Sing Momong Masa Trimaa

a. Arti yang tersurat:

Yang mengasuh mustahil (mau) menerima.

sing = yang; momong = mengasuh; masa = mustahil, tak akan; trima = menerima, merasa puas; masa trima = mustahil mau menerima, mustahil merasa puas, tak merasa puas.

b. Arti yang tersirat:

Yang kuasa (Tuhan) niscaya tak akan merasa puas. Tuhan niscaya tak mau menerima sikap serta tindakan buruk yang dilakukan oleh seseorang terhadap diri saya.

c. Nilai yang terkandung:

Ungkapan ini mengandung nilai pengendalian nafsu marah, nilai penggalangan sikap sabar. Menerima perlakuan yang buruk terhadap dirinya, hendaknya jangan membalas dengan tindakan buruk, melainkan harus bersikap benar. Ungkapan ini sangat baik untuk mencegah sikap dan keinginan untuk membalas dendam terhadap tindakan buruk orang kain terhadap diri seseorang.

d. Latar belakang sejarah/falsafah:

Masyarakat Jawa yakin bahwa Tuhan maha tahu dan maha adil. Tuhan selalu mengetahui segala sesuatu yang terjadi, mengetahui segala tindakan orang lain terhadap diri seseorang, tindakan yang baik maupun yang buruk, meskipun tindakan itu sangat dirahasiakan sehingga orang lain tidak mengetahuinya. Disamping sifat maha tahu, Tuhan memiliki sifat maha adil. Terhadap sikap perbuatan yang tidak baik, Tuhan pasti memberikan hukuman yang setimpal.

Keyakinan inilah yang melatarbelakangi ungkapan ‘sing momong masa trimaa”.

e. Pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat:

Penggunaan ungkapan mengandung isi: kau tidak perlu bertindak sendiri untuk membalas dendam. Tuhanlah yang akan bertindak, memberi hukuman terhadap orang yang berlaku jahat.

f. Kedudukannya di dalam kehidupan masyarakat:

Ungkapan ini menempati kedudukan yang tinggi dalam kehidupan masyarakat dalam arti yang positif. Ungkapan ini dapat berfungsi sebagai rem terhadap tindak atau sikap akan membalas dendam. Dengan demikian tindakan akan main hakim sendiri dapat dicegah.

g. Ungkapan lain yang ada hubungannya:

Gusti Allah ora sare – Tuhan tidak tidur. Gusti Allah maha wikan – Tuhan maha tahu. Gusti Allah maha mirsa – Tuhan maha melihat.***

Sing Narima

a. Arti yang tersurat:

Hendaknya dapat menerima dengan tawakal.

sing = yang, dalam hal ini hendaknya; narimo = menerima (dengan tawakal).

b. Arti yang tersirat:

Pada waktu kehidupan kita sedang pasang, seua keinginan kita dikabulkan oleh Tuhan, hendaknya kita tidak lupa daeratan. Sebaliknya pada waktu kehidupan kita sedang surut, hendaknyaa kita tetap tabah. Pendek kata apapaun yang kita terima, kesenangan atau kesusahan, kejayaan atau kesengsaraan, hendaknya dapat kita terima sebagai pemberian Tuhan dengan kepercayaan bahwa Tuhan selalu berkemauan baik terhadap kita, umat-Nya.

c. Nilai yang terkandung:

Ungkapan tsb mengandung nilai pendidikan ke arah sikap menerima segala kenyataan yang dihadapi sebagai realisasi kehendak Tuhan. Misalnya, tidak berhasil melamar pekerjaan, diterima sebagai petunjuk bahwa Tuhan akan memberikan pekerjaan yang lebih cocok, atau lebih baik. Tidak lulus ujian, diterima sebagai petunjuk bahwa Tuhan menghendaki studi yang lebih mendalam, agar perjalanan hidup di kemudian hari lebih lancer. Kemiskinan diterima sebagai pendidikan Tuhan, agar dapat menghayati kehidupan sebagai orang miskin agar di kemudian hari dapat menjadi pemimpin sejati.

d. Latar belakang sejarah/falsafah:

Tuhan adalah segala sumber kehidupan. Semua makhluk hidup mendapat hidup daripada-Nya. Manusia sebagai makhluk hidup juga mendapat hidup daripada-Nya. Karena itu sudha selayaknya jika manusia menempatkan hidupnya di bawah kekuasaan dan pimpinan Tuhan. Dengan perkataan lain, sudah pada tempatnya jika manusia menyerah kepada pengaturan Tuhan terhadap dirinya dengan kepercayaan bahwa pengaturan Tuhan terhadap dirinya dengan kepercayaan bahwa pengaturan Tuhan pasti dengan maksud baik, walaupun secara lahir kadang2 terasa menyakitkan atau menyusahkan.

e. Pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat:

Sebagai akibat pembangunan yang terus berlangsung, ekonomi berkembang dengan pesat, keadaan sosial dan budaya ikut pula mengalami pergeseran nilai2. Perubahan status sosial atau perubahan tata nilai menimbulkan kegelisahan dalam masyarakat. Dalam keadaan yang demikian maka ungkapan “Sing narima” mempunyai peranan yang berpengaruh sangat positif. Se-tidak2nya sebagaian dari warga masyarakat menjadi tabah menghadapi pergeseran yang terjadi.

f. Kedudukannya di dalam kehidupan masyarakat:

Ungkapan “Sing narima” ini sangat popular dalam masyarakat Jawa. Ungkapan ini mempunyai fungsi sebagai pegangan rohani yang dapat menyebabkan orang tabah menghadapi segala kenyataan atau cobaan. Apapun yang terjadi dalam mengatur umat-Nya. Karena itu ungkapan ini dipergunakan untuk memberi nasihat kepada anaka2, teman dan lain sebagainya, yang seang putus asa atau bersedih hati.

g. Ungkapan lain yang ada hubungannya:

Pasrah lan sumarah = bersikap menyerah.***

(Bahan: Ungkapan Tradisional sebagai sumber informasi kebudayaan daerah Istimewa Yogyakarta).

*) Sumber: Kliping koran Berita Buana era tahun 1980 an

❤ ❤ ❤

***