Memetri Weton

Memetri Weton di laksanakan untuk menghormati dan mengupacarai hari kelahiran weton kita, acara metri weton di lakukan sambil menunggu saat yang tepat jika kita sudah siap untuk melaksanakan bancaan weton. dan kalau pun sudah pernah melaksanakan bancaan weton memetri weton tetap bisa di jalankan setiap bulannya.

Dalam bancaan weton, Kalau kedua orang tua tidak ada/ berhalangan hadir bisa di wakilkan oleh sanak keluarga yang di tuakan seperti: pakde, bude, paman, kakak dll yang di hormati dan di tuakan untuk merestui/ ngabulake doa kita. Namun untuk memetrian ini kita bisa melakukannya baik bersama keluarga maupun sendiri secara privasi, kita bisa melaksanakan ritual ini rutin setiap bulan pas hari weton kita atau hanya sesekali saja.

Konsep memetri weton ini tidak lain adalah sebuah kesadaran akan eksistensi sedulur batin/ halus kita untuk bersinergi dengan diri kita sendiri, istilanya wong Jowo: sing ngemong karo sing di emong kudhu biso sarujuk.

Berikut tata cara memetri wetonnya:

Sarana uborampe memetri yang kita persiapkan adalah sangat sederhana, namun harus mengandung 4 unsur material hidup yaitu : Air, Api, Udara dan Tanah.

– Unsur tanah di sini diwakili oleh njet/gamping yg ada pada bumbu kinang susur.

– Damar/ lampu ublik adalah Unsur api, simbulnya urip dan penerang, agar hidupnya bisa terang/ padang.

– Dupa, adalah unsur  udara, sebagai  jembatan penghubung/ kabel yang menghubungkan antara dunia kasar dengan dunia halus, antara lahir dan dunia batin.

* Mari kita kembali sejenak pada konsep spiritual: Spiritus (bhs Yunani) artinya Nafas, Hidup dan mati manusia hanyalah di ambang yang tipis jaraknya yaitu tergantung dari nafas/ spiritus saja. Selama masih bernafas ya masih di sebut hidup, Dan bernafas tentu saja perlu unsur oksigen/ udara. Nah di sinilah fungsi dupa tidak hanya untuk aroma terapy saja, namun juga sebagai trigger/ button, on dan off kalau pada sakelar menyalakan lampu.

Rangkaian Uborampenya adalah sebagai berikut:

1. Bubur jenang sengkolo : jenang merah atas putih dan jenang putih atas merah

2. Kinang pepeg/ komplit

3. Kembang setaman di kum di gelas

4. Kopi dan teh

5. Dupa ratus

6. Damar oblek (lampu minyak)

7. Sehelai atau dua helai pakaian kita yang bersih

Diagarm 2 (2)

Namun ‘Deso Mowo Coro’, seperti halnya setiap daerah memiliki ciri khas masing-masing, maka setiap individu juga memiliki selera masing-masing, Untuk uborampenya kita juga bisa berkreasi dengan bahan lainnya, seperti :

1. Bubur sengkolo, bubur merah dengan putih di atas 2. Kopi/Teh Tubruk 3. Kinang pepeg 4. Rokok Kelobot 5. Pisang 6. Dupa 7. Pakaian bersih kita 8. Kembang dwi/ trio warna di mangkuk kecil 9. Lampu damar/ oblek

Makna simbolis dari uborampe adalah:

1.Bubur jenang merah putih memiliki harapan mudah-mudahan bisa kalis ing sambikolo terlepas dari segala aral bahaya dan juga kesialan.

2.Kinang secara harfiah kurang lebih adalah mengenang (meminang) jiwa atau jiwa meminang raga, dan komplit terdiri dari daun sirih, gamping, gambir, tembakau, pinang adalah keseluruan yang saling melengkapi, bahwa kehidupan ini saling kait mengait/ melengkapi, jika di kurangi salah satunya jadinya kurang pepeg/ komplit.

3.Kembang setaman masing-masing memiliki arti sendiri-sendiri, Misalnya bunga mawar supaya hatinya selalu tawar dari segala nafsu negatif. Bunga melati selalu eling dan waspada. Bunga kenanga, agar selalu terkenang atau teringat akan Sangkan Paraning Dumadi. Kanthil supaya hatinya selalu terikat oleh tali rasa dengan para leluhur yang menurunkan kita, kepada orang tua kita, dengan harapan kita selalu berbakti kepadanya. Kanthil sebagai pepeling agar supaya kita jangan sampai menjadi anak atau keturunan yang durhaka kepada orang tua, dan kepada para leluhurnya, leluhur yang menurunkan kita dan leluhur perintis bangsa.

