Sadumuk Bathuk Sanyari Bumi Ditohi Pati

a. Arti yang tersurat:

Sesentuh dahi sejari bumi, dipertahankan sampai mati.

dumuk = sentuh, tunjuk, gamit; sadumuk = sesentuh, segambit, satu sentuh, satu gamit; bathuk = dahi, nyari = ukuran selebar jari; sanyari = selebar jari; bumi =bumi; ditohi = dipertaruhi; pati = mati; ditohi pati = dipertaruhkan jiwanya, dipertahankan sampai mati.

b. Arti yang tersirat:

Dalam artinya yang sempit ungkapan ini mengandung pengertian bahwa orang harus berani dan mau membela kehormatan isterinya mempertahankan setiap jengkal tanah yang dimilikinya. Dalam artinya yang luas ungkapan ini mengandung pengertian bahwa setiap harus berani dan mau membela serta mempertahankan tanah air, bangsa dan kehormatannya sebagai bangsa.

c. Nilai yang terkandung:

Dalam artian sempit ungkapan ini mengandung nilai pendidikan ke arah keberanian membela atau mempertahankan semua milik pribadi kehormatan, khususnya anak dan isteri. Dalam arti luas ungkapan ini mengandung nilai pendidikan ke arah nasionalisme dan patriotisme.

d. Latar belakang sejarah/falsafah:

Pada masa lalu di mana Jawa masih merupakan daerah yang benar2 agraris, hampir semua penduduknya berstatus sosial sebagai petani. Dalam masyarakat seperti itu wajar jika tanah mendapat perhatian dan penghargaan istimewa, sebab tanah berkedudukan sebagai modal dasar dan sekaligus symbol status. Kecuali tanah, isteri dan anak juga mendapat kedudukan penting dalam masyarakat petani, sebab mereka merupakan pembantu utama dan setia para petani. Tidak mengherankan bahwa orang bersedia berbuat apa saja untuk membela dan mempertahankan miliknya di atas.

Dalam perkembangan lebih lanjut, kata “sanyari bumi” yang semula berarti selebar jari dan kata “sadumuk bathuk” yang semula berarti dahi sesentuhan jari, memperoleh arti yang lebih luas, menjadi tanah air, bangsa dan kehormatan sebagai bangsa.

e. Pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat:

Ungkapan ini mempunyai pengaruh yang posistif kepada masyarakat, halmana menyebabkan masyarakat mempunyai keberanian dan kesediaan membela tanah air, bangsa dan kehormatannya sebagai bangsa.

f. Kedudukannya di dalam kehidupan masyarakat:

Ungkapan ini di Jawa masih sering terdengar dalam percakapan atau dalam pidato. Ungkapan ini biasanya dipakai untuk membangkitkan semangat orang, yang miliknya diganggu oleh orang lain terutama yang menyangkut kehormatan pribadi. Juga sering dipakai untuk mengobarkan semangat berjuang pada tentara kita.***

(Bahan: Ungkapan Tradisional sebagai sumber informasi kebudayaan daerah Istimewa Yogyakarta).

*) Sumber: Kliping koran Berita Buana era tahun 1980 an

❤ ❤ ❤

***