Gagas Jawalogi

unduhan (1)

Pamuji rahayu, Ruang ‘gagas Jawalogi’ ini sebagai media urun rembug dan kepedulian kita untuk menggali, merevitasi dan melestarikan budaya Jawa :)…

Pengertian ‘Javanologi’ memiliki konotasi yang jelas di pergunakannya pendekatan ilmiah di dalam setiap kegiatannya sesuai dengan penalaran. Istilah ‘logi’ berasal dari bahasa Yunan logos yang berarti ‘sabda, pemikiran, pengetahuan’, sedangkan Java secara spesifik merujuk ‘budaya Jawa’. Javanologi berarti Pengetahuan (tentang kebudayaan) Jawa.

Judul di atas saya namakan Jawalogi saja, (*mohon saya di koreksi jika salah), alih-alih memakai nama Javalogi, dengan pertimbangan kata ‘Jawa’ lebih asli atau tidak western mindet. Selain itu menurut pakar Jawa, seperti Prof. Ayu Sutarto, beliau giat memantapkan pengertian bahwa istilah “Jawa” bukan sekedar mengacu ke ras bangsa tertentu, melainkan mengacu kepada konsep sifat dan sikap ras atau individu mana pun yang menganut penuh keagungan budaya dan way of life tertentu itu.

Nilai-nilai luhur budaya Jawa yang hendak digali ini laksana intan berlian yang masih tercerai-berai. kita berharap akan terjalin komunikasi, saling pengertian, persatuan dan kesatuan, kebersamaan yang bersendi pada kesalingan mutualistik, daya dinayan, mad-sinamadan, dan gotong royong semua unsur terkait. Pada waktunya kita akan mampu mempersembahkan serangkaian untaian intan berlian nilai-nilai luhur budaya bangsa bagi kemajuan bangsa tercinta, Indonesia.

Adapun Visi dan Misi Jawalogi adalah :

Visi : Menjadikan tradisi kearifan lokal sebagai ideologi strategi pembangunan jati diri bangsa.

Misi :

1. Mewujudkan suatu wadah pemikiran budaya Jawa sebagai pilar pendukung utama lembaga/ organisasi/ kegiatan yang berbasis nilai-nilai luhur budaya nasional.

2. Meningkatkan berbagai kajian mendalam terhadap hasil karya cipta budaya intelektual Jawa yang berbhineka dari aspek gagasan dan pandangan hidup (ideafact), sistem perilaku sosial (social fact), dan wujud atau bentuk (artefact).

3. Penggalian nilai-nilai luhur budaya Jawa dalam berbagai bentuk forum komunikasi ilmiah sebagai upaya untuk memperkokoh, memperkaya, dan lebih mewarnai nilai luhur kearifan lokal dalam pembentukan, pembinaan, dan pengembangan jati diri bangsa Indonesia.

4. Meningkatkan pengelolaan tradisi budaya yang mencakup tindakan inventarisasi, pemeliharaan, penelitian, pengembangan, pendayagunaan, penyebarluasan, dan revitalisasi nilai-nilai luhur kearifan lokal Budaya Jawa.

5. Menjalin kerjasama kemitraan dengan berbagai elemen, baik negeri maupun swasta, sebagai upaya konkrit pelestarian, pembinaan, dan pengembangan kebudayaan Jawa.

6. Menyelenggarakan berbagai model dan jenis pelatihan dan pembelajaran dialogis yang bersifat motivatif terhadap aspek pengetahuan, ketrampilan, nilai-nilai kebudayaan Jawa kepada masyarakat luas.

images (4)

Poro sederek lan sedoyo, belajar dari banyaknya paguyuban atau padepokan/ organisasi/ lembaga Jawa yang akhir-akhir ini banyak mendapatkan respons positif, hendaknya di pahami bahwa padepokan Jawalogi  tidak bersifat eksklusif, namun terbuka & mengakomodasi semua pelaku budaya & kepentingan besar revitalisasi budaya daerah dalam hal ini Jawa.

Untuk itu berdiri tegaknya padepokan tidak tergantung pada ketokohan 1 atau 2 orang, namun sungguh merupakan wadah bersama menemukan kepenuhan hidup  & arti keluarga sebagai insan yang berbudaya. Curah gagas, sharing, mbat-mbatan laku urip, bawarasa menjadi media utama pembelajaran dengan semangat asah asih asuh. Bisa mapan jadi guru bisa mapan jadi murid ataupun teman seperjalanan ngelmu urip dengan rasa merdeka.