4.kopi dan teh, merupakan sesandingan buat leluhur, maka menyajikan minuman adalah sebagai bentuk tanda sayang dan hormat kita kepada mereka.

5.Dupa ratus, sebagai pengharum ruangan atau aroma terapi yang bisa menciptakan suasana menjadi bersih, wangi dan romantis, sekaligus sebagai penghubung spirit halus kita.

6.Damar lampu, adalah simbol penerang atau lentera.

7.Pakaian kita, di mana kita bisa mentransfer energi positif dari dan untuk diri kita sendiri.

Untuk penataan Uborampe di buat berjumlah sembilan sehingga memenuhi setiap sudut ruang/ arah mata angin, mengapa sembilan? Karena angka 9 ada hubungannya dengan ‘babahan howo songo’ dan juga angka 9 adalah angka yang paling besar dan tambah satu lagi diri kita sebagai Pancernya sehingga komplitlah menjadi 10.

Photo0190Catatan: Letak uborampe bisa kita buat sesuka hati dengan pertimbangan artistik dan keseimbangan saja, jadi boleh di rubah urutanya menurut pengertian dan selera masing-masing tapi seyogianya lampu damar sebagai simbul Urip di posisikan di tengah. untuk itulah penataan ubo rampe musti ada ruang/ cela di antara salah satunya, sebagai simbul kekosongan/ ether adalah bagian bahan baku manusia hidup selain air angin api dan tanah.

Tata cara pelaksanaanya :

 – Mandi keramas yang bersih sebelum memulai, berdandan yang rapi, nyaman, wangi dan cantik/ tampan😉 …

– Letakkan semua uborampe di sebuah meja di kamar tidur atau bikin tempat khusus yang hening dan bersih, semua ini di sajikan sore hari pas menjelang weton kelahiran kita.

– Meditasi lah selama beberapa menit, haturkan semua ini pada sedulur papat limo pancer, lalu berdo’a menurut keyakinan masing-masing. tidak lupa menyebut sedulur papat kita untuk di ajak berdoa/ bermeditasi bersama.

* Sedulur papat, kita bisa menyebutnya secara umum seperti leluhur- leluhur kita dulu yaitu ”Mar Marti, Getih Puser, Sedulur papat Limo Pancer, Kakang Kawah Adi ari ari”, kita juga menyertakan si Jabang bayine (nama kita sendiri)…

– Usahakan kita tidak tidur sampai jam 12 malam dan kalau bisa jangan keluyuran kemana mana, berada di rumah saja pada waktu di mulainya memetri yaitu jam 5 sore sampai keesokan harinya.

– Sambil berkontemplasi/ merenungkan diri atau berdoa atau cukup santai atau beraktivitas di rumah saja, saat jam 12 malam bermeditasi sekali lagi selama beberapa menit atau lama sesuai krenteg/ keinginan hati sambil nyalakan lagi dupo ratus, lalu berdoa lagi, menyapa para sedulur kita tadi, dan bersyukur/ berterima kasih telah dan masih mau menemani selama hidup ini.

– Hal yang perlu di perhatikan adalah: Saat malem kelahiran, yaitu pas jam lima sore itulah saat yang pas untuk menyalakan lampu damar dan dupa, lampu damar jangan sampai mati sebelum jam 12 malam. Bila perlu biarkan saja sampai besok pagi asalkan aman dari kebakaran.

– Setelah selesai esok paginya kembang setaman bisa di buat mandi atau di buat basuh muka.

– Dan sisa uborampe bisa di buang di tanah atau bawah tanaman/ pohon biar jadi kompos.

Puasa apit weton :

Melakukan puasa di hari weton bukanlah suatu keharusan, namun baik untuk di anjurkan karena puasa weton sangatlah bermanfaat, antara lain : bisa membuat pribadi lebih peka, makin memunculkan aura kita, selain lebih dekat dengan saudara papat limo pancer, juga untuk kekebalan terhadap penyakit dan staminah tubuh.

Untuk melakukan puasa apit weton, misalkan yang lahirnya senin kliwon, bisa berpuasa sebelum-sehari-sesudah memetri wetonnya, yaitu melakukan puasa pada hari minggu-senin-selasa, atau puasa cukup sehari saja yaitu pada hari senin pas wetonnya saja.

Semoga rahayu dan bermanfaat, tansah pinaringan berkah lan trisna asih dumugi Gusti🙂 …

***

35 thoughts on “Memetri Weton”

  1. Ki Sondong Mandali said:

    Awal mula saya ‘tertarik’ dengan ‘falsafah panunggalan’ karena sering mendapatkan piwulang dan pitutur untuk selalu ‘memule (memuliakan) sedulur papat kalima pancer’. Suatu istilah yang begitu rumit untuk saya pahami karena yang dimaksud ‘sedulur papat kalima pancer’ adalah ‘struktur ruh’ manusia. Pancer adalah ruh manusianya, sedulur papat adalah ruh dari ‘ketuban, placenta, darah, dan puser’. Dinyatakan pula bahwa ruh ‘ketuban-placenta-darah-puser’ merupakan ‘penghubung spiritual’ ruh manusia dengan ruh alam semesta yang diperlambangkan dengan unen-unen ‘jumbuhing jagad cilik lan jagad gedhe’.

    Penajaman piwulang tersebut menyatakan bahwa jumbuhing (hubungan spiritual) dimaksud atas kendali ‘Kang Murbeng Dumadi’ yang kemudian diperlambangkan sebagai ‘Manunggaling Kawula Gusti’. Maknanya, bahwa ‘panunggalan semesta’ (panunggalan jagad saisine termasuk manusia) dilingkupi dan di-‘purbawasesa’ oleh Kang Murbeng Dumadi (Tuhan).

    Piwulang Kejawen ‘Panunggalan’ ini kemudian ‘diturunkan’, ‘diekspresikan’, dan ‘melandasi’ semua pakem (ajaran) ‘lakuning urip’ wong Jawa. Bahwa pada hubungan antara ‘pancer’ (inti) dengan mancapat (plasma) bersifat ‘kosmis-magis’. Sangat sulit dijelaskan namun riil nyata. Pengibaratannya: hubungan semua unsur alam semesta sebagaimana hubungan antar jaringan sel dalam membangun ‘manungsa urip’.

    • @ Ki Sondong Mandali,

      Maturnuwun sanget atas pencerahannya Ki, pemahaman sedulur papat limo pancer ini eksistensinya seringkali menjadi pertanyaan bagi para sahabat, tak terkecuali diri saya pribadi, yang ingin belajar dan mengetahui lebih jauh tentang kaweruh spiritual jawa.

      Ulasan yang sangat berharga, makna yang bukan menjadi suatu misteri lagi jika kita bisa menggali dan menghayatinya. Tak kenal maka tak sayang, semoga kita bisa mengakrabkan diri dengan konsep ‘sedulur papat limo pancer’ ini untuk keselarasan dan harmonisasi jagad cosmic manusia dan Tuhan semesta alam🙂.

      Salam rahayu,

      Dewi

  2. Mb/ms Sabdadewi, mohon ijin, saya mau mengamalkan untuk diri saya & pacar saya. Biar slamet & rahayu. Maturnuwun.

    Replay: Mb/ms?… Nuwun sewu, kulo tiyang estri sami kaliyan njenengan mbak😀 .

    • @ Lita,

      Sugeng rawuh mbak Lita, maturnuwun, monggo saget di pun aplikasikan memetri wetonannya, semoga menjadi berkah, rahayu, bagyo lan bondo tansa lumeber kan tinemu🙂 .

      Salam manis,

      Dewi

      • Amin, maturnuwun donganipun mb Dewi. Memetri wetonipun disarengi kaliyan lelaku poso/siam menopo mboten? Mugi2 mb Dewi tansah keparingan sehat, slamet lan rahayu🙂

        Replay:

        Bab siam niku nggih sae, meniko sak kerso panjenengan mawon🙂 …

      • @ Lita,

        Met kenal mbak Lita, kalau saya nggak pernah puasa apit weton atau puasa pas memetrian weton… hi hi hi…

        Sekedar sharing, memetrian bagi saya pribadi itu layaknya seperti ‘me time’… dalam sehari itu kita bisa menyepi untuk berintropeksi diri sekalian kita bisa memanjakan diri… hanya saja yang di manjakan bukan fisiknya tapi lebih ke jiwa kita😀 …

        http://bungalowbidadari.wordpress.com/2012/12/24/me-time/

        salam metri,

        dewi

  3. pamuj rahayu,
    hakekat (pepesthen) ketelanjangan manusia (jalma wuda) dari “mantra sengara” dan “joborolo, mokoholo, hosoropolo dan hojorolo” dari Lajang Jojobojo,( Ki Sondong – Kangmas Totok Djoko Winarto ) mohon penjelasan Ki.. apakah karena huruf jawa nglegena ( telanjang – Wudha) … kami kurang faham pada lajang tersebut…..seperti membaca huruf hieroglyph – katanya..?
    matur sembah nuwun Kangmas…

    • Ki Sondong Mandali said:

      Mas Tunggal Lanang, Lajang Djoyoboyo memang tertulis dlam aksara Jawa Nglegena (telanjang) versi jaman Kahuripan/Kedhiri yang terlestarikan sbg ‘Kepek Pedhalangan’ untuk ruwatan. Kalau disimak mendalam merupakan upaya sinkretisme Jawa, Islam, dan Siwa Buda. Maksudnya, untuk menjelaskan sedulur papat (Jawa) ke ranah Siwa Buda dan Islam. Ke Siwa Buda nama sedulur papat menjadi 4 bathara (Wisnu, Brama, Indra, Darma) sedang ke Islam menjadi 4 Malaikat (Jibril/Joborolo, Mikail/Mokoholo, Isrofil/Hosoropolo, Ijroil/Hojorolo). Menariknya, nama malaikat yang ditulis dengan aksara Jawa nglegena malah berkekuatan magis dan bisa untuk rapal mantra pangruwat. Maka boleh ditarik kesimpulan kalau basa Jawa nglkegena adalah bahasa ‘asli’ paringan Tuhan dan bisa dimengerti oleh seluruh mahluk. Sawahana (Swuhn).

  4. terima kasih Kangmas .. atas wearannya… dimengerti dan faham…. pantas membaca mantera ruwatan walau sangat panjang .. kekuatan magisnya sangat terasa…
    nuwun.

    terima kasih Nduk Dewi… salam asah asih asuh

    Replay:

    Maturnuwun sami-sami sampun kerso asah asih asuh🙂 …

  5. Podo kyk mbokq,biasae njenang sengkolo,enek sing rupane putih yo enek juga sing rupane abang,si mbok ngomong nek jenang abang ki kabeh sengkolo ben podo ilang,jenang putih kabeh sengkolo ben podo nyingkrih,

    Replay :

    Thanks, Siiiip deh bro😉 …

  6. nuwun …. ndherek miyos …
    salam kenal
    salah enggak ya ? maaf …
    sisa uborampe-nya mesti di buang … ya?
    kalo kopi sama teh diminum boleh kah?
    juga jenang sengkolonya boleh dimakan enggak?
    maaf ingetku waktu aku masih kecil kayaknya si mbah juga bikin acara macam gini , tapi aku gak ngerti maksudnya … dan sekarang aku menemukan pencerahan ….
    terima kasih
    salam

    • Nuwun..
      @ sdr Rahmat salam kenal jg.
      sisah ubo rampe sebaiknya di buag sj di kebun ( kalo punya kebun) klo tidak buang sj pada tempat sampah, sisa air kembang lebih baik buat basuh muka atau masukan di bak air buat mandi, soal kopi teh dan jenang sengkolo boleh2 saja di minum dan di makan tapi untuk pertimbangan kesehatan sebaiknya di buang sj karena sudah menginap semalaman dan tanpa di tutup lagi apalagi klo kelembaban udara begitu tinggi akan mudah tercemar bakteri.

      semoga bermanfaat.

      Asah asih asuh

      PD

  7. Paman Dalbo said:

    Nuwun
    @ sdr rahmat paman yakin tdk ada pengaruhnya dlm makna upacaranya sendiri selama hal itu dilakukan setelah selesai, sesaji2 itu hnya simbolisasi2 dari kesatuan kesemestaan, yg ada hubunganya dg jiwa.
    klo berkeinginan makan jenang anda bisa bikin lebih dan bila perlu bagi2kan sama tetangga, dg niat nyengkalani (buang sengkolo) do’a nya terserah mau bhsa apa yg penting anda ngerti.

