mempergunakan uangkapan tersebut untuk memberikan nasihat kepada anak, murid dan orang2 yang dibawah pimpinannya.***

Sugih Ngelmu Tanpa Meguru

a. Arti yang tersurat:

Memperoleh (memiliki) banyak ilmu tanpa berguru.

sugih = kaya, memiliki banyak; ngelmu = ilmu; tanpa = tanpa; meguru = berguru.

b. Arti yang tersirat:

Keluhuran budi merupakan modal hidup yang sangat tinggi nilainya. Orang yang memiliki keluhuran budi, di dalam hidup bermasyarakat niscaya memiliki kewibawaan yang tinggi, bagaikan orang yang memiliki ilmu tinggi. Keluhuran budi diibaratkan sebagai kekayaan yang santa tinggi nilainya, kekayaan berwujud ilmu yang tinggi. Keluhuran budi yang tulus dari hati sanubari, bagaikan kekayaan yang dimiliki dengan menguasai banyak ilmu yang tinggi tanpa belajar dari siapapun.

c. Nilai yang terkandung:

Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini merupakan nasihat atau dorongan agar orang senantiasa beritikat baik dan berbudi luhur. Keluhuran budi sangat tinggi nilainya, baik dalam hal bermasyarakat, dalam organisasi sosial, maupun dalam lembaga pemerintah. Orang yang luhur budinya di mata masyarakat dinilai memiliki kewibawan yang tinggi. Orang yang berbudi luhur dinilai kewibawaannya yang tinggi bagaikan menguasai ilmu yang tinggi.

d. Latar belakang sejarah/falsafah:

Menurut pandangan hidup orang Jawa, keluhuran budi itu mengalahkan segalanya. Sikap dna tindakan baik, keampuhannya mengungguli segala kekuatan dan senjata yang bagaimanapun ampuhnya. Segala ilmu, baik ilmu kesaktian, kekebalan maupun ilmu2 lainnya dapat diperoleh dengan jalan berguru. Orang yang memilikiitikat yang baik, berbudi baik, yang berwatak jujur dan bersikap luhur didibaratkan menguasai ilmu yang tinggi tanpa berguru kepada siapa pun. Pandangan yang demikian itu yang melatar belakangi ungkapan “sugih tanpa meguru”.

e. Pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat:

Ungkapan ini sangat besar pengaruhnya terhadap masyarakat Jawa. Keluhuran budi merupakan sikap yang ideal, orang yang bertindak dan bersikap baik budi, disegani dan dihormati oleh anggota masyarakat. Pencemoohan bila tidka berani dilakukan secara terang2an biasanya melalui pergunjingan dan menjaid bahan pembicaraan.

f. Kedudukannya di dalam kehidupan masyarakat:

Ungkapan ini hingga sekarang masih berlaku dalam kehidupan masyarakat pendukungnya. Bahkan tetap dijunjung tinggi mengingat nilai positif yang terkandung di dalamnya. Juga manfaat terhadap pembinaan dan pengembangan metal anggota masyarakat pendukung atau pewaris ungkapan ini.

g. Ungkapan lain yang ada hubungannya:

Sura dira Jayaningrat lebur dening pangastuti = segala sesuatu bahkan segala niat yang tidak baik, akan dapat dikalahkan oleh sikap dan tindakan yang baik. Kemarahan yang bagiamanapun meluapnya akan dapat dikalahkan oleh dikap rendah hati.

Digdaya tanpa aji = kebal tanpa ilmu kekebalan, Sugih tanpa bandha = kaya tanpa memiliki harta, Menang tanpa ngasorake = menang tanpa mengalahkan.***

(Bahan: Ungkapan Tradisional sebagai sumber informasi kebudayaan daerah Istimewa Yogyakarta).

*) Sumber: Kliping koran Berita Buana era tahun 1980 an

❤ ❤ ❤

***