Tantangan kebudayaan daerah adalah globalisasi dengan berlakunya AEC 2015 & WTO 2020 yang telah diratifikasi pemerintah, dunia menjadi dunia yang terintegrasi & borderless…

Pertanyaan ultimatumnya adalah masihkah budaya Jawa bisa mengikuti arus globalisasi bahkan mampu memberi sumbangan & berperan sebagai motor/spirit manusia Jawa dalam keikutsertaannya membangun dunia yang integral & tanpa sekat itu? )…

***

11 thoughts on “Gagas Jawalogi”

  1. meluuuuuuuuu ………

    Replay:

    Pokok`e melu, yuuukk😉 …

  2. Excellent!!

    Pertanyaan ultimatumnya adalah masihkah budaya Jawa bisa mengikuti arus globalisasi bahkan mampu memberi sumbangan & berperan sebagai motor/spirit manusia Jawa dalam keikutsertaannya membangun dunia yang integral & tanpa sekat itu? )…
    …….

    Tunggu 1 – 2 generasi lagi (25 – 50 th), budaya Jawa tidak akan hanya sekedar mengikuti arus globalisasi, melainkan sebaliknya masyarakat global (humanity) akan mulai mempraktekkan gaya hidup berdasarkan falsafah Jawa. Mungkin namanya bukan Jawanologi, tapi prinsipnya sama.

    Mungkin saat ini di Jawa / Indonesia hal ini tidak jelas terlihat, namun secara global, terutama dikalangan kaum spiritual, gejala gejala ini sangat jelas terlihat.

    Rahayu.

    Replay:

    That`s wonderful, terima kasih untuk semangat dan optimisnya🙂 …

    • Sudah banyak fakta meng isyaratkan dan meng suratkan kebudayaan jawa tidak mati dan makin hidup.
      Contoh kecil ya….
      itu rumah joglo diminati oleh manusia bukan jawa dan berani harga tinggi bukan ukiran kayu jatinya yang menarik juga makna2 yang ter surat dan ter sirat
      nuwun..

  3. apik mbakyu Dewi… selamat berkreasi mencari yang terbaik tentang budaya Jawa… wis aku melu seneng lan ndukung.. hayooo kamu bisa…🙂 …

    Replay:

    Yes, Nusantara pasti bisa!😀 …

  4. @ All lan Sedoyo,

    Maturnuwun lan pamuji rahayu,

    Saya teringat pernah 1-2 kali menghadiri undangan konser meditasi, salah satunya adalah meditasi ‘sahaja’ (yang pertama dulu meditasi sri chinmoy) yang berasal dari india, menarik sekali karena mereka tidak menarik tiket alias gratis, disitu sebelumnya mereka memainkan musik khas india sebelum acara inti dimulai. Mereka memperkenalkan meditasi yoga sahaja dalam rangka pembukaan kelas baru di beberapa kota di indonesia. dan kelasnya sudah terebar diseluruh dunia lebih dari 100 negara dan berhasil memiliki ribuan murid/ pengikut. Dan rata2 disetiap ‘aksinya’ mereka tak memungut biaya sepeserpun. Hanya dari donasi para pengikut setianya yang merasa berterima kasih bahwa meditasinya telah menolong hidupnya/ membawa pencerahan yang baru dalam kehidupannya.

    Dan menurut saya, Jawa/ kejawen memiliki sisi yang juga tak kalah menariknya, positif dan universal yang belum ter eksplore dan ter ekspose dengan baik untuk menginspirasikan manusia di muka bumi ini, sebut saja, meditasi tanjung putih, meditasi keindahan bunga, meditasi sedulur papat dsb. Belum lagi musik klasik tradisionalnya: gamelan dsb. Saya melihat, alangkah indahnya jika masyarakat jawa yang pandai/ mumpuni spiritualnya juga melakukan hal yang sama, selain dalam misi memperkenalkan budaya (bisa musik,tari,jamu atau yang lainya) juga misi kemanusiaan menolong orang lain (dalam hal ini adalah spiritual & ritualnya). Serta membantu masyarakat luas dalam memahami kejawen. Jadi kesemuanya bisa saling bekerja sama, bahu-membahu saling bersinergis.