    Semoga faham

    Asah asih asuh
    PzD

  8. matur nuwun sanged paman dalbo , dewi sabdo dewi ugi …. salam

  9. Sugeng Tetepangan, mugio tansah pinaringan rahayu wilujeng, dumateng para sederek sedanten….
    Membaca ulasan tentang “metri weton” yg dituangkan oleh Mba’ Yu Dewi, berikut coment2 nya, terbesit bangga, haru juga salut, generasi yg seperti inilah yg patut mendapatkan apresiasi, generasi yg bangga dan berusaha mempertahankan kearifan lokal (local wisdom) di tengah laju modernisasi, sesungguhnya local wisdom emang tak pernah lekang oleh perkembangan jaman, sehingga sudah menjadi kewajiban kita semua untuk mempertahankannya.
    Tak sopan kiranya jika tdk memberikan coment terhadap topik ulasan, sblmnya mohon petunjuknya, terkait dg weton / hari lahir (bukan tgl lahir) perkenankan sy mencoba memandang dr sisi rasionalism, sbgmn diketahui bersama bahwa proses kelahiran janin (persalinan normal) stelah tahap pecah ketuban, sblm keluar fisik janin mengalami fase pelembekan (empuk), kemudian bbrp saat stelah keluar dr “pintu rahim” fisik janin mulai mengeras kembali. Nah “fase pelembekan” (weton) diyakini akan mjd siklus periodik selama hidup.
    Di era modernisasi skrg ini kebanyakan orang hanya mengingat tgl lahir, bukan weton (hari lahir / sesuai penanggalan Jawa), sbg bukti nyata bahwa “siklus pelembekan” itu berulang sec.periodik (sesuai weton) sy coba berikan contoh sbb:
    Disadari atau tdk, yg jelas hal ini sering dialami seseorang, semisal pada satu hari seseorang tengah berjalan kemudian jari kakinya tersandung batu atau benda keras lainnya, ia sama sekali tdk merasa sakit apalagi terluka mugkin hanya sedikit memar aja, akan tetapi pada satu hari yg lain jari kaki itu tersandung benda yg sama, ia merasakan sakit yg luar biasa, jari yg tersandung juga terluka dan berdarah.
    Nah dari contoh diatas, bisa jadi pada saat seseorang itu merasa sakit yg luar biasa, saat itulah tanpa ia sadari adalah hari weton.
    Oleh karenanya leluhur kita telah mewariskan tradisi yg begitu luhur (metri weton), yg salah satu tujuannya adalah agar kita kembali ingat untuk jauh lebih hati2 baik dalam batin, pikiran, ucapan dan tindakan atau agar bisa tetap “Eling lan Waspada”.
    Demikian pandangan sy tentang “weton”

    Salam Rahayu,

    • @ Javanesse,

      Maturnuwun, sugeng rawuh ten pendopo, ugi sugeng pitepangan🙂 …

      Ulasan yang sangat cantik sekali, maturnuwun info pencerahannya tentang perbedaan antara hari lahir (fisik) dan hari weton (fase).

      Merupakan pengetahuan baru bagi saya dan kita semua di sini, dimana kearifan lokal ini jika kita pandang dari sisi rasionalism maka akan dapat kita rasakan betapa leluhur kita telah mewariskan tradisi yang begitu luhur agar kita bisa tetap “Eling lan Waspada”🙂 …

      Salam rahayu,

      Dewi

    • @ Javanesse,

      Congratulation!… your comment is the most memorable reading of all times :)…

      Maturnuwun wewaler lan pawigatosanipun, kami tunggu pencerahan-pencerahan selanjutnya, Ugi sugeng enggal warsa 2014 :)…

      (* Ngapunten, bahasanya campur-campur😉 )

      Salam karaharjan🙂

  10. unlimited salut wis…kagem mbak U Dewi,…

    • @ AyemMo,

      Maturnuwun, sugeng pepanggihan lan sugeng rawuh ten pendopo🙂 …

      Saya kangen dengan gravatar kang Ayem yang lucu kayak bang One😉 … he he he…

      Salam ayem,

      Dewi

  11. nderek nyimak…

    Replay:

    Monggo🙂 …

  12. Tri Rahayu said:

    Sebagai orang Jawa yg sudah mulai pudar ke-jawa-annya, menemukan sabdadewi.wordpress.com ini seperti oase di tengah gurun bagi saya.
    Teruslah membagikan pengetahuan apa saja tentang jawa: budaya, sejarah, spiritualitas, sastra, dll. Utk jangkar bagi yg mulai pudar seperti saya, dan penyemangat bagi yg memang sdh memelihara budaya jawa.

    Matur sembah nuwun.

    • @ Tri Rahayu,

      Maturnuwun lan sugeng rawuh, ngapunten telat menyapa, karena komentar njenengan ternyata masuk dan terpending di kotak inbox.

      Salam kenal dari saya, semoga mbaknya tetap semangat dan selalu kerasan di pendopo🙂 …

      Salam manis,

      Dewi

  13. Salam rahayu buat smuany
    .tdk lupa saya panjatkn doa kpd allah swt smga kita mndpat rido ny..sllu dibrih kshtan lahir maupun bathin..amiiiiin
    seblumny saya tdk tau sama sekali namany wetan puasa muti alah krjawean,mklum say bukan orang jawa.nta knpa saya mau bljar mskipun tnpa seorang pembimbing tntang hakekat hidup sejati kita.wlau msi blpotan krn masi awam,smga di rubrik ini say bsa mndptkn pencraan wlaupun sdkit dmi sdkit…

  14. Salam rahayu buat smuany
    .tdk lupa saya panjatkn doa kpd allah swt smga kita mndpat rido ny..sllu dibrih kshtan lahir maupun bathin..amiiiiin
    seblumny saya tdk tau sama sekali namany wetan puasa muti alah krjawean,mklum say bukan orang jawa.nta knpa saya mau bljar mskipun tnpa seorang pembimbing tntang hakekat hidup sejati kita.wlau msi blpotan krn masi awam,smga di rubrik ini say bsa mndptkn pencraan wlaupun sdkit dmi sdkit…
    By khairil anuar

    • @ Sdr Khairil Anuar,

      Terima kasih atas kunjungannya dan selamat datang di pendopo, silahkan dinikmati hidangan artikel budaya dan spiritual ala Jawa yang sangat sederhana ini, Semoga bisa sedikit menambah pengetahuan dan bermanfaat untuk semuanya🙂 …

      Salam rahayu,

      Dewi

  15. Rasa ketidaksinkronan perayaan ultah modern membuat saya menemukan blog ini. Mengapa saya katakan tidak sinkron? Dalam lagu ulang tahun dikatakan,”panjang umurnya.” Tetapi mengapa disertai ritual peniupan lilin yang sedang menyala? Bukankah lilin menyala itu lambang kehidupan? Kalau lilin lambang kehidupan yang menyala itu ditiup, bukankah yang terjadi sebaliknya; kematian? Maka isi lagunya perlu diganti “pendek umurnya.” Ini sekedar catatan kritis terhadap ritual perayaan ulang tahun modern. Kalau ada yang bisa memberi penjelasan yang lebih baik terima kasih. Tetapi saya sangat setuju dengan makna ublik/senthir, dan semacamnya yang merupakan lambang terang dan pencerahan dalam tradisi weton jawa. Ublik disandingkan dengan uba rampe weton supaya hidup yang bersangkutan terang dan bisa menjadi terang bagi yang lain. Salam kenal. Berkah Dalem.

    • Sugeng dalu @ Br.A.Mungsi.O.Carm

      Maturnuwun dan salam kenal juga, sungguh sangat menarik inspirasi panggraita njenengan tentang essensi damar ublik atau cahaya dalam ultah weton🙂 …

      Salam cahaya,

      Dewi

  16. poetra solo said:

    Salam kenal mbak sabdadewi..ijin untuk mengamalkan..salam asah asih asuh..

  17. salam Rahayu
    kawulo badhe nyuwun pangestunipun ngamalaken kagem weton kawulo mugi selamet lan rahayu….. matur suwun
    salam Rahayu

    • Wilujeng enjang @ mas Mahani,

      Sumonggo…

      • salam kenal nggih mbk,waduh nembe nggabung,meniko pelajaran bagus banget bagi orang jawa,sprti sy yg sdh lupa,blog meniko bisa untuk nambah nguri bodoyo nggih

      • Wilujeng sore Ibu Purwo,

        Maturnuwun bu, sugeng rawuh ten pendopo nggih, seneng sekali bisa berkenalan dengan njenengan🙂 …

        Monggo dipun grahapi, di sekecak`aken sajian artikelipun ingkang sederhana meniko.

        Salam manis,

        Dewi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s