Gendhing Witing Klapa

Saking Ringgit: Ki Sugino Siswocarito

Witing klapa jawata ing ngarcapadha
Salugune wong wanita
Dasar nyata kula sampun njajah praja
Ing Ngayogya – Surakarta

Sekar kawis, cinawis sekar melati
Dasar manis merak ati
Aduh Gusti sun rewangi pati geni
Pitung dina, pitung bengi

Artinya:

Witing klapa, jawata ing ngarcapadha
Sesunguhnyalah seorang perempuan
(yang sangat menawan)
Memang benar saya sudah menjelajahi negara
Negeri Yogyakarta dan Surakarta
(namun tidak juga bertemu dengan wanita semenawan dia)

Sekar kawis, cinawis sekar melati
Dasar manis, menarik hati
Aduh Gusti, saya rela tidak makan tidak minum
Selama tujuh hari, tujuh malam

Parikan:

Witing klapa = Batang kelapa, namanya “glugu” kata ini untuk membentuk kata “salugune”

Jawata ing ngarcapadha = Dewa di bumi, orang atau “wong” untuk membentuk kata “wong”. Sa-lugu-ne wong wanita

Sekar kawis = Bunga pohon Kawis — bersajak dengan kata “dasar manis”
Cinawis sekar melati = disajikan bunga Melati — bersajak dengan kata “merak ati”

Sebuah lirik yang menceriterakan tentang kekaguman seorang lelaki terhadap seorang perempuan.

Ia sudah pergi menjelajahi dua negeri, Yogyakarta dan Surakarta, namun hanya satu wanita yang paling menawan, tidak ditemuinya yang lain selain yang satu itu.

Ia rela berprihatin selama tujuh hari tujuh malam agar tercapai hasrat hati untuk memilikinya.

Salah satu tembang atau lagu yang terkenal pada masa penjajahan Belanda sampai awal kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yaitu tembang Witing Klapa. Tembang ini sebenarnya berupa saloka yang menceritakan tentang terpecahnya Kraton Surakarta menjadi Kraton Ngayogyakarta dan Kraton Surakarta karena Perjanjian Giyanti tahun 1755. Perjanjian yang terjadi antara Pemerintah Belanda yang waktu itu diwakili Gubernur Jenderal Nicolaas Hartingh dan Sultan Hamengku Buwono atau Pangeran Harya Mangkubumi.

Saloka merupakan kalimat atau tetembungan seperti paribasan atau peribahasa tetapi sulit untuk dipahami maksud yang terkandung di dalamnya.

Tembang saloka Witing Klapa berbunyi “Witing klapa, jawata ing ngarsa pada, saklugun wong wanita, dasar nyata ingkang sampun njajah praja ing Ngayogyakarta Surakarta”. Makna dari tembang tersebut wit klapa (pohon kelapa) itu bernama glugu, jawata ing ngarsa pada itu nama ratu. Jadi maknanya salugune sing dadi ratune(tanah Jawa) iku wong wedok (sebenarnya ratu tanah Jawa) yaitu Ratu dari Belanda, Wilhelmina.

❤ ❤ ❤

***