    Sebenarnya sudah banyak juga yang kreatif dalam memperkenalkan budaya yang luhur ini, namun sayangnya hanya memanfaatkannya dari segi bisnis saja, misal : mereka lebih suka menjual/ membeli barang-barang klenik yang banyak beredar di majalah-majalah supranatural. juga pernah saya jumpai seorang bergelar ‘kanjeng’ yang membuka kelas meditasi asli jawa/ leluhur tetapi dengan harga selangit, bayangkan kalau untuk satu kali sesi meditasi bulan purnama saja mereka membandrol harga 1,3 jt, alhasil meditasi asli nusantara ini sepi peminatnya, atau hanya segelintir bule saja yang terlihat ikut kelasnya.

    Kalau kita bisa lebih kreatif dan tulus, seharusnya kita memperkenalkan dulu budaya ini kepada masyarakat luas, atau dipopulerkan dulu sebelum menginjak hal yang lebih komersial. Jadi bukan hanya berorientasi ‘money minded’ saja, seperti halnya yoga, tai chi, chi gong dsb. Karena kejawen ini hanya bisa kita populerkan dengan konsep spiritual, sosial dan budayanya yang welas asih.

    Dan jika kesemuanya itu bisa kita tampung dalam sebuah wadah atau katakanlah sebuah pendopo/ padhepokan/ paguyupan dsb, maka effect positif dominonya adalah bukan tidak mungkin sel-sel generasi baru kejawen akan bermutasi, berkembang. kita bisa memiliki cabang “misal” Pendopo diseluruh dunia, baik Pendopo berskala kecil/ kelas, atau bahkan ‘Pendopo Agung’ jika banyak murid/ pengikut/ partisipasi/ penggemarnya yang terinspirasi oleh ‘Jawa’ yang sungguh luar biasa manfaatnya ini. Pendopo ini tak ubahnya seperti tempat peribadatan dengan sentuhan yang berbeda, kelebihannya Pendopo ini selain bisa untuk tempat meditasi/ bertapa (religion) juga tempat pusat study budaya jawa (culture) serta juga bisa sebagai sumber inspirasi falsafah bagi semua agama, budaya dan bangsa (way of life).

    Dengan begitu, budaya Jawa akan tetap bisa ‘eksis’ apapun kondisi jamannya dan yang terpenting lagi kebudayaan jawa/ kejawen tidak akan mengalami kemunduran seperti yang diramalkan oleh pendahulu kita bahwa ‘orang jawa sudah lupa akan jawanya’. Jika kita bisa cerdas mensikapi dan cermat melihat peluang, maka, ramalan itu tak ubahnya seperti bentuk ‘peringatan’ jadi bukan seperti sebuah ‘takdir’ yang membelenggu.

    “We are not a prisonner of our fate”, kita bukanlah tawanan dari nasib kita. Sangat penting untuk selalu optimis menatap masa depan, Semuanya itu bisa disiasati dengan kepedulian kita kepada aset nasib budaya jawa ini dengan langkah-langkah yang konkrit, untuk kemajuan budaya luhur kita serta untuk generasinya di masa yang akan datang🙂 …

    Salam tresno budoyo,

    Dewi

  5. Nuwun,
    Beberapa kali Paman menyinggung dlm komen2 di topic yg lain ttg flexibility Jawanism, maksudnya, Paman melihat Budaya Jawa akan bisa berkembang dan diterima oleh Masyarakat global bila mau dan mampu mengikuti perkembangan peradapan jaman dlm era ini adalah Globalisasi. namun sebaliknya bila Budaya Jawa mempertahankan kekakuan dan kekolotan2nya tenentu saja dg sendirinya akan di tinggalkan oleh anak2 Jawa sendiri, siapa sih yg mau ketinggalan Jaman?
    anyway….menurut pemahaman Paman, Budaya jawa seharusnya mau, bisa dan mampu untuk itu.
    Dinamism adalah akar/cikal bakal yg paling mendasar dari pola2 spiritual Jawa, nah…tentu saja Jawa bisa dan mampu berjalan dg peradapan yang selalu dynamic ini tidak perduli kapan pun dan dimanapun, sepanjang tidak meninggalkan nilai2 keJawaannya.
    Banyak hal2 yg menurut Paman perlu di tinggalkan dari Budaya Jawa bahkan Indonesia pada umumnya al Feodalisme, Paman merasakan dan mengalami sendiri betapa prilaku Feodal ini sangat menghambat laju perkembangan dalam banyak hal, baik keilmuan, spiritual, ekonomi dll, Feodalism hanya menguntungkan beberapa pihak sj.
    Maaf bila kurang berkenan.

    Asah asih asuh.

    PD

    Replay:

    Setuju, feodalisme no way, dinamisme please that way🙂 …

    • Ati ati kuwalat lo…yang reply, dengan ketikannya hurufnya MIRING.
      Eling paweling wae..

      Yang bener :
      Dinamisme OK
      Indonesianisme, YES

      KITA ini sedang belajar dari ilmu Raja Raja
      Yaitu ilmu Jawa Inggil yaitu : JAWI
      Karena ilmu Jawa yg Hinggil beliau berlaku satriya, pejuang tanah air
      Satriya terunggul pada jamannya disebut Raja
      Bentuk tatanan teritorialnya Kerajaan
      Ilmu nya WELASIHLOGI…alirannya welasihisme
      Welas Asih isme, istilah modern nya : Sosialisme
      Atau ilmu pejuang tanah waris leluhur : feodalisme
      ( positif think about, tentang feodalisme ).

      Anonym isme atau anonimisme. Yes
      Dinamisme dalam konteks cinta tanah air,
      adalah :
      . Sosialisme, welasih isme. Yes
      . Nasionalisme. Yes
      Arab totalisme, No
      Kafirisme, No
      Musryk, syirik isme, No
      Karena merusak kerukunan negeri sendiri
      Kita wajib setuju yang baik baik isme aja.

      Damai isme, Yes
      Guyubrukun isme Yes
      Senyum isme, sumeh isme. Yes
      Bhinneka tunggal eka isme . Yes
      PANCASILA isme. Yes
      Garuda Pancasila isme. Yes
      Originalculture Indonesian isme. Yes.

      Tradisisenibudayanegerisendiri isme, YES.

      Kita dan
      Lainnya yg baik , sae sae isme aja
      Tolong dipikir carasendiri wae…Discesion isme
      Keep smile
      Thruthly is mind.

      Replay:

      SUARA isme Yes:mrgreen: ….

  6. Ssstttt…
    Semua Serius banget sih.

    WANGSIT JAWAKOLOGI

    Dasaring laku yo kudu mlebu krajan SAK NIKI
    Krajan wis samar
    Gampang, instant, nyasmitaning kahanan
    Milih ” jokowi ” wae….

    He he he he
    HA HA HA HA
    hi hi hi hi
    Mangga di Waskitani
    Mangga di Jagi
    Aja dhisik apriori
    Ilmi Jawi saged nyandra ing mburi

    Keep smile
    Sstttt……….
    Iki rahasia
    Hi hi hi hi

    • Cocok mas..setuju…banget
      Dasaring laku yo kudu mlebu krajan SAK NIKI
      Krajan wis samar
      Gampang, instant, nyasmitaning kahanan
      Milih ” jokowi ” wae….(nyontek ah…gpp ya mas).

  7. yang no satu diam, karena sudah mewarnai dunia.
    dimana ada pohon kelapa
    dimana ada bangunan berbahan ” kotak “.
    dimana ada kain segi empat ” iket “..

    dimana ada kontruksi sistem pengairan yg elok
    dimana ada bercocok tanam teras siring
    dimana ada syair bertata urut kosa kata indah
    dimana ada tuntunan ” manusia hormat, menjaga Allam lingkungannnya “.
    dimana ada kesantunan antar manusia.
    dimana kesantunan manusia pada botani, hewani, sungai, mata air, samodera
    dimana ada merah putih di flagnya.

    mulai, kelapa, bercocok tanam agung, bangunan bahan kotak, kain segi empat, sayng antara ciptaannya..

    proses nya ber ratus tahun….
    yang terbaik, tidak mengaku yg terbaik…
    itu Jawanologi bersemayam.

    JAWA , sejatining welas asih sudah menerangi dunia.
    ironisnya sumber keilmuannya
    tidak menjalankannya karena terpolutan yg mengaku aku terbaik didunia…
    semoga kedamaian dan pencerahan hati bersinar kembali.
    semoga kerukunan, keramahan,mhalus budi, kecerdasan menjaga bumi hijau bersinar kembali.
    The best but silence, menjaga hijau bumi
    praktising , PLANT.
    the heart cool, wise keep n guarding the green eart
    with ” the power “..
    that is Java
    that is Jawa,
    King the Buwana With smile n silence…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s