Wedi Marang Wayange Dhewe

a. Arti yang tersurat:

Takut terhadap bayang2 sendiri.

wedi = takut; marang = terhadap, wayange = bayang2nya; dhewe = sendiri.

b. Arti yang tersirat:

Ungkapan ini mengandung nilai ajaran atau pendidikan agar orang senantiasa berbuat baik, kapan saja, di mana saja dan terhadap siapa saja, baik kepada bawahan, kepada atasan maupun kepada sesamanya.

c. Nilai yang terkandung:

Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini merupakan dorongan agar orang jangan takut bersikap dan berbuat baik. Jangan sampai orang takut berbuat baik karena takut menghadapi penghambat yang menghalangi. Ada ungkapan lain yang menyatakan “jer basuki mawa beya” yang artinya untuk mencapai keselamatan atau kesejahteraan diperlukan bea. hal ini dapat berwujud harta kekayaan, tenaga pengorbanan perasaan dan sebagainya. kalau orang takut diganggu terhadap bea ini, maka tidak berani bertindak. Sebaliknya perbuatan jelek memiliki jalan yang lapang. Kalau orang tidak berani berbuat kebaikan dan hanya berani berbuat jelek, ini ibarat “sulung alebu geni”. Artinya sulung (sejenis laron keleketu) masuk kedalam nyala api, berarti bunuh diri. Sikap dan perbuatan jelek akhirnya akan mencelakakan diri sendiri.

d. Latar belakang sejarah/falsafah:

Pedoman yang dipegang teguh oleh masyarakat adaah “risi menawa dirasani atau suthik menawa dirasani” artinya segan digosipkan. Di dalam pergaulan se-hari2, sikap dan perbuatan tidak baik dari seorang biasanya menjadi bahan pembicaraan dan bahkan menjadi cemoohan.

Padmosusastro, seorang penulis Jawa menuliskan salah satu sikap orang Jawa: “dhemen ngrasani” yakni biasa membicarakan orang lain yang sikap dan perbuatannya tidak baik. Perbuatan atau sikap seseorang diibaratkan sebagai ‘wayangan’ atau bayang2 yang selalu mengikuti orang ke-mana2 dan selalu dapat dilihat orang lain.

e. Pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat:

Orang segan atau atau tidak suka menjadi bahan pembicaraan orang lain, terutama bilamana dibicarakan kejelekannya. Kebiasaan orang membicarakan sikap atau perbuatan tidka baik seseorang, dapat berguna sebagai sarana pengendalian ketegangan sosial.

Orang yang merasa dirinya tercela merasa kecil dalam pergaulan, sehingga tidak berani bertemu dengan orang lain. Inilah yang dikatakan sebagai ‘wedi marang wayangane dhewe”. Supaya tidak malu bergaul atau merasa kecil, orang harus menghindarkan diri dari sikap dan perbuatan tercela.

f. Kedudukannya di dalam kehidupan masyarakat:

Ungkapan ini dari dulu hingga sekarang masih berlaku dalam kehidupan masyarakat, bakan tetap dijunjung tinggi sebagai pedoman hidup dalam pergaulan.

g. Ungkapan lain yang ada hubungannya:

Lumuh dirasani, suthik dirasani = enggan dibicarakan kejelekannya.

Wedi Wirang Wani Mati

a. Arti yang tersurat:

Takut malu berani mati. Wedi = takut; wiring = malu, menderita malu; wani = berani; mati = mati.

b. Arti yang tersirat:

Daripada mendapat malu, lebih baik mati. Lebih baik mati daripada menderita malu.

c. Nilai yang terkandung:

Ungkapan ini mengandung nilai ajaran moral atau penggemblengan watak ksatria. Ajaran yang terkandung dalam ungkapan ini adalah hendaknya orang menghendaki sikap atau tindakan hina. Lebih baik tidak hidup di dunia daripada hidup hanya untuk melakukan perbuatan yang hina. Hendaknya orang memiliki rasa malu atau takut melakukan tindakan yang hina.

d. Latar belakang sejarah/falsafah:

Watak atau tekad ksatria merupakana norma yang sangat dijunjung oleh masyarakat. Sesuai dengan ajaran watak ksatria, maka orang senantiasa berusaha melakukan tindakan yang luhur, demi kesejahteraan masyarakat. Sesuai dnegan watak norma ksaatria, maka aorang menghindari sikap dan perbuatan hina. Orang merasa malu jika sampai melakukan perbuatan hina. Perbuatan malu itu antara lain “colong-jupuk (mencuri), njejaluk (minta2 atau mengemis), ngapusi (menipu).

Melakukan pekerjaan berat dan kasar bukanlah perbuatan yang hina. Bekerja sebagai buruh, kuli, pelayan atau pesuruh bukanlah pekerjaan hina. Menganggur dan berpangku tanganlah yang di anggap perbuatan atau sikap yang hina. Tindakan atau perbuatan hina itulah yang menimbulkan rasa malu. Menepati watak ksatria, maka orang lebih merasa takut menghadapi malu daripada menghadapi mati.

e. Pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat:

Sekitar tahun 1951 di daerah Gunung Kidul sering terjaid kasus bunuh diri. Setelah diselidiki penyebab bunuh diri adalah “tekad lebih baik mati daripada malu”. Penduduk menghadapi kenyataan “paceklik” (kelangkaan makanan) yang amat gawat, daripada harus menjaid peminta-minta atau menjadi pencuri, lebih baik mati saja.

f. Kedudukannya di dalam kehidupan masyarakat:

Ungkapan ini sapai sekarang masih tetep hidup di dalam kehidupan masyarakat pendukungnya.***

(Bahan: Ungkapan Tradisional sebagai sumber informasi kebudayaan daerah Istimewa Yogyakarta).

*) Sumber: Kliping koran Berita Buana era tahun 1980 an

❤ ❤ ❤